Tampilkan postingan dengan label #RekamanSajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #RekamanSajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 April 2014

Bangsa ini mulai bimbang
Harta sudah tak punya
Pemuda mental budak
Hanya alam yang bisa diandalkan

Bangsa ini mulai bimbang
Presidenku hanya urun angan
Bangsa ini mulai bimbang
Kita harus melawan
Untuk hidup di masa depan
Menolak duri
Menolak perih

Aku sudah terlanjut dihidupkan 
Maka akanku ubah masa depan
Karena tirani....
Hanya menyisakan sepi

Dan, kebenaran adalah pembebasan manusia
Karena ada nurani di dalamnya



BEBASKAN
BEBASKAN
BEBASKAN
DARI....
KEMISKINAN DAN PENDERITAAN BANGSA
Demi masa
Sungguh, lumbung padi itu nan megah
Derik ular dan riuh angin berbalut jingga, begitu raharja

Aku dibuat terkapar dan menari dalam bisu 
Merasa  terbaur dalam dinding jiwa
Menggetarkan jantung lebih kuat
Rintihan nada harmoni membangkitkan emosi

Ada nyawa dalam sana
Ada juga panas yang membakar jiwa
Mendidih sudah
Semakin dekat dengan antiklimaks
Aku memutarnya kembali 
Menuju angka nol

Nada itu didaur atas cerita masa lalu
Pongah aku dibuatnya
Seakan berhubungan intim dengan-ku
lekas bertemu




Rabu, 05 Maret 2014

Sebuah titik becampur pada tinta hitam
Menoreh luka semakin kelam
Banyak cerita dan angan-angan yang ku inginkan
Namun, daya tak mampu memberikan reaksi

Aku ingin berhenti sudah
Lelah dengan tekanan
Dunia hanya tempat menderita
Dunia hanya membuat luka

Tubuh semakin menyusut
Mata semakin merabun
Wajah kusam, bibir kepucatan
Renyah untuk waktu yang hanya menunggu
Menunggu tubuh yang terkapar seketika

Hanya ingin berkeluh kesah pada aturan
Aku hanya butuh menarik napas panjang
Sampai aku merasa kenyang dan kemudian kembali pada kenyataan
Pergi untuk bertemu dengan sepi




Senin, 07 Oktober 2013



Mari mengkritik




Termenung kaku, tubuh terbujur lesuh
Merintih perih, menyerut dalam nurani
Perlahan aku terkutuk dalam kosong
Dalam bisunya mulut
Tak mau berucap, karena takut berdusta, aku diam
Aku tak takut menantang para Panglima yang berdusta di balik tahta
Aku tak bercuak melawan para birokrat dan para bedebah di negri ini
Aku hanya ingin tidur dengan lelap
Dengan cahaya yang merayap masuk dari dinding yang berbilik
Dengan para sinden-sinden kecil di ujung jalan sana
Raharjalah diri-ku





Selasa, 21 Mei 2013


 
Kawanku Hilang


Kawanku hilang
Rindu, dulu kau bergitu ramah kepadaku
Kawanku hilang
Kita berbicara dan menantang untuk kebebasan
Kawanku hilang
Kau dan aku pernah ada dalam jalan yang biru
Kawaku hilang
Dulu kita pernah berikrar dalam daun nan rindang
Kawanku hilang
Kita pernah bersama diatas temali mencoba untuk memahami

Kini pipimu semakin tirus
Badanmu terlalu rentah
Bajumu terlalu longgar
Matamu begitu sayu seperti pecandu
Kelopak matamu begitu biru
Urat-urat matamu berusaha menampakan keberadaannya
Biacaramu begitu terbelit-belit
Tulangmu begitu kontras

Kau menjauh
Aku mencoba meraba
Tapi, kita tak seirama lagi
Kau telah berbeda
Kau tak sebening dulu
Aku juga..
Tapi, aku mencoba
Mencoba?
Ya… mencoba keluar dari lemari yang begitu pengap
Aku bisa
Kamu?
Seolah nyaman tak mau kembali

Kawanku hilang
Kita tak pernah bercengramah lagi
Kawanku hilang
Aku ingin bertemu di ibu kota


Rabu, 01 Mei 2013




Subur (Suara Buruh)
 

Berteriak, menindak kebebasan
Rezim telah melakukan konglomerasi besar
Hak-hak mulai dicampakkan
Bagai butiran dalam kertas hitam

Terik kala awan biru
Kerumunan riuh bersatu padu
Atas nama serikat buruh
Berjuang meski dalam kelabu

Hidup sosialis…
Hidup...
Sahut dalam lingkar yang berseru
Pembentukan tanpa kasta...
Tanpa balutan kapitalis
Bersatu dalam Indonesia sejahtera

Hantam..
Ini bukan aksi pertama kali
Ini bukti atas kebodohan rezim
Terlalu banyak retorika
Kami ingin hidup layak


Terlalu lama kau menabun asap dalam perih
Segala mantra teror dan ancaman
Kini reformasi….
Kami lebih lantang berdiri

Buruh..
Bukan pesuruh
Yang tunduk dalam melodi kekuasaan
Kami hidup sejajar dalam balutan NKRI

(oleh: Syaukani Ichsan)