Tuhan itu melahirkan
manusia pasti mempunyai tujuan, mengapa ia di hidupkan? dan mengapa ia
dimatikan?, mungkin akan banyak timbul pernyataan dalam sebuah tanda tanya yang
mengherankan. Saat ini memilih untuk hidup adalah tujuan utama. Aku tak pernah
tau apakah masa depan bisa diubah?. Mungkin, jawabaan itu bisa disimpulkan
sendiri. Mereka yang berpikir progresif dan optimis, yakin akan kekuatan invisible hand, bahwa semua itu
membutuhkan proses dan usaha. Tetapi, aku bukanlah orang positivism. Aku adalah
manusia yang historism, seperti yang diucapkan Stephen K Sanderson, hidup dalam
kondisi sosial dan alam.
Bangunan tua itu selalu
mengingatkan tentang dimana aku menjadi manusia yang berpikir, bangunan tua itu
sudah berganti menjadi tampak modern, bangunan tua itu adalah tempat para
kritikus seni yang bermulut tajam bak belati, bangunan tua itu adalah
tempat dimana aku bisa terus berproses, ditempat dan dihajar terus-menerus. Aku mencintai buku, mencintai karya
tulis, mencintai dialektika, dan mencintai dunia akademisi. Tetapi, harus ada
yang dipilih mendirikan bangunan baru untuk maju pada tahap yang lebih jauh dan
menyelam lebih dalam. Mungkin, akan timbul
pertanyaan "Memang sudah cukupkah?", lantas saja aku menjawab "belum,". "Memang sudah
merasa hebat?," saya juga akan menjawab belum. Ini adalah masa dilematis, masa dimana semua
impian bisa terkubur seketika, masa dimana kebebasan berkarya mulai dibekukan, masa
dimana angin malam semakin membuat kaku sendi-sendi tulang. konitif ku terus memandang tentang bangunan lama itu.
Aku mengingat sebuah
kata yang diucapkan Elisabeth Kuber Rose, ia adalah seorang pisikiater asal
Swiss. Kematian orang terdekat adalah sebuah hukuman bagi mereka yang mepunyai rasa
kepemilikan sangat besar atas yang mereka kasihi. Ini bukan kematian, tetapi
tentang sebuah keadaan yang "nanti" akan hilang. Semua itu harus menjadi berharga dan mempunyai tujuan yang jelas. Dan, meninggalkan atau ditinggalkan adalah potret kehidupan, selagi manusia masih ingin berproses
Sekarang aku memilih
untuk bergerak sebelum semua menjadi kerak, sekarang aku memilih untuk bergerak
sebelum semua hanya menjadi keringat yang membengkak. Ingatlah bahwa ada “dia” yang selalu membayangi kehidupan. Aku tahu maafku hanya
tertahan ditanah belum meresap bak air yang terhisap oleh akar pohon. Sekarang aku sedang berjalan di suatu koridor yang gelap dengan cahaya remang yang
berlikat, dan kemudia mulai menepi.
Terimakasih untuk
manusia yang pertama kali bersua dengan jiwaku. Ia tengah menjadi oasisku
melewati tahun yang tandus. Kini, aku harus berjalan lebih cepat seraya
merangkul tawa. Dan, berkata aku telah datang kembali wahai dunia. Semoga "air" yang semakin deras ini membawaku tetap berada di atas sampan, terus berlayar ke tempat entah berantah.
0 komentar:
Posting Komentar