Minggu, 05 Januari 2014

Dulu aku sempat bertanya kepada “Sang Penjaga” kala belia senyum masih tersimpul. Pertanyaan itu tak kunjung ia jawab. Aku sempat bertanya kepada “Sang Penjaga” hidupku itu. “bun kenapa aku berkulit hitam?,” tanyaku. Tetapi, “Sang Penjaga” itu tak pernah menjawab pertanyaanku itu.

Sampai ketika waktu terus membawaku ke tanda tanya. Kini aku mencoba untuk memutar rekaman yang sempat aku tanyakan kepada "Sang Penjaga" hidup. “Bun kenapa aku berkulit hitam?,” ujarku. Aku menanyakan ini ketika aku sudah menjadi manusia yang tumbuh dewasa dengan taring yang tertanam tajam dalam otak. Namun, aku sulit untuk mengingat kapan aku mempertanyakan hal tersebut, mungkin sekitar satu tahun silam. Dan, saat ini “Sang Penjaga” sudah menjawab pertanyaanku.

Aku mendengar suara yang samar, suara itu perlahan berubah menjadi jelas, ya.. semakin jelas. Suara itu adalah angin yang bergerak liar masuk dari bilik jendela mengelilingi ruang diskusiku bersama "Sang Penjaga". Awan gelap pertanda hujan akan bersua dengan tanah, deru angin makin terdengar begitu kental, mata Sang Penjaga semakin menatapku tajam. Aku takut pertanyaan itu mengingatkan ia dengan dosa di masa lalunya. Suara petir mengaung dengan keras, pertanda sebuah rekaman yang sudah usang itu kembali diputar. Ia rela meluangkan waktunya untuk duduk berdua  bertatap muka denganku disebuah tempat ketika tamu tengah berkunjung ke rumahku.

“Ya jadi gini…,” ucap Sang Penjaga

Aku dibuat penasaran oleh jawaban yang begitu singkat itu. Jantungku menjadi berdebar, padahal aku hanya mengharapkan jawaban dari pertanyaan, “kenapa aku hitam?” dan dijawab secara sederhana saja, lalu pertanyaan tentang “kenapa aku berbeda dengan kaka dan adikku?”. Hanya itu saja dan kali ini seolah alam mendukung keadaan saat itu. Cahaya hanya sedikit menghiasi ruang itu, pemandangan langit juga gelap, dan petir masih berkicau dengan garang.

Jemarinya mulai bermain di atas paha, tatapannya begitu menyudutkan diriku, mimik muka begitu membuatku enggan mendengar jawaban itu. Ia berkata,

“Ya-ya.. kenapa kamu hitam?”

Sedikti jedah beberapa saat, dan mulut itu menyerukan kembali

“Hemm, jadi begini ya…,”

Seolah ada sebuah perasaan yang memberatkan hati "Sang Penjaga" untuk mengucap, seperti ada jiwa yang tertahan dan menunggu roh untuk datang. Aku semakin dibawanya menuju tanda tanya. Tangannya mulai mengambil sebuah cangkir di atas meja kayu itu, mempersuakan bibirnya dengan lingkaran cangkir, dan mengulum, seperti berkumur kemudian menelannya perlahan-lahan. Aku semakin dibuat penasaran dengan ulah “Sang Penjaga”. Mulutnya mulai bergumam pelan, sesekali menghelakan napas agar jantung tidak tergesa-gesa berpacu.

“Bun ayo mulai dan jawab pertanyaanku,” seruku sambil mengerutkan kening

“Iya jadi gini, dulu waktu kamu masih berada di kandungan, usiamu sekitar delapan bulan. Kejadian itu waktu papahmu kakinya terbakar akibar kompor yang meledak. Bunda panik keluar dan berteriak minta tolong ke saudara-saudara. Bunda sambil lari-lari bawa kamu. Waktu itu kamu masih di perut bunda loh itu, terus semua keluarga pada datang dan papahmu dibawa menuju ke rumah sakit,” ucap ibu sambil menundukan kepalanya.

“Lalu apa pengaruhnya ke kulitku bun?,” tanggapku menampilkan wajah heran.

Aku merasa tidak ada pengaruh yang berarti dari cerita yang diutarakan oleh Sang Penjaga,. Aku semakin dibuatnya menjadi linglung.

“Ya… jelas ada dong. Nah, saat papahmu terbakar itu bunda meminta doa sambil mengusap-usap perut. Doanya bunda kaya gini nih…, ya Allah semoga anak hamba tindak menjadi gosong, terbakar, dan berubah menjadi gelap. Amin…,”

suara tawa pun pecah menggelegar dari mulut Sang Penjaga, wajahnya merah merona, tangannya mencoba menutupi mulutnya yang semakin tak terkendali oleh tawann.

“Dan akhirnya jadilah kamu kaya gini deh,” ucapnya seraya terkekeh kembali dengan kencang

Aku hanya menatap wajah "Sang Penjaga" dengan nanar. Hatiku juga ingin tertawa, namun pada saat itu ia sedang mengejek diriku. Aku hanya bisa menggigit lidahku agar aku tak tertawa juga.

Ya itulah sebuah cerita  tentang kenapa kulitku ini menjadi hitam. kata itu yang masih aku ingat dari Sang Penjaga. Meski jawaban itu tak logis, namun aku menyukai jawaban yang diberikan itu. Dan, jawaban itu yang menjadi kunci untuk menjawab semua pertanyaan orang-orang di dunia ini. Aku hitam bernuasna gula. 

Terimakasih untuk hujan yang menginspirasi.


Categories:

3 komentar: