Sore itu, Telepon
genggamku berdering. “Hallo Joko. Tak ada rencana kah, kamu malam ini ke Gor Bulungan?”
Tanya Si lelaki tua.
“Aduh, maaf Mas,
sejauh ini belum ada rencana sama sekali Mas. Tapi, kalau mau nongkrong di sana
aku bisa aja.”
“Okey. Kalau begitu, bagaimana nanti
malam kita ketemu di Gor Bulungan jam sembilan?” Ajaknya dengan nada santun.
“Bisa Mas, baik
kalau gitu.” Balasku singkat.
Telepon pun mati.
Aku masih punya waktu lebih kurang lima jam. Sembari menunggu jarum jam
bergerak ke angka sembilan, kuhabiskan dulu beberapa tulisan yang telah
berjejer di layar laptop.
Jendela kamar dua
pintu yang terbuka lebar, mulai aku tutup satu per satu. Matahari mulai
terbenam menuju arah barat. Terdengar mengalun Azan Magrib dari langgar sebelah
rumah.
Awan mulai
menghitam. Semoga hujan tak datang. Terlalu malam memang harusku tunggu.
Mungkin lebih baik, bila aku membaringkan badan di atas kasur. Beberapa menit
kemudian mata teras berat. Biar saja. Tak perlu dilawan. Tiba-tiba terpejam.
Tiba-tiba juga
terbangun lagi. “Joko bangun. Sudah waktunya Isya.” Suara Bunda terdengar dari
balik pintu yang diketuk tiga kali.
“Iya, tunggu.”
Tanggapku. “Ohh.” Tangan kananku meraih kepala. Tampak aku seperti keranjingan,
panik, mencari telepon gengam. Kutemukan telepon itu di balik bantal. “Ohh,
syukur masih jam 20:48.” Ucapku dalam hati.
Selang beberapa
menit kemudian. Sebuah pesan datang dari salah satu wadah sosial media. “Joko,
aku sudah sampai di Gor Bulungan. Aku tunggu kamu di deretan Abang ketoprak.”
“Okey Mas. Aku segera jalan.” Balas
pesanku kepada Si lelaki tua.
Segera aku menuju
kamar mandi. Membasuh muka dengan air. Mengganti celana pendek dengan celana
panjang. Tabik aku ucapkan kepada Bunda sebelum pergi keluar rumah. Sepeda
motor aku keluarkan dari pintu gerbang. Satu batang rokok aku bakar.
Sepeda motor
kupacu lebih lambat dari biasanya, mungkin diatur sekita 45 – 50 kilometer per
jam. Aku ingin menikmati lintasan panjang jalan Cipulir – Kebayoran Lama.
Dari pertigaan
jalan Perdatam, beton-benton perkasa punya jembatan layang menutupi awan. Tetes
air sisa hujan tadi sore, menimpa jaket merahku. Tak jarang, beberapa celah
pada beton berkucur air, hasil pembuangan hujan yang tak tertampung.
Jalanan menuju Blok M tampak lenggang. Berbeda dengan jalur di sebelah kananku, yang mengarah menuju daerah Ciledug. Padat dan Macet. Motor-motor selang-silang berebut angkuh. Klakson dan sumpah serapah mengguyur supir-supir angkut dan metro mini yang mengetem di pertigaan lampu merah Perdatam.
“Anjing. Jalan
bego, macet jangan ngetem.” Sahut lelaki berkacamata hitam dari dalam mobil Fortuner.
Salah seorang
pengendara sepeda motor berjaket hijau putih. Khas, identitas milik salah satu
layanan ojek berbasis online juga memekik sumpah serapah. “Eh bajingan.
Keparat, lu jangan ngetem di pertigaan, Macet tolol di belakang.” Gebrak tangan
Si pengendara ojek pada bagian pintu mobil angkutan. Lepas memaki, ia pun pergi
dan menarik tali gas. Laju.
“Wah kontol
emang! Beraninya di atas motor. Malah narik gas lagi.” Balas serapah Si supir
angkut.
Di mata Jakarta, semua orang serigala. Semua orang pemarah. Yang tua, yang muda, yang kaya dan yang lemah, semua adu gontok. Penyelesaian perkara semua dilakukan dengan ketegangan urat leher. Untuk setiap jengkal dan setiap langkah kaki merupakan teror.
Di Jakarta orang
diajarkan untuk bersikap keras kepala. Tak keras maka ditindas. Menjilat atau
berlindung di balik induk semangnya.
Aku terbenam kembali pada beberapa waktu silam. Mulut mulai berceracau
dalam hati. “Setan alas! Hidup di jalan, seolah semua kebenaran ditentukan oleh
kekerasan.”
Sepeda motor
tetap dipacu pelan. Selang 15 menit kemudian aku sampai di Gor Bulungan. Motor
aku parkir di dalam Gor Bulungan. Sisarap, 59 tahun, telah menunggu di dekat Abang
penjual ketoprak. Aku menyodorkan tangan kanan lebih dulu. Sebagai awal
ucapan salam kepada Si lelaki tua itu.
“Tumben Mas,
sampean pake celana panjang, mana rambut dipotong lagi. Plus kaca mata baru itu
dipake. Rapih betul ini.” Pujiku.
Si lelaki tua
rupanya hanya membalas dengan tertawa. Ia pun menyambung dengan kalimat
lainnya. “Pesan dulu sana minum.”
“Aku gak ada uang
Mas.” Selorohku
“Oh, ndak papa,
biar aku yang bayar.”
“Wah jangan, aku cuma
becanda.”
Tak jauh dari tempat
Abang ketoprak, aku memesan satu gelas kopi hitam pahit. Si Abang penjual
warung kopi dengan cekatan bergerak. Kopi bubuk dari toples plastik dikeluarkan.
Ia membubuhi sedikit gula. Lalu, menciduk air panas dari dalam panci. Uap mengepul
sewaktu tutup panci dibuka. Satu gelas disodorkan di atas meja. “Ini Mas sudah
kopi hitam sedikit gula.” Sahut si Abang. Aku segera merogoh kantong celana sisi kananku. Dua lembar uang bernilai
tiga ribu rupiah aku sodorkan kepadanya. “Ini duitnya Mas. Terimakasih.”
Segera satu gelas
itu aku bawa untuk kembali duduk. Salah seorang pelayan
dari warung kopi lainnya, mengantarkan satu gelas gentong es teh manis ke
meja tempat kami duduk.
“Terimakasih Mas.” Ucap Sis. Seketika mulut Sisarap menyambar sedotan hitam yang
masih berputar-putar di dalam
gelas gentong.
“Dari mana Mas hari ini?” Tanyaku.
“Aku dari Lebak
Bulus tadi. Baru bertemu dengan Mas R. Akan ada agenda kedepan. Kami ingin buat suatu pertemuan akbar,
yang mengundang lintas budayawan generasi tua, muda, dan orang-orang biasa, untuk membahas suatu
agenda.”
“Apa agenda besar
itu?” Tampaknya agenda kali ini tak biasanya. Mungkin seperti peringatan Malari
1974 tempo lalu? Atau mungkin berbeda? Sis—panggilan akrab sehari-harinya—tidak
akan main-main dengan kawannya Si R itu.
“Iya. Jadi kami
mau membaca ulang Nusantara dalam prespektif sejarah bahari.”
Bila acara itu jadi dilaksanakan akan menarik banyak mata. Akan banyak aku bertemu dengan orang-orang tua yang bergelut di dunia kesejarahan maritim Nusantara. Akan juga banyak orang-orang eks-PNI yang berkumpul. Gor Bulungan akan ramai kembali. Aku menanti acara itu. Namun, belum usai aku berandai-andai, Sis segera melempar pertanyaan baru.
“Kenapa kau Jumat
malam minggu lalu, aku ajak ketemu enggak bisa? Kenapa juga, sudah tiga kali
aku ajak kau ketemu untuk bertemu Mas R tidak pernah juga kesampaian. Kau
menghindar? Apa kau sudah malas berkawan denganku? Dan Mas R? Kau menyimpan sesuatu?”
Matanya mendelik. Ia ingin melucuti alam pikirku.
“Ahh” Kurang
ajar. Seolah saja. Ia tampak mau menembusi pedalamanku. Ia ingin aku
bercerita apa sebenarnya yang tengah terpikir atau sedang dan yang akan aku
kerjakan. Memang lelaki tua ini pintar tembak-menembak bahan obrolan.
Cepat secepat
detik jam bergulir aku balas rentetan pertanyaan itu. “Tidak Mas, barangkali
memang waktunya aja yang selalu tidak tepat. Jumat malam ini aku bisa kok.” Mendengar
itu, Sis hanya berangguk-angguk kepala. Lantas bertanya hal yang baru. “Kawanmu mana? Yang
selalu sama kamu itu?”
“Siapa? Ahong? Maksudmu? Mas?” Tanyaku balik.
“Iya.”
“Dia kembali
kerja di salah satu kedai kopi di daerah Bintaro.”
Ia mengernyitkan
dahi. “Oh ya? Kerja lagi dia? Sudah
berapa lama dia kerja di sana?”
“Baru beberapa
hari ini. Itu keputusan dia. Tampaknya putusan itu sudah matang. Dia juga tahu
akan kemana setelah ini” Paparku.
Lama aku mengenal
Ahong. Bukan barang satu tahun atau dua tahun aku mengenalnya. Bukan juga
barang dua tahun atau tiga tahun. Kami saling-silang mengenal hidup sejak
menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA), awal tahun pertama masuk.
Di ujung jalan
Bendi nomor 10, Tanah Kusir. Sebuah warung sembako tempat kami biasa berkumpul.
Ahong kala itu, diajak oleh salah seorang kawanku yang lainnya. Di jalan
Bendi 10 itulah kami memulai perkenalan awal. Hingga berlanjut sampai sekarang.
Sebenarnya, dulu
ia dipanggil bukan Ahong, tapi dengan nama Botak. Sebab hampir selalu ia
memotong rambutnya, bila mulai lebat sedikit. Tak pernah punya rambut gondrong
atau sedikit panjang. Ia lebih suka memotongnya pendek, tapi tidak plontos.
Karena itulah, kawan-kawanku memanggilnya Botak. Walaupun sekarang ia berambut
panjang. Tentu tidak sepanjang rambutku yang sekarang. Terkadang masih juga ada kawan-kawan lama Si Ahong
yang memanggilnya dengan Botak.
“Ahong itu tegas
Mas. Ia tidak bisa digoyang kalau sudah memutuskan A. Tak bisa kau ajak dia
bilang B, C, atau D.” Sis, lagi-lagi hanya berangguk-angguk kepala. Tampaknya di
balik tempurung kepala itu, ia punya penilaian yang sama. Atau, bahkan, hanya sekedar mengukurku? Tapi, mulutnya
terlihat tengah berancang-ancang, menyiapkan kalimat pertanyaan. Benar. Ia
kembali bertanya. “Dia itu pemikir ya?”
“Iya dia itu
pemikir. Bukan semua orang itu dilengkapi kesadaran? Makanya ia berpikir.”
“Buka itu
maksudku. Pemikir, dalam makna seorang pemikir.” Ia mengoreksi pertanyaannya
sendiri.
“Iya pemikir. Tapi aku lebih tahu sikapnya.
Misal, hendak orang berbuat kesal, ia jarang langsung melempar tuduhan itu
tepat di muka Si Pencerca. Setidak-tidaknya, lebih menarik diri untuk sementara
menjauh sebentar.”
Sis tak
menanggapi paparan itu. Malahan ada pertanyaan baru yang muncul lagi. “Tapi apa
sebenarnya yang dia suka?”
“Dia suka gambar.
Beberapa kali dia memberikan hasil goresan
tangannya kepadaku, agar aku kasih masukan. Termasuk juga soal kegemarannya
dalam berpuisi. Hampir banyak, puisi-puisi ia tuliskan. Baik pada note di telepon genggam. Atau pada buku hariannya yang berwarna
coklat merah itu. Lebih banyak yang dituliskan hasil dari pengalaman sendiri.
Ketika ia marah, senang, bingung, dan seluruhnya. Cuma terkadang dia sungkan
untuk memberikan hasil karyanya kepada orang yang lebih tua. Dia sungkan, bila
harus berhadapan dengan nyeniman yang namanya sudah kelas besar.” Jelasku.
“Ahh tidak. Tidak
begitu seharusnya. Bila dia mau kasih lihat hasil karyanya, barangkali aku akan
memberi masukan semampuku. Lagi pula aku juga senang, ketika anak-anak muda
mulai membuat karya. Kami-kami ini orang tua akan mati. Walaupun, umur juga tak ada yang tahu betul memang.”
Nada sungkan segera dibalas oleh Sis. Ia segera menyambung hal lain. “Waktu itu
kenapa dia tidak lanjutkan kuliahnya?”
“Entah, aku tak
tahu-menahu.” Jawabku singat. Aku sebenarnya menghindari pertanyaan itu.
Apalagi ini paut-memaut soal keputusan manusia lain. Aku tak ingin menjadi
penghakim. Muak rasanya menjadi penghakim. Tak ada gunanya. Basis pengalaman
aku tak punya. Diam lebih baik.
“Katanya karena
kampus itu memaksa untuk dia memilih kelembagaan agama tertentu?” Sis kukuh. Masih
saja melempar kail pancing, biar ikan di empang yang keruh tersambar. Baik, aku
akan jawab sekenanya saja.
“Begitulah kurang
lebih. Setidak-tidaknya, ia telah memilih untuk tidak berkuliah. Ia muak dengan
gaya pendidikan yang mendisiplinkan cara pandang dan sikap. Bahkan, hingga
sampai harus dipermalukan. Apalagi semua serba politik. Ia tidak mau memilih
golongan islam—dalam bentuk kelembagaan—mana yang kafah dan mana yang tidak.”
“Iya benar itu Ko.
Atau jangan-jangan kau yang tidak sejutu sebenarnya? Ketika dia berkuliah di lembaga itu?” Tembak
Sis kembali.
Segera aku
menyangkal tembakan Sis. “Mana mungkin aku ajak orang bersepakat dengan alam
pikirku sendiri? Apalagi ini soal rasa yang dia jalani setiap hari. Aku tidak
pernah kasih pandangan dia untuk keluar dari kampus. Itu keputusannya sendiri.
Lagi pula, dia memilih atas perenungan yang cukup panjang. Bukan barang sehari
atau dua hari.”
Sis, masih juga membenamkan cara pikirnya itu
dalam percakapan yang bukan tentang diriku. Memaksa aku untuk memberi penilaian
tentang Ahong. Apa yang sebenarnya ingin ia bangun?
Tiba-tiba ia berkata kembali. Pernyataannya malah memperteguh pernyataanku.
Tiba-tiba ia berkata kembali. Pernyataannya malah memperteguh pernyataanku.
“Iya dia juga
cerita soal itu. Aku kasih masukkan, kalau kau sudah tidak nyaman keluarlah, pilih
jalan lain. Bangkit jadi orang kuat. Kuat secara mental dan kuat secara fisik.
Mulailah membangun jalannya sendiri. Aku juga, sudah seringkali mengajak dia
bercakap-cakap. Utamanya, selama ia bekerja sebagai peracik kopi di Bulungan
ini. Aku tahu dia, anak bukan sembarang orang. Banyak percakapan yang aku
bangun dengan dirinya. Mulai dari filsafat klasik, seni rupa, sejarah kuno
Nusantara, dan lainnya. Aku tahu ia simak semua itu.” Sis memang pintar memilin
rekan bicaranya. Ia ingin mengukur sejauh mana aku mengenal Ahong. Pendalamanku
coba ditelaah, diulik-ulik lebih dalam.
Kelar mengulik
Ahong, ia melempar topik memasuki masa silam. Ia mulai menandai
waktu dengan hitungan tahun:
Tahun 1870-an dan
sesudahnya. Pasca praktek tanam paksa (1830 – 1870-an), yang dimulai oleh Graaf Johannes Van den
Bosch, untuk melayani pembangunan negeri Belanda. Partai-partai berhaluan
sosialisme sekuler dan partai beralas ideologi agama bangkit. Di negeri Belanda sana, sedang diterjang serangkaian tuntutan menyoal kewajiban moral.
Golongan liberal, menekan
pemerintahan Hindia-Belanda, agar mendidik Bangsa Bumi Putra dalam prinsip-prinsip moral
dan mengaturnya secara layak.
Waktu itu,
kelompok konservatif partai Protestan Anti-Revolusi, lebih banyak yang merajut
pemikiran kritis dari dasar kebijakan Politik Etis tahun 1905 -1930. Pendirinya
bernama Abraham Kuyper. Lalu, oleh salah seorang muridnya yang bernama Idenburg itulah, prinsip-prinsip perwalian
dan tanggung jawab moral dalam program partainya
dijalankan. Tentu, Idenburg
menjalankan program partainya sewaktu menjabat sebagai Menteri Urusan Koloni sepanjang periode 1906
– 1916.
Sis menarik napas
panjang. Mulutnya kembali menjulur. Sedotan hitam yang masih mengapung di atas
gelas gentong segera dikulum. Dihirup es teh manis dari gelas gentong itu.
“Ahh.” Akhir kata selesai meneguk.
“Kau tahu apa
yang terjadi selama periode Politik Etis itu?” Tanya Sis kepadaku.
“Aku tahu. Apa
maksudmu meletakkan sejarah Politik Etis dalam obrolan kita malam ini.”
“Pandai kau Ko.”
“Tepat sekali perkiraanmu
itu. Hasil dua buku yang kubaca dari karya Ben Anderson dan James Scott….” Belum selesai ia melanjutkan kalimat itu, Sis segera menyela
“Maaf ini teks Joko. Bukan hasil penelitianku sendiri. Sekali lagi aku minta
maaf.” Mata lelaki itu melotot, kedua telapak tangan diangkat setinggi dada.
“Tak masalah,
saya masih mau mendengar ceritamu Mas. Lanjutkanlah.”
“Baik kalau
begitu.”
Hasil saya baca
dua buku orang tua itu. Semasa periodisasi kebijakan Politik Etis bergulir,
perbaikan kehidupan desa di pulau Jawa, khususnya, semakin terfokus dan semakin
teknis. Utamanya pada program-program yang mengarah untuk kebutuhan
spesialisasi tertentu. Hasilnya, penataan Birokrasi negara kolonial Hindia-Belanda
berjalan semakin baik. Bagaimana tidak membaik? Belanda mendidik orang-orang
Bumi Putra untuk berkeahlian teknis administratur.
Diciptakanlah
mereka ahli-ahli kesehatan, pendidikan, pertanian, dan ahli pembangunan desa.
Seluruh ahli ini bergerak berbasis penelitian. Ada hasil survei yang dikerjakan
para kaum terdidik itu. Beberapa di antaranya penelitian tentang, kondisi
makanan pribumi, kepemilikan lahan, cara bertani, sistem irigasi, dan pelaksanaan
utang-piutang. Juga, soal keadaan perikanan, industri, perdagangan, serta
pengaruh kehadiran perusahaan Eropa dan orang Timur Asia terhadap kehidupan-kesejahteraan kaum Bumi Putra.
“Begitu Ko.
Pernah kau dengar soal paparan itu?”
“Setidaknya atau barangkali sedikitnya, aku pernah dengar tentang kebijakan Politik
Etis itu. Sewaktu belajar satu tahun belakangan ini di Bogor. Maksud dari sistem
pendidikan modern ala kolonial Belanda itu dijalankan, memang untuk mencetak tenaga buruh terampil. Pandai
mengerjakan barang-barang yang sifatnya administratif.”
“Tepat. Kau pasti
tahu maksudku yang sekarang?”
Sis, lagi-lagi mencoba
mengajak aku untuk membangun keputusan bersama. Ya, sebuah keputusan tentang untuk apa
suatu sistem pendidikan diselenggarakan pada masa kolonial Belanda.
“Ya, aku paham
maksudmu Mas. Aku jadi teringat salah satu penggalan kalimat dari buku Bumi
Manusia karya Pram. Ia bilang, Apakah guna sekolah-sekolah didirikan kalau toh tak dapat mengajarkan, mana hak mana
tidak, mana benar, mana tidak. (Bumi
Manusia, Sanikem: 383).”
Satu per satu
orang bergeser dan menepi. Malam itu, banyak obrolan yang tak bisa semua aku
tuliskan. Tapi, ada satu pesan dari Sis yang menggantung dalam alam pikiranku
malam itu.
“Tulis masalahmu Ko. Kelak, bila kau bertemu dengan peristiwa yang sama, kau tahu harus melakukan apa. Jangan dilupakan. Tak pernah bisa masalah itu dilupakan, karena semua memori tersimpan pada sistem Talamus. Ya, di dalam otak kepalamu! Jadikan itu bahan tertawa. Di saat itu kau menjadi orang kuat. Kuat dihantam apapun itu.”
0 komentar:
Posting Komentar