Kamis, 30 Januari 2014

‘Selamat datang kau di dunia,’ mungkin kata itu yang terdengar. Ketika aku masih sibuk menangis di atas pangkuan seorang bidan atau seorang suster rumah sakit. Aku selalu berpikir kenapa Tuhan menciptakan tanggal?, kenapa Tuhan menciptakan bulan?, dan kenapa Tuhan menciptakan tahun?. Pola pikir inilah yang menjadikan aku sebagai manusia positivitis klasik, saat ku masih belia.

Dinamika kehidupan beserta pekembangannya membuat ku mulai mengerti pertanyaan-pertanyaan itu. Mungkin, karena ilmu pengetahuan sudah berubah menjadi alat yang desktiptif, seperti yang dikatakan Ernst Mach bahwa  ilmu pengetahuan harus bersifat empiris dan dijelaskan secara atomistis. Adanya tanggal, bulan, dan tahun. Semata-mata membuat manusia  mampu mengetahui peradaban dan dapat memanfaatkan waktu yang diberikan sebaik mungkin. Jika akhirnya seperti itu ilmu pengetahuan juga merangkap substansi yang sifatnya normatif.

Berbicara tanggal, bulan, dan tahun adalah hal yang indah, buat ku. Karena, 11 Januari merupakan awal ketika ku memulai kehidupan di dunia ini. Selalu ada cerita manis di 11 Januari, mulai cerita tentang kebahagiaan, tangisan, dan itu semua aku simpan dalam tumpukan lembaran historis kehidupan ku.

Malam itu sedikit aneh bagi ku. Lantaran, kedua teman mengajak ku untuk menikmati kehangatan dari secangkir kopi. Mungkin, itu bisa menjadi biasa saja. Jika tawaran itu tidak bertepatan dengan hari kelahiran ku.

Aku segera “mengiyakan” tawaran Aryo dan Dio. Dan, Sebuah tempat makan yang berada di kawasan Soekarno Hatta menjadi pilihan kami untuk bersua. Sebelumnya aku harus menuju kosan Aryo, karena aku tidak begitu mahfum letak tempat tersebut. Akhirnya kami berangkat bersama. Sekitar pukul sepuluh malam aku sudah tiba disana. Tak lupa aku juga mengajak teman baru ku. Pejantan itu bernama Yongki. Menurut ku, ia adalah sosok pejantan yang mempunyai selera musik yang sama seperti diri-ku. Blues aliran musik itu yang mempertemukan kita.

Di sana rupanya sudah ada kedua sosok pejantan dan betina yang menunggu. “Itu kayanya Dio deh sama pacarnya,” ucapku menerka dalam hati. Karena, lampu yang terletak di parkiran pada saat itu cukup remang dan membuat mata kesulitan merekam gambar. Ternyata benar dugaan ku. Mereka yang tengah duduk berdua di sana itu, ialah Dio dan Keke. Seorang pejantan lawas dan betina, yang baru saja memulai cerita cintanya. Dan, sekitar lima belas menit aku menunggu, Ghantar datang dan mengucapkan selamat ulang tahun pada ku. Ia seorang sahabat yang ku dapati di kota Malang ini.

Aku memesan secangkir kopi untuk memulai ocehan-ocehan malam itu. selama tiga puluh menit sudah kami saling berbincang-bincang. Mulai dari memaparkan aib, cerita cinta kelam, dan lelucon untuk sepasang manusia yang baru memulai cerita cintanya itu. Semua kita lakukan dengan tawa tanpa ada rasa kesal yang menggumpal menjadi dendam.

Seketika Aryo merubah posis duduknya yang awalnya berada di depan ku. Kini berubah menjadi di sebelah ku. Aku duduk membelakangi pintu masuk. Aku juga melihat pergerakan kedua mata Ghantar yang berubah porosnya. Pandangannya secara cepat menuju ke arah pintu utama. Tak hanya itu aku melihat gelagat yang aneh dari Aryo. Ia tertawa tiba-tiba. Aku merasa pasti ada yang aneh.

Perlahan aku memutar pandanganku 180 derajat. Penasaran kata itu yang tadinya hanya berupa kata sifat berubah dengan cepat menjadi kata kerja. Aku pun melihat ke arah belakang. Ya.. ke arah pintuk masuk. “Ahh.. tidak….,” aku berteriak dalam hati seraya kedua tanganku memegang kepala.

Mereka datang dan menyanyikan lagu yang selama ini dijadikan Mars bagi setiap manusia yang merayakan hari kelahiranya di muka bumi ini. “Selamat ulang tahu…,kita kan doakan,” dan seterusnya hingga lagu itu berakhir disertai tepuk tangan. Lagu itu menurut ku memunyai roh dan roh itu sekaligus menjadi kalimat singular yang berisi doa di dalamnya.

Merekalah para sahabatku, mereka juga para Jurnalis kampus, mereka juga para kritikus, dan mereka yang selalu kulihat dalam “Rumah Seni Itu” yang dinamakan DIANNS, datang begitu gempita. Aku bingung harus berkata apa. Seketika roh yang berada dalam ragaku itu ditarik sebentar dan dikembalikan lagi dan napasku terasa tersungkur-sungkur.

Aku bingung harus berbuat apa. Aku hanya bisa berharap. Semoga kata terimakasih menjadi kata yang sangat pantas untuk membalasnya pemberian itu. “Aduh terimakasih banyak, kenapa mesti repot-repot begini si?,” ungkapku  kepada mereka.

Selang beberapa menit. Sahabat yang sudah lama ku kenal sejak ku menempuh Sekolah Menengah Pertama (SMP) datang dan memberikan kejutan yang kedua. Ia bernama Cibel. Tidak hanya cibel melaikan ada juga kawanku yang lainnya Yumna, Robby, dan Ufi. Tubuh ku mendadak menjadi lemas kembali dan napas ku menjadi sedikit tersendat lagi. Aku hanya bisa mengucapkan lagi kata terimakasih dan memilih mengabadikannya dalam lukisan cahaya sebagai arsip hidup ku.

Agar lebih ideal aku harus berotasi dari meja satu ke meja lainnya. Aku harus membagi menit itu dengan adil, untuk sekedar berbincang dan menanyakan kabar dari sahabat-sahabatku. Dan, menujut detik pergantian hari kawan-kawan dari SMA ku yang juga berada di kota Malang, datang dan memberikan kejutan selanjutnya. “Ahhh..yihhh,” tubuh ku terlalu lemas untuk bertindak dan aku juga bingung harus berbuat  apa untuk membalas semua ini. lagi-lagi aku hanya bisa memberikan ucapan terimakasih dan pelukan hangat untuk mereka yang sudah meluangkan waktunya.

Serangan kejutan itu seolah  dibuat tersitematis melalui konspirasi alam dan bumi. Aku seolah mengalami serangan bertubi-tubi bak peluru yang menyerang langsung ke titik lumpuh lawan. tetapi, peluru itu tak membuatku kehilangan nyawa. Melaikan pisikologis ku yang membuat kognitif ku berantakan dan tak berdaya.

Aku merasa sangat senang dan bahagia pada hari itu. Aku berpikir menuliskan cerita bahagia ini tidak akan pernah usang, karena Januari masih menyisakan cerita. Meski tak ada keluarga kandung bahkan kerabat dekat yang hadir pada momen bahagia itu. Aku tetap merasa senang dan bangga. Karena, Bumi masih menginginkan ku menikmati hiruk pikuk kehidupan ini. Di tahun baru ini bersamaan dengan umur dan jiwa yang baru. Aku harus merestrukturasi kembali kehidupan ku. Semoga pilihan yang selalu ku ambil mejadikan ku manusia yang lebih dari sekedar kata bijaksana, menjadikan ku manusia yang peduli akan lingkungan sosial, menjadikan ku manusia yang tidak pernah lupa dimana kala tempat ku pernah berdiri.

Pilihan itu selalu membuat ku melihat kembali kebaikan atas tindakan yang terlahir untuk berperang dalam gelap. 


Categories:

0 komentar:

Posting Komentar