Sudah
lama tak merasakan getaran kekesalan menyentuk titik kulminasi tertinggi. Aku
merasa bila diriku sedang kesal tubuh merasa begitu panas, aliran darah berdenyut
lebih kuat dari daya normal sebelumnya, dan otak lebih banyak memanifestasikan
sikap yang lebih taktis. Cuacah hitam hitam pekat berteman angin menjadi akrab.
Susu dan kopi berpadu menjadi hidangan pelengkap kicauan malam itu. Sudah lama
aku tak mengenakan pakaian hitam itu, aku hanya sedang mengenang.
Ocehan itu terus berkutat kepada keluh kesah
atas aksi “Sang lakon” yang berlagak
elitis. Malam itu aku bertemu dengan Bisu sahabat yang memahami ruang sosial
pribadiku. Sudah hampir sekitar dua tahun yang lalu aku mengenalnya.
“Kau
tahu aku benci dengan sosok yang lebih kuat, lalu ia bebas mendominasi?” Seraya
tanganku menghempas hingga berakhir dentuman suara di meja.
“Kau juga tahu kalau aku menentang segala
bentuk penindasan?” Sahutku lagi.
“Ya..,
mungkin engkau tak akan pernah tahu” pikirku dalam benak. Kau sahabatku su
entah apa yang mempertemukan kita kala itu. Aku selalu berpikir, “bahwa yang
lebih indah itu adalah berkumpul dan bersama memperjuangkan keadilan untuk melawan
penindas yang tengah berkuasa, bukan begitu su?”
Mungkin
aku membutuhkan udara segara untuk menahan amarah ini. “Su kau tunggu di sini,
aku ingin mencari ketenangan sejenak”, ucapku. Pikirku meninggalkannya sebentar
saja tak menjadi persoalan, lagi pula ia tak sendiri. Aku juga berbicara dari
tadi tak ia indahkan. Mungkin, Bisu sedang berbicara serius dengan temannya,
atau ia hanya menganggapku seorang pemuda yang sedang mencari jadi diri, atau
bahkan ia sudah bosan mendengar ocehanku. Aku berharap semoga ia tak akan
pernah bosan. Tetapi, kenapa ia menangis
ketika berbicara dengan temannya? Ah.., sudahlah biarkan mungkin persoalan
keluarga.
Udara malam kota ini begitu menusuk tulang, ya
kota ini berada di dataran pegunungan. Aku merasa berjalan di malam hari cukup
menyenangkan atau mungkin karena jalan raya cukup lenggang. Aku tak begitu suka
dengan kebisingan, apalagi melihat penampakan para pengemudi yang saling tak
mau mengalah. Menurutku, apakah waktu adalah Tuhan bagi mereka? Seolah tak
merdeka bagiku. Pertanyaanku terus membeku dan mengkristal, harus apa aku
melawan badut-badut yang seolah menjadi Tuhan di atas kehidupan orang lain.
Melihat pemandangan dari kejauhan, sebuah kedai kopi yang tak begitu mewah dan
megah, namun cukup padat penghuninya. Betapa bangga hati memandangi tawa yang
mencair di atas kumpulan manusia itu. Setiap meja mempunyai ruang sosial yang
berbeda, aku hanya memandangi dari jauh. Ada yang padat, maksudku membicarakan
hal yang begitu serius, ada yang cair mereka tertawa terbahak-bahak, entah apa
yang dibicarakannya, ada yang sendiri tak berkawan, dan bahkan ada yang
tenggelam dalam penderitaan. Menurutku setiap orang mempunyai preferensi atau
pilihan atas ruang sosial yang dibangun sebelumnya. Menyendiri atau berkelompok
adalah soal rasa, meski tak dapat diukur itu merupakan konsekuensi logis atas
bangunan sosial yang telah mereka ciptakan selama ini.
Aku
melanjutkan kembali perjalanan malam itu sembari tetap rasioku mencari nilai dari
setiap langkah yang menapak. Aku berhenti sejenak melihat di depanku kerumunan
manusia berkumpul memadati ruas jalan, “Ini sudah malam apa yang masih membuat
manusia itu masih berkumpul?” Pikirku. Tak hanya manusia kendaraan bermotor
juga ada di sudut itu, seolah penasaran apa yang sedang dipertontonkan. Aku
mempercepat langkahku dari biasanya, berharap tak lekas berakhir pertunjukan
itu. Kumpulan itu berada di sebrang jalan, aku harus mendekat lebih dulu agar
lebih jelas. Aku terus begegas dan mempercepat langkah kaki, tak kupikirkan
jalan yang rusak meski kaki terkadang melangkah tak stabil. “Tasss..”, suara
percikan air. Aku tak memikirkan apa yang sudahku injak pandangan itu terus
menatap kepada titik krumunan. “tass” sudah kedua kalinya aku menginjak
genangan air, kali ini kubangan air itu terciprat mengenai mataku, sontak
langkah kaki pun berhenti. Tanganku seketika bergerak mengusap mata. Pandanganku berubah
menjadi tak fokus, kini aku mencoba melihat bekas usapan tangan tadi, seperti
garis berwarna merah hati.
Aku menyebrang jalan agar lebih deket dengan
kerumunan masa. Air kental merah mengalir membentuk kubangan, tubuh terkapar
dengan lengkap mengenakan pakain, dan tertutup Koran. Aku menelan ludah, tubuh
mendadak bergemetar, air mata sudah
setengah mengambang. Aku berpikir begitu murah manusia untuk mati. Pertanyaan
ini menggantung di dalam alam pikirku “Mengapa ada manusia dipercepat mati ?, “Mengapa
ada manusia yang tak dipercepat untuk mati?”, “Apakah ada kebanggaan dari
mereka yang tak dilahirkan?”. Aku jadi teringat kembali kutipan sajak Gie yang
memilih untuk tak dilahirkan. Argumentasinya cukup jelas, ia menjustifikasikan
bahwa bersyukur bagi mereka yang tidak merasakan penderitaan dan malu, karena
ketika tua ia tak mampu menciptakan karya. Dan, juga untuk kematian muda karena
batas waktu menjadi dasar pemikiran, bahwa sebuah karya dipaksa ditertipkan
atas adanya hukum tetap alam. Sehingga ia tak dapat untuk berkarya.
Aku
tak setuju dengan agurmentasi yang seolah menjadi Tuhan di atas kekuatan alam. Berbicara
tentang kematian muda dan berbicara tentang tak dilahirkan merupakan bilangan
biner yang bernegasi atau berlawanan. Kematian muda berarti manusia sudah
merasakan kehidupan dan sebenarnya ia dapat menciptakan karyanya, namun ia tak
mampu mengalahkan kekuatan internal dominan (hubungan-hubungan sosial
bermasyarakat), sehingga menjadi manusia individualis seperti mesin. Akhirnya,
ia lumpuh menciptakan daya aktif. Bukanlah alam dan Tuhan yang disalahkan atas
kematian muda seseorang atau menjadi bentuk syukur dari ketidakdilahirkan
manusia. Aku mempertegas kita berbicara tentang karya hidup. Manusia tak mampu
menciptakan karya, karena ia tidak merdeka untuk berpikir “Apa makna dari
manusia itu hidup?” Ketika kita berterimakasih untuk tidak dilahirkan setidaknya
lebih berharga mati tua. Aku menekankan kembali, kita berbicara karya. Plato
seorang filsuf asal yunani pernah berkata bahwa manusia mempunyai alam pikir rasionya
yang bergerak dengan intuisi dan menciptakan dunia berdasarkan ide-ide. Maka, tak
ada manusia yang tidak berpikir dan juga manusia yang tak berkarya. Kegagalan manusia
itu untuk menjadi manusia adalah ketika ia berterimakasih untuk tidak
dilahirkan, dari mana karya akan tercipta? Apakah itu bentuk apresiasi yang
harus diyakini? Kematian dan tidak dilahirkan adalah konteks yang berbeda.
Seorang
wanita kemudian menyelinap dari kerumunan, wajahnya sudah bermandikan luka
derita. Seolah ia meyakini kepergian kerabat dekat. Wanita itu tak hanya
sendiri, tetapi ada lima kawanan, tujuh, delapan atau mungkin belasan kawannya
yang berdiri di sampingnya. Ia mendekatkan tubuhnya lebih dekat kepada jasad
yang tengah terbaring tak bertuan. Wanita itu menjurkan tanganya perlahan,
sesekali bergetar. Rasanya wanita itu ingin membuka koran yang menutupi.
Koran pun sudah digenggam, pelan terus pelan
menjauhkan tutupan koran yang berada di atas wajah si korban. Aku hanya
memperhatikan wajah wanita itu yang setengah ketakutan seraya tangan yang
satunya menutupi wajahnya. Tak lama kemudian wanita itu berteriak dan menangis
memeluk temannya. Aku melihat tak hanya wanita itu yang menangis, kawannya yang
berdiri di sampingnya ikut tenggelam dalam haru. Aku meyakini bahwa kawanan itu
mengenal akrab. Kehilangan seseorang yang disayang adalah derita terberat. Aku
merasa ingin melihat jasad yang tengah terkapar itu. Mungkin aku mengenal atau
tak mengenalnya agar dapat cepatku sampaikan berita duka ini. Aku ayunkan
kepala ini cukup pelan dan berharap semoga bukan mereka yang selama ini begitu
intim berhubungan sosial dengan nadiku.
Aku
tahu sekarang mengapa Bisu menangis ketika ia sedang berbicara dengan temannya.
Aku percaya bahwa ia tidak pernah bosan mendengar ceritaku selama ini, yangku
tahu ia selalu mendukung dan percaya dengan pilihanku. Aku juga percaya bahwa
ia tidak menganggapku adalah kaum utopia yang hanya sedang bekhayal. Aku hanya
mendengar sepenggal kata yang terucap, ia berkata
“Sahabatku
bukanlah seorang pemimpi besar, ia selalu mengatakan kapadaku bahwa makna
manusia untuk hidup adalam bermanfaat”, kemudian air mata itu menetes. Koran
itu pun tertiup angin, aku pun meneteskan air mata, tak banyak berucap aku
hanya mengingat kejadian beberapa menit yang lalu ketika aku bertemu dengan
Bisu. Bahwa tubuh yang terkapar dengan darah yang mengenang kental di ruas
jalan itu adalah aku.
LANJUT..
Kembalilah setelah kau menemukan ketenanganmu.
BalasHapus