Enam tahun setengah bulan, cukup lama tak mendengar, mengetahui, dan memperhatikan. Tentang cerita anak kecil yang tak tahu arah, tentang cerita anak kecil yang
mencari jati diri, tentang rekaman kusam yang coba diputar kembali oleh hukum alam. Enam tahun setengah bulan, datang tanpa pesan. Dua hari
dalam bulan November cukup untuk aku mengerti tentang aktivitas seorang mikrokosmos
(seorang subjek).
Siang cuaca cukup cerah bagi kota Malang kala itu, mendengar Citra memberi
kabar tentang seorang yang lama tak bersua datang. Aku mencoba untuk meluangkan
waktu dan bertemu untuk sekedar menjadi teman perjalanan mereka, atau mungkin
ada rindu. Enam tahun setengah bulan, waktu yang lama untuk tak saling berbagi
cerita. Ada rasa untuk memulai obrolan, namun yangku ingat hanya secercah pahit
ampas kopi awal
bocah mencari jati diri. Aku lebih memilih untuk mengurungkan niat saja.
Melalui media sosial aku coba memantau dan menyusun kembali rekaman yang telah
terkubur enam tahun setengah bulan. Tentang mikrokosmos yang dulu kini
berbeda. Bahkan, entah aku tak memahami arahnya.
Tentang perempuan yang menyukai warna dan bukan pada bentuk objeknya. Ia tampak
tak berubah dalam pandanganku untuk suatu hal yang menyukai hal sederhana, mungkin dengan cara berpakaiannya. Kini, perempuan itu
tengah menggeluti
dunia seni rupa beraliran impresinoisme. Sebuah karya seni
rupa yang tidak begitu mementingkan detail bentuk objek, tetapi lebih kepada
penerangan cahaya, garis, volume, dan permainan warna yang amat kaya,
tampaknya sesuai dengan karakter perempuan itu. Seni yang bergaya naturalisme atau realisme itu nampaknya
yang sedang digandrunginya, terlepas siapa yang mempengaruhinya. Ada perasaan bangga terhadap perubahan peremuan itu. Perawakannya tetap sama seperti dulu, kecil, kurus, dan sedikit lebih tinggi. Namun, gaya berbicaranya yang telah begitu berubah yang diikuti dengan pengetahuannya.
Mendengar ceritanya sudah begitu jauh ia melangkah.
Menemaninya berwisata ke museum Malang Tempo Dulu, mungkin menjadi pilihan tepat sebagai bentuk kearifan manusia terhadap leluhur, atau bahkan dengan cara itu aku mendapatkan rasa ketenangan batin. Berwisata ke museum merupakan hal yang mengasyikan, bagiku. Melihat pemuda dan pemudi kontemporer, kurang begitu tertarik dengan unsur yang berbau nilai-nilai historis kebangsaan. Menurutku, umumnya masyarakat kota lebih
menyukai dengan hal-hal yang berbau kemewahan dan budaya liberalisme. Namun ia berbeda, dari tatapannya ketika memandangi ornamen purbakala seolah ada rasa kagum yang tak diutarakan. Aku melihatnya dari pantulan kaca pembatas
prasasti yang tak sengaja terekam. Pemandangan itu seolah begitu berhaga baginya. Tidak hanya itu,
aneka properti yang bergaya tempo dulu ia coba
satu persatu dan dipermainkannya bak anak kecil yang berada dalam istana boneka. Hal itu yang membuatku memilih untuk mengabadikannya dalam seni melukis cahaya. Keadaan itu tak berlangsung lama, karena waktu tak mentoleransi keinginan. Alhasil, euforia yang
berlangsung itu harus kami sudahi , karena jam pengunjung sudah habis.
Selepas berwisata museum, kami berhenti pada suatu tempat warung kopi untuk
sekedar bersandar,
berkeluh, dan saling berbagi
cerita. Aku lebih banyak memancing pertanyaan, karena memang hal itu yang harus
dilakukan untuk memulai perbincangan. Malam semakin pekat dan udara dingin kala
itu terbungkus cantik dalam obrolan hangat.
***
Dua hari dalam bulan November, seolah tak pantas bila disandingkan dengan
enam tahun dua bulan. Namun, cukup bagiku untuk mengetahuinya tentang
kehidupan seorang perempuan yang sedang
lelah dengan rutinitas keseharian. Aku melihat perempuan itu begitu merdeka,
mengalokasikan rasa jenuhnya terhadap realitas dengan keputusannya untuk
berkontemplasi dengan alam. Aku juga menyukai cara itu. Tetapi, ada rasa
janggal yang sebaiknyaku simpan dalam diri untuk tidak dipertanyakan. Aku melihat
ada seorang aktor sosial masyarakat yang mengarahkan perilaku individu
perempuan itu, menuju arah yang “berbeda”. Entah, mungkin ia suka aku tak
mengerti.
Ada beberapa hal percakapan yangku ingat dalam pertemuanku ketika itu;
Aku: Apakah kamu tidak ingin membuat pameran tentang karyamu nanti?
Seraya
menggelengkan kepalaku ke arahnya.
Perempuan: Aku ingin sekali, tetapi aku harus mempersiapkannya dengan
matang, karena aku berkarya secara mandiri. Aku harus memikirkan
terlebih dahulu tentang konsep, dan tema dengan matang, serta biaya yang harus aku keluarkan, ucapnya sambil meberikan
senyum manis.
Aku terdiam dan berpikir, ada keinginanku untuk membantu, namun aku takut
ia tak sepaham denganku. Bagiku, teruslah berkarya maka kau akan abadi. Hambatan
bukanlah yang menemukanmu pada kebuntuan, melainkan hanya menjadi faktor
pertimbangan. Namun, hal itu dapat berubah menjadi mutlak ketika kita memilih untuk
menciptakannya
dalam ruang realitas yang berbuah pada kenyataan. Mungkin, aku harus bertemu kembali dengan perempuan
itu kelak di Ibu Kota.
***
Menjadi manusia yang merdeka
Menciptakan karya sebagai senjata
Oleh karena, hidup adalah dinamika
Jangan anggap proses adalah derita
Murah suatu karya, tetapi kaya dan
berjiwa
Lebih baik dari satu, dari pada
berjumlah tak bermakna
Maka janganlah sampai angin Arafuru mengubahmu menjadi sosok
jemawa
Pertahankan raga dan jiwa agar
tak hilang dipersimpangan arus yang deras.
bagus ceritanya can keren tapi bikin penasaran :p
BalasHapus