Menjadi seorang
Barista mungkin merupakan pekerjaan yang seru, bagi-ku. Aku bisa mengetahui
berbagai macam jenis kopi yang berada di Nusantara ini. Mulai dari Bali
Arabica, Sindikalang, Aceh Gayo, Flores Arabica, Java Robusta, Arabica Gayo,
Flores Kalosi, Bali Kintamani, dan masih banyak lagi. Aku pecinta kopi, namun
tak begitu banyak aku memberikan perhatian yang konsisten terhadap kopi, karena
ia tak seperti wanita yang harus diberi perhatian terus-menerus.
Menurut-ku ketika
kita menikmati kopi. Kita tidak sekedar sedang menikmati rasa. Melainkan ada
kumpulan-kumpulan roh yang hidup di dalamnya dan saling bersintesis. Kopi yang
kita pilih merepresentatsikan daerah tersebut, tingkat keasaman juga
mempengaruhi tata letak biji kopi tersebut. Biji kopi yang di letakan di dalam
karung goni jelas berbeda rasanya dengan biji kopi yang di letakan di dalam
pelastik. Biji kopi yang di letakan di atas lantai juga berbeda rasanya dengan
biji kopi yang di letakan di atas meja. Cahaya matahari, iklim, dan teknik
pembakaran (Roasting) juga
mempengaruhi cita rasa kopi itu.
Ketika kita ingin
membuat Espresso. Espresso adalah
ekstrak kopi atau inti sari dari kopi yang dinikmati dengan gelas yang
berukuran mini dengan ukuran 30 ml. Dalam Pembuatannya juga mempunyai implikasi,
yakni pada saat melakukan Temper atau
menekan kopi yang berada di dalam Porta.
Komposisi dan hitungan detik keluarnya inti sari kopi melalui porta juga berpengaruh terhadap cita
rasa kopi. Espresso yang di hidangkan
dengan satu Shot Porta juga berbeda
dengan kita menghidangkannya dua Shot.
Menikmati Espresso dalam waktu kurang
dari tiga puluh detik juga berbeda rasanya dengan menikmatinya lebih dari tiga
puluh detik. Ini-lah yang menyebabkan dalam satu biji kopi mempunyai 1000 rasa
yang berbeda. walaupun kita sudah menggunakan kalimat-kalimat basis sebagai
metode dalam pembuatan kopi tetap saja berbeda hasilnya. Bahkan berbeda tangan
dalam meraciknya juga berbeda rasanya.
Jika-ku tarik dalam
kehidupan aku ingin menganalogikan sebiji kopi itu adalah Indonesia dan
perbedaan itu meliputi ras, agama, golongan, dan budaya. Perbedaan cita rasa
dalam biji kopi tidak pernah membuat kita menjadi manusia yang tempramental
atau membuat kita menjadi manusia yang lebih dominan dipengaruhi oleh Id. Melaikan perbedaan itu menjadi ciri
khas bahkan nilai estetika yang meliputi di dalamnya dari sebuah tumbuhan yang
bernama kopi. Meski perbedaan itu pada akhirnya mempengaruhi rasa yang berada
dalam diri kita, bukan berarti kita harus mencari persamaan atas perberbedaan?.
Kalau kita mencari persamaan sampai kapan pun kita tak akan pernah bertemu titik
tersebut. Karena, budaya merupakan lapisan terdasar manusia.
Di sini saya ingin
menggaris bawahi, bahwa bukanlah persamaan yang kita cari melainkan adalah
tolerasi atau “Diffrently and tolerance”. kita hidup juga berdasarkan perbedaan
tetapi tidak membuat kita melakukan tindakan diskriminatif kepada orang lain.
Itulah guna ego dalam penyeimbang id
dan superego yang berada di dalam
diri manusia.
Indonesia saat ini
untuk mencapai persamaan menurut saya masih sangat jauh. Saya bukan berbicara
dengan mental inlander. Tetapi persamaan itu selalu bersinggungan dengan
perselisihan. Maka dari itu, kita harus mempunyai sikap toleransi yang tinggi
untuk menjaga kedaulatan negeri ini. Tetapi,
sesekali memang hidup juga harus dipertaruhkan. Karena,
hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak layak untuk dimenangkan, begitulah
ucapakan Frederich Schiller
0 komentar:
Posting Komentar