Rabu, 28 Juni 2017



Beberapa jam yang lalu aku baru saja pulang dari Bogor. Dari Bogor hingga stasiun Tanah Abang, kuhabiskan menutup mata. Rasa kantuk tak terelakan. Waktu itu, Magrib sudah lewat sedikit. Kuharap kalian jangan berandai-andai. Kalau saja suara Adzan Magrib surau membangunkanku dari tidur. Sungguh sangat kesadaraan religius nantinya yang melekat pada personaku. Untung saja mulutku tak reflek berteriak kata “Takbir!”

Bukan suara adzan dari surau yang membangunkanku. Melainkan suara dari sesosok perempuan yang begitu lembut. Bertalu-talu, mengingatku dan orang lain agar tetap setengah sadar meski dalam tidur. Sikapnya tak butuh balas budi. Perempuan itu melakukan dengan ikhlas. Andai saja suara perempuan itu nyata. Barangkali kalau kata Iwan Fals “Sudahku pacari kau.” Hingga lima belas menit kemudian suara itu berbisik lagi. Ia bilang “Sesaat lagi anda akan tiba di stasiun Tanah Abang. Tanah Abang.” Hem, Mbaknya kok kaya mesin?

Sekarang lupakan suara perempuan itu. Sesampai di stasiun Tanah Abang. Kereta jurusan menuju Kebayoran sudah tiba. Aku dan kawanku menaiki tangga menuju peron enam. Dari gerbong bagian depan hingga tengah sudah penuh manusia. Semua orang sedang terlelap dalam suasana lebaran. Harapanku sederhana. Mungkin pada bagian belakang gerbong kereta masih ada yang kosong. Rupanya benar. Dua gerbong bagian buntut kereta masih banyak kursi kosong. Gerbong dengan kursi yang tersekat-sekat dan beberapa tiang hitam tertancap.

Pelan-pelan, satu, dua, tiga dan seterusnya, setiap orang mengisi kursi. Sekelompok keluarga masuk. Satu ibu membawa dua bayi yang digendong dengan kain. Ada anak perempuannya satu yang berdiri. Si anak diri menghadap ke wajah ibunya. Di samping perempuan yang menggendong bayi ada suaminya duduk. Di sampingnya si suami, satu orang anak kecil laki-laki duduk bersender. Kalau kutaksir usianya mungkin lima tahun.

Awalnya mereka bercakap-cakap. Rasa-rasanya obrolan itu begitu seru. Si anak perempuan, ibu, dan bapak  berkelakar kencang. Dua bayi yang digendong dan satu anak lelaki kecil itu bergeming. Namanya juga masih kecil.

Aku dan temanku berbicara soal cara manusia hidup. Di satu sisi manusia sadar sebagai subjek. Ia sadar makanya dia bisa melakukan pertimbangan dan perbuatan. Tapi satu sisi manusia juga tidak sadar, gelap, penuh misteri. Mulai beratkan? 

Obrolan itu semakin seru. Seorang perempuan yang duduk di samping kami mulai tergangu. Menengok-nengok. Mimiknya berubah jadi muram, sinis. Rupanya kehadiran kami menggangu kekhusyukan perempuan itu. Ia sedang berzikir dengan telpon genggamnya.

Mataku mulai jelalatan. Ada yang menarik. Pengamatanku tertuju pada sekelompok keluarga yang tadi aku ceritakan. Aku mengamati gerak tubuh si anak lelaki itu. Dua kaki kecilnya, ia julurkan sampai tegang. Dua tangannya diangkat ke atas. Seperti orang baru bangun tidur, istilahnya “Ngulet-ngulet” kalau di kasur.

Beberapa detik kemudian. Gerak anak itu berubah. Sekarang, giliran dua tangannya digerakan ke bawah. Celana panjang dengan pinggang karet itu, ia tarik melar-melar. Kepalanya ditundukan meneropong isi di dalam celana. Terus ia tatapi si kuncup yang sedang tertidur lemas. Mungkin dalam hatinya "Kenapa kau tidak kunjung mekar?" Maaf-maaf. Lupakan dulu tentang yang tak kunjung mekar ini.

Tangan kanan anak itu menahan celana agar tak turun. Tangan kirinya dimasukan ke dalam. Ia memegang-megang tititnya. Bola matanya bergerak ke atas. Mimik wajahnya datar saja. Mungkin dalam hatinya “Ini apa? Kok kalau dipegang enak ya?” Gerak tubuh itu terus berlanjut hingga berapa menit.

Sejauh ini kedua orang tuanya dan si anak perempuan sibuk bermain telpon genggam. Tak ada yang memperhatikan si anak kecil itu. Apalagi melarangnya. Si anak tampak begitu raharja.

“Nah Yan. Coba liat ke arah kiri depan kita.”

“Liat muka. Liat itu tangannya.” Sahutku kepada Iyan.

Dengan cara mindik-mindik Iyan melihat. Tiba-tiba ia berkata “Nah itu masukdnya?”

“Iya mungkin bisa begitu. Tapi bisa juga enggak begitu.” Kelakarku.

Tindakan si anak dilakukan dengan sadar. Itu datang dari dalam dirinya. Dia tahu dia punya organ tubuh bernama titit. Sejauh ini yang ditahu dari kehadiran titit, sebatas tempat keluar air kencing. “Mama Pipis.” Begitu kalimatnya. Nanti si ibu akan mengantarkannya ke kamar mandi. Tapi di satu sisi ada yang belum ia ketahui, gelap atau penuh kebutaan. Jadi kira-kira kedua hal itu berada dalam gerak si anak. Ia menjadi proses saling meniadakan.

“Tapi bukannya yang gelap atau buta itu berdiri sendiri? Seperti kau percaya suatu ketetapan.” Potong Iyan.

Jurusnya mulai keluar. Maklum anak Syariah lulusan Universitas Islam. Jadi, biasa yang begitu-begitu-lah.

“Menurutku ia bukan berdiri sendiri. Kalau berdiri sendiri dia tidak terhubung dong? Justru, menurutku ia berada di bagian lain lapisan kesadaran. Seperti halnya kau percaya tentang ketetapan. Proses itu-kan kau cari. Kau terus-menerus meniadakan atau sangsi pada satu sama lainnya. Kau terus mencoba mencari. Kau terus beralih. Dari satu tindakan ke tindakan lain.”

Terus-menerus obrolan ini tak berhenti, tak berujung. Kita tak akan pernah selesai. Tapi ada satu hal yang menyelesaikan obrolan itu semua. Ketika suara mbak-mbak bergaung lagi. Katanya begini “Sesaat lagi anda akan tiba di stasiun Kebayoran. Stasiun Kebayoran.” Suara itu jadi semacam alarm pada tubuhku. Aku pun bersiap-siap. Berdiri dan mengambil tas di atas rak besi.

Kulirik lagi si anak kecil itu lagi. Geraknya tak berubah. Perbuatan memegang titit masih dilakukan. Sementara si bapak, si ibu, dan kakanya masih sibuk berzikir dengan telpon genggam. Andai orang tuanya tahu. Proses dialog itu harus berjalan. Si anak sedang memberikan arti pada organ tubuhnya. Dan orang tuanya pun seharusnya bisa menjadi teman belajar. Ya, memecahkan teka-teki tentang titit.

Kereta pun berhenti. Kuambil langkah menjauh dari gerbong kereta. Kereta melaju aku juga melaju. Semuanya saling bergerak. Gerak dan bergerak. Dalam perjalanan menaiki tangga hinggap perenungan. Aku jadi mau tertawa kalau mengingatnya. Kata orang “Kaya orang bener aja lu tong.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar