Beberapa jam yang lalu aku baru saja pulang dari Bogor. Dari Bogor
hingga stasiun Tanah Abang, kuhabiskan menutup mata. Rasa kantuk tak terelakan.
Waktu itu, Magrib sudah lewat sedikit. Kuharap kalian jangan berandai-andai.
Kalau saja suara Adzan Magrib surau membangunkanku dari tidur. Sungguh sangat
kesadaraan religius nantinya yang melekat pada personaku. Untung saja mulutku
tak reflek berteriak kata “Takbir!”
Bukan suara adzan dari surau yang membangunkanku. Melainkan suara
dari sesosok perempuan yang begitu lembut. Bertalu-talu, mengingatku dan orang
lain agar tetap setengah sadar meski dalam tidur. Sikapnya tak butuh balas
budi. Perempuan itu melakukan dengan ikhlas. Andai saja suara perempuan itu nyata.
Barangkali kalau kata Iwan Fals “Sudahku pacari kau.” Hingga lima belas menit
kemudian suara itu berbisik lagi. Ia bilang “Sesaat lagi anda akan tiba di
stasiun Tanah Abang. Tanah Abang.” Hem, Mbaknya kok kaya mesin?
Sekarang lupakan suara perempuan itu. Sesampai di stasiun Tanah
Abang. Kereta jurusan menuju Kebayoran sudah tiba. Aku dan kawanku menaiki
tangga menuju peron enam. Dari gerbong bagian depan hingga tengah sudah penuh
manusia. Semua orang sedang terlelap dalam suasana lebaran. Harapanku
sederhana. Mungkin pada bagian belakang gerbong kereta masih ada yang kosong.
Rupanya benar. Dua gerbong bagian buntut kereta masih banyak kursi kosong.
Gerbong dengan kursi yang tersekat-sekat dan beberapa tiang hitam tertancap.
Pelan-pelan, satu, dua, tiga dan seterusnya, setiap orang mengisi
kursi. Sekelompok keluarga masuk. Satu ibu membawa dua bayi yang digendong
dengan kain. Ada anak perempuannya satu yang berdiri. Si anak diri menghadap ke wajah
ibunya. Di samping perempuan yang menggendong bayi ada suaminya duduk. Di
sampingnya si suami, satu orang anak kecil laki-laki duduk bersender. Kalau
kutaksir usianya mungkin lima tahun.
Awalnya mereka bercakap-cakap. Rasa-rasanya obrolan itu begitu
seru. Si anak perempuan, ibu, dan bapak
berkelakar kencang. Dua bayi yang digendong dan satu anak lelaki kecil
itu bergeming. Namanya juga masih kecil.
Aku dan temanku berbicara soal cara manusia hidup. Di satu sisi
manusia sadar sebagai subjek. Ia sadar makanya dia bisa melakukan pertimbangan
dan perbuatan. Tapi satu sisi manusia juga tidak sadar, gelap, penuh misteri.
Mulai beratkan?
Obrolan itu semakin seru. Seorang perempuan yang duduk di samping kami mulai tergangu. Menengok-nengok. Mimiknya berubah jadi muram, sinis. Rupanya kehadiran kami menggangu kekhusyukan perempuan itu. Ia sedang berzikir dengan telpon genggamnya.
Obrolan itu semakin seru. Seorang perempuan yang duduk di samping kami mulai tergangu. Menengok-nengok. Mimiknya berubah jadi muram, sinis. Rupanya kehadiran kami menggangu kekhusyukan perempuan itu. Ia sedang berzikir dengan telpon genggamnya.
Mataku mulai jelalatan. Ada yang menarik. Pengamatanku tertuju pada
sekelompok keluarga yang tadi aku ceritakan. Aku mengamati gerak tubuh si anak
lelaki itu. Dua kaki kecilnya, ia julurkan sampai tegang. Dua tangannya
diangkat ke atas. Seperti orang baru bangun tidur, istilahnya “Ngulet-ngulet”
kalau di kasur.
Beberapa detik kemudian. Gerak anak itu berubah. Sekarang, giliran
dua tangannya digerakan ke bawah. Celana panjang dengan pinggang karet itu, ia
tarik melar-melar. Kepalanya ditundukan meneropong isi di dalam celana. Terus
ia tatapi si kuncup yang sedang tertidur lemas. Mungkin dalam hatinya "Kenapa kau tidak kunjung mekar?" Maaf-maaf. Lupakan dulu tentang yang tak kunjung mekar ini.
Tangan kanan anak itu menahan celana agar tak turun. Tangan kirinya
dimasukan ke dalam. Ia memegang-megang tititnya. Bola matanya bergerak ke atas.
Mimik wajahnya datar saja. Mungkin dalam hatinya “Ini apa? Kok kalau dipegang
enak ya?” Gerak tubuh itu terus berlanjut hingga berapa menit.
Sejauh ini kedua orang tuanya dan si anak perempuan sibuk bermain
telpon genggam. Tak ada yang memperhatikan si anak kecil itu. Apalagi
melarangnya. Si anak tampak begitu raharja.
“Nah Yan. Coba liat ke arah kiri depan kita.”
“Liat muka. Liat itu tangannya.” Sahutku kepada Iyan.
Dengan cara mindik-mindik Iyan melihat. Tiba-tiba ia berkata “Nah
itu masukdnya?”
“Iya mungkin bisa begitu. Tapi bisa juga enggak begitu.” Kelakarku.
Tindakan si anak dilakukan dengan sadar. Itu datang dari dalam
dirinya. Dia tahu dia punya organ tubuh bernama titit. Sejauh ini yang ditahu
dari kehadiran titit, sebatas tempat keluar air kencing. “Mama Pipis.” Begitu
kalimatnya. Nanti si ibu akan mengantarkannya ke kamar mandi. Tapi di satu sisi
ada yang belum ia ketahui, gelap atau penuh kebutaan. Jadi kira-kira kedua hal
itu berada dalam gerak si anak. Ia menjadi proses saling meniadakan.
“Tapi bukannya yang gelap atau buta itu berdiri sendiri? Seperti
kau percaya suatu ketetapan.” Potong Iyan.
Jurusnya mulai keluar. Maklum anak Syariah lulusan Universitas
Islam. Jadi, biasa yang begitu-begitu-lah.
“Menurutku ia bukan berdiri sendiri. Kalau berdiri sendiri dia
tidak terhubung dong? Justru, menurutku ia berada di bagian lain lapisan
kesadaran. Seperti halnya kau percaya tentang ketetapan. Proses itu-kan kau
cari. Kau terus-menerus meniadakan atau sangsi pada satu sama lainnya. Kau
terus mencoba mencari. Kau terus beralih. Dari satu tindakan ke tindakan lain.”
Terus-menerus obrolan ini tak berhenti, tak berujung. Kita tak akan
pernah selesai. Tapi ada satu hal yang menyelesaikan obrolan itu semua. Ketika
suara mbak-mbak bergaung lagi. Katanya begini “Sesaat lagi anda akan tiba di stasiun
Kebayoran. Stasiun Kebayoran.” Suara itu jadi semacam alarm pada tubuhku. Aku
pun bersiap-siap. Berdiri dan mengambil tas di atas rak besi.
Kulirik lagi si anak kecil itu lagi. Geraknya tak berubah.
Perbuatan memegang titit masih dilakukan. Sementara si bapak, si ibu, dan kakanya
masih sibuk berzikir dengan telpon genggam. Andai orang tuanya tahu. Proses
dialog itu harus berjalan. Si anak sedang memberikan arti pada organ tubuhnya.
Dan orang tuanya pun seharusnya bisa menjadi teman belajar. Ya, memecahkan
teka-teki tentang titit.
Kereta pun berhenti. Kuambil langkah menjauh dari gerbong kereta.
Kereta melaju aku juga melaju. Semuanya saling bergerak. Gerak dan bergerak.
Dalam perjalanan menaiki tangga hinggap perenungan. Aku jadi mau tertawa kalau
mengingatnya. Kata orang “Kaya orang bener aja lu tong.”
0 komentar:
Posting Komentar