‘Selamat datang kau
di dunia,’ mungkin kata itu yang terdengar. Ketika aku masih sibuk menangis di
atas pangkuan seorang bidan atau seorang suster rumah sakit. Aku selalu
berpikir kenapa Tuhan menciptakan tanggal?, kenapa Tuhan menciptakan bulan?,
dan kenapa Tuhan menciptakan tahun?. Pola pikir inilah yang menjadikan aku
sebagai manusia positivitis klasik, saat ku masih belia.
Dinamika kehidupan
beserta pekembangannya membuat ku mulai mengerti pertanyaan-pertanyaan itu. Mungkin,
karena ilmu pengetahuan sudah berubah menjadi alat yang desktiptif, seperti
yang dikatakan Ernst Mach bahwa ilmu
pengetahuan harus bersifat empiris dan dijelaskan secara atomistis. Adanya
tanggal, bulan, dan tahun. Semata-mata membuat manusia mampu mengetahui peradaban dan dapat memanfaatkan
waktu yang diberikan sebaik mungkin. Jika akhirnya seperti itu ilmu pengetahuan
juga merangkap substansi yang sifatnya normatif.
Berbicara tanggal,
bulan, dan tahun adalah hal yang indah, buat ku. Karena, 11 Januari merupakan
awal ketika ku memulai kehidupan di dunia ini. Selalu ada cerita manis di 11
Januari, mulai cerita tentang kebahagiaan, tangisan, dan itu semua aku simpan
dalam tumpukan lembaran historis kehidupan ku.
Malam itu sedikit
aneh bagi ku. Lantaran, kedua teman mengajak ku untuk menikmati kehangatan dari
secangkir kopi. Mungkin, itu bisa menjadi biasa saja. Jika tawaran itu tidak
bertepatan dengan hari kelahiran ku.
Aku segera
“mengiyakan” tawaran Aryo dan Dio. Dan, Sebuah tempat makan yang berada di
kawasan Soekarno Hatta menjadi pilihan kami untuk bersua. Sebelumnya aku harus
menuju kosan Aryo, karena aku tidak begitu mahfum letak tempat tersebut. Akhirnya
kami berangkat bersama. Sekitar pukul sepuluh malam aku sudah tiba disana. Tak
lupa aku juga mengajak teman baru ku. Pejantan itu bernama Yongki. Menurut ku,
ia adalah sosok pejantan yang mempunyai selera musik yang sama seperti diri-ku.
Blues aliran musik itu yang
mempertemukan kita.
Di sana rupanya sudah
ada kedua sosok pejantan dan betina yang menunggu. “Itu kayanya Dio deh sama
pacarnya,” ucapku menerka dalam hati. Karena, lampu yang terletak di parkiran
pada saat itu cukup remang dan membuat mata kesulitan merekam gambar. Ternyata
benar dugaan ku. Mereka yang tengah duduk berdua di sana itu, ialah Dio dan
Keke. Seorang pejantan lawas dan betina, yang baru saja memulai cerita cintanya.
Dan, sekitar lima belas menit aku menunggu, Ghantar datang dan mengucapkan
selamat ulang tahun pada ku. Ia seorang sahabat yang ku dapati di kota Malang
ini.
Aku memesan secangkir
kopi untuk memulai ocehan-ocehan malam itu. selama tiga puluh menit sudah kami
saling berbincang-bincang. Mulai dari memaparkan aib, cerita cinta kelam, dan
lelucon untuk sepasang manusia yang baru memulai cerita cintanya itu. Semua
kita lakukan dengan tawa tanpa ada rasa kesal yang menggumpal menjadi dendam.
Seketika Aryo merubah
posis duduknya yang awalnya berada di depan ku. Kini berubah menjadi di sebelah
ku. Aku duduk membelakangi pintu masuk. Aku juga melihat pergerakan kedua mata Ghantar
yang berubah porosnya. Pandangannya secara cepat menuju ke arah pintu utama. Tak
hanya itu aku melihat gelagat yang aneh dari Aryo. Ia tertawa tiba-tiba. Aku
merasa pasti ada yang aneh.
Perlahan aku memutar
pandanganku 180 derajat. Penasaran kata itu yang tadinya hanya berupa kata
sifat berubah dengan cepat menjadi kata kerja. Aku pun melihat ke arah belakang.
Ya.. ke arah pintuk masuk. “Ahh.. tidak….,” aku berteriak dalam hati seraya
kedua tanganku memegang kepala.
Mereka datang dan
menyanyikan lagu yang selama ini dijadikan Mars bagi setiap manusia yang
merayakan hari kelahiranya di muka bumi ini. “Selamat ulang tahu…,kita kan
doakan,” dan seterusnya hingga lagu itu berakhir disertai tepuk tangan. Lagu
itu menurut ku memunyai roh dan roh itu sekaligus menjadi kalimat singular yang
berisi doa di dalamnya.
Merekalah para
sahabatku, mereka juga para Jurnalis kampus, mereka juga para kritikus, dan
mereka yang selalu kulihat dalam “Rumah Seni Itu” yang dinamakan DIANNS, datang
begitu gempita. Aku bingung harus berkata apa. Seketika roh yang berada dalam
ragaku itu ditarik sebentar dan dikembalikan lagi dan napasku terasa
tersungkur-sungkur.
Aku bingung harus
berbuat apa. Aku hanya bisa berharap. Semoga kata terimakasih menjadi kata yang
sangat pantas untuk membalasnya pemberian itu. “Aduh terimakasih banyak, kenapa
mesti repot-repot begini si?,” ungkapku kepada
mereka.
Selang beberapa menit.
Sahabat yang sudah lama ku kenal sejak ku menempuh Sekolah Menengah Pertama
(SMP) datang dan memberikan kejutan yang kedua. Ia bernama Cibel. Tidak hanya
cibel melaikan ada juga kawanku yang lainnya Yumna, Robby, dan Ufi. Tubuh ku
mendadak menjadi lemas kembali dan napas ku menjadi sedikit tersendat lagi. Aku
hanya bisa mengucapkan lagi kata terimakasih dan memilih mengabadikannya dalam
lukisan cahaya sebagai arsip hidup ku.
Agar lebih ideal aku
harus berotasi dari meja satu ke meja lainnya. Aku harus membagi menit itu
dengan adil, untuk sekedar berbincang dan menanyakan kabar dari sahabat-sahabatku.
Dan, menujut detik pergantian hari kawan-kawan dari SMA ku yang juga berada di
kota Malang, datang dan memberikan kejutan selanjutnya. “Ahhh..yihhh,” tubuh ku
terlalu lemas untuk bertindak dan aku juga bingung harus berbuat apa untuk membalas semua ini. lagi-lagi aku hanya
bisa memberikan ucapan terimakasih dan pelukan hangat untuk mereka yang sudah
meluangkan waktunya.
Serangan kejutan itu seolah dibuat tersitematis melalui konspirasi alam
dan bumi. Aku seolah mengalami serangan bertubi-tubi bak peluru yang menyerang
langsung ke titik lumpuh lawan. tetapi, peluru itu tak membuatku kehilangan
nyawa. Melaikan pisikologis ku yang membuat kognitif ku berantakan dan tak
berdaya.
Aku merasa sangat
senang dan bahagia pada hari itu. Aku berpikir menuliskan cerita bahagia ini
tidak akan pernah usang, karena Januari masih menyisakan cerita. Meski tak ada
keluarga kandung bahkan kerabat dekat yang hadir pada momen bahagia itu. Aku
tetap merasa senang dan bangga. Karena, Bumi masih menginginkan ku menikmati
hiruk pikuk kehidupan ini. Di tahun baru ini bersamaan dengan umur dan jiwa
yang baru. Aku harus merestrukturasi kembali kehidupan ku. Semoga pilihan yang
selalu ku ambil mejadikan ku manusia yang lebih dari sekedar kata bijaksana,
menjadikan ku manusia yang peduli akan lingkungan sosial, menjadikan ku manusia
yang tidak pernah lupa dimana kala tempat ku pernah berdiri.
Pilihan itu selalu
membuat ku melihat kembali kebaikan atas tindakan yang terlahir untuk berperang
dalam gelap.
0 komentar:
Posting Komentar