Senin, 09 Mei 2016

Joko, lama ia tak menulis, hingga sulit ia berkata. Bicaranya saja sudah mulai terbatah-batah, jarang juga ia baca buku, apalagi menyisihkan uang untuk membeli koran. Ia sedang memilih menyepi. Beberapa teman sering mengajaknya untuk berdiskusi, tetapi ia sering menghindar, “masturbasi” katanya begitu. Hidup dalam sepi, tetapi ia tidak miskin imajinasi.


Suatu pagi, lelaki itu berjalan dalam kebingungan, suara hatinya tidak dapat ditahan. Setiap langkah selalu mengingat tentang kawan, ya.., seorang kawan yang mati karena berjuang di medan tirani.
 “Apakahku harus berhenti? Ucapnya bertanya dalam hati.

Tangan kirinya terus mengepal, seolah menahan emosi. Kakinya bejalan gegas, entah mungkin ada yang dikejar. Matanya terus menatap ke arah bawah kaki berpijak. Setiap detik adalah berpikir dan berpikir. Joko, lelaki suburban yang ingin, melawan ketidakadilan.


“Ini harus terus dilanjutkan, sebentar lagi akan tumbang, dalam ukuran tiga atau sampai empat tahun ke depan. Pergolakan akan terjadi dimana-mana”. Massa harus bergerak lebih cepat, kantong sektoral harus segara merapat, kubu-kubu reaksioner harus segera digasak, lebih cepat harus lebih cepat.”


***


“Aneh, tumben ia begitu tercokoh-kocoh, hmm.., mungkin sedang ada yang dikejar” Ucap Imah heran melihat tingkah Joko, seraya memandangi kopi buatannya yang sengaja di letakan di atas meja dekat pintu keluar. Pagi itu, Joko lupa menyeruput kopi pahit buatan nek Imah. Imah adalah seorang wanita tua, asal Betawi, kata orang ia Betawi tulen. Setiap pagi Imah kerap membawa makan dan kopi untuk lelaki itu, meskipun itu tidak rutin. Bagi Imah, Joko sudah seperti anak sendiri. Anak dari rahim yang ia sayang. Ia punya cita dan juga cinta kepada Joko, kelak kalian akan tahun siapa ia.


“Eh Mid, itu siapa si? Kok sering sekali dia baca buku, dan duduk di bawah beringin tua itu?


“Ah, Gua juga kagak tau, tapi sepemahaman gua, emang, ntuh lelaki saban pagi begini, selalu ada di sono, Lah kira-kira jam tujuan begini dah.


Joko, lelaki itu memang sering menyendiri. Setiap pagi, sebelum perkuliahan dimulai, ia selalu menyempatkan untuk membaca. Setidaknya, sepuluh sampai lima belas halaman saja cukup. Ia selalu membawa beberapa buku bacaannya yang belum rampung. Tentunya, dengan kopi pahit, dan sedikit gula kegemarannya.


Joko, lelaki itu hidup dalam kesunyian, menyepi, dan setiap hari baginya adalah tragedi. Ingatan itu, hingga kini telah mengkristal. Pasca tragedi itu, ia memilih untuk menjadi pribadi yang soliter untuk sementara waktu. Ini tentang perkuliahan yang selalu baginya membosankan.


“Kita adalah pekerja”, bagi Joko kalimat itu adalah nyata. Ia selalu merasa bahwa selama ini, kehidupan perkuliahan bukanlah medium menimba ilmu. Apalagi tentang kebebasan akademik, omong kosong itu ada. Baginya, kaum reaksioner lebih nyata dan kekuatan itu di permukaan. Ini ihwal sektor pendidikan, bagi Joko, seluruh lini sudah terkomodifikasi sebagai suatu sistem pertukaran dan menciptakan manusia yang individualistik. Nilai baginya hanya merupakan deretan kuantifikasi kosong. Lebih jauh dari itu, nilai adalah serapahan sosial, jika mendapatkan yang baik itu adalah kemewahan, jika tidak itu adalah kegagalan, omong kosong, cihh.


“Ini bukan suatu pembenaran, lantas kalian harus mendapat hal yang buruk, atau antipati dengan nilai kuliahmu. Berargumen harus ada landasan, sama seperti halnya kenapa kita harus membenci” Ucap Joko.


Dengan nada tinggi, Joko terus bergemuruh, hatinya serasa dibakar oleh amarah. Ia ingin melawan sistem ini. Joko sebut ini adalah perang pemikiran (battle of mind). Joko juga benci dengan orang-orang yang sering mengumpat dengan termin “Coroisme”—Suatu umpatan dalam pergaulan sosial kaula muda, terlebih kaim itu diberikan kepada mereka yang berbicara peduli tentang ketidakadilan, justru mereka menyir-nyir. Baginya mati saja orang-orang itu, kalau sudah tidak mau berpikir lebih baik mati sekarang.  


“Lagi ini soal pernyataan “kita adalah pekerja”, bagiku ini omong kosong, mengapa? Pelajar dalam sistem pendidikan hari ini, telah bertransformasi menjadi menjadi automaton, ya.., robotik. Semua mengejar citra tentang suatu hal yang baik, ya baik dalam ukuran kuantifikasi, bajingan! Bagaimana bisa ketika nilai yang baik ditimbang dalam basis kemampuan, yang hanya menghafal isi buku secara komprehensif. Ketika nilai baik adalah kunci kesuksesan seorang kaum “Intelektual Organik”, katanya. Organik yang mana? In-tele organik yang berengsek seperti para pengajar kita? Yang hidupnya jauh dari kondisi sosial? Berpikir secara positivistik? Objektif? Tidak berbicara kepada keberpihakan? Ya itu dia.., kumpulan para bacul, yang mengumpat di balik sistem pertukaran hari ini!"

“Ilmu-ilmu ekonomi konvensional yang mengukuhkan sistem kontradiktif ini, terus saja dipertahankan. Jangan tanya cetaknya, semua adalah robot yang akan didistribusikan kepada pasar! Sahut Joko kembali dengan nada lantang.


Tampaknya Joko tidak kehabisan wacana, tentang kondisi objektif hari ini. Tentang prilaku kaum akademika yang bersikap sekedarnya. Apakah benar hari ini seperti itu?


“Masih tentang pernyataan tadi, “kita adalah pekerja”, bayangkan nilai dalam konteks ini saya analogikan adalah manfaat atau mungkin kebanggaan. Bayangkan, hari ini kalian harus memproduksi nilai yang lebih banyak dan baik itu, secara terus menerus, kemudian kalian konsumsi sendiri, untuk siapa saya tanya? Untuk kebanggan diri sendiri, ya kan? Kalau begitu, kalian seperti apa? Sekarang lagi, coba kalian lihat hari ini, di kampus borjuis ini, ada berapa kelas akademika dan intelektual kita? Bisa kalian petakan, tentunya dengan corak pemikirannya.” Ucap Joko, tangan kirinya sambil menunjuk-nunjuk.


Joko, memang lelaki yang terlalu vulgar dalam berucap, pedas dalam mengkritik. Kata orang yang bergelar Tuan asal aceh itu, ia adalah representatif “semangat muda”. Semangat yang penuh cita-cita pembebasan, kokoh dalam sikap politik dan kuat secara idealisme. Hati yang tidak pernah merasa tenang. Seorang kaum yang tercerahkan, orang-orang yang mendapatkan hikmah untuk terus berjuang melawan ketidakadilan. Tentunya, kondisi sosial selalu menentukan kesadaran sosial seseorang, inilah Joko Ananta. Pria yang akan membuat telinga penguasa berang dan mendidih seperti kesurupan.


***


 (Cerita ini akan berlanjut, semoga..)
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar