Tiga hari
sebelum lebaran aku tiba di rumah. Perjalanan ke rumah tahun ini lebih beda. Aku
tak harus duduk di kereta dengan menghabiskan waktu 12 jam. Bergerak dari Timur
pulau Jawa menuju ke Barat pulau Jawa. Satu tahun yang lalu itu terakhir kali bagiku. Momen
seperti lebaran ini menuntutku harus kembali ke rumah. Mau tak mau ini sudah
menjadi tradisi. Tapi, kelak aku ingin mencicipi momen lebaran di daerah lain.
Semoga.
Sudah satu
minggu awal pertama puasa. Pekumpulan kawan, baik itu tingkat SD, SMP, SMA,
hingga kuliah mengajak untuk buka puasa bersama. Semua orang jadi sibuk
mengajak dan mencari tanggal. Ini menjadi berkah bagi para pemilik warung
makan, resto, kafe, dan sejenisnya. Momen puasa menjadi percepatan dari putaran
keuntungan. Sebaliknya menjadi petaka bagi para buruh yang bekerja.
“Tapi tenang-lah.” Begitu
kata si pemilik. Kalau kalian lembur ada tambahan upah di hari lebaran nanti. Ya,
minimal kalau tidak ada upah, waktu lembur kalian diganti dengan hari libur. Begitu
cerita teman kecilku yang sekarang bekerja di salah satu perusahaan jasa parkir.
Pikirku ajakan berbuka puasa bersama berhenti pada minggu pertama. Justru semakin ugal-ugalan memasuki
minggu kedua. Hingga nanti ketika masuk ke minggu ketiga, ajakan itu mulai
berkurang. Beberapa ajakan itu ada yangku tanggapi. Beberapanya lagi kubiarkan
saja berlalu.
Singkat cerita
tak ada satupun ajakan berbuka puasa aku ikuti. Bagiku pertemuan ramai seperti
itu terlalu pengap, sesak. Tapi ada beberapa pertemuan yang
memang aku inginkan. Terutama kepada beberapa teman SMA yangku rindukan.
Soal rasa rindu
kita punya konteks. Waktu pertemuan itu. Ada beberapa tempat di sekitaran
sekolah yang kita kunjungi. Dari tempat itu-lah ingatan merekah. Mulut
tiba-tiba berbicara mengingat peristiwa demi peristiwa. Dari sini aku berpikir.
“Mengunjungi kembali” suatu artefak, semacam cara kita berbicara pada
ruang-waktu di masa lalu. Sayang, segala keromantisan itu seketika berubah menjadi momen peradilan.
Waktu itu kita bertiga. Biar mudah dalam cerita ini. Aku berikan nama saja untuk
ketiganya. Pertama, lelaki berkacamata yang bernama Budi. Kedua yang bernama
Fajar. Dan aku sendiri.
“Kau sudah
luluskan?” Tanya Budi.
Pertanyaan itu kubalas dengan anggukan kepala.
“Terus sekarang
udah kerja?”
“Ndak. Aku menganggur.”
Mendengar
pertanyaan itu. Mungkin seperti ia mendengar geluduk. Belum selesai mulutku bicara, ia menyamber. Dengan cekatan Budi memberi penilaian demi penilaian. “Cas-cis-cus.” Segala jurus
tentang manusia modern abad 21 keluar dari mulutnya. Rasa-rasanya membuat muak
dan mual.
“Yaduh. Sayang
banget udah lulus cepet. Malah nganggur. Enggak coba lamar kerja?”
“Apalagi udah
Sarjana. Sayang banget. Mending cari beasiswa sekolah lagi.” Imbuh Budi.
Dari umpatan
berubah jadi saran. Dari umpatan berubah tawaran-menawar lahan pekerjaan. Dari idealis
berubah pragmatis. Muak, mual, lidah Budi terus menjulur tak karuan. Padahal, yang kuharap pertemuan itu bisa berbicara hal-hal
konyol. Minimal menertawai kebodohan di zaman SMA. Alih-alih menjadi
momen penghukuman. Penyakit ini rasa-rasanya juga berada di keluarga sendiri.
Orang tua, tetangga, sepupu, pak RT, Pak Uztad. Semua orang gerah kalau mendengar kata “Anggur”.
Mereka tak bisa
melihat orang diam di rumah. Bagi mereka manusia harus bergerak keluar. Eksistensinya
menjadi bermakna kalau saja bekerja. Kerja juga belum cukup. Kalau menghasilkan
barang, uang barulah dikatakan manusia! Pada akhirnya kata “anggur” menjadi
buah yang menakutkan. Tentu, ketika dimakan di usia yang masih muda. “Dasar kau
penganggur!”
Dan momen perkumpulan
menjadi ritus baru untuk balas dendam. Datang-lah kau rapih-rapih. Kalau perlu
gantung kunci mobil di kantung celana. Tambah lagi parfum wangi dan bermerek. Oh
ya, jangan lupa. Kalau laki, kasih pomade biar klimis rambutnya. Tentu harga tawarmu jadi lebih mahal di momen pertemuan ini. Kalau
perempuan kasih lipstick, bedak, pakaian mahal-lah. Wajahmu yang tadinya jelek jadi bagus sedikit. Ya sedikit saja, enggak banyak! “Maka sesunguhnya
eksistensimu telah menjadi barang mewah itu sendiri.”
Ketika malam
mulai berganti pagi. Tiga orang pemuda memegang HP melintas di depan. Salah
satu pemuda dari tiga sekawan itu celetuk “Gila ya, mau dekat-dekat lebaran
ini makin banyak pencurian dan perampokan. Nih berita semua sama.” Dua orang
temannya mengangkat kepala dan menunduk lagi. Mereka melajutkan telpon genggamnya. Celetukan
itu pun berlalu.
0 komentar:
Posting Komentar