Rabu, 28 Juni 2017


Tiga hari sebelum lebaran aku tiba di rumah. Perjalanan ke rumah tahun ini lebih beda. Aku tak harus duduk di kereta dengan menghabiskan waktu 12 jam. Bergerak dari Timur pulau Jawa menuju ke Barat pulau Jawa. Satu tahun yang lalu itu terakhir kali bagiku. Momen seperti lebaran ini menuntutku harus kembali ke rumah. Mau tak mau ini sudah menjadi tradisi. Tapi, kelak aku ingin mencicipi momen lebaran di daerah lain. Semoga.

Sudah satu minggu awal pertama puasa. Pekumpulan kawan, baik itu tingkat SD, SMP, SMA, hingga kuliah mengajak untuk buka puasa bersama. Semua orang jadi sibuk mengajak dan mencari tanggal. Ini menjadi berkah bagi para pemilik warung makan, resto, kafe, dan sejenisnya. Momen puasa menjadi percepatan dari putaran keuntungan. Sebaliknya menjadi petaka bagi para buruh yang bekerja.

“Tapi tenang-lah.” Begitu kata si pemilik. Kalau kalian lembur ada tambahan upah di hari lebaran nanti. Ya, minimal kalau tidak ada upah, waktu lembur kalian diganti dengan hari libur. Begitu cerita teman kecilku yang sekarang bekerja di salah satu perusahaan jasa parkir.

Pikirku ajakan berbuka puasa bersama berhenti pada minggu pertama. Justru semakin ugal-ugalan memasuki minggu kedua. Hingga nanti ketika masuk ke minggu ketiga, ajakan itu mulai berkurang. Beberapa ajakan itu ada yangku tanggapi. Beberapanya lagi kubiarkan saja berlalu. 

Singkat cerita tak ada satupun ajakan berbuka puasa aku ikuti. Bagiku pertemuan ramai seperti itu terlalu pengap, sesak. Tapi ada beberapa pertemuan yang memang aku inginkan. Terutama kepada beberapa teman SMA yangku rindukan.

Soal rasa rindu kita punya konteks. Waktu pertemuan itu. Ada beberapa tempat di sekitaran sekolah yang kita kunjungi. Dari tempat itu-lah ingatan merekah. Mulut tiba-tiba berbicara mengingat peristiwa demi peristiwa. Dari sini aku berpikir. “Mengunjungi kembali” suatu artefak, semacam cara kita berbicara pada ruang-waktu di masa lalu. Sayang, segala keromantisan itu  seketika berubah menjadi momen peradilan.

Waktu itu kita bertiga. Biar mudah dalam cerita ini. Aku berikan nama saja untuk ketiganya. Pertama, lelaki berkacamata yang bernama Budi. Kedua yang bernama Fajar. Dan aku sendiri.

“Kau sudah luluskan?” Tanya Budi.

 Pertanyaan itu kubalas dengan anggukan kepala.

“Terus sekarang udah kerja?”

“Ndak. Aku menganggur.”

Mendengar pertanyaan itu. Mungkin seperti ia mendengar geluduk. Belum selesai mulutku bicara, ia menyamber. Dengan cekatan Budi memberi penilaian demi penilaian. “Cas-cis-cus.” Segala jurus tentang manusia modern abad 21 keluar dari mulutnya. Rasa-rasanya membuat muak dan mual.

“Yaduh. Sayang banget udah lulus cepet. Malah nganggur. Enggak coba lamar kerja?”

“Apalagi udah Sarjana. Sayang banget. Mending cari beasiswa sekolah lagi.” Imbuh Budi.

Dari umpatan berubah jadi saran. Dari umpatan berubah tawaran-menawar lahan pekerjaan. Dari idealis berubah pragmatis. Muak, mual, lidah Budi terus menjulur tak karuan. Padahal,  yang kuharap pertemuan itu bisa berbicara hal-hal konyol. Minimal menertawai kebodohan di zaman SMA. Alih-alih menjadi momen penghukuman. Penyakit ini rasa-rasanya juga berada di keluarga sendiri. Orang tua, tetangga, sepupu, pak RT, Pak Uztad. Semua orang gerah kalau mendengar kata  “Anggur”.

Mereka tak bisa melihat orang diam di rumah. Bagi mereka manusia harus bergerak keluar. Eksistensinya menjadi bermakna kalau saja bekerja. Kerja juga belum cukup. Kalau menghasilkan barang, uang barulah dikatakan manusia! Pada akhirnya kata “anggur” menjadi buah yang menakutkan. Tentu, ketika dimakan di usia yang masih muda. “Dasar kau penganggur!”

Dan momen perkumpulan menjadi ritus baru untuk balas dendam. Datang-lah kau rapih-rapih. Kalau perlu gantung kunci mobil di kantung celana. Tambah lagi parfum wangi dan bermerek. Oh ya, jangan lupa. Kalau laki, kasih pomade biar klimis rambutnya. Tentu harga tawarmu jadi lebih mahal di momen pertemuan ini. Kalau perempuan kasih lipstick, bedak, pakaian mahal-lah. Wajahmu yang tadinya jelek jadi bagus sedikit. Ya sedikit saja, enggak banyak! “Maka sesunguhnya eksistensimu telah menjadi barang mewah itu sendiri.


Ketika malam mulai berganti pagi. Tiga orang pemuda memegang HP melintas di depan. Salah satu pemuda dari tiga sekawan itu celetuk “Gila ya, mau dekat-dekat lebaran ini makin banyak pencurian dan perampokan. Nih berita semua sama.” Dua orang temannya mengangkat kepala dan menunduk lagi. Mereka melajutkan telpon genggamnya. Celetukan itu pun berlalu.    
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar