Kamis, 30 Januari 2014


Menjadi seorang Barista mungkin merupakan pekerjaan yang seru, bagi-ku. Aku bisa mengetahui berbagai macam jenis kopi yang berada di Nusantara ini. Mulai dari Bali Arabica, Sindikalang, Aceh Gayo, Flores Arabica, Java Robusta, Arabica Gayo, Flores Kalosi, Bali Kintamani, dan masih banyak lagi. Aku pecinta kopi, namun tak begitu banyak aku memberikan perhatian yang konsisten terhadap kopi, karena ia tak seperti wanita yang harus diberi perhatian terus-menerus.

Menurut-ku ketika kita menikmati kopi. Kita tidak sekedar sedang menikmati rasa. Melainkan ada kumpulan-kumpulan roh yang hidup di dalamnya dan saling bersintesis. Kopi yang kita pilih merepresentatsikan daerah tersebut, tingkat keasaman juga mempengaruhi tata letak biji kopi tersebut. Biji kopi yang di letakan di dalam karung goni jelas berbeda rasanya dengan biji kopi yang di letakan di dalam pelastik. Biji kopi yang di letakan di atas lantai juga berbeda rasanya dengan biji kopi yang di letakan di atas meja. Cahaya matahari, iklim, dan teknik pembakaran (Roasting) juga mempengaruhi cita rasa kopi itu.

Ketika kita ingin membuat Espresso. Espresso adalah ekstrak kopi atau inti sari dari kopi yang dinikmati dengan gelas yang berukuran mini dengan ukuran 30 ml. Dalam Pembuatannya juga mempunyai implikasi, yakni pada saat melakukan Temper atau menekan kopi yang berada di dalam Porta. Komposisi dan hitungan detik keluarnya inti sari kopi melalui porta juga berpengaruh terhadap cita rasa kopi. Espresso yang di hidangkan dengan satu Shot Porta juga berbeda dengan kita menghidangkannya dua Shot. Menikmati Espresso dalam waktu kurang dari tiga puluh detik juga berbeda rasanya dengan menikmatinya lebih dari tiga puluh detik. Ini-lah yang menyebabkan dalam satu biji kopi mempunyai 1000 rasa yang berbeda. walaupun kita sudah menggunakan kalimat-kalimat basis sebagai metode dalam pembuatan kopi tetap saja berbeda hasilnya. Bahkan berbeda tangan dalam meraciknya juga berbeda rasanya.

Jika-ku tarik dalam kehidupan aku ingin menganalogikan sebiji kopi itu adalah Indonesia dan perbedaan itu meliputi ras, agama, golongan, dan budaya. Perbedaan cita rasa dalam biji kopi tidak pernah membuat kita menjadi manusia yang tempramental atau membuat kita menjadi manusia yang lebih dominan dipengaruhi oleh Id. Melaikan perbedaan itu menjadi ciri khas bahkan nilai estetika yang meliputi di dalamnya dari sebuah tumbuhan yang bernama kopi. Meski perbedaan itu pada akhirnya mempengaruhi rasa yang berada dalam diri kita, bukan berarti kita harus mencari persamaan atas perberbedaan?. Kalau kita mencari persamaan sampai kapan pun kita tak akan pernah bertemu titik tersebut. Karena, budaya merupakan lapisan terdasar manusia.

Di sini saya ingin menggaris bawahi, bahwa bukanlah persamaan yang kita cari melainkan adalah tolerasi atau “Diffrently and tolerance. kita hidup juga berdasarkan perbedaan tetapi tidak membuat kita melakukan tindakan diskriminatif kepada orang lain. Itulah guna ego dalam penyeimbang id dan superego yang berada di dalam diri manusia.

Indonesia saat ini untuk mencapai persamaan menurut saya masih sangat jauh. Saya bukan berbicara dengan mental inlander. Tetapi persamaan itu selalu bersinggungan dengan perselisihan. Maka dari itu, kita harus mempunyai sikap toleransi yang tinggi untuk menjaga kedaulatan negeri ini. Tetapi, sesekali memang hidup juga harus dipertaruhkan.  Karena, hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak layak untuk dimenangkan, begitulah ucapakan Frederich Schiller
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar