Sabtu, 30 April 2016

Adakah orang yang tidak pernah merasa takut? Kata orang itu delusional. Adakah orang yang tidak pernah merasa benci? Hidupnya selalu memandang orang lain baik? Adakah orang yang mampu mendikte orang lain? Ada? Jika ada, itu bukan manusia, itu adalah robot! Ya, sekali lagi itu robot. Manusia adalah makhluk yang menyejarah, sebab itu ia bisa menciptakan dimensi; masa lalu, kini, dan masa depan. Namun, pola sama, tetapi beda subjek. Jangan samakan soal subjek: beda perawakan, beda ideologi, dan tentu berbeda keberpihakan. Di samping itu, manusia adalah makhluk yang kreatif, oleh karena itu alam menjadi dinamis; dalam basis materialis-dialektis. Hah, lama saya tak berbicara seperti ini, mungkin sudah saatnya hari ini dan seterusnya.

Ini adalah ihwal cerita fiktif. Apa yang menerpa kalian–merupakan entitas kosong yang di bangun dalam alam imajiner hari ini? Nampaknya begitu gelisah, gamang, atau mungkin miskin imajinasi? Semoga itu bukanlah penyakit hari ini, dan semoga tidak ada lagi. Dua orang lelaki berbicara, ihwal ketakutan di masa depan. Ihwal subjek yang dijadikan panutan untuk kontestasi dalam jabatan politis. Uhh, ucap saya sekaligus takjub. Bagaimana bisa hari ini sudah berbicara ihwal itu? Siapa yang menyuntik isu itu? Kalau ada Brengsek dia! Saya ingatkan itu bukan domain angkatan atau sektoral tertentu. Saya rasa rumah itu telah beralih corak pemikirannya, lebih  politis, hingga pintar membangun aleniasi di tingkat perkawanan, begitu kira-kira.

Hai Bung atau Nona sekalian, dimana keluarga? Apa makna kata itu? Kalian tampak gagal membangun kepercayaan kepada dua orang manusia hebat. Kalian gagal menjadi penyanggah, dan lebih memilih untuk membiarkan mereka keluar! “Ah anda Sok Tahu”, mungkin ada yang mengatakan itu, biar. Sekarang saya tidak akan banyak bicara soal teori dan data, itu tidak menjadi penting untuk kalian. Sebab, kalian generasi yang selalu merasa benar, selalu merasa tidak sesuai, dan tentunya tidak pernah selesai untuk suatu hal yang kalian jalankan. Namun, ada yang ingin saya tanyakan. “Siapa yang mengajarkan kalian untuk tidak percaya satu sama lain? Saya rasa tidak ada yang mengajarkan kalian tentang ketidakpecayaan, bahkan saya pun atau yang lainnya juga. Ihwal dua orang, pernah kalian mencoba membantu yang sebisa kalian mampu? Jika ada soal keuangan, mungkin? Pernah coba memikirkan, atau sekedar membantu semampu kalian? Saya tanyakan lagi, dimana makna keluarga itu? Jika hanya soal membantu masih dalam tingkat kata atau konsep. Itu hanya salah satu, belum salah duanya.

Lagi-lagi ini cerita fiktif, kelak saya ceritakan soal tokoh, cerita ini menggunakan alur maju.

Hai Bung dan Nona lagi, “Siapa yang mengajarkan kalian untuk membangun "poros elitis"? Hingga harus tertanam kepada generasi yang baru. Gaya-gaya kerja sektoral masih saja dijalankan! Tahu kalian dengan pola kerja seperti itu apa yang dihasilkan? Ya! pembantaian karakter yang diumpat secara berjamaah. Kebencian demi kebencian yang coba ditularkan, untuk mengaleniasi subjek dalam entitas tertentu, satu kata untuk kalian disorientasi! Saya mau bertanya sekali lagi, bisa jelaskan “apa itu termin mendominasi?” Paham kalian soal dominasi dan yang mendominasi? Ah saya rasa kalian tidak mumpuni menjelaskannya, paling-paling hanya soal prilaku, bukan melihat dalam basis keilmuan!Saya rasa kalian tidak mampu untuk menciptakan keseimbangan dalam ruang? Tidak, tidak, tidak, kalian memang bisu, dan memilih diam karena kalian malas berpikir? Oh saya lupa kalian malas untuk baca, apalagi diskusi, katanya “Tidak efektif”.

Hai Bung dan Nona sekalian, mengapa kalian tampak gamang dalam berjalan? Mengapa kalian mudah goyah? Mengapa kalian menjaga jarak dan memilih untuk sekedarnya? Tulisan kalian banyak, orang lihat tampak produktif. Orang lihat tampak hebat, mungkin kalian barometer nasional. Sikap politik kalian secara implisit orang lihat, sepertinya sudah tuntas. Kata orang, kalian radikal. Kata orang kalian tidak kompromistis. Kata orang kalian teguh dalam pendirian. Ah, semua tampak hanya “lipstik”. Kalian miskin imajinasi, tidak punya prioritas, hanya mampu menulis, tetapi tidak ruh dalam setiap tulisan kalian. Paling sikap kalian hanya selesai di mahasiswa. Kalian hanya kumpulan robot tak bernyawa, tidak punya keberpihakan, bicara hanya dalam ruang-ruang kosong. 


Joko Ananta (Tulisan ini adalah kumpulan umpatan seorang bujangan yang saya temui ketika perjalanan menuju Pasuruan, bukan untuk siapa-siapa, jika ada kesamaan ataupun terkesan seperti benar, saya jamin itu bukan mereka atau lingkungan sekitar saya,). Joko ananta adalah lelaki imajinatif.
Categories:

1 komentar: