Rabu, 24 Januari 2018


Sore itu, Telepon genggamku berdering. “Hallo Joko. Tak ada rencana kah, kamu malam ini ke Gor Bulungan?” Tanya Si lelaki tua.

“Aduh, maaf Mas, sejauh ini belum ada rencana sama sekali Mas. Tapi, kalau mau nongkrong di sana aku bisa aja.”

Okey. Kalau begitu, bagaimana nanti malam kita ketemu di Gor Bulungan jam sembilan?” Ajaknya dengan nada santun.

“Bisa Mas, baik kalau gitu.” Balasku singkat.

Telepon pun mati. Aku masih punya waktu lebih kurang lima jam. Sembari menunggu jarum jam bergerak ke angka sembilan, kuhabiskan dulu beberapa tulisan yang telah berjejer di layar laptop.

Jendela kamar dua pintu yang terbuka lebar, mulai aku tutup satu per satu. Matahari mulai terbenam menuju arah barat. Terdengar mengalun Azan Magrib dari langgar sebelah rumah.

Awan mulai menghitam. Semoga hujan tak datang. Terlalu malam memang harusku tunggu. Mungkin lebih baik, bila aku membaringkan badan di atas kasur. Beberapa menit kemudian mata teras berat. Biar saja. Tak perlu dilawan. Tiba-tiba terpejam.

Tiba-tiba juga terbangun lagi. “Joko bangun. Sudah waktunya Isya.” Suara Bunda terdengar dari balik pintu yang diketuk tiga kali.

“Iya, tunggu.” Tanggapku. “Ohh.” Tangan kananku meraih kepala. Tampak aku seperti keranjingan, panik, mencari telepon gengam. Kutemukan telepon itu di balik bantal. “Ohh, syukur masih jam 20:48.” Ucapku dalam hati.

Selang beberapa menit kemudian. Sebuah pesan datang dari salah satu wadah sosial media. “Joko, aku sudah sampai di Gor Bulungan. Aku tunggu kamu di deretan Abang ketoprak.”

Okey Mas. Aku segera jalan.” Balas pesanku kepada Si lelaki tua.

Segera aku menuju kamar mandi. Membasuh muka dengan air. Mengganti celana pendek dengan celana panjang. Tabik aku ucapkan kepada Bunda sebelum pergi keluar rumah. Sepeda motor aku keluarkan dari pintu gerbang. Satu batang rokok aku bakar.

Sepeda motor kupacu lebih lambat dari biasanya, mungkin diatur sekita 45 – 50 kilometer per jam. Aku ingin menikmati lintasan panjang jalan Cipulir – Kebayoran Lama.

Dari pertigaan jalan Perdatam, beton-benton perkasa punya jembatan layang menutupi awan. Tetes air sisa hujan tadi sore, menimpa jaket merahku. Tak jarang, beberapa celah pada beton berkucur air, hasil pembuangan hujan yang tak tertampung.

Jalanan menuju Blok M tampak lenggang. Berbeda dengan jalur di sebelah kananku, yang mengarah menuju daerah Ciledug. Padat dan Macet. Motor-motor selang-silang berebut angkuh. Klakson dan sumpah serapah mengguyur supir-supir angkut dan metro mini yang mengetem di pertigaan lampu merah Perdatam.

“Anjing. Jalan bego, macet jangan ngetem.” Sahut lelaki berkacamata hitam dari dalam mobil Fortuner.

Salah seorang pengendara sepeda motor berjaket hijau putih. Khas, identitas milik salah satu layanan ojek berbasis online juga memekik sumpah serapah. “Eh bajingan. Keparat, lu jangan ngetem di pertigaan, Macet tolol di belakang.” Gebrak tangan Si pengendara ojek pada bagian pintu mobil angkutan. Lepas memaki, ia pun pergi dan menarik tali gas. Laju.

“Wah kontol emang! Beraninya di atas motor. Malah narik gas lagi.” Balas serapah Si supir angkut.

Di mata Jakarta, semua orang serigala. Semua orang pemarah. Yang tua, yang muda, yang kaya dan yang lemah, semua adu gontok. Penyelesaian perkara semua dilakukan dengan ketegangan urat leher. Untuk setiap jengkal dan setiap langkah kaki merupakan teror.

Di Jakarta orang diajarkan untuk bersikap keras kepala. Tak keras maka ditindas. Menjilat atau berlindung di balik induk semangnya.

Aku terbenam kembali pada beberapa waktu silam. Mulut mulai berceracau dalam hati. “Setan alas! Hidup di jalan, seolah semua kebenaran ditentukan oleh kekerasan.”

Sepeda motor tetap dipacu pelan. Selang 15 menit kemudian aku sampai di Gor Bulungan. Motor aku parkir di dalam Gor Bulungan. Sisarap, 59 tahun, telah menunggu di dekat Abang penjual ketoprak. Aku menyodorkan tangan kanan lebih dulu. Sebagai awal ucapan salam kepada Si lelaki tua itu.

“Tumben Mas, sampean pake celana panjang, mana rambut dipotong lagi. Plus kaca mata baru itu dipake. Rapih betul ini.” Pujiku.

Si lelaki tua rupanya hanya membalas dengan tertawa. Ia pun menyambung dengan kalimat lainnya. “Pesan dulu sana minum.”

“Aku gak ada uang Mas.” Selorohku

“Oh, ndak papa, biar aku yang bayar.”

“Wah jangan, aku cuma becanda.”

Tak jauh dari tempat Abang ketoprak, aku memesan satu gelas kopi hitam pahit. Si Abang penjual warung kopi dengan cekatan bergerak. Kopi bubuk dari toples plastik dikeluarkan. Ia membubuhi sedikit gula. Lalu, menciduk air panas dari dalam panci. Uap mengepul sewaktu tutup panci dibuka. Satu gelas disodorkan di atas meja. “Ini Mas sudah kopi hitam sedikit gula.” Sahut si Abang.  Aku segera merogoh kantong celana sisi kananku. Dua lembar uang bernilai tiga ribu rupiah aku sodorkan kepadanya. “Ini duitnya Mas. Terimakasih.”

Segera satu gelas itu aku bawa untuk kembali duduk. Salah seorang pelayan dari warung kopi lainnya, mengantarkan satu gelas gentong es teh manis ke meja tempat kami duduk. “Terimakasih Mas.” Ucap Sis. Seketika mulut Sisarap menyambar sedotan hitam yang masih berputar-putar di dalam gelas gentong.

Dari mana Mas hari ini?” Tanyaku.

“Aku dari Lebak Bulus tadi. Baru bertemu dengan Mas R. Akan ada agenda kedepan. Kami ingin buat suatu pertemuan akbar, yang mengundang lintas budayawan generasi tua, muda, dan orang-orang biasa, untuk membahas suatu agenda.”

“Apa agenda besar itu?” Tampaknya agenda kali ini tak biasanya. Mungkin seperti peringatan Malari 1974 tempo lalu? Atau mungkin berbeda? Sis—panggilan akrab sehari-harinya—tidak akan main-main dengan kawannya Si R itu.

“Iya. Jadi kami mau membaca ulang Nusantara dalam prespektif sejarah bahari.”

Bila acara itu jadi dilaksanakan akan menarik banyak mata. Akan banyak aku bertemu dengan orang-orang tua yang bergelut di dunia kesejarahan maritim Nusantara. Akan juga banyak orang-orang eks-PNI yang berkumpul. Gor Bulungan akan ramai kembali. Aku menanti acara itu. Namun, belum usai aku berandai-andai, Sis segera melempar pertanyaan baru.

“Kenapa kau Jumat malam minggu lalu, aku ajak ketemu enggak bisa? Kenapa juga, sudah tiga kali aku ajak kau ketemu untuk bertemu Mas R tidak pernah juga kesampaian. Kau menghindar? Apa kau sudah malas berkawan denganku? Dan Mas R? Kau menyimpan sesuatu?” Matanya mendelik. Ia ingin melucuti alam pikirku.

“Ahh” Kurang ajar. Seolah saja. Ia tampak mau menembusi pedalamanku. Ia ingin aku bercerita apa sebenarnya yang tengah terpikir atau sedang dan yang akan aku kerjakan. Memang lelaki tua ini pintar tembak-menembak bahan obrolan.

Cepat secepat detik jam bergulir aku balas rentetan pertanyaan itu. “Tidak Mas, barangkali memang waktunya aja yang selalu tidak tepat. Jumat malam ini aku bisa kok.” Mendengar itu, Sis hanya berangguk-angguk kepala. Lantas bertanya hal yang baru. “Kawanmu mana? Yang selalu sama kamu itu?”

“Siapa? Ahong? Maksudmu? Mas?” Tanyaku balik.

“Iya.”

“Dia kembali kerja di salah satu kedai kopi di daerah Bintaro.”

Ia mengernyitkan dahi. “Oh ya? Kerja lagi dia? Sudah berapa lama dia kerja di sana?”

“Baru beberapa hari ini. Itu keputusan dia. Tampaknya putusan itu sudah matang. Dia juga tahu akan kemana setelah ini” Paparku.

Lama aku mengenal Ahong. Bukan barang satu tahun atau dua tahun aku mengenalnya. Bukan juga barang dua tahun atau tiga tahun. Kami saling-silang mengenal hidup sejak menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA), awal tahun pertama masuk.

Di ujung jalan Bendi nomor 10, Tanah Kusir. Sebuah warung sembako tempat kami biasa berkumpul. Ahong kala itu, diajak oleh salah seorang kawanku yang lainnya. Di jalan Bendi 10 itulah kami memulai perkenalan awal. Hingga berlanjut sampai sekarang.

Sebenarnya, dulu ia dipanggil bukan Ahong, tapi dengan nama Botak. Sebab hampir selalu ia memotong rambutnya, bila mulai lebat sedikit. Tak pernah punya rambut gondrong atau sedikit panjang. Ia lebih suka memotongnya pendek, tapi tidak plontos. Karena itulah, kawan-kawanku memanggilnya Botak. Walaupun sekarang ia berambut panjang. Tentu tidak sepanjang rambutku yang sekarang. Terkadang masih juga ada kawan-kawan lama Si Ahong yang memanggilnya dengan Botak.

“Ahong itu tegas Mas. Ia tidak bisa digoyang kalau sudah memutuskan A. Tak bisa kau ajak dia bilang B, C, atau D.” Sis, lagi-lagi hanya berangguk-angguk kepala. Tampaknya di balik tempurung kepala itu, ia punya penilaian yang sama. Atau, bahkan, hanya sekedar mengukurku? Tapi, mulutnya terlihat tengah berancang-ancang, menyiapkan kalimat pertanyaan. Benar. Ia kembali bertanya. “Dia itu pemikir ya?”

“Iya dia itu pemikir. Bukan semua orang itu dilengkapi kesadaran? Makanya ia berpikir.

“Buka itu maksudku. Pemikir, dalam makna seorang pemikir.” Ia mengoreksi pertanyaannya sendiri.

 “Iya pemikir. Tapi aku lebih tahu sikapnya. Misal, hendak orang berbuat kesal, ia jarang langsung melempar tuduhan itu tepat di muka Si Pencerca. Setidak-tidaknya, lebih menarik diri untuk sementara menjauh sebentar.”

Sis tak menanggapi paparan itu. Malahan ada pertanyaan baru yang muncul lagi. “Tapi apa sebenarnya yang dia suka?”

“Dia suka gambar. Beberapa kali dia memberikan hasil goresan tangannya kepadaku, agar aku kasih masukan. Termasuk juga soal kegemarannya dalam berpuisi. Hampir banyak, puisi-puisi ia tuliskan. Baik pada note di telepon genggam. Atau pada buku hariannya yang berwarna coklat merah itu. Lebih banyak yang dituliskan hasil dari pengalaman sendiri. Ketika ia marah, senang, bingung, dan seluruhnya. Cuma terkadang dia sungkan untuk memberikan hasil karyanya kepada orang yang lebih tua. Dia sungkan, bila harus berhadapan dengan nyeniman yang namanya sudah kelas besar.” Jelasku. 

“Ahh tidak. Tidak begitu seharusnya. Bila dia mau kasih lihat hasil karyanya, barangkali aku akan memberi masukan semampuku. Lagi pula aku juga senang, ketika anak-anak muda mulai membuat karya. Kami-kami ini orang tua akan mati. Walaupun, umur juga tak ada yang tahu betul memang.” Nada sungkan segera dibalas oleh Sis. Ia segera menyambung hal lain. “Waktu itu kenapa dia tidak lanjutkan kuliahnya?”

“Entah, aku tak tahu-menahu.” Jawabku singat. Aku sebenarnya menghindari pertanyaan itu. Apalagi ini paut-memaut soal keputusan manusia lain. Aku tak ingin menjadi penghakim. Muak rasanya menjadi penghakim. Tak ada gunanya. Basis pengalaman aku tak punya. Diam lebih baik.

“Katanya karena kampus itu memaksa untuk dia memilih kelembagaan agama tertentu?” Sis kukuh. Masih saja melempar kail pancing, biar ikan di empang yang keruh tersambar. Baik, aku akan jawab sekenanya saja.

“Begitulah kurang lebih. Setidak-tidaknya, ia telah memilih untuk tidak berkuliah. Ia muak dengan gaya pendidikan yang mendisiplinkan cara pandang dan sikap. Bahkan, hingga sampai harus dipermalukan. Apalagi semua serba politik. Ia tidak mau memilih golongan islam—dalam bentuk kelembagaan—mana yang kafah dan mana yang tidak.”

“Iya benar itu Ko. Atau jangan-jangan kau yang tidak sejutu sebenarnya? Ketika dia berkuliah di lembaga itu?” Tembak Sis kembali.

Segera aku menyangkal tembakan Sis. “Mana mungkin aku ajak orang bersepakat dengan alam pikirku sendiri? Apalagi ini soal rasa yang dia jalani setiap hari. Aku tidak pernah kasih pandangan dia untuk keluar dari kampus. Itu keputusannya sendiri. Lagi pula, dia memilih atas perenungan yang cukup panjang. Bukan barang sehari atau dua hari.”

Sis, masih juga membenamkan cara pikirnya itu dalam percakapan yang bukan tentang diriku. Memaksa aku untuk memberi penilaian tentang Ahong. Apa yang sebenarnya ingin ia bangun? 

Tiba-tiba ia berkata kembali. Pernyataannya malah memperteguh pernyataanku.

“Iya dia juga cerita soal itu. Aku kasih masukkan, kalau kau sudah tidak nyaman keluarlah, pilih jalan lain. Bangkit jadi orang kuat. Kuat secara mental dan kuat secara fisik. Mulailah membangun jalannya sendiri. Aku juga, sudah seringkali mengajak dia bercakap-cakap. Utamanya, selama ia bekerja sebagai peracik kopi di Bulungan ini. Aku tahu dia, anak bukan sembarang orang. Banyak percakapan yang aku bangun dengan dirinya. Mulai dari filsafat klasik, seni rupa, sejarah kuno Nusantara, dan lainnya. Aku tahu ia simak semua itu.” Sis memang pintar memilin rekan bicaranya. Ia ingin mengukur sejauh mana aku mengenal Ahong. Pendalamanku coba ditelaah, diulik-ulik lebih dalam.

Kelar mengulik Ahong, ia melempar topik memasuki masa silam. Ia mulai menandai waktu dengan hitungan tahun:

Tahun 1870-an dan sesudahnya. Pasca praktek tanam paksa (1830 – 1870-an), yang dimulai oleh Graaf Johannes Van den Bosch, untuk melayani pembangunan negeri Belanda. Partai-partai berhaluan sosialisme sekuler dan partai beralas ideologi agama bangkit. Di negeri Belanda sana, sedang diterjang serangkaian tuntutan menyoal kewajiban moral. Golongan liberal, menekan pemerintahan Hindia-Belanda, agar mendidik Bangsa Bumi Putra dalam prinsip-prinsip moral dan mengaturnya secara layak.

Waktu itu, kelompok konservatif partai Protestan Anti-Revolusi, lebih banyak yang merajut pemikiran kritis dari dasar kebijakan Politik Etis tahun 1905 -1930. Pendirinya bernama Abraham Kuyper. Lalu, oleh salah seorang muridnya yang bernama Idenburg itulah, prinsip-prinsip perwalian dan tanggung jawab moral dalam program partainya dijalankan. Tentu, Idenburg menjalankan program partainya sewaktu menjabat sebagai Menteri Urusan Koloni sepanjang periode 1906 – 1916.

Sis menarik napas panjang. Mulutnya kembali menjulur. Sedotan hitam yang masih mengapung di atas gelas gentong segera dikulum. Dihirup es teh manis dari gelas gentong itu. “Ahh.” Akhir kata selesai meneguk.

“Kau tahu apa yang terjadi selama periode Politik Etis itu?” Tanya Sis kepadaku.

“Aku tahu. Apa maksudmu meletakkan sejarah Politik Etis dalam obrolan kita malam ini.”

“Pandai kau Ko.”

“Tepat sekali perkiraanmu itu. Hasil dua buku yang kubaca dari karya Ben Anderson dan James Scott….” Belum selesai ia melanjutkan kalimat itu, Sis segera menyela “Maaf ini teks Joko. Bukan hasil penelitianku sendiri. Sekali lagi aku minta maaf.” Mata lelaki itu melotot, kedua telapak tangan diangkat setinggi dada.

“Tak masalah, saya masih mau mendengar ceritamu Mas. Lanjutkanlah.”

“Baik kalau begitu.”

Hasil saya baca dua buku orang tua itu. Semasa periodisasi kebijakan Politik Etis bergulir, perbaikan kehidupan desa di pulau Jawa, khususnya, semakin terfokus dan semakin teknis. Utamanya pada program-program yang mengarah untuk kebutuhan spesialisasi tertentu. Hasilnya, penataan Birokrasi negara kolonial Hindia-Belanda berjalan semakin baik. Bagaimana tidak membaik? Belanda mendidik orang-orang Bumi Putra untuk berkeahlian teknis administratur.

Diciptakanlah mereka ahli-ahli kesehatan, pendidikan, pertanian, dan ahli pembangunan desa. Seluruh ahli ini bergerak berbasis penelitian. Ada hasil survei yang dikerjakan para kaum terdidik itu. Beberapa di antaranya penelitian tentang, kondisi makanan pribumi, kepemilikan lahan, cara bertani, sistem irigasi, dan pelaksanaan utang-piutang. Juga, soal keadaan perikanan, industri, perdagangan, serta pengaruh kehadiran perusahaan Eropa dan orang Timur Asia terhadap kehidupan-kesejahteraan kaum Bumi Putra.

“Begitu Ko. Pernah kau dengar soal paparan itu?”

“Setidaknya atau barangkali sedikitnya, aku pernah dengar tentang kebijakan Politik Etis itu. Sewaktu belajar satu tahun belakangan ini di Bogor. Maksud dari sistem pendidikan modern ala kolonial Belanda itu dijalankan, memang untuk mencetak tenaga buruh terampil. Pandai mengerjakan barang-barang yang sifatnya administratif.”

“Tepat. Kau pasti tahu maksudku yang sekarang?”

Sis, lagi-lagi mencoba mengajak aku untuk membangun keputusan bersama. Ya, sebuah keputusan tentang untuk apa suatu sistem pendidikan diselenggarakan pada masa kolonial Belanda.

“Ya, aku paham maksudmu Mas. Aku jadi teringat salah satu penggalan kalimat dari buku Bumi Manusia karya Pram. Ia bilang, Apakah guna sekolah-sekolah didirikan kalau toh tak dapat mengajarkan, mana hak mana tidak, mana benar, mana tidak. (Bumi Manusia, Sanikem: 383).”

Satu per satu orang bergeser dan menepi. Malam itu, banyak obrolan yang tak bisa semua aku tuliskan. Tapi, ada satu pesan dari Sis yang menggantung dalam alam pikiranku malam itu.

“Tulis masalahmu Ko. Kelak, bila kau bertemu dengan peristiwa yang sama, kau tahu harus melakukan apa. Jangan dilupakan. Tak pernah bisa masalah itu dilupakan, karena semua memori tersimpan pada sistem Talamus. Ya, di dalam otak kepalamu! Jadikan itu bahan tertawa. Di saat itu kau menjadi orang kuat. Kuat dihantam apapun itu.”
     


0 komentar:

Posting Komentar