Minggu, 09 November 2014

Enam tahun setengah bulan, cukup lama tak mendengar, mengetahui, dan memperhatikan. Tentang cerita anak kecil yang tak tahu arah, tentang cerita anak kecil yang mencari jati diri, tentang rekaman kusam yang coba diputar kembali oleh hukum alam. Enam tahun setengah bulan, datang tanpa pesan. Dua hari dalam bulan November cukup untuk aku  mengerti tentang aktivitas seorang mikrokosmos (seorang subjek).

Siang cuaca cukup cerah bagi kota Malang kala itu, mendengar Citra memberi kabar tentang seorang yang lama tak bersua datang. Aku mencoba untuk meluangkan waktu dan bertemu untuk sekedar menjadi teman perjalanan mereka, atau mungkin ada rindu. Enam tahun setengah bulan, waktu yang lama untuk tak saling berbagi cerita. Ada rasa untuk memulai obrolan, namun yangku ingat hanya secercah pahit ampas kopi awal bocah mencari jati diri. Aku lebih memilih untuk mengurungkan niat saja. Melalui media sosial aku coba memantau dan menyusun kembali rekaman yang telah terkubur enam tahun setengah bulan. Tentang mikrokosmos yang dulu kini berbeda. Bahkan, entah aku tak memahami arahnya.

Tentang perempuan yang menyukai warna dan bukan pada bentuk objeknya. Ia tampak tak berubah dalam pandanganku untuk suatu hal yang menyukai hal sederhana, mungkin dengan cara berpakaiannya. Kini, perempuan itu tengah menggeluti dunia seni rupa beraliran impresinoisme. Sebuah karya seni rupa yang tidak begitu mementingkan detail bentuk objek, tetapi lebih kepada penerangan cahaya, garis, volume, dan permainan warna yang amat kaya, tampaknya sesuai dengan karakter perempuan itu. Seni yang bergaya naturalisme atau realisme itu nampaknya yang sedang digandrunginya, terlepas siapa yang mempengaruhinya. Ada perasaan bangga terhadap perubahan peremuan itu. Perawakannya tetap sama seperti dulu, kecil, kurus, dan sedikit lebih tinggi. Namun, gaya berbicaranya yang telah begitu berubah yang diikuti dengan pengetahuannya. Mendengar ceritanya sudah begitu jauh ia melangkah.

Menemaninya berwisata ke museum Malang Tempo Dulu, mungkin menjadi pilihan tepat sebagai bentuk kearifan manusia terhadap leluhur, atau bahkan dengan cara itu aku mendapatkan rasa ketenangan batin. Berwisata ke museum merupakan hal yang mengasyikan, bagiku. Melihat pemuda dan pemudi kontemporer, kurang begitu tertarik dengan unsur yang berbau nilai-nilai historis kebangsaan. Menurutku, umumnya masyarakat kota lebih menyukai dengan hal-hal yang berbau kemewahan dan budaya liberalisme. Namun ia berbeda, dari tatapannya ketika memandangi ornamen purbakala seolah ada rasa kagum yang tak diutarakan. Aku melihatnya dari pantulan kaca pembatas prasasti yang tak sengaja terekam. Pemandangan itu seolah begitu berhaga baginya. Tidak hanya itu, aneka properti yang bergaya tempo dulu ia coba satu persatu dan dipermainkannya bak anak kecil yang berada dalam istana boneka. Hal itu yang membuatku memilih untuk mengabadikannya dalam seni melukis cahaya. Keadaan itu tak berlangsung lama, karena waktu tak mentoleransi keinginan. Alhasil, euforia yang berlangsung itu harus kami sudahi , karena jam pengunjung sudah habis.

Selepas berwisata museum, kami berhenti pada suatu tempat warung kopi untuk sekedar bersandar, berkeluh, dan saling berbagi cerita. Aku lebih banyak memancing pertanyaan, karena memang hal itu yang harus dilakukan untuk memulai perbincangan. Malam semakin pekat dan udara dingin kala itu terbungkus cantik dalam obrolan hangat.


***

Dua hari dalam bulan November, seolah tak pantas bila disandingkan dengan enam tahun dua bulan. Namun, cukup bagiku untuk mengetahuinya tentang kehidupan seorang perempuan yang sedang lelah dengan rutinitas keseharian. Aku melihat perempuan itu begitu merdeka, mengalokasikan rasa jenuhnya terhadap realitas dengan keputusannya untuk berkontemplasi dengan alam. Aku juga menyukai cara itu. Tetapi, ada rasa janggal yang sebaiknyaku simpan dalam diri untuk tidak dipertanyakan. Aku melihat ada seorang aktor sosial masyarakat yang mengarahkan perilaku individu perempuan itu, menuju arah yang “berbeda”. Entah, mungkin ia suka aku tak mengerti. Ada beberapa hal percakapan yangku ingat dalam pertemuanku ketika itu;

Aku: Apakah kamu tidak ingin membuat pameran tentang karyamu nanti? Seraya menggelengkan kepalaku ke arahnya.

Perempuan: Aku ingin sekali, tetapi aku harus mempersiapkannya dengan matang, karena aku berkarya secara mandiri. Aku harus memikirkan terlebih dahulu tentang konsep, dan tema dengan matang, serta biaya yang harus aku keluarkan, ucapnya sambil meberikan senyum manis.

Aku terdiam dan berpikir, ada keinginanku untuk membantu, namun aku takut ia tak sepaham denganku. Bagiku, teruslah berkarya maka kau akan abadi. Hambatan bukanlah yang menemukanmu pada kebuntuan, melainkan hanya menjadi faktor pertimbangan. Namun, hal itu dapat berubah menjadi mutlak ketika kita memilih untuk menciptakannya dalam ruang realitas yang berbuah pada kenyataan. Mungkin, aku harus bertemu kembali dengan perempuan itu kelak di Ibu Kota.


***



Menjadi manusia yang merdeka
Menciptakan karya sebagai senjata
Oleh karena, hidup adalah dinamika
Jangan anggap proses adalah derita
Murah suatu karya, tetapi kaya dan berjiwa
Lebih baik dari satu, dari pada berjumlah tak bermakna
Maka janganlah sampai angin Arafuru mengubahmu menjadi sosok jemawa
Pertahankan raga dan jiwa agar tak hilang dipersimpangan arus yang deras.



Categories:

1 komentar: