Dulu aku sempat bertanya
kepada “Sang Penjaga” kala belia senyum masih tersimpul. Pertanyaan itu tak
kunjung ia jawab. Aku sempat bertanya kepada “Sang Penjaga” hidupku itu. “bun
kenapa aku berkulit hitam?,” tanyaku. Tetapi, “Sang Penjaga” itu tak pernah menjawab
pertanyaanku itu.
Sampai ketika waktu terus
membawaku ke tanda tanya. Kini aku mencoba untuk memutar rekaman yang sempat
aku tanyakan kepada "Sang Penjaga" hidup. “Bun kenapa aku berkulit
hitam?,” ujarku. Aku menanyakan ini ketika aku sudah menjadi manusia yang
tumbuh dewasa dengan taring yang tertanam tajam dalam otak. Namun, aku sulit
untuk mengingat kapan aku mempertanyakan hal tersebut, mungkin sekitar satu
tahun silam. Dan, saat ini “Sang Penjaga” sudah menjawab pertanyaanku.
Aku mendengar suara yang
samar, suara itu perlahan berubah menjadi jelas, ya.. semakin jelas. Suara itu
adalah angin yang bergerak liar masuk dari bilik jendela mengelilingi ruang
diskusiku bersama "Sang Penjaga". Awan gelap pertanda hujan akan
bersua dengan tanah, deru angin makin terdengar begitu kental, mata Sang
Penjaga semakin menatapku tajam. Aku takut pertanyaan itu mengingatkan ia
dengan dosa di masa lalunya. Suara petir mengaung dengan keras, pertanda sebuah
rekaman yang sudah usang itu kembali diputar. Ia rela meluangkan waktunya untuk
duduk berdua bertatap muka denganku disebuah tempat ketika tamu tengah
berkunjung ke rumahku.
“Ya jadi gini…,” ucap Sang
Penjaga
Aku dibuat penasaran oleh
jawaban yang begitu singkat itu. Jantungku menjadi berdebar, padahal aku hanya
mengharapkan jawaban dari pertanyaan, “kenapa aku hitam?” dan dijawab secara
sederhana saja, lalu pertanyaan tentang “kenapa
aku berbeda dengan kaka dan adikku?”. Hanya itu saja dan kali ini seolah alam
mendukung keadaan saat itu. Cahaya hanya sedikit menghiasi ruang itu, pemandangan
langit juga gelap, dan petir masih berkicau dengan garang.
Jemarinya mulai bermain di
atas paha, tatapannya begitu menyudutkan diriku, mimik muka begitu membuatku
enggan mendengar jawaban itu. Ia berkata,
“Ya-ya.. kenapa kamu hitam?”
Sedikti jedah beberapa saat,
dan mulut itu menyerukan kembali
“Hemm, jadi begini ya…,”
Seolah ada sebuah perasaan
yang memberatkan hati "Sang Penjaga" untuk mengucap, seperti ada jiwa
yang tertahan dan menunggu roh untuk datang. Aku semakin dibawanya menuju tanda
tanya. Tangannya mulai mengambil sebuah cangkir di atas meja kayu itu,
mempersuakan bibirnya dengan lingkaran cangkir, dan mengulum, seperti berkumur
kemudian menelannya perlahan-lahan. Aku semakin dibuat penasaran dengan ulah “Sang
Penjaga”. Mulutnya mulai bergumam pelan, sesekali menghelakan napas agar
jantung tidak tergesa-gesa berpacu.
“Bun ayo mulai dan jawab
pertanyaanku,” seruku sambil mengerutkan kening
“Iya jadi gini, dulu waktu
kamu masih berada di kandungan, usiamu sekitar delapan bulan. Kejadian itu
waktu papahmu kakinya terbakar akibar kompor yang meledak. Bunda panik keluar
dan berteriak minta tolong ke saudara-saudara. Bunda sambil lari-lari bawa
kamu. Waktu itu kamu masih di perut bunda loh itu, terus semua keluarga pada
datang dan papahmu dibawa menuju ke rumah sakit,” ucap ibu sambil menundukan
kepalanya.
“Lalu apa pengaruhnya ke
kulitku bun?,” tanggapku menampilkan wajah heran.
Aku merasa tidak ada pengaruh
yang berarti dari cerita yang diutarakan oleh Sang Penjaga,. Aku semakin
dibuatnya menjadi linglung.
“Ya… jelas ada dong. Nah, saat papahmu terbakar itu
bunda meminta doa sambil mengusap-usap perut. Doanya bunda kaya gini nih…, ya
Allah semoga anak hamba tindak menjadi gosong, terbakar, dan berubah menjadi
gelap. Amin…,”
suara tawa pun pecah menggelegar dari mulut Sang Penjaga,
wajahnya merah merona, tangannya mencoba menutupi mulutnya yang semakin tak
terkendali oleh tawann.
“Dan akhirnya jadilah kamu
kaya gini deh,” ucapnya seraya terkekeh kembali dengan kencang
Aku hanya menatap wajah
"Sang Penjaga" dengan nanar. Hatiku juga ingin tertawa, namun pada
saat itu ia sedang mengejek diriku. Aku hanya bisa menggigit lidahku agar aku
tak tertawa juga.
Ya itulah sebuah cerita
tentang kenapa kulitku ini menjadi hitam. kata itu yang masih aku ingat
dari Sang Penjaga. Meski jawaban itu tak logis, namun aku menyukai jawaban yang
diberikan itu. Dan, jawaban itu yang menjadi kunci untuk menjawab semua
pertanyaan orang-orang di dunia ini. Aku hitam bernuasna gula.
Terimakasih untuk hujan yang menginspirasi.
Hemmm, hitam bernuansa gula ya can. Haha
BalasHapusowh sejarahnya begitu tho...hhe
BalasHapusdapet jawaban setelah selama ini di pertanyakan hehehe
BalasHapus