Joko, lama ia
tak menulis, hingga sulit ia berkata. Bicaranya saja sudah mulai
terbatah-batah, jarang juga ia baca buku, apalagi menyisihkan uang untuk
membeli koran. Ia sedang memilih menyepi. Beberapa teman sering mengajaknya
untuk berdiskusi, tetapi ia sering menghindar, “masturbasi” katanya
begitu. Hidup dalam sepi, tetapi ia tidak miskin imajinasi.
Suatu pagi, lelaki itu berjalan dalam kebingungan, suara hatinya tidak dapat ditahan. Setiap langkah selalu mengingat tentang kawan, ya.., seorang kawan yang mati karena berjuang di medan tirani. “Apakahku harus berhenti? Ucapnya bertanya dalam hati.
Tangan
kirinya terus mengepal, seolah menahan emosi. Kakinya bejalan gegas, entah
mungkin ada yang dikejar. Matanya terus menatap ke arah bawah kaki berpijak.
Setiap detik adalah berpikir dan berpikir. Joko, lelaki suburban yang ingin,
melawan ketidakadilan.
“Ini harus
terus dilanjutkan, sebentar lagi akan tumbang, dalam ukuran tiga atau sampai
empat tahun ke depan. Pergolakan akan terjadi dimana-mana”. Massa harus
bergerak lebih cepat, kantong sektoral harus segara merapat, kubu-kubu
reaksioner harus segera digasak, lebih cepat harus lebih cepat.”
***
“Aneh, tumben ia begitu tercokoh-kocoh, hmm..,
mungkin sedang ada yang dikejar” Ucap Imah heran melihat tingkah Joko, seraya
memandangi kopi buatannya yang sengaja di letakan di atas meja dekat pintu
keluar. Pagi itu, Joko lupa menyeruput kopi pahit buatan nek Imah. Imah adalah
seorang wanita tua, asal Betawi, kata orang ia Betawi tulen. Setiap pagi Imah kerap
membawa makan dan kopi untuk lelaki itu, meskipun itu tidak rutin. Bagi Imah,
Joko sudah seperti anak sendiri. Anak dari rahim yang ia sayang. Ia punya cita
dan juga cinta kepada Joko, kelak kalian akan tahun siapa ia.
“Eh Mid, itu
siapa si? Kok sering sekali dia baca buku, dan
duduk di bawah beringin tua itu?
“Ah, Gua juga kagak
tau, tapi sepemahaman gua, emang, ntuh lelaki saban pagi begini, selalu ada di sono, Lah kira-kira jam tujuan begini dah.”
Joko, lelaki
itu memang sering menyendiri. Setiap pagi, sebelum perkuliahan dimulai, ia
selalu menyempatkan untuk membaca. Setidaknya, sepuluh sampai lima belas
halaman saja cukup. Ia selalu membawa beberapa buku bacaannya yang belum
rampung. Tentunya, dengan kopi pahit, dan sedikit gula kegemarannya.
Joko, lelaki
itu hidup dalam kesunyian, menyepi, dan setiap hari baginya adalah tragedi.
Ingatan itu, hingga kini telah mengkristal. Pasca tragedi itu, ia memilih untuk
menjadi pribadi yang soliter untuk sementara waktu. Ini tentang perkuliahan
yang selalu baginya membosankan.
“Kita adalah
pekerja”, bagi Joko kalimat itu adalah nyata. Ia selalu merasa bahwa selama
ini, kehidupan perkuliahan bukanlah medium menimba ilmu. Apalagi tentang
kebebasan akademik, omong kosong itu ada. Baginya, kaum reaksioner lebih nyata
dan kekuatan itu di permukaan. Ini ihwal sektor pendidikan, bagi Joko, seluruh
lini sudah terkomodifikasi sebagai suatu sistem pertukaran dan menciptakan
manusia yang individualistik. Nilai baginya hanya merupakan deretan
kuantifikasi kosong. Lebih jauh dari itu, nilai adalah serapahan sosial, jika
mendapatkan yang baik itu adalah kemewahan, jika tidak itu adalah kegagalan,
omong kosong, cihh.
“Ini bukan
suatu pembenaran, lantas kalian harus mendapat hal yang buruk, atau antipati
dengan nilai kuliahmu. Berargumen harus ada landasan, sama seperti halnya
kenapa kita harus membenci” Ucap Joko.
Dengan nada
tinggi, Joko terus bergemuruh, hatinya serasa dibakar oleh amarah. Ia ingin
melawan sistem ini. Joko sebut ini adalah perang pemikiran (battle of mind).
Joko juga benci dengan orang-orang yang sering mengumpat dengan termin “Coroisme”—Suatu
umpatan dalam pergaulan sosial kaula muda, terlebih kaim itu diberikan kepada
mereka yang berbicara peduli tentang ketidakadilan, justru mereka menyir-nyir.
Baginya mati saja orang-orang itu, kalau sudah tidak mau berpikir lebih baik
mati sekarang.
“Lagi ini
soal pernyataan “kita adalah pekerja”, bagiku ini omong kosong, mengapa?
Pelajar dalam sistem pendidikan hari ini, telah bertransformasi menjadi menjadi automaton, ya.., robotik. Semua
mengejar citra tentang suatu hal yang baik, ya baik dalam ukuran kuantifikasi, bajingan! Bagaimana bisa ketika
nilai yang baik ditimbang dalam basis kemampuan, yang hanya menghafal isi buku
secara komprehensif. Ketika nilai baik adalah kunci kesuksesan seorang kaum
“Intelektual Organik”, katanya. Organik yang mana? In-tele organik
yang berengsek seperti para pengajar kita? Yang
hidupnya jauh dari kondisi sosial? Berpikir secara positivistik? Objektif?
Tidak berbicara kepada keberpihakan? Ya itu dia.., kumpulan para bacul, yang
mengumpat di balik sistem pertukaran hari ini!"
“Ilmu-ilmu
ekonomi konvensional yang mengukuhkan sistem kontradiktif ini, terus saja
dipertahankan. Jangan tanya cetaknya, semua adalah robot yang akan
didistribusikan kepada pasar! Sahut Joko kembali dengan nada lantang.
Tampaknya
Joko tidak kehabisan wacana, tentang kondisi objektif hari ini. Tentang prilaku
kaum akademika yang bersikap sekedarnya. Apakah benar hari ini seperti itu?
“Masih
tentang pernyataan tadi, “kita adalah pekerja”, bayangkan nilai dalam konteks
ini saya analogikan adalah manfaat atau mungkin kebanggaan. Bayangkan, hari ini
kalian harus memproduksi nilai yang lebih banyak dan baik itu, secara terus
menerus, kemudian kalian konsumsi sendiri, untuk siapa saya tanya? Untuk
kebanggan diri sendiri, ya kan?
Kalau begitu, kalian seperti apa? Sekarang lagi, coba kalian lihat hari ini, di
kampus borjuis ini, ada berapa kelas akademika dan intelektual kita? Bisa
kalian petakan, tentunya dengan corak pemikirannya.” Ucap Joko, tangan kirinya
sambil menunjuk-nunjuk.
Joko, memang
lelaki yang terlalu vulgar dalam berucap, pedas dalam mengkritik. Kata orang
yang bergelar Tuan asal aceh itu, ia adalah representatif “semangat muda”.
Semangat yang penuh cita-cita pembebasan, kokoh dalam sikap politik dan kuat
secara idealisme. Hati yang tidak pernah merasa tenang. Seorang kaum yang
tercerahkan, orang-orang yang mendapatkan hikmah untuk terus berjuang melawan
ketidakadilan. Tentunya, kondisi sosial selalu menentukan kesadaran sosial
seseorang, inilah Joko Ananta. Pria yang akan membuat telinga penguasa berang
dan mendidih seperti kesurupan.
***
0 komentar:
Posting Komentar