Senin, 29 Juni 2015

Semoga tulisanku tak kau anggap sebagai bentuk Zuudzon-ku kepada-Mu Tuhan. Jika dunia ini diciptakan hanya untuk lokus bertemu para pencatut dan mafia rente, mungkin sebaliknya mereka tidak dilahirkan di dunia ini. Semoga ini bukanlah caraku untuk menafikan kenikmatan-Mu Tuhan. Rasa geram ini semakin lama terus menggumpal hingga mengkristal. Semoga aku tak dibutakan atau memilih jalan pragmatis untuk menyingkirkan realitas itu. Entah, dalam hitungan belasan, puluhan, bahkan ratusan tahun walaupun jiwa ini sudah terkapar dalam tanah. Namun, ku yakinkan semangat itu akan terus tertanam dalam birahi pemuda atau pemudi masa depan.

Aku menyadari, betapa mahal ongkos untuk mendapatkan kesejahteraan di negeri ini. sungguh mahal! Tak ada alasan untuk menurunkan standar kualitas hidup agar mimpi tak begitu tinggi. Namun, bagiku itu bukanlah pilihan seorang manusia untuk hidup. Aku tegaskan sekali lagi bukan pilihan untuk manusia menjadi manusia. Kota ini mengubah seutuhnya caraku untuk memahami kehidupan, menikmati, dan merajut sejuta mimpi di depan. Entah, bila kala itu tak-ku tancapkan pilihan di kota ini, mungkin hal itu tidak mampu ku torehkan dalam kumpulan kata-kata ini menjadi huruf dan berubah menjadi kalimat ini.

Seketika ada rasa malu-ku yang begitu tinggi, ketika melihat tumpukan buku yang berjejer di rak dan di atas lantai kamar. Cukup banyak, mungkin bagiku banyak. Namun, diusia-ku yang sekarang, sebuah karya belum mampu-ku ciptakan. Bahkan, rasa malu itu terus melambai-lambai di depanku. Kesal, marah, dan ingin mengoyak-ngoyak diri sendiri. Aku memang bukanlah mahasiswa berprestasi, bukan seorang retoris ulum, dan tak juga tidak mempunyai basis yang melebur menjadi satu kesatuan dengan kekuatan determinisme ekonomi (rakyat!). Gagasanku, terkadang tak jauh berbeda mereplikasi kutipan buku-buku yang telah-ku lumat setiap malam menuju pergantian hari. Namun, sekali lagi aku adalah fakir dalam kerja praksis, khususnya sebuah karya. Prestasiku tak sebegitu banyak, mungkin Curriculum vitae (CV) tak layak kau lihat. Aku sedang berkeluh kesah dari kenyataan yang tak mendekatkan mimipi-ku.

Sebuah Rumah Perubahan

Hingga-ku merasa tempat itu menjadi titik konvergensi melahirkan sejuta gagasan, cita-cita, dan berbuah kenyataan. Aku dibesarkan “di sana”, tempat sejuta petuah dan ilmu yang begitu mewah. Tempat itu, mengubah cara pandangku, mengubah gaya hidupku, dan mengubah keinginanku. Aku ditempa dengan rasa keinginan yang tinggi, menebus dosa bagiku adalah melakukan sejuta perubahan dan menembakan “peluru” (sebuah analogi mimpi dan cita-cita). Mereka yang tak kenal lelah menempaku hingga larut malam. Menyisihkan waktu luang untuk berdiskusi tentang negara dan masa depan. Ya.. aku sebut mereka para pejuang!

Rumah itu, menjadi tempatku bertemu dengan setumpuk beban negeri ini, sekaligus kegagalan negara dalam memberikan tanggungjawab kepada rakyatnya. Rumah yang membuatku begitu nyaman dan selalu merindukannya. Mungkin, rumah itu kini sudah tak dihuni oleh para pejuang terdahulu. Mungkin, rumah itu tak sekuat kalian di masa lalu, dan mungkin rumah itu tak memberikan nilai-nilai berharga bagi kalian yang tak menjadi penghuninya. Namun, semangat itu dan cita-cita itu hingga detik ini masih mengakar dalam; pribadiku, kau, kalian, dan kita.

Tentang cerita rumah perubahan, satu kali dua belas jam menghabiskan waktu, bertemu dengan kalian, berbicara banyak hal adalah sebuah keistimewaan, kurasa kalian merasakan demikian. Mungkin, rumah ini tak memberikanmu kepada deretan nilai “A” pada IPK-mu, tidak mengantarkan juga pada setumpuk kebanggaan di depan orang lain, dan tidak juga mengantar kalian mendapatkan posisi Top level di perusahaan bergengsi ala barat. Namun, ada hal yang luput dari pandangan dan amatan kita. Bahwa rumah ini adalah titik konvergensi; sejuta gagasan berputar, sejuta cita-cita yang dipendam itu ingin kita wujudkan bersama, sejuta ketakutan yang seketika dapat menghilangkan rasa gentar, sejuta kemalasan yang berwujud dalam aksi praksis, dan sejuta modal sosial yang mampu membawamu untuk ke depannya. Semoga itu benar kelak! Seharusnya cukup kita saling berkeluh kesah, cukup kita saling tak percaya, dan cukup sudah kita hanya memikirkan sisi humanis diri kita. Aku mungkin adalah orang yang terlalu banyak mengharap pada hubunganku dengan lingkungan eksternalku (manusia lain) dan, mungkin juga orang yang terlalu berambisi (lebih baik dari pada menyebut kata ambisius).

Namun, frase kalimat “Sebuah Rumah Perubahan” itu akan menjadi ruang imajiner kosong belaka, jika kita saling menunggu dan tak ada keinginan untuk mewujudkan mimpi itu secara bersama. Rumah itu juga hanya akan menjadi ruang hampa, bila kekuatan internal pribadi masing-masing hanya menganggapnya sebagai pemanis bak gincu. Namun, rumah itu dapat menjadi “Rumah Perubahan” jika setiap diri kita, mulai sekarang saling memberikan resolusi ke depan, saling merapatkan barisan, dan saling percaya satu sama lain. Entah, apapun yang dilakukan kelak di kemudian hari, lakukan dengan bijaksana, lakukan dengan cinta tanpa adanya rasa takut, dan lakukan tanpa adanya beban. Dan, hingga pada akhirnya rumah itu bertransformasi menjadi sebuah titik ekuilibrium; dengan sejuta cita-cita yang dapat dijawab hari ini. Kita adalah makhluk menyejarah, oleh karena itu dalam eksistensialis (internal diri manusia) kita dapat menuliskan sejarah dengan melewati tiga dimensi; masa lampau, masa kini, dan masa depan. Maka, jadilah pejuang dan transformasikan nilai itu kepada mereka yang menunggu di depan “pintu” masuk, kepada mereka yang kini telah mendapat gelar baru sebagai “Mahasiswa”. Dan sekali lagu, jangan pernah merasa cukup untuk membangun keberlanjutan peradaban itu.   


Categories:

0 komentar:

Posting Komentar