Semoga tulisanku tak kau anggap sebagai bentuk Zuudzon-ku kepada-Mu Tuhan. Jika dunia ini diciptakan hanya untuk
lokus bertemu para pencatut
dan mafia rente, mungkin sebaliknya mereka tidak dilahirkan di dunia ini.
Semoga ini bukanlah caraku untuk menafikan kenikmatan-Mu Tuhan. Rasa geram ini
semakin lama terus menggumpal hingga mengkristal. Semoga aku tak dibutakan atau
memilih jalan pragmatis untuk menyingkirkan realitas itu. Entah, dalam hitungan
belasan, puluhan, bahkan ratusan tahun walaupun jiwa ini sudah terkapar dalam tanah. Namun, ku
yakinkan semangat itu akan terus tertanam dalam birahi pemuda atau pemudi masa depan.
Aku menyadari, betapa mahal ongkos untuk mendapatkan kesejahteraan di
negeri ini. sungguh mahal! Tak ada alasan untuk menurunkan standar kualitas
hidup agar mimpi tak begitu tinggi. Namun, bagiku itu bukanlah pilihan seorang
manusia untuk hidup. Aku tegaskan sekali lagi bukan pilihan untuk manusia
menjadi manusia. Kota ini mengubah seutuhnya caraku untuk memahami kehidupan,
menikmati, dan merajut sejuta mimpi di depan. Entah, bila kala itu tak-ku
tancapkan pilihan di kota ini, mungkin hal itu tidak mampu ku torehkan dalam
kumpulan kata-kata ini menjadi huruf dan berubah menjadi kalimat ini.
Seketika ada rasa malu-ku yang begitu tinggi, ketika melihat tumpukan buku
yang berjejer di rak dan di atas lantai kamar. Cukup banyak, mungkin bagiku
banyak. Namun, diusia-ku yang
sekarang, sebuah karya belum mampu-ku ciptakan. Bahkan, rasa malu itu terus melambai-lambai di depanku. Kesal,
marah, dan ingin mengoyak-ngoyak diri sendiri. Aku memang bukanlah mahasiswa
berprestasi, bukan seorang retoris ulum, dan tak juga tidak mempunyai basis
yang melebur menjadi satu kesatuan dengan kekuatan determinisme ekonomi (rakyat!). Gagasanku, terkadang tak
jauh berbeda mereplikasi kutipan buku-buku yang telah-ku lumat setiap malam menuju pergantian hari. Namun,
sekali lagi aku adalah fakir dalam kerja praksis, khususnya sebuah karya. Prestasiku
tak sebegitu banyak, mungkin Curriculum
vitae (CV) tak layak kau lihat. Aku sedang berkeluh kesah dari kenyataan
yang tak mendekatkan mimipi-ku.
Sebuah Rumah Perubahan
Hingga-ku merasa tempat
itu menjadi titik konvergensi melahirkan sejuta gagasan, cita-cita, dan berbuah
kenyataan. Aku dibesarkan “di
sana”, tempat sejuta petuah dan ilmu yang begitu mewah. Tempat itu, mengubah
cara pandangku, mengubah gaya hidupku, dan mengubah keinginanku. Aku ditempa
dengan rasa keinginan yang tinggi, menebus dosa bagiku adalah melakukan sejuta perubahan dan
menembakan “peluru” (sebuah analogi mimpi dan cita-cita). Mereka yang tak kenal lelah menempaku hingga
larut malam. Menyisihkan waktu luang untuk berdiskusi tentang negara dan masa depan. Ya.. aku sebut
mereka para pejuang!
Rumah itu, menjadi tempatku bertemu dengan setumpuk beban negeri ini,
sekaligus kegagalan negara dalam memberikan tanggungjawab kepada rakyatnya. Rumah
yang membuatku begitu nyaman dan selalu merindukannya. Mungkin, rumah itu kini
sudah tak dihuni oleh para pejuang terdahulu. Mungkin, rumah itu tak sekuat
kalian di masa lalu, dan mungkin rumah itu tak memberikan nilai-nilai berharga
bagi kalian yang tak menjadi penghuninya. Namun, semangat itu dan cita-cita itu
hingga detik ini masih mengakar dalam; pribadiku, kau, kalian,
dan kita.
Tentang cerita rumah
perubahan, satu kali dua belas jam menghabiskan waktu, bertemu dengan kalian, berbicara banyak hal adalah
sebuah keistimewaan, kurasa kalian merasakan demikian. Mungkin, rumah ini tak
memberikanmu kepada deretan nilai “A” pada IPK-mu, tidak mengantarkan juga pada
setumpuk kebanggaan di depan
orang lain, dan tidak juga mengantar kalian mendapatkan posisi Top
level di perusahaan bergengsi ala barat. Namun, ada hal yang luput dari
pandangan dan amatan kita. Bahwa rumah ini adalah titik konvergensi; sejuta
gagasan berputar, sejuta cita-cita yang dipendam itu ingin kita wujudkan
bersama, sejuta ketakutan yang seketika dapat menghilangkan rasa gentar, sejuta
kemalasan yang berwujud dalam aksi praksis, dan sejuta modal sosial yang mampu membawamu
untuk ke depannya. Semoga itu benar kelak! Seharusnya cukup kita saling berkeluh kesah, cukup kita saling tak percaya,
dan cukup sudah kita hanya memikirkan sisi humanis diri kita. Aku mungkin
adalah orang yang terlalu banyak mengharap pada hubunganku dengan lingkungan eksternalku (manusia lain) dan, mungkin juga orang yang terlalu
berambisi (lebih baik
dari pada menyebut kata ambisius).
Namun, frase kalimat “Sebuah Rumah Perubahan” itu akan menjadi ruang
imajiner kosong belaka, jika kita saling menunggu dan tak ada keinginan untuk
mewujudkan mimpi itu secara bersama. Rumah itu juga hanya akan menjadi ruang
hampa, bila kekuatan internal pribadi masing-masing hanya menganggapnya sebagai
pemanis bak gincu. Namun, rumah itu dapat menjadi “Rumah Perubahan” jika setiap
diri kita, mulai sekarang saling memberikan resolusi ke depan, saling merapatkan barisan, dan saling
percaya satu sama lain. Entah,
apapun yang dilakukan kelak di kemudian hari, lakukan dengan bijaksana, lakukan
dengan cinta tanpa adanya rasa takut, dan lakukan tanpa adanya beban. Dan, hingga pada akhirnya rumah
itu bertransformasi menjadi
sebuah titik ekuilibrium;
dengan sejuta cita-cita yang dapat
dijawab hari ini. Kita adalah
makhluk menyejarah, oleh
karena itu dalam eksistensialis (internal diri manusia) kita dapat menuliskan sejarah dengan melewati tiga dimensi; masa lampau, masa kini,
dan masa depan. Maka, jadilah pejuang dan
transformasikan nilai itu kepada mereka yang menunggu di depan “pintu” masuk,
kepada mereka yang kini telah mendapat gelar baru sebagai “Mahasiswa”. Dan
sekali lagu, jangan pernah merasa cukup untuk membangun keberlanjutan peradaban
itu.
0 komentar:
Posting Komentar