Sabtu, 13 September 2014


Sudah lama tak merasakan getaran kekesalan menyentuk titik kulminasi tertinggi. Aku merasa bila diriku sedang kesal tubuh merasa begitu panas, aliran darah berdenyut lebih kuat dari daya normal sebelumnya, dan otak lebih banyak memanifestasikan sikap yang lebih taktis. Cuacah hitam hitam pekat berteman angin menjadi akrab. Susu dan kopi berpadu menjadi hidangan pelengkap kicauan malam itu. Sudah lama aku tak mengenakan pakaian hitam itu, aku hanya sedang mengenang.

 Ocehan itu terus berkutat kepada keluh kesah atas aksi  “Sang lakon” yang berlagak elitis. Malam itu aku bertemu dengan Bisu sahabat yang memahami ruang sosial pribadiku. Sudah hampir sekitar dua tahun yang lalu aku mengenalnya.

“Kau tahu aku benci dengan sosok yang lebih kuat, lalu ia bebas mendominasi?” Seraya tanganku menghempas hingga berakhir dentuman suara di meja.
 “Kau juga tahu kalau aku menentang segala bentuk penindasan?” Sahutku lagi.
“Ya.., mungkin engkau tak akan pernah tahu” pikirku dalam benak. Kau sahabatku su entah apa yang mempertemukan kita kala itu. Aku selalu berpikir, “bahwa yang lebih indah itu adalah berkumpul dan bersama memperjuangkan keadilan untuk melawan penindas yang tengah berkuasa, bukan begitu su?”

Mungkin aku membutuhkan udara segara untuk menahan amarah ini. “Su kau tunggu di sini, aku ingin mencari ketenangan sejenak”, ucapku. Pikirku meninggalkannya sebentar saja tak menjadi persoalan, lagi pula ia tak sendiri. Aku juga berbicara dari tadi tak ia indahkan. Mungkin, Bisu sedang berbicara serius dengan temannya, atau ia hanya menganggapku seorang pemuda yang sedang mencari jadi diri, atau bahkan ia sudah bosan mendengar ocehanku. Aku berharap semoga ia tak akan pernah bosan.  Tetapi, kenapa ia menangis ketika berbicara dengan temannya? Ah.., sudahlah biarkan mungkin persoalan keluarga.

 Udara malam kota ini begitu menusuk tulang, ya kota ini berada di dataran pegunungan. Aku merasa berjalan di malam hari cukup menyenangkan atau mungkin karena jalan raya cukup lenggang. Aku tak begitu suka dengan kebisingan, apalagi melihat penampakan para pengemudi yang saling tak mau mengalah. Menurutku, apakah waktu adalah Tuhan bagi mereka? Seolah tak merdeka bagiku. Pertanyaanku terus membeku dan mengkristal, harus apa aku melawan badut-badut yang seolah menjadi Tuhan di atas kehidupan orang lain. Melihat pemandangan dari kejauhan, sebuah kedai kopi yang tak begitu mewah dan megah, namun cukup padat penghuninya. Betapa bangga hati memandangi tawa yang mencair di atas kumpulan manusia itu. Setiap meja mempunyai ruang sosial yang berbeda, aku hanya memandangi dari jauh. Ada yang padat, maksudku membicarakan hal yang begitu serius, ada yang cair mereka tertawa terbahak-bahak, entah apa yang dibicarakannya, ada yang sendiri tak berkawan, dan bahkan ada yang tenggelam dalam penderitaan. Menurutku setiap orang mempunyai preferensi atau pilihan atas ruang sosial yang dibangun sebelumnya. Menyendiri atau berkelompok adalah soal rasa, meski tak dapat diukur itu merupakan konsekuensi logis atas bangunan sosial yang telah mereka ciptakan selama ini.

Aku melanjutkan kembali perjalanan malam itu sembari tetap rasioku mencari nilai dari setiap langkah yang menapak. Aku berhenti sejenak melihat di depanku kerumunan manusia berkumpul memadati ruas jalan, “Ini sudah malam apa yang masih membuat manusia itu masih berkumpul?” Pikirku. Tak hanya manusia kendaraan bermotor juga ada di sudut itu, seolah penasaran apa yang sedang dipertontonkan. Aku mempercepat langkahku dari biasanya, berharap tak lekas berakhir pertunjukan itu. Kumpulan itu berada di sebrang jalan, aku harus mendekat lebih dulu agar lebih jelas. Aku terus begegas dan mempercepat langkah kaki, tak kupikirkan jalan yang rusak meski kaki terkadang melangkah tak stabil. “Tasss..”, suara percikan air. Aku tak memikirkan apa yang sudahku injak pandangan itu terus menatap kepada titik krumunan. “tass” sudah kedua kalinya aku menginjak genangan air, kali ini kubangan air itu terciprat mengenai mataku, sontak langkah kaki pun berhenti. Tanganku seketika  bergerak mengusap mata. Pandanganku berubah menjadi tak fokus, kini aku mencoba melihat bekas usapan tangan tadi, seperti garis berwarna merah hati.

 Aku menyebrang jalan agar lebih deket dengan kerumunan masa. Air kental merah mengalir membentuk kubangan, tubuh terkapar dengan lengkap mengenakan pakain, dan tertutup Koran. Aku menelan ludah, tubuh mendadak  bergemetar, air mata sudah setengah mengambang. Aku berpikir begitu murah manusia untuk mati. Pertanyaan ini menggantung di dalam alam pikirku “Mengapa ada manusia dipercepat mati ?, “Mengapa ada manusia yang tak dipercepat untuk mati?”, “Apakah ada kebanggaan dari mereka yang tak dilahirkan?”. Aku jadi teringat kembali kutipan sajak Gie yang memilih untuk tak dilahirkan. Argumentasinya cukup jelas, ia menjustifikasikan bahwa bersyukur bagi mereka yang tidak merasakan penderitaan dan malu, karena ketika tua ia tak mampu menciptakan karya. Dan, juga untuk kematian muda karena batas waktu menjadi dasar pemikiran, bahwa sebuah karya dipaksa ditertipkan atas adanya hukum tetap alam. Sehingga ia tak dapat untuk berkarya.  

Aku tak setuju dengan agurmentasi yang seolah menjadi Tuhan di atas kekuatan alam. Berbicara tentang kematian muda dan berbicara tentang tak dilahirkan merupakan bilangan biner yang bernegasi atau berlawanan. Kematian muda berarti manusia sudah merasakan kehidupan dan sebenarnya ia dapat menciptakan karyanya, namun ia tak mampu mengalahkan kekuatan internal dominan (hubungan-hubungan sosial bermasyarakat), sehingga menjadi manusia individualis seperti mesin. Akhirnya, ia lumpuh menciptakan daya aktif. Bukanlah alam dan Tuhan yang disalahkan atas kematian muda seseorang atau menjadi bentuk syukur dari ketidakdilahirkan manusia. Aku mempertegas kita berbicara tentang karya hidup. Manusia tak mampu menciptakan karya, karena ia tidak merdeka untuk berpikir “Apa makna dari manusia itu hidup?” Ketika kita berterimakasih untuk tidak dilahirkan setidaknya lebih berharga mati tua. Aku menekankan kembali, kita berbicara karya. Plato seorang filsuf asal yunani pernah berkata bahwa manusia mempunyai alam pikir rasionya yang bergerak dengan intuisi dan menciptakan dunia berdasarkan ide-ide. Maka, tak ada manusia yang tidak berpikir dan juga manusia yang tak berkarya. Kegagalan manusia itu untuk menjadi manusia adalah ketika ia berterimakasih untuk tidak dilahirkan, dari mana karya akan tercipta? Apakah itu bentuk apresiasi yang harus diyakini? Kematian dan tidak dilahirkan adalah konteks yang berbeda.

Seorang wanita kemudian menyelinap dari kerumunan, wajahnya sudah bermandikan luka derita. Seolah ia meyakini kepergian kerabat dekat. Wanita itu tak hanya sendiri, tetapi ada lima kawanan, tujuh, delapan atau mungkin belasan kawannya yang berdiri di sampingnya. Ia mendekatkan tubuhnya lebih dekat kepada jasad yang tengah terbaring tak bertuan. Wanita itu menjurkan tanganya perlahan, sesekali bergetar. Rasanya wanita itu ingin membuka koran yang menutupi.

 Koran pun sudah digenggam, pelan terus pelan menjauhkan tutupan koran yang berada di atas wajah si korban. Aku hanya memperhatikan wajah wanita itu yang setengah ketakutan seraya tangan yang satunya menutupi wajahnya. Tak lama kemudian wanita itu berteriak dan menangis memeluk temannya. Aku melihat tak hanya wanita itu yang menangis, kawannya yang berdiri di sampingnya ikut tenggelam dalam haru. Aku meyakini bahwa kawanan itu mengenal akrab. Kehilangan seseorang yang disayang adalah derita terberat. Aku merasa ingin melihat jasad yang tengah terkapar itu. Mungkin aku mengenal atau tak mengenalnya agar dapat cepatku sampaikan berita duka ini. Aku ayunkan kepala ini cukup pelan dan berharap semoga bukan mereka yang selama ini begitu intim berhubungan sosial dengan nadiku.

Aku tahu sekarang mengapa Bisu menangis ketika ia sedang berbicara dengan temannya. Aku percaya bahwa ia tidak pernah bosan mendengar ceritaku selama ini, yangku tahu ia selalu mendukung dan percaya dengan pilihanku. Aku juga percaya bahwa ia tidak menganggapku adalah kaum utopia yang hanya sedang bekhayal. Aku hanya mendengar sepenggal kata yang terucap, ia berkata   
“Sahabatku bukanlah seorang pemimpi besar, ia selalu mengatakan kapadaku bahwa makna manusia untuk hidup adalam bermanfaat”, kemudian air mata itu menetes. Koran itu pun tertiup angin, aku pun meneteskan air mata, tak banyak berucap aku hanya mengingat kejadian beberapa menit yang lalu ketika aku bertemu dengan Bisu. Bahwa tubuh yang terkapar dengan darah yang mengenang kental di ruas jalan itu adalah aku.

LANJUT..
Categories:

1 komentar: