Awan mendung
kehitaman. Sebuah hari pasar telah tiba di Toraja bagian Utara. Seorang
penumpang tak beralas kaki menaiki pete-pete.
Lima buah la’bo (parang), ia bawa
dari kampung. Si kakek baru saja turun dari kampungnya yang berada di atas
gunung. Di hari pasar ini, ia berniat menjual la’bo buatnya sendiri. Si supir tak berhenti lagi. Walaupun kursi
penumpang kali ini masih sepi. Ia tetap melaju mengantar kami menuju pasar
Bolu.
Mobil memasuki
lorong-lorong pasar. Bau aneka tahi ternak menohok hidung. Dengkur kerbau bersahut-sahutan.
Di dalam kursi penumpang pete-pete. Melihat
para pedagang menjajakan aneka hasil bumi. Mereka duduk berjejer di pinggiran
jalan. Menggelar lapak dagangan hasil bumi, seperti katokon, sayur-mayur, tomat, sereh, laos, dan ikan mas. Satuan
Polisi Pamong Praja (Satpol PP) hadir mengawal hari pasar. Tak ketinggalan
Polisi lalu lintas (Polantas) mengatur hilir mudik pertigaan jalan.
Detum besi
baja bertalu kencang dari sudut jalan. Di
sela-sela suara hataman besi, terdengar suara grinda. Percikan api memantul keluar dari kerumunan orang. Di tempat pembuatan la’bo, orang-orang berbaris. Mereka menunggu
antrean untuk mengasah parang.
Perut kosong
belum terisi makan. Sebuah warung mie ayam di pinggir jalan menarik perhatian.
Aku dan salah seorang kawan memutuskan untuk makan lebih dulu. Rupanya kawanku
sudah pernah makan di tempat mie ayam pinggir jalan itu. Kata kawanku, si
pedagang berasal dari Solo, Jawa.
Kami memesan dua
porsi mie ayam. Dua porsi mangkuk berisi mie ayam penuh diantarkan ke meja. Porsi
mie ayam tak sama seperti di pulau Jawa. Di Toraja, porsi mie ayam lebih banyak
dengan taburan ayam semur yang bertumpuk. Harga dua porsi mie ayam dibandrol
dua puluh enam ribu.
Setelah makan, kami berencana berpisah mengitari lorong pasar. Kawanku lebih tertarik untuk
bercakap-cakap dengan rombongan pedagang tedong
(kerbau). Satu per satu pedagang tedong
berdatangan. Mengendarai mobil truk atau sebuah mobil bak. Tedong-tedong lalu diturunkan dari mobil. Si pedagang mengembalai tedong menuju lapangan pasar.
Sembari
mengamati sekeliling. Arah langka kaki bergerak mengikuti lingkaran pasar. Di
bagian sisi belakang pasar. Dekat kantor Dinas Peternakan, Toraja bagian utara.
“Ngok-Ngok.” Rintih babi bertalu-talu. Kumpulan
babi tergelepak berjejer di atas para-para. Keempat kakinya terikat tali
tambang.
Di sisi
sebelah kiri tempat penjualan babi. Sekumpulan manusia berkumpul membentuk
lingkaran. Ada yang berdiri, jongkok,
dan duduk beralas tanah. Hampir semua manusia yang datang membawa sarung yang terikat
menggantung di pinggang. Sementara ada juga sebagian orang yang duduk berkeredong kain sarung. Maklum suhu udara di sini dingin.
Tak jauh dari
tempat orang berkumpul, sebuah tiang besi tertancap kokoh menyangga atap
bangunan. Atap-atap yang terbuat dari kayu dan genteng bertanah liat. Selembar kertas HVS terlaminasi bertengger di tiang besi. Sederet kalimat
bercetak tebal tertulis “Tempat Penjualan
Ayam”.
Tempat Penjualan Ayam
Kerumunan orang
yang datang tak memadati hanya di satu sisi. Sebagian ada yang masuk ke dalam
tempat penjualan. Sementara, sebagian kerumunan yang lain berkumpul di antara
tempat penjualan babi dan ayam yang berlorong sempit. Kerumunan orang pecah
mengisi setiap sisi yang masih sepi.
Di kejauhan
tampak seorang lelaki jongkok. Siman
namanya. Ia tak berteman. Hanya menatam tajam ke arah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Tak ada
pula ayam yang dibawa. Di hari pasar ini, Siman ingin mencari seekor ayam untuk
dibeli. Tak banyak bicara. Menjawabnya saja ketus. Apalagi bertanya. Hanya
sepasang bola mata bergerak membidik ayam-ayam terbaik di pasar. Akhirnya, kuputuskan
untuk berjalan ke arah lain.
Semakin siang satu
per satu orang berdatangan. Menyebar dan meruang di segala arah hingga
menutup jalan. Di dekat warung asongan di jalan yang sedikit menurun. Kumpulan
orang jongkok berjejer. Tua, muda,
perempuan, laki-laki. Semua lebur.
Lagi-lagi dari kejauhan. Seorang pemuda duduk jongkok menatap
sekeliling tempat penjualan ayam. Tangan kanannya mengelus bulu-bulu di sekujur
leher ayam. Sesekali kedua sayap ayam silih berganti direbahkan. Satu per satu
bulu yang tertancam di kedua sisi sayap diperhatikan dengan seksama. Ia tampak
begitu khusyuk. Helmnya masih menempel di kepala.
Kuhampiri
lelaki itu. Celuk kulempar kepadanya. “Gagah
ayamnya Bang”.
Si lelaki membalas
dengan senyum simpul. Pagi ini, Anton sengaja membawa dua ekor ayam dari rumah.
Satu ekor ayam yang dielus-elus sedari tadi, sengajar untuk menarik ratusan
pasang mata di Pasar Bolu. Telunjuk Anton bergerak-gerak. Mulutnya mengucap
kalimat. “Ini jenis Philippin.”
Usia ayam baru
satu tahun setengah bulan. Anton berencana menjual kedua ekor ayamnya. Harga
yang ditawarkan 400 – 500 ribu. Itu pun kalau ada lawan yang berani berjabat
tangan. Harga jual sebesar itu sudah untung bagi Anton. Lagi pula biaya
perawatan ayam murah. Hanya tinggal diberikan makan saja. Pakan ayam dapat
berupa beras, dale (jagung), dan awang (dedak). Misalnya saja jagung.
Untuk satu sampai dua kilogram, cukup memberi makan selama dua minggu satu ekor
ayam petarung.
Dua ekor ayam
yang dibawa oleh Anton, hampir semua ayam taji; ayam petarung. Sementara satu ekornya lagi merupakan
betina Philippin yang baru saja dibeli pagi ini. Kini, dengan adanya betina
Anton akan mewujudkan mimpinya untuk membuat peternakan khusus ayam Philippin
petarung.
Dalam memilih
ayam jenis petarung, Anton punya beberapa kriteria khsusus. Pertama dari kepadatan
tubuh ayam. Tubuh ayam harus bertonjol-tonjol kencang. Kedua, jumlah sisik yang
berada di sepasang kaki harus berlipatan ganjil. Jumlah sisik pada bagian kaki kiri
dan kanan juga harus berbeda. Ketiga, yang tak boleh ketinggalan, yaitu
kecepatan pukulan kaki ayam. Khsusus cara yang ketiga hanya bisa diketahui
dengan perlakuan khusus.
Dua orang yang
bersepakat akan mengadu ayam. Istilah uji coba ini dinamakan ma'passi binte. Jika seorang calon pembeli yang
datang ke pasar tak membawa ayam. Ia dapat meminjam seekor ayam dari salah
seorang yang datang ke pasar.
Si calon
pembeli akan menyodorkan ayam yang berada di dalam rangkulannya kepada si
penjual. Bulu-bulu yang berada di sekuju leher ayam akan merekah. Geragasan. Antara patuk saling
sambar-menyambar. Cepat. Semakin gesit ayam mematuki lawan ada nilai jual yang
bagus. Harga yang barang tentu dibuka berada dalam rentang 200 ribu sampai 300
ribu.
Lantaran
posisi duduk kami yang berada di tepian jalan. Arus kendaraan bermotor begitu
padat. Apalagi jika sepeda motor yang mengangkut seekor babi yang sedang menggeletak.
Kami dan orang-orang yang ikut duduk di tepian jalan harus mengangkat pantat.
Kalau sudah begini obrolanku dan Anton kembali disambung ulang.
Kini Anton mengeluh.
Ia tak habis pikir. Padahal tempat penjualan ayam, baru saja dipindahkan oleh
Pemerintah Daerah pada bulan Januari atau Februari di tahun 2017 lalu.
Sebelumnya, tempat penjualan ayam berada di belakang terminal Pasar Bolu. Pemerintah
menuduh para pedagang ayam dan pengunjung menggangu arus keluar-masuk
kendaraan. Namun, ketika pasar telah dipindahkan kepadatan pendatang tetap tak berkurang.
Aku sempat
bertanya kepada Anton, soal banyaknya perempuan yang datang menenteng karung
ayam “Apakah mereka juga mencari ayam
petarung?”
Sebagain
perempuan memang ada yang datang mencari ayam petarung untuk kembali dijual
lagi di kampung. Sebaliknya, ada juga yang mencari ayam potong untuk kebutuhan
lauk-pawuk. Kata Anton, kebanyakan ibu-ibu yang datang mencari jenis ayam
Bangkok atau ayam tondok (kampung).
Sontak Anton
jadi teringat cara saung ayam tondok. Berbeda dengan ayam Philippin
atau Peru yang menggunakan taji.
Jenis ayam tondok atau Bangkok lebih
banyak dipertarungkan tanpa taji. Cara
permainan saung ini dalam bahasa Toraja
dinamakan lotten.
Kendati begitu, pedagang-pedagang yang berjual ayam di Pasar Bolu hampir banyak menjajakan jenis ayam untuk
keperluan pesta atau ma’saung. Biasanya orang yang akan berhajat, menyuruh salah seorang kerabat dekat untuk datang ke pasar. Setibanya di pasar, ia akan memborong ayam dari tangan para pedagang pasar. Seluruh ayam yang dibeli nantinya akan diadu oleh penantang yang datang di hari pesta.
Petarungan yang
terjadi tak gratis. Ada ongkos taruhan yang harus disediakan. Benda yang dipertaruhkan
umumnya berupa uang. Jumlahnya variatif. Tergantung kategori pertarungan. Katagori
ayam bagus misalnya. Nominal barang taruhan bertingkat. Mulai dari 10 juta
sampai 25 juta. Bahkan ada juga yang mencapai 100 juta. Uang taruhan bisa
dihasilkan dari kantung saku pribadi. Tapi, menurut Anton kebanyakan orang yang
ingin bertaruh akan iuran. Ketika menang hasilnya akan dibagi rata.
Tak lama motor
yang mengangkut barang bawaan berupa keranjang ayam lewat di depan kami. Anton berdiri
seketika. Tangan kirinya langsung menunjuk-nunjuk ke arah keranjang bambu
sepeda motor.
“Itu mi
penjual Palopo. Dia biasa jual rata itu mi. Satu ekor 80 – 90 ribu sebenarnya.”
Jelas Anton.
Anton
memastikan, sebagian besar ayam yang beredar di Pasar Bolu telah melewati tiga
kali perpindahan tangan. Ayam-ayam diangkut para penjual dari kampung ke
kampung plosok di daerah Palopo. Pedagang yang datang ke kampung-kampung
membeli sebanyak-banyaknya ayam yang tersedia. Jika ada 20 ekor harga beli
dipukul rata 100 ribu untuk per ekor. Ketika ayam tiba di Pasar Bolu harga jual
ayam naik menjadi 120 – 150 ribuan per ekor.
Rentang harga
itu serupa dengan jenis ayam Peru. Tapi, ukuran segenggam tangan orang dewasa;
anak ayam yang masih berusia tiga bulan seharga 150 ribu. Sedangkan untuk yang
satu tahun dapat menembus angka dua hingga tiga juta. Harga mahal ini sebanding
dengan persebaran ayam jenis Peru di pasar Bolu. Jumlahnya terbatas, hanya
hitungan jari.
Anton pernah
punya pengalaman tentang ayam Peru. Salah seorang teman mendatangkan ayam dari
Peru, Amerika Latin. Waktu itu sebanyak empat pasang didatangkan. Ongkos
jalannya merogoh kocek sebesar 4,5 juta.
Nanti ketika
telah tiba Pasar Bolu, harga jual berganti menjadi 200 ribuan. Obrolan berhenti.
Anton pamit pergi memasuki lorong tempat penjualan ayam lebih ke dalam. Ketiga
ayamnya dijinjing bersamaan.
0 komentar:
Posting Komentar