Indonesiaku
Jangan Tertidur
Tepat pada tanggal 20 mei
kita sejenak tundukan kepala untuk
memperingati hari Kebangkitan Nasional. Hari dimana, tumbuhnya rasa
nasionalisme, rasa untuk merdeka, dan rasa rindu akan aroma kemerdekaan, yang
begitu terlihat ketika kita menengok sejarah.
Hari Kebangkitan Nasional
ditandai dengan terbentuknya gerakan nasionalis, seperti Boedi Oetomo (1908) dan ikrak Sumpah Pemuda (1928). Berdirinya Organisasi
Boedi Oetomo yang digagas Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot
Opleiding van Indische ), yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji, dan Dr.
Wahidin Sudirohusodo, menjadi cikal bakal tumbuhnya rasa nasionalisme yang
bergejolak. Tidak hanya organisasi Boedi Oetomo yang turut ambil dalam
pergerakan nasionalis, melaikan tumbuhnya Partai Politik
pertama di Indonesia pada tahun 1912, yaitu. Pada ada tahun yang sama juga Haji Samanhudi mendirikan organisasi Sarekat Dagang di Solo, lalu K.H Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyahcdi Yogyakarta , dan Dwijo Sewoyo beserta
kawan-kawannya mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang.
Ketika kita melihat
sejarah jelas sekali, bahwa organisasi militan bernuasa Nasionalis tumbuh
begitu pesat, dengan para pelakukanya yang begitu hebat pula. Kebangkitan
Nasional bukan hanya sebuah kata simbolik, ya kita bangkit, kita lawan para
koruptor, kita basmi yang telah merampas hak kita, dan kita bisa Indonesia bersih
dari korupsi. Bukan hal seperti itu, saya merasa kata-kata tersebut hanya sebuah
petisi dan kerap saya dengar dari rongga-rongga mulut manusia disekeliling saya.
Sekian banyak
permasalahan di Indonesia, mulai dari kemiskinan, korupsi, presiden yang hanya
sibuk mengurusi partai politiknya, dan kasus-kasus Hak Asasi Manusia (HAM). Nyatanya
tidak satupun yang sudah terselesaikan, melaikan semakin menumpuknya permasalahan
yang ada di Negri ini. Ironisnya media ikut-ikutan menjadi bodoh dengan hanya
menjejali informasi-informasi tidak penting terkait dengan keingian pemodalnya.
Akhirnya rakyat yang dibuat menjadi bodoh. Birokrasi yang bobrok dan
partai-partai yang hanya memikirkan kekuasan tanpa disertai ideologinya
menambah catatan sejarah baru untuk Indonesia.
Maka dari itu, di hari
Kebangkitan Nasional saya dan kita sebagai masyarakat turut andil dalam
melakukan pergerakan-pergerakan dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa,
seperti memberikan pendidikan secara terutama untuk warga yang tidak mampu dan
di daerah-daerah terpencil, bersama-sama melakukan aksi dalam penyadaran akan
bahaya dari tindakan korupsi, dan melakukan bedah pasal bersama para warga agar
mampu mempunyai pola pikir yang kritis, sehingga mereka tau mana hak yang harus
didapatkan sebagai warga Negara, serta pendidikan dan pengimplementasian
pancasila secara kongkrit sebagai
identitas diri. Bila hal-hal yang terkecil sudah kita lakukan secara
bersama-sama dan masif, maka saya yakin bahwa perubahan bagi bangsa Indonesia
tidak lagi dikatakan imaja atau semu. Saya hanya ingin mengatakan“bila kau mengharapkan perubahan, jadilah
perubahan itu”. Demikian semoga kita tetap berjuang dalam Nasionalis dan
menghargai segala bentuk perbedaan,
0 komentar:
Posting Komentar