Di
depan rumahku pohon rambutan setinggi delapan meter, tumbuh lebat membubung tinggi ke langit. Bunda bilang rambutan itu jenis rapia. Dulu bibitnya dibeli dari kebun Ragunan, belahan Jakarta Selatan tahun 2002. Tentunya, tinggi badan rapia tak sama seperti
yang sekarang. Dulu kurang lebih hanya 100 centimeter.
Bulan Oktober
kemarin tahun 2017, rapia mendadak berbuah penuh. Masuk
bulan November rimbunan buah hijau berubah menguning. Menjelang akhir Januari
2018 lalu, seluruh buah berubah merah. Jenis rambutan rapia tak berbulut lebat, berbeda dengan
pohon rambutan
milik si Uwak yang berada di samping rumahku. Si macan namanya. Jenis
pohon rambutan berbulu lebat,
manis, dan menyisakan lengket di dalam kerongkongan sewaktu dimakan.
Sejak
dibeli pada tahun 2002 lalu, hanya tiga tahun berselang rapia berbuah rutin. Sisanya menjelang tahun 2006 ke 2007, tak pernah lagi
rapia berbuah. Beberapa
kali orang rumah meminta agar rapia segera
ditebang. Atau
dijual berserta seluruh pongkol dan akarnya. Namun,
aku menolak permintaan orang-orang rumah. Alasanku sederhana. Bila rapia ditebang, pelataran rumah jadi
gersang. Panas sengangar matahari ruak menyengat kemudian. Ada kebingungan yang
bergelayut di kepala memang. Bayangkan selama lima belas tahun lamanya, rapia
tak lekas berbuah. Entah apa yang terjadi. Orang-orang rumah juga tak ada yang mengerti.
Hingga tibalah bulan Desember 2017 lalu. Rimbunan buah rambutan yang sebelumnya menghijau mulai menguning. Tepat
di bulan Desember pula, berlangsung acara arisan satu rumpun keluarga.
Kebetulan giliran rumahku sebagai titik kumpul. Seluruh sanak-saudara jauh dan dekat gegap
berkumpul. Hampir banyak rupa wajah sanak-saudara yang tak lagi aku kenal. Mereka semua tumbuh dan berubah rupa wajah.
Aku tak
akan bercerita soal obrolan sewaktu acara arisan kemarin. Nantinya malah akan panjang
lebar cerita ini. Barangkali hanya beberapa penggal dialog. Itupun masih tentang si rapia. Waktu acara arisan, aku memulai obrolan dengan salah satu Kakak sepupuku dari Kakak kandung Bunda. Sarul namanya, 26 tahun. Di antara seluruh saudara, kini hanya keluarga
Sarul yang masih memiliki lahan kebun. Letak kebun itu berada di belakang rumahku. Luas lahanya kalau ditaksi sekitar 4000 meter. Di atas seluas lahan
itulah Sarul menanami beberapa jenis pohon bulanan, seperti pisang
kepok, duren, rambutan si macan,
pohon kapuk, dan beberapa tanaman obat yang salah satunya adalah kumis
kucing.
Sebenarnya si Ayah yang lebih gemar berkebun, dibandingkan
Sarul yang lebih suka mengotak-atik jeroan komputer. Namun, berhubung karena Sarul yang paling dekat dengan lingkungan hidup
pertanian, mungkin
ia mengetahui soal derita penyakit rapia selama
sebelas tahun yang tak kunjung berbuah.
“Rul, entah kenape ntuh
pohon rambutan baru bisa berbuah sekarang? Elu tau kaga? Kenape
ye bisa begitu? Udah sebelas tahun dia kagak berbuah. Sekarang malah
tiba-tiba ntuh pada berbuah banyak banget lagi?”
Sarul yang tengah duduk
beralas karpet plastik di pelataran rumah, balas menjawab. “Lah auk gua mah, emang gitu dia, lagi
ngambek kali.”
Mendengar
ucapakan Sarul, kepalaku hanya berangguk-angguk. Semakin dipikirkan, entah mengapa
semakin terasa pusing menerjemahkan maksud buah pikir Sarul.
Alhasil, aku hanya membalas dengan berdesis mengulangi ucapan Sarul “Ya, mungkin lagi ngambek.”
Di hari
yang berbeda,
pada bulan Februari. Seluruh buah berona merah bertengger di atas pohon. Rapia hidup
kembali dari mati suri. Panen. Rambutan dipetik semampunya. Setiap hasil petik aku letakkan pada masing-masing kantong
plastik. Bunda ingin membagi hasil petik rambutan kepada sanak-suadara
dan tetangga rumah.
Setelah rampung memetiki
buah, giliran rambutan yang telah terbungkus kantong plastik tadi dibagikan ke
setiap rumah. Dari yang terpetik jumlahnya jauh lebih sedikit, dibandingkan
dengan yang masih berada di atas pohon. Namun, jaraknya berjauh-jauhan. Sulit untuk digapai dengan
hanya tangan telanjang. Perlu tangga dan galah untuk memetiknya.
Bunda
ada rencana sehabis musim
petik bulan ini. Katanya, ia ingin memangkas pohon
rambutan
sebagian. Lantaran, dahan-dahan pohon dan dedaunan rimbun menjulang sampai memasuki ruas jalan. Apalagi, ada sebagian ranting yang tersangkut pada kabel
listrik. Lebih baik ranting dan dahan itu lekas dipotongi sebelum memutus
kabel listrik.
Sementara nasib buah rambutan
yang masih bertengger di atas pohon, belum juga dapat
dipecahkan. Bunda makin bingung siapa lagi tetangga dan
sanak-saudara yang belum dikasih. Tak mungkin semua disimpan di rumah. Lagi pula tak akan habis orang rumah makan buah rambutan sebanyak itu. Lebih
baik dibagikan pada orang-orang, dari pada menjadi sia-sia.
Malam hari, Bunda mengetuk kamar.
Ia bilang esok hari tetangga kampung lain akan datang memetik sisa-sisa buah
rambutan. Sebelumnya di waktu sore, ia sempat bertemu dengan istri Bang Jamil.
Namanya Mpok Jaenab. Bunda menawarkan kepada Mpok Jaenab, barangkali kalau mau
mengambil buah rambutan bisa segera datang ke rumah. Rupanya, tawaran itu
disambut baik oleh Mpok Jaenab.
Esok hari di waktu sore, sekitar jam tiga, Mpok Jaenab datang bersama dua kawanan perempuan lainnya. Ketiga perempuan itu jalan beriring-iringan sembari membopong tangga besi. Rupa rambut mereka hampir banyak telah bertabur uban. Perawakan tubuh mereka kurus. Dua tulang di bawah leher terlihat kontras.
Banyak pula baretan cakar ayam di kedua belah pipi mereka. Wajahnya kriput.
“Assalammualaikum.”Sapa Mpok Jaenab.
“Eh masuk-masuk.” Teriak Bunda dari dalam rumah. Segera
pintu depan dibuka mempersilakan ketiga perempuan itu masuk ke pelataran rumah.
“Ini langsung ambil aja ya Bu?” Todong Mpok Jaenab.
“Iya ambil aja yang mana, yang
mau, kalau sanggup.”
Dengan
cekatan tiga perempuan itu merentangkan selangkangan tangga besi yang mereka bawa. Mpok
Jaenab bertindak sebagai pemanjat. Ia menaiki tangga besi hingga di ujung
pangkal. Kedua pahannya mengapit erat. Mirip orang yang hendak duduk cangkung. Sementara, kedua tangan Mpok Jaenab memegang selonjor bambu panjang. Perlahan, ia mulai
menyengget buah-buah yang tersisa.
Dua perempuan lainnya mengisi
peran yang berbeda. Satu perempuan bertugas memegang tangga. Satu lagi
bertindak memunguti buah rambutan
yang berjatuhan. Buah-buah yang telah dikumpulkan nantinya akan ditaruh dalam beberapa kardus.
Setelah petikan pada bagian dalam rumah tandas, ketiga perempuan itu lalu
bergerak lagi ke pinggir jalan. Peran yang sama belum berubah. Mpok Jaenab masih
memegang gawai bambunya. Pergantian peran hanya terjadi pada dua perempuan yang aku tak mengenal namanya itu. Perempuan yang sebelumnya bertindak memegang tangga, kini berbubah menjadi pemungut. Sebaliknya pun begitu.
Hampir
satu jam lebih aktivitas itu berlangsung. Hati terpanggil tiba-tiba. “Mpok mau dibantuin ngegalahin rambutan apa
kaga?”
“Kaga usah Ko, mending elu
masuk aje ke dalem rumah. Lagian rambutan juga yang makan gua, ngapa lu repot-repot
bantuin gua.” Cablak
Mpok Jaenab.
Mandadak
napas terasa megap-megap. Jantung berderap cepat. Ingin bertindak membantu, justru
ia berpekik menolak. Aku hanya temangu dengan kepala mendongak ke arah Mpok Jaenab. Segera
aku pecah lamunan itu, masuk menimpali obrolan “Yaudeh Mpok ati-ati, pelan-pelan
aje ye. Yaudah aku ke warung dulu Mpok ya.” Seringaiku
di akhir kalimat
Aku
mulai terbenam sepanjang jalan. Sadar dalam beberapa tahun belakangan ini, pertemuan
dengan budaya “sungkan Jawa” membuatku canggung. Ini bukan semacam
pembenaran atau kalimat yang bernada rasial. Sepengalamanku berkuliah di Malang, beberapa kawan yang aku temui memberikan kesaksian. Rasa
sungkan kerapkali
sukar untuk dibubuhi dalam meja obrolan tatap muka.
Wujud seseorang
bila tak bersekapat, lagi-lagi sejauh yang memang aku
ketahui, terbungkus dalam kata “Anu”.
Entah, kata itu akan banyak sekali tercurah dalam pernyataan Misalnya, “Anu… Mas, ya apa ya mas, anu mas.”
Intinya kata “Anu” sebagai tanda seseorang keberatan. Namun,
sungkan untuk mengatakan secara langsung.
Lepas
membeli beberapa batang rokok keretek, aku kembali menuju jalan rumah. Mata memandang dari
kejauhan, berserak daun dan ranting yang gugur tersengget bambu. Buah-buah rambutan tercecer awur-awuran di pinggir jalan. Mpok
Jaenab dan dua kawan perempuannya belum juga beranjak dari posisi semula.
Pintu rumah
yang berada di samping rumahku tiba-tiba terbuka. Mpok Ani namanya. Ia masih Kakak
kandung Bunda yang kedua, tiba-tiba keluar menyapuhi jalan
depan rumahnya yang bertabur daun rambutan. Mpok Jaenab teriak-teriak
keranjingan. “Mpok Ani,
udeh kaga usah repot-repot. Mari kelar nyabutin, entar
saya rapiin nih jalan.”
“Udah kaga nape-nape Mpok Jaenab. Sekalian
sore olahraga nyapu-nyapu.” Balas Mpo Anik tetap dengan tingkahnya menyapu
jalan depan rumah. Sapu ijuk di tangan kanan, dan pengki di tangan kiri. Dari
dalam rumah seorang lekaki bertubuh gempal duduk di atas kursi. Sedangkan,
satu lelaki lainnya berkepala plontos tengah menyeruput kopi dari gelas kaca ukuran
kecil.
“Mpok Ani itu ada Uwak?” Tanyaku.
“Iya itu ada, gidah sana. Dicariin saban kemaren
sama dia. Baru pulang ntuh dari Padegelang.”
“Iya Mpok, yaudeh aku maen ke rumah yak.”
Sergapku.
Segera
aku lewati pagar
rumah. Di depan seorang lelaki berteriak kencang “Wey apa kabar nih anak muda?” Gelegar
Uwak menyambut kedatanganku.
“Baik-baik Wak.” Tangan
kananku menyalami Uwak. Tak lupa pula, Apis yang juga
masih sepupu satu kali kusalami.
Tiba-tiba
Bulan, anak perempuan kedua Uwak, membuka pintu pelataran. Ia
keluar dari bagian dalam rumah, dan menanyakan hal yang sama tentang kabar. Tak
tanggung-tanggung ia juga menawarkan minum. “Mau kopi atau teh?”
“Udeh kagak usah Kak. Sebentar aje kok
nanti juga balik.”
“Udah Lan, bikini aja Kopi pait ntuh die.
Ntuh demenannya die.” Tetak Uwak memotong obrolan.
Bulan
masuk ke dalam, selang beberapa menit setelah aku membakar rokok, dua gelas
datang. Satu teh manis dan satunya lagi berisi kopi. “Maap
ye Ko. Uwak udah kaga bisa ngupi item. Aduh ini perut udah kaga bisa.” Kedua tangan Uwak
mengusap-usap perutnya yang kini menjadi tambun. “Asem lambung Uwak udeh tinggi, udah kagak enak dah rasa-rasanye kalau
dipaksa.” Tetak Uwak sambil bibir
menggerenyot.
“Iye emang udeh tua. haha” Selorohku. Tak mau dibilang tua, bantahan kalimat muncul “Siape bilang udeh tua? Biar begini Uwak
masih inget peristiwa. Ya, emang si sekarang beda ame dulu.
Cuma kurang gerak aje yang sekarang ini mah.
Apalagi pas berenti ngerokok, nih perut jadi gede begini tiba-tiba. Aduh-aduh.” Keluh Uwak sambil tangan
kananya menepak-nepak jidat.
“Ya kaga papa Wak, yang penting pikirannya
sehat. Kan, yang ringan-ringan aje geraknye mah sekarang.”
“Nah itu dia Ko, sekarang Uwak saban pagi
senam jantung ame jalan-jalan di batu tanjem ntuh.” Tanganya
menunjuk-tunjuk peluran batu krikil yang tersusun dengan adonan semen. “Enak si badan kalau abis gerak begitu mah.
Cuma ya gak sebanyak keringet waktu di Padegelang Uwak manen kopra. Bah… itu
mah keringat ngucur-cur-cur deres dah.” Gebuh Uwak.
Belum
selesai Uwak bercerita, Apis tiba-tiba memberondong pertanyaan. “Eh Joko, lu ngapa ntuh
rambutan dibagi-bagi sama orang si? Kan kalau lu suruh tukang buah ambil ntuh
satu puhun, barang dua ratu ampe tiga ratu
bisa lu pegang. Udah gitu juga rapi lagi abis dipetik tuh pohon, disapuhin semua yang awur-awuran.” Tanganya menunjuk-tunjuk pohon rambutan milikku.
Belum
kelar bicara,
Apis lanjut
lagi “Nah, kan kalo lu
suruh orang kantor gua di Lemigas, tukang bersih mau ntuh bayar rambutan lu
sampe abis. Lu jualnya satu pohon.
Entar duit
lu pegang dah ntuh, kan
enak. Lu malah dibagi-bagi ame orang kampung sini. Orang
kampung sini mah semua yang gratis juga
mau!” Bentak Apis yang keranjingan karena kurang lahan
garapan.
Bak kepundan
bergemuruh. Jantung berderap kencang. Darah naik di atas kepala. Perlahan-lahan napas mulai kutarik panjang. Tiga sampai empat sedotan rokok membuat tenang. Uwak hanya
menatap lurus ke arah pagar rumah. Mungkin ia tahu kalimat
bertanda berang Apis. Namun, hanya suara desir angin yang terdengar sewaktu menabrak dedauan pohon rambutan.
Pelan mulailah
aku mengangkat suara. “Yah Bang, kaga
semuanye juga kita duitin. Lagi pula, nih rambutan baru berbuah sekarang. Di
rumah juge udah banyak. Masih syukur deh Bang kita bisa bagi ke
tetangga-tetangga. Semua juga lebih enak kalau dimakan bareng.”
Aku tahu suasana akan berubah
canggung. Benar memang, setelah aku berbicara situasi berubah kikuk. Kami semua
saling diam. Apis hanya mengisap rokok dan sesekali menyeruput kopi. Sama
halnya denganku. Sementara, Uwak memijat-pijat tumit kakinya sendiri.
Selang
beberapa menit
kemudian, Uwak kembali berpekik. Ia bertanya apa aku sudah tahu tentang cerita Bang
Siman sewaktu ia ajak ke Padegelang? Nah, cerita ini bertali-temali dengan kisah Uwak
sewaktu masih muda dan mantra Ajian Welut Putih.
0 komentar:
Posting Komentar