Jumat, 26 Agustus 2016

Malam, selalu menyenangkan bagiku. Ya., aku bisa merefleksikan kembali fragmen-fragmen peristiwa yang terlewatkan begitu saja. Ini soal kabar kematian, tentang seorang buruh kerja upahan yang mati mengenaskan, ia adalah seorang kawanku. Di rumah kontrakan, tiga hari mayat membusuk, tempat dimana pusat kekuasan bersemayam. Mungkin sebagian orang akan beranggapan, cerita ini hanyalah fragmen semata. Namun bagiku, sosoknya menjadi representasi riil bentuk ketertindasan dan eksploitasi hubungan-hubungan sosial produksi–komodifikasi kerja; kerja yang membesakan menjadi kerja keras; komodifikasi alat produksi; dan bentuk eksploitasi tenaga kerja oleh borjuis kecil perkotaan— atas akses kepemilikan alat-alat produksi yang timpang.

Dua hari yang lalu, seorang kawan memberi kabar tentang kematian lelaki itu. Melalui sosial media kabar itu disampaikan. Tanpa tedeng aling-aling, ia menyebutkan nama seorang buruh itu. Menegaskan kembali tentang kabar kematian kawan kami, seraya menyebut namanya beberapa kali. Kabar kematian itu, juga menyeruak hingga menjadi pemberiatan di portal berita online. Secara bernas, lengkap dengan konstruksi peristiwa sebelum kematiannya, serta kalimat terakhir yang terlontar dari mulut kawan saya, kepada seorang pemilik rumah kontrakan sebelum ia meninggal.


***


Tujuh tahun yang lalu, seragam putih abu-abu menjadi pakaian “tertip” sepanjang hari-hariku. Kala itu, sehabis pulang sekolah tiba, aku biasa untuk merebahkan tubuh di taman depan sekolah sebelum pulang ke rumah. Sekelebat, wajah anyar itu cukup mengganggu pandanganku. Aku tak mengenal lelaki itu, namun sosok lelaki itu seolah begitu akrab, ia bercengkrama dengan kawan-kawanku. Di depan taman dengan terali besi yang melingkar, ia berdiri gagah lengkap dengan gerobak yang biasa berisi beberapa jajanan; minuman kemasan, makanan ringan, dan rokok. Di mataku, sosok lelaki itu bukanlah seorang pemalu. Terlebih dalam pergaulan sosial di lingkungan baru. Nyatanya, ia mudah bergaul dan tampaknya begitu akrab dengan pelajar lainnya. Lelaki itu, banyak berbicara dan gemar tertawa.

Kala itu aku belum mengenalnya, sebab biasanya bukan lelaki itu yang berjualan. Melainkan, ada dua orang lelaki yang bergantian berjualan. Uniknya kedua pedagang itu, mempunyai sapaan yang sama. Para pelajar memanggilnya kedua pedagang itu dengan nama Ujang. Namun, kali ini bukan Ujang yang berjualan di sana atau kerabat terdekat dari dua orang lelaki itu, tetapi lelaki anyar itu masih menggunakan alat-alat produksi kepemilikan Ujang bersaudara. Sosok lelaki anyar itu berperawakan sedikit gembal. Jika berjalan badannya sedikit membusung ke depan dengan bokong yang lebih condong ke arah sebaliknya. Lelaki baru itu mempunyai rambut yang berpola ikal dan pendek. Postur tubuhnya juga tidak terlalu tinggi, kulitnya berwarna cerah sedikit kuning. Kalau berbicara terbilang cepat, terkadang oktafnya juga tinggi. Namun, lelaki itu bergitu bersahabat dengan para pelajar. Sosoknya juga terbilang disukai di kalangan para pelajar. Kita meletakan lelaki itu seperti kawan sebaya.

Dalam pergaulan sosial semasa sekolah menengah atas kala itu, pola interaksi sosial yang dibangun begitu egaliter, terlebih untuk beberapa pedagang yang berada di sekitar taman depan sekolah. Aku tidak harus menggunakan kata “Abang” atau istilah lainnya yang berkonotasi menuakan seseorang, begitupun juga kawan-kawanku berlaku demikian. Kami hanya menyebut namanya saja dalam pergaulan sosial sehari-hari. Sehingga, begitu kental suasana perkawanan di antara pedagang itu dan pelajar. Hubungan egaliter, dalam konteks interaksi sosial itu juga terjadi untuk beberapa kelas kosial lainnya; musisi jalanan, pedagang asongan, dan pengendara ojek pangkalan, kita begitu akrab. Keakraban itu tidak hanya berbentuk komunikasi sosial semata, tetapi lebih dari itu, kita juga kerap kali bahu-membahu dalam kebutuhan sosial lainnya. Dengan demikian, taman menjadi ruang hidup kolektif, walaupun tak semuanya positif!

Merasa perawakannya  baru di mataku, aku menyodorkan tangan untuk berkenalan dengan lelaki itu.

“Bang namanya siapa? Kok enggak ada Ujang?” Tanyaku kepada pedagang gerobak baru itu.

“Ujang di kampung, saya gantiin Ujang” Jawab lelaki itu.

Penasaran dengan nama lelaki itu, kutanyakan kembali “Ohh gitu, Abang siapa namanya?”

“Saya Fery” Ucapnya seraya merogoh tas selempang yang menggantung di badannya.

Tak lama berselang, kuperhatikan bentuk; wajahnya, alis matanya, mulutnya, dan sekeliling organ tubuhnya. Hampir seluruh bentuk wajah lelaki itu membuatku cukup akrab dengan sosok lainnya, yang mirip dengan Fery.

“Ah.., Komar” Sontak mulutku berucap. Aku menjadi teringat tentang sosok lelaki yang berada dekat rumahku. Ia seorang buruh kuli bangunan namanya Komar. Merasa ada kemiripan wajah dengan Fery, ku berseloroh kepada lelaki itu. “Ah.., abang ini mirip Komar, nama abang sekarang Komar saja ya?” Tanyaku sambil merangkul tubuhnya, sesekali menepuk-nepuk.

“Ah apaan si lu” Sanggahnya, sambil tertawa kecil. Singkat cerita, beberapa teman pada akhirnya ikut memanggil nama lelaki itu Komar, hingga nama itu terus melekat pada pribadi kawan saya selama kurang lebih tujuh tahun berselang.


***


Mendengar kabar Komar telah tiada, tubuhku bergetar. Seketika mengingatkan ku kepada peristiwa awal kali bertemu dengan lelaki itu di tahun 2009 lalu. Kabar duka itu, juga kucoba sampaikan kepada seorang kawan serantau di kota Malang sana. “Myr, sudah tahu Komar meninggal?” Tanyaku melalui sosial media. Tak lama berselang, ia memberikan tanggapan, “Iya anjir tadi juga anak-anak ngasih tahu” Jawab Myrza.

Kawan mengatakan, bahwa Ia beberapa bulan terakhir,  pada puasa bulan lalu bertemu dengan sosok lelaki itu (Komar). Ia juga berbincang walaupun hanya sedikit. Melihat wajah Komar yang masam, membuatnya berempati. Kawanku bertanya tentang kabar Komar, yang didapat justru kata sederhana dan padat, katanya Komar mengeluh capek.

Sayang, aku belum sempat bertemu lagi dengan lelaki itu. Waktu menjadi batas sekaligus kontrol secara tidak langsung bagi aktivitas manusia. Kini Komar sudah tak berjiwa. Mendengar kabar itu, membuatku tersayat, terlebih ketika tahu lelaki itu telah meninggal dengan mayat yang membusuk selama tiga hari di rumah kontrakannya. Begitu tragis, menurut saksi mata Komar akhir-akhir ini mengeluh sakit, hal itu membuatku semakin berang. Komar harus menahan rasa sakit dalam tubuhnya. Pergolakan insting Eros –insting kebahagian, cinta, seksualitas, kesenangan, dan segala bentuk hasrat kepuasan— harus berakhir kepada penaklukan insting kematian (Thanatos). Aku jadi teringan tentang struktur mental Freudian dalam psikoanalisis. Manusia, ketika dalam kondisi tertentu akibat kondisi material yang represif—pengekangan, penertipan dorongan eksternal yang kuat, penindasan, pengekangan, serta eksploitasi— kecenderungan dorongan untuk kembali kepada insting kematian akan terjadi.

Komar, sosokmu menambah representasi hostoris dari hubungan sosial produksi yang timpang; Ketiadaan alat produksi, mengakibatkan lelaki itu harus bekerja menjadi tenaga kerja upahan, yakni sebagai pedagang gerobakan. Kerja yang hakikatnya menyenangkan, bebas, dan memiliki tujuan memenuhi kebutuhan harian atau sebagai bentuk refleksi diri, kemudian harus terkomodifikasi (tenaga kerja menjadi komoditas). Komar harus menjual tenaganya untuk bisa bertahan hidup dalam himpitan sistem kapitalisme yang semakin hari semakin banal. Upah yang diperoleh dari hasil “kerja keras” itu, ia gunakan untuk menunaikan kebutuhan reproduksi–biaya keturunan, pendidikan anak, rumah kontrakan, biaya konsumsi, dan biaya lainnya— agar bisa tetap bertahan hidup.

Tujuh tahun berselang, hidup di bawah rezim tenaga kerja upahan harus ia lakukan. Belum lagi eksploitasi kerja, ia harus bekerja mulai dari jam masuk anak sekolah sekitar jam delapan pagi hingga larut malam atau sekitar jam dua belas malam. Itu pun, belum termasuk kerja yang harus ia lakukan pada hari libur, seperti pada hari sabtu dan minggu. Untuk dua hari itu, ia harus bekerja sampai adzan subuh berkumandang, belum lagi ia harus berhadapan dengan para pereman dan aparatur bengis. Kalau sudah demikian, kita harus memulai dari mana?


Dan Komar pada akhirnya menjadi martir bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Selamat Jalan Bung Komar, semoga laku mu menjadi panutan dan arah bagi saya. Terimakasih untuk perkenalan kita dalam pergaulan sosial selama masa putih abu-abu. 
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar