Pada Rabu (14/05/2013) pagi lalu, Badan
Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya
(BEM FIA UB) menyelenggarakan acara yang dinamakan Speak Up. Bertempat
di basement FIA, kegiatan tersebut menjadi salah satu medium aspirasi
mahasiswa FIA untuk menyampaikan keluhan-keluhan yang sering dialami
dalam proses pelayanan kemahasiswaan. Namun, acara tersebut terlihat tidak efektif
karena dari total sekitar 4000 mahasiswa FIA, hanya beberapa orang saja
yang ikut duduk bersama membicarakan seputar pelayanan Kemahasiswaan.
Ironisnya mayoritas partisipan hanya mereka yang berada di BEM, seperti
Presiden BEM, Wakil Presiden BEM, Menteri Advokesma, dan jajaran
stafnya.
Saya sebagai mahasiswa FIA yang juga terlibat
dalam diskusi tersebut menjadi geram. Jelas saja, sepanjang acara yang
berlangsung kurang lebih dua jam, saya hanya dijejali dengan
permasalahan-permasalahan tanpa disertai tawaran solusi, terlebih lagi
tidak ada perwakilan Dekanat yang terlibat dalam jalannya diskusi.
Kondisi ini diperparah lagi oleh sikap dari Wakil presiden BEM, yang
malah memberikan tanggapan subjektifnya terkait setiap aspirasi yang
dikeluarkan oleh mahasiswa.
Saya pikir ini tidak jauh beda dengan “Debat
Kusir” dimana tidak adanya pemecahan atas problematika yang dihadapi.
Medium ini saya anggap bukanlah koridor yang tepat untuk dilaksanakan
oleh BEM, melainkan secara representatif yang dilakukan oleh pihak Dewan
Perwakilan Mahasiswa (DPM). Bila acara tersebut dipegang oleh BEM, lalu
kemana sembilan orang DPM terpilih?.
Jika mengacu pada fungsi DPM, seharunya
merekalah yang terlibat langsung dalam menjaring dan menyerap aspirasi
mahasiswa bukanlah BEM. Hal ini mengindikasikan bahwa BEM menjalankan
fungsi dari DPM, tetapi di balik itu DPM juga tidak mampu untuk
menjalankan perannya sebagai gerbang suara mahasiswa.
DPM FIA saat ini tidak ada bedanya dengan
peran DPR di negeri ini, yang hanya bertolak pinggang dan sesekali
melihat bila merasa tersentil. Apakah mereka sudah mengeluarkan suatu
produk yang jelas?. Tentunya ini menjadi tanda tanya besar bagi kita
semua. Ketika ditanyakan terkait koordinasi acara tersebut, salah satu
anggota DPM malah balik melemparkan pertanyaan yang saya berikan kepada
temannya yang juga sebagai anggota DPM. Sebuah fenomena yang begitu
mencengangkan ketika seorang DPM tidak mampu untuk bersikap akuntabel
terhadap semua mahasiswa. Apakah lebih baik mereka dibubarkan saja?.
Saya teringat sebuah kutipan dari Dahl
(2001:175). Ia mengatakan, bahwa varian demokrasi elitis dengan sistem
perwakilan ini seperti ruang gelap dari sebuah rumah yang bernama
demokrasi. Saya merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Dahl adalah benar,
nyatanya kini kita masih hidup dalam ruang imaji dan demokrasi hanyalah
sebuah kata simbolik.
0 komentar:
Posting Komentar