Aku
tidak pernah mengerti kenapa aku dilahirkan di dunia ini. Aku tidak pernah
mengerti kenapa menjadi seperti ini. Mungkin, banyak orang bisa berapriori
dengan keadaan ku ini atau bahkan memiliki stigma tertentu kepada ku. Aku juga
tidak bisa menempatkan mana posisi dan peran ku sebagai seorang manusia.
Tanggung jawab ku sekarang sedang dipertanyakan. Konsistensi ku sedang
mengambang atau mungkin terbang. Aku tidak pernah mengatakan bahwa hitam akan
selalu menjadi hitam. Aku mencoba berbicara kepada diri sendiri atas tindakan
yang ku buat, benar atau tidaknya adalah kausalitas. Dunia ini begitu absud,
pilihan selalu menciptakan kebenaran tergantung paradigm tunggalnya. Sekarang
aku lebih baik diam saja, berbicara juga hanya ditertawakan, bak badut dalam parade
pencitraan.
Sekarang
aku berbicara pada engkau bahwa pilihan “mu” itu belum tentu benar dan pilihan
ku begitu juga. Aku hanya bimbang membuat kerangka explanans untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan menyimpulkan
dalam kalimat minor kehidupan. Menurut ku kebenaran adalah manusia dimana
akalbudi adalah pengambaran jelas untuk berbicara tentang kebenaran. Aku merasa
asing dan begitu jauh, apa mungkin kita sudah menjadi makhluk individual ?,
atau mungkin nilai moral sudah begitu sukar?. Sehingga mentertawakan pilihan
manusia adalah sebuah kesenangan?, ya rasakan posisi itu di titik atau sudut
pandang manusia selain “mu” maka sebuah makna akan dapat kau dapatkan. ‘
Dunia itu Absud, catatan kaki
manusia yang bimbang. (2:30)
menentukan posisi lebih baik adanya ketimbang memilih tidak memutuskan apa-apa. sebab kalaupun salah, toh akhirnya dengan cepat kita bisa belajar, memperbaikinya. kalau sudah mengerti "aturan main" berarti seharusnya mengerti keputusan itu "benar" atau "salah". tidak ada kata "bimbang" diantara keduanya.
BalasHapusDunia itu Absurd, seperti komentarku. . hhe