Senin, 30 Oktober 2017

Awan mendung kehitaman. Sebuah hari pasar telah tiba di Toraja bagian Utara. Seorang penumpang tak beralas kaki menaiki pete-pete. Lima buah la’bo (parang), ia bawa dari kampung. Si kakek baru saja turun dari kampungnya yang berada di atas gunung. Di hari pasar ini, ia berniat menjual la’bo buatnya sendiri. Si supir tak berhenti lagi. Walaupun kursi penumpang kali ini masih sepi. Ia tetap melaju mengantar kami menuju pasar Bolu.

Mobil memasuki lorong-lorong pasar. Bau aneka tahi ternak menohok hidung. Dengkur kerbau bersahut-sahutan. Di dalam kursi penumpang pete-pete. Melihat para pedagang menjajakan aneka hasil bumi. Mereka duduk berjejer di pinggiran jalan. Menggelar lapak dagangan hasil bumi, seperti katokon, sayur-mayur, tomat, sereh, laos, dan ikan mas. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) hadir mengawal hari pasar. Tak ketinggalan Polisi lalu lintas (Polantas) mengatur hilir mudik pertigaan jalan.

Detum besi baja  bertalu kencang dari sudut jalan. Di sela-sela suara hataman besi, terdengar suara grinda. Percikan api memantul keluar dari kerumunan orang. Di tempat pembuatan la’bo, orang-orang berbaris. Mereka menunggu antrean untuk mengasah parang.

Perut kosong belum terisi makan. Sebuah warung mie ayam di pinggir jalan menarik perhatian. Aku dan salah seorang kawan memutuskan untuk makan lebih dulu. Rupanya kawanku sudah pernah makan di tempat mie ayam pinggir jalan itu. Kata kawanku, si pedagang berasal dari Solo, Jawa.

Kami memesan dua porsi mie ayam. Dua porsi mangkuk berisi mie ayam penuh diantarkan ke meja. Porsi mie ayam tak sama seperti di pulau Jawa. Di Toraja, porsi mie ayam lebih banyak dengan taburan ayam semur yang bertumpuk. Harga dua porsi mie ayam dibandrol dua puluh enam ribu.

Setelah makan, kami berencana berpisah mengitari lorong pasar. Kawanku lebih tertarik untuk bercakap-cakap dengan rombongan pedagang tedong (kerbau). Satu per satu pedagang tedong berdatangan. Mengendarai mobil truk atau sebuah mobil bak. Tedong-tedong lalu diturunkan dari mobil. Si pedagang mengembalai tedong menuju lapangan pasar.

Sembari mengamati sekeliling. Arah langka kaki bergerak mengikuti lingkaran pasar. Di bagian sisi belakang pasar. Dekat kantor Dinas Peternakan, Toraja bagian utara.

Ngok-Ngok.” Rintih babi bertalu-talu. Kumpulan babi tergelepak berjejer di atas para-para. Keempat kakinya terikat tali tambang.

Di sisi sebelah kiri tempat penjualan babi. Sekumpulan manusia berkumpul membentuk lingkaran. Ada yang berdiri, jongkok, dan duduk beralas tanah. Hampir semua manusia yang datang membawa sarung yang terikat menggantung di pinggang. Sementara ada juga sebagian orang yang duduk berkeredong kain sarung. Maklum suhu udara di sini dingin.

Tak jauh dari tempat orang berkumpul, sebuah tiang besi tertancap kokoh menyangga atap bangunan. Atap-atap yang terbuat dari kayu dan genteng bertanah liat. Selembar kertas HVS terlaminasi bertengger di tiang besi. Sederet kalimat bercetak tebal tertulis “Tempat Penjualan Ayam”.

Tempat Penjualan Ayam

Kerumunan orang yang datang tak memadati hanya di satu sisi. Sebagian ada yang masuk ke dalam tempat penjualan. Sementara, sebagian kerumunan yang lain berkumpul di antara tempat penjualan babi dan ayam yang berlorong sempit. Kerumunan orang pecah mengisi setiap sisi yang masih sepi.

Di kejauhan tampak seorang lelaki jongkok. Siman namanya. Ia tak berteman. Hanya menatam tajam ke arah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Tak ada pula ayam yang dibawa. Di hari pasar ini, Siman ingin mencari seekor ayam untuk dibeli. Tak banyak bicara. Menjawabnya saja ketus. Apalagi bertanya. Hanya sepasang bola mata bergerak membidik ayam-ayam terbaik di pasar. Akhirnya, kuputuskan untuk berjalan ke arah lain.

Semakin siang satu per satu orang berdatangan. Menyebar dan meruang di segala arah hingga menutup jalan. Di dekat warung asongan di jalan yang sedikit menurun. Kumpulan orang jongkok berjejer. Tua, muda, perempuan, laki-laki. Semua lebur.

Lagi-lagi dari kejauhan. Seorang pemuda duduk jongkok menatap sekeliling tempat penjualan ayam. Tangan kanannya mengelus bulu-bulu di sekujur leher ayam. Sesekali kedua sayap ayam silih berganti direbahkan. Satu per satu bulu yang tertancam di kedua sisi sayap diperhatikan dengan seksama. Ia tampak begitu khusyuk. Helmnya masih menempel di kepala.

Kuhampiri lelaki itu. Celuk kulempar kepadanya. “Gagah ayamnya Bang”.

Si lelaki membalas dengan senyum simpul. Pagi ini, Anton sengaja membawa dua ekor ayam dari rumah. Satu ekor ayam yang dielus-elus sedari tadi, sengajar untuk menarik ratusan pasang mata di Pasar Bolu. Telunjuk Anton bergerak-gerak. Mulutnya mengucap kalimat. “Ini jenis Philippin.

Usia ayam baru satu tahun setengah bulan. Anton berencana menjual kedua ekor ayamnya. Harga yang ditawarkan 400 – 500 ribu. Itu pun kalau ada lawan yang berani berjabat tangan. Harga jual sebesar itu sudah untung bagi Anton. Lagi pula biaya perawatan ayam murah. Hanya tinggal diberikan makan saja. Pakan ayam dapat berupa beras, dale (jagung), dan awang (dedak). Misalnya saja jagung. Untuk satu sampai dua kilogram, cukup memberi makan selama dua minggu satu ekor ayam petarung.

Dua ekor ayam yang dibawa oleh Anton, hampir semua ayam taji; ayam petarung. Sementara satu ekornya lagi merupakan betina Philippin yang baru saja dibeli pagi ini. Kini, dengan adanya betina Anton akan mewujudkan mimpinya untuk membuat peternakan khusus ayam Philippin petarung. 

Dalam memilih ayam jenis petarung, Anton punya beberapa kriteria khsusus. Pertama dari kepadatan tubuh ayam. Tubuh ayam harus bertonjol-tonjol kencang. Kedua, jumlah sisik yang berada di sepasang kaki harus berlipatan ganjil. Jumlah sisik pada bagian kaki kiri dan kanan juga harus berbeda. Ketiga, yang tak boleh ketinggalan, yaitu kecepatan pukulan kaki ayam. Khsusus cara yang ketiga hanya bisa diketahui dengan perlakuan khusus.

Dua orang yang bersepakat akan mengadu ayam. Istilah uji coba ini dinamakan ma'passi binte. Jika seorang calon pembeli yang datang ke pasar tak membawa ayam. Ia dapat meminjam seekor ayam dari salah seorang yang datang ke pasar. 

Si calon pembeli akan menyodorkan ayam yang berada di dalam rangkulannya kepada si penjual. Bulu-bulu yang berada di sekuju leher ayam akan merekah. Geragasan. Antara patuk saling sambar-menyambar. Cepat. Semakin gesit ayam mematuki lawan ada nilai jual yang bagus. Harga yang barang tentu dibuka berada dalam rentang 200 ribu sampai 300 ribu.

Lantaran posisi duduk kami yang berada di tepian jalan. Arus kendaraan bermotor begitu padat. Apalagi jika sepeda motor yang mengangkut seekor babi yang sedang menggeletak. Kami dan orang-orang yang ikut duduk di tepian jalan harus mengangkat pantat. Kalau sudah begini obrolanku dan Anton kembali disambung ulang.

Kini Anton mengeluh. Ia tak habis pikir. Padahal tempat penjualan ayam, baru saja dipindahkan oleh Pemerintah Daerah pada bulan Januari atau Februari di tahun 2017 lalu. Sebelumnya, tempat penjualan ayam berada di belakang terminal Pasar Bolu. Pemerintah menuduh para pedagang ayam dan pengunjung menggangu arus keluar-masuk kendaraan. Namun, ketika pasar telah dipindahkan kepadatan pendatang tetap tak berkurang.

Aku sempat bertanya kepada Anton, soal banyaknya perempuan yang datang menenteng karung ayam “Apakah mereka juga mencari ayam petarung?

Sebagain perempuan memang ada yang datang mencari ayam petarung untuk kembali dijual lagi di kampung. Sebaliknya, ada juga yang mencari ayam potong untuk kebutuhan lauk-pawuk. Kata Anton, kebanyakan ibu-ibu yang datang mencari jenis ayam Bangkok atau ayam tondok (kampung).

Sontak Anton jadi teringat cara saung ayam tondok. Berbeda dengan ayam Philippin atau Peru yang menggunakan taji. Jenis ayam tondok atau Bangkok lebih banyak dipertarungkan tanpa taji. Cara permainan saung ini dalam bahasa Toraja dinamakan lotten.

Kendati begitu, pedagang-pedagang yang berjual ayam di Pasar Bolu hampir banyak menjajakan jenis ayam untuk keperluan pesta atau ma’saung. Biasanya orang yang akan berhajat, menyuruh salah seorang kerabat dekat untuk datang ke pasar. Setibanya di pasar, ia akan memborong ayam dari tangan para pedagang pasar. Seluruh ayam yang dibeli nantinya akan diadu oleh penantang yang datang di hari pesta.

Petarungan yang terjadi tak gratis. Ada ongkos taruhan yang harus disediakan. Benda yang dipertaruhkan umumnya berupa uang. Jumlahnya variatif. Tergantung kategori pertarungan. Katagori ayam bagus misalnya. Nominal barang taruhan bertingkat. Mulai dari 10 juta sampai 25 juta. Bahkan ada juga yang mencapai 100 juta. Uang taruhan bisa dihasilkan dari kantung saku pribadi. Tapi, menurut Anton kebanyakan orang yang ingin bertaruh akan iuran. Ketika menang hasilnya akan dibagi rata.  

Tak lama motor yang mengangkut barang bawaan berupa keranjang ayam lewat di depan kami. Anton berdiri seketika. Tangan kirinya langsung menunjuk-nunjuk ke arah keranjang bambu sepeda motor.

Itu mi penjual Palopo. Dia biasa jual rata itu mi. Satu ekor 80 – 90 ribu sebenarnya.” Jelas Anton.

Anton memastikan, sebagian besar ayam yang beredar di Pasar Bolu telah melewati tiga kali perpindahan tangan. Ayam-ayam diangkut para penjual dari kampung ke kampung plosok di daerah Palopo. Pedagang yang datang ke kampung-kampung membeli sebanyak-banyaknya ayam yang tersedia. Jika ada 20 ekor harga beli dipukul rata 100 ribu untuk per ekor. Ketika ayam tiba di Pasar Bolu harga jual ayam naik menjadi 120 – 150 ribuan per ekor.

Rentang harga itu serupa dengan jenis ayam Peru. Tapi, ukuran segenggam tangan orang dewasa; anak ayam yang masih berusia tiga bulan seharga 150 ribu. Sedangkan untuk yang satu tahun dapat menembus angka dua hingga tiga juta. Harga mahal ini sebanding dengan persebaran ayam jenis Peru di pasar Bolu. Jumlahnya terbatas, hanya hitungan jari.

Anton pernah punya pengalaman tentang ayam Peru. Salah seorang teman mendatangkan ayam dari Peru, Amerika Latin. Waktu itu sebanyak empat pasang didatangkan. Ongkos jalannya merogoh kocek sebesar 4,5 juta. 

Nanti ketika telah tiba Pasar Bolu, harga jual berganti menjadi 200 ribuan. Obrolan berhenti. Anton pamit pergi memasuki lorong tempat penjualan ayam lebih ke dalam. Ketiga ayamnya dijinjing bersamaan.

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar