Sabtu, 04 Januari 2014

Tuhan itu melahirkan manusia pasti mempunyai tujuan, mengapa ia di hidupkan? dan mengapa ia dimatikan?, mungkin akan banyak timbul pernyataan dalam sebuah tanda tanya yang mengherankan. Saat ini memilih untuk hidup adalah tujuan utama. Aku tak pernah tau apakah masa depan bisa diubah?. Mungkin, jawabaan itu bisa disimpulkan sendiri. Mereka yang berpikir progresif dan optimis, yakin akan kekuatan invisible hand, bahwa semua itu membutuhkan proses dan usaha. Tetapi, aku bukanlah orang positivism. Aku adalah manusia yang historism, seperti yang diucapkan Stephen K Sanderson, hidup dalam kondisi sosial dan alam.

Bangunan tua itu selalu mengingatkan tentang dimana aku menjadi manusia yang berpikir, bangunan tua itu sudah berganti menjadi tampak modern, bangunan tua itu adalah tempat para kritikus seni yang bermulut tajam bak belati, bangunan tua itu adalah tempat dimana aku bisa terus berproses, ditempat dan dihajar terus-menerus. Aku mencintai buku, mencintai karya tulis, mencintai dialektika, dan mencintai dunia akademisi. Tetapi, harus ada yang dipilih mendirikan bangunan baru untuk maju pada tahap yang lebih jauh dan menyelam lebih dalam. Mungkin, akan timbul pertanyaan "Memang sudah cukupkah?", lantas saja aku menjawab "belum,". "Memang sudah merasa hebat?," saya juga akan menjawab belum. Ini adalah masa dilematis, masa dimana semua impian bisa terkubur seketika, masa dimana kebebasan berkarya mulai dibekukan, masa dimana angin malam semakin membuat kaku sendi-sendi tulang. konitif ku terus memandang tentang bangunan lama itu.

Aku mengingat sebuah kata yang diucapkan Elisabeth Kuber Rose, ia adalah seorang pisikiater asal Swiss. Kematian orang terdekat adalah sebuah hukuman bagi mereka yang mepunyai rasa kepemilikan sangat besar atas yang mereka kasihi. Ini bukan kematian, tetapi tentang sebuah keadaan yang "nanti" akan hilang. Semua itu harus menjadi berharga dan mempunyai tujuan yang jelas. Dan, meninggalkan atau ditinggalkan adalah potret kehidupan, selagi manusia masih ingin berproses

Sekarang aku memilih untuk bergerak sebelum semua menjadi kerak, sekarang aku memilih untuk bergerak sebelum semua hanya menjadi keringat yang membengkak. Ingatlah bahwa ada “dia” yang selalu membayangi kehidupan. Aku tahu maafku hanya tertahan ditanah belum meresap bak air yang terhisap oleh akar pohon. Sekarang aku sedang berjalan di suatu koridor yang gelap dengan cahaya remang yang berlikat, dan kemudia mulai menepi.


Terimakasih untuk manusia yang pertama kali bersua dengan jiwaku. Ia tengah menjadi oasisku melewati tahun yang tandus. Kini, aku harus berjalan lebih cepat seraya merangkul tawa. Dan, berkata aku telah datang kembali wahai dunia. Semoga "air" yang semakin deras ini membawaku tetap berada di atas sampan, terus berlayar ke tempat entah berantah.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar