Malam, selalu menyenangkan bagiku. Ya., aku bisa merefleksikan
kembali fragmen-fragmen peristiwa yang terlewatkan begitu saja. Ini soal kabar
kematian, tentang seorang buruh kerja upahan yang mati
mengenaskan, ia adalah seorang kawanku. Di rumah kontrakan, tiga hari mayat
membusuk, tempat dimana pusat kekuasan bersemayam. Mungkin sebagian orang akan
beranggapan, cerita ini hanyalah fragmen semata. Namun bagiku, sosoknya menjadi
representasi riil bentuk ketertindasan dan eksploitasi hubungan-hubungan sosial
produksi–komodifikasi kerja; kerja yang membesakan menjadi kerja keras;
komodifikasi alat produksi; dan bentuk eksploitasi tenaga kerja oleh borjuis
kecil perkotaan— atas akses kepemilikan alat-alat produksi yang timpang.
Dua hari yang lalu, seorang kawan memberi kabar tentang
kematian lelaki itu. Melalui sosial media kabar itu disampaikan. Tanpa tedeng
aling-aling, ia menyebutkan nama seorang buruh itu. Menegaskan kembali tentang
kabar kematian kawan kami, seraya menyebut namanya beberapa kali. Kabar
kematian itu, juga menyeruak hingga menjadi pemberiatan di portal berita online.
Secara bernas, lengkap dengan konstruksi peristiwa sebelum kematiannya, serta kalimat
terakhir yang terlontar dari mulut kawan saya, kepada seorang pemilik rumah
kontrakan sebelum ia meninggal.
***
Tujuh tahun yang lalu, seragam putih abu-abu menjadi pakaian “tertip”
sepanjang hari-hariku. Kala itu, sehabis pulang sekolah tiba, aku biasa untuk
merebahkan tubuh di taman depan sekolah sebelum pulang ke rumah. Sekelebat, wajah
anyar itu cukup mengganggu pandanganku. Aku tak mengenal lelaki itu, namun
sosok lelaki itu seolah begitu akrab, ia bercengkrama dengan kawan-kawanku. Di
depan taman dengan terali besi yang melingkar, ia berdiri gagah lengkap dengan gerobak yang
biasa berisi beberapa jajanan; minuman kemasan, makanan ringan, dan rokok. Di
mataku, sosok lelaki itu bukanlah seorang pemalu. Terlebih dalam pergaulan
sosial di lingkungan baru. Nyatanya, ia mudah bergaul dan tampaknya begitu
akrab dengan pelajar lainnya. Lelaki itu, banyak berbicara dan gemar tertawa.
Kala itu aku belum mengenalnya, sebab biasanya bukan lelaki
itu yang berjualan. Melainkan, ada dua orang lelaki yang bergantian berjualan.
Uniknya kedua pedagang itu, mempunyai sapaan yang sama. Para pelajar
memanggilnya kedua pedagang itu dengan nama Ujang. Namun, kali ini bukan Ujang
yang berjualan di sana atau kerabat terdekat dari dua orang lelaki itu, tetapi
lelaki anyar itu masih menggunakan alat-alat produksi kepemilikan Ujang
bersaudara. Sosok lelaki anyar itu berperawakan sedikit gembal. Jika berjalan badannya
sedikit membusung ke depan dengan bokong yang lebih condong ke arah sebaliknya.
Lelaki baru itu mempunyai rambut yang berpola ikal dan pendek. Postur tubuhnya
juga tidak terlalu tinggi, kulitnya berwarna cerah sedikit kuning. Kalau
berbicara terbilang cepat, terkadang oktafnya juga tinggi. Namun, lelaki itu
bergitu bersahabat dengan para pelajar. Sosoknya juga terbilang disukai di
kalangan para pelajar. Kita meletakan lelaki itu seperti kawan sebaya.
Dalam pergaulan sosial semasa sekolah menengah atas kala itu,
pola interaksi sosial yang dibangun begitu egaliter, terlebih untuk beberapa
pedagang yang berada di sekitar taman depan sekolah. Aku tidak harus menggunakan kata “Abang” atau istilah lainnya yang berkonotasi menuakan
seseorang, begitupun juga kawan-kawanku berlaku demikian. Kami hanya menyebut
namanya saja dalam pergaulan sosial sehari-hari. Sehingga, begitu kental
suasana perkawanan di antara pedagang itu dan pelajar. Hubungan egaliter, dalam
konteks interaksi sosial itu juga terjadi untuk beberapa kelas kosial lainnya;
musisi jalanan, pedagang asongan, dan pengendara ojek pangkalan, kita
begitu akrab. Keakraban itu tidak hanya berbentuk komunikasi sosial semata, tetapi
lebih dari itu, kita juga kerap kali bahu-membahu dalam kebutuhan sosial
lainnya. Dengan demikian, taman menjadi ruang hidup kolektif, walaupun tak semuanya
positif!
Merasa perawakannya baru di mataku, aku menyodorkan tangan untuk
berkenalan dengan lelaki itu.
“Bang namanya siapa? Kok enggak ada Ujang?” Tanyaku
kepada pedagang gerobak baru itu.
“Ujang di kampung, saya gantiin Ujang” Jawab lelaki
itu.
Penasaran dengan nama lelaki itu, kutanyakan kembali “Ohh
gitu, Abang siapa namanya?”
“Saya Fery” Ucapnya seraya merogoh tas selempang yang
menggantung di badannya.
Tak lama berselang, kuperhatikan bentuk; wajahnya, alis
matanya, mulutnya, dan sekeliling organ tubuhnya. Hampir seluruh bentuk wajah
lelaki itu membuatku cukup akrab dengan sosok lainnya, yang mirip dengan Fery.
“Ah.., Komar” Sontak mulutku berucap. Aku menjadi teringat
tentang sosok lelaki yang berada dekat rumahku. Ia seorang buruh kuli bangunan
namanya Komar. Merasa ada kemiripan wajah dengan Fery, ku berseloroh kepada
lelaki itu. “Ah.., abang ini mirip Komar, nama abang sekarang Komar saja
ya?” Tanyaku sambil merangkul tubuhnya, sesekali menepuk-nepuk.
“Ah apaan si lu” Sanggahnya, sambil tertawa
kecil. Singkat cerita, beberapa teman pada akhirnya ikut memanggil nama lelaki
itu Komar, hingga nama itu terus melekat pada pribadi kawan saya selama kurang
lebih tujuh tahun berselang.
***
Mendengar kabar Komar telah tiada, tubuhku bergetar. Seketika
mengingatkan ku kepada peristiwa awal kali bertemu dengan lelaki itu di tahun 2009 lalu. Kabar duka itu, juga kucoba sampaikan kepada seorang kawan serantau
di kota Malang sana. “Myr, sudah tahu Komar meninggal?” Tanyaku melalui sosial
media. Tak lama berselang, ia memberikan tanggapan, “Iya anjir tadi juga
anak-anak ngasih tahu” Jawab Myrza.
Kawan mengatakan, bahwa Ia beberapa bulan terakhir, pada
puasa bulan lalu bertemu dengan sosok lelaki itu (Komar). Ia juga berbincang walaupun hanya
sedikit. Melihat wajah Komar yang masam, membuatnya berempati. Kawanku bertanya
tentang kabar Komar, yang didapat justru kata sederhana dan padat, katanya Komar
mengeluh capek.
Sayang, aku belum sempat bertemu lagi dengan lelaki itu. Waktu
menjadi batas sekaligus kontrol secara tidak langsung bagi aktivitas manusia.
Kini Komar sudah tak berjiwa. Mendengar kabar itu, membuatku tersayat, terlebih
ketika tahu lelaki itu telah meninggal dengan mayat yang membusuk selama tiga
hari di rumah kontrakannya. Begitu tragis, menurut saksi mata Komar akhir-akhir
ini mengeluh sakit, hal itu membuatku semakin berang. Komar harus menahan rasa
sakit dalam tubuhnya. Pergolakan insting Eros –insting kebahagian,
cinta, seksualitas, kesenangan, dan segala bentuk hasrat kepuasan— harus
berakhir kepada penaklukan insting kematian (Thanatos). Aku jadi
teringan tentang struktur mental Freudian dalam psikoanalisis. Manusia, ketika
dalam kondisi tertentu akibat kondisi material yang represif—pengekangan,
penertipan dorongan eksternal yang kuat, penindasan, pengekangan, serta
eksploitasi— kecenderungan dorongan untuk kembali kepada insting kematian akan
terjadi.
Komar, sosokmu menambah representasi hostoris dari hubungan
sosial produksi yang timpang; Ketiadaan alat produksi, mengakibatkan lelaki itu
harus bekerja menjadi tenaga kerja upahan, yakni sebagai pedagang gerobakan.
Kerja yang hakikatnya menyenangkan, bebas, dan memiliki tujuan memenuhi kebutuhan
harian atau sebagai bentuk refleksi diri, kemudian harus terkomodifikasi (tenaga kerja menjadi komoditas). Komar
harus menjual tenaganya untuk bisa bertahan hidup dalam himpitan sistem
kapitalisme yang semakin hari semakin banal. Upah yang diperoleh dari hasil “kerja
keras” itu, ia gunakan untuk menunaikan kebutuhan reproduksi–biaya keturunan,
pendidikan anak, rumah kontrakan, biaya konsumsi, dan biaya lainnya— agar bisa
tetap bertahan hidup.
Tujuh tahun berselang, hidup di bawah rezim tenaga kerja
upahan harus ia lakukan. Belum lagi eksploitasi kerja, ia harus bekerja mulai
dari jam masuk anak sekolah sekitar jam delapan pagi hingga larut malam atau
sekitar jam dua belas malam. Itu pun, belum termasuk kerja yang harus ia
lakukan pada hari libur, seperti pada hari sabtu dan minggu. Untuk dua hari
itu, ia harus bekerja sampai adzan subuh berkumandang, belum lagi ia harus
berhadapan dengan para pereman dan aparatur bengis. Kalau sudah
demikian, kita harus memulai dari mana?
Dan Komar pada akhirnya menjadi martir bagi keluarga dan kerabat
yang ditinggalkan. Selamat Jalan Bung Komar, semoga laku mu menjadi panutan dan
arah bagi saya. Terimakasih untuk perkenalan kita dalam pergaulan sosial selama
masa putih abu-abu.
0 komentar:
Posting Komentar