Kosmos begitu sebutan
lelaki bertubuh ringan, matanya yang sayu, alis yang sedikit pecah pada bagian
kirinya, bicaranya begitu cepat, namun setiap katanya cukup padat. Aku
bertemunya pada malam itu, malam yang hanya beraroma air kental hitam.
Dan, aku adalah senyawa yang membuat lelaki itu bepikir untuk kedua kalinya, cukup banyak aku mendominasi kehidupannya. Banyak hal yang kita lakukan bersama, namun malam itu aku bertemunya dengan kognitif yang lebih sempurna. Hal ini begitu jarang aku lakukan. Aku pria dengan perawakan yang ideal, aku menyukai kaca, khususnya kaca mata, tampaknya benda mati itu begitu hidup buatku. Aku dapat melihat begitu jelas peristiwa kehidupan, begitu jelas bahkan sangat jelas. Aku punya warna-warna pelangi, mulai warna merah, hijau, jingga, kuning, kelabu, dan warna itu begitu kontras dalam hidupku. Aku mencoba membuat pemuda itu menemukan warnanya yang dulu, menurutku kini ia hidup dalam kebimbangan. Banyak perubahan yangku amati, hingga aku menjadi iba dengan dirinya, namun ia bukan manusia yang meminta welas asih dari para tangan-tangan yang dermawan. Aku tau ia tampak begitu lingung, bimbang, dan terjabak dalam angka nol, mungkin rumus Aljabar dalam matematika tak mampu merampungkan keadaannya.
Hingga pada akhirnya
kosmos bercerita tentang keadaan alam, dimana Zeus tak pernah berhentikan “hujan”
yang kian menderu-deru, bak ombak di lautan antartika, bak badai salju yang
menerpa suriyah. Ini bukan cerita kaum utopis atau cerita yunani kuno, hanya
metafora dalam kehidupan yangku bingkai menjadi klise. Entah sampai kapan
pemuda itu bisa tumbuh kembali, seperti batang pohon yang di cangkok atau ditebang
ia tetap bertahan, walaupun membutuhkan
ratusan tahun untuk melihat perkembangannya.
Dan, tentang benang
yang semakin kusut, terserak dalam hamparan kehidupan, sudah tak ada tali
temali yang bersimetris. Aku hanya melihat pikiran yang begitu simplisit dalam dirinya. Aku tak tau siapa yang akan kalah nantinya dalam
pertempuran sekuler ini. Yakin atau tidak, entah mati atau diberangus oleh bumi
dan suara samar melambai dengan senang menunggu manusia terjerumus dalam gelombang hitam.
Tetapi, aku yakin bahwa dunia tak begitu jahanam bagi mereka yang masih peduli dengan manusia. Meski, hancur
berantakan saat ini, aku yakin pemuda itu seperti tanah. Harum ketika hujan dan tenang meski gersang begitu pahit. Pemuda itu harus belajar pada tanah
meski diinjak-injak ia harus tetap bangkit.
Alam tak pernah menyuruh untuk tenggelam dalam dilema dan mati dengan rasa bersalah. Tetapi, jika kau berpikir nyawa adalah murah, maka harga yang ideal adalah, meninggalkan atau ditinggalkan, memilih atau hilang semua, hancur atau dihancurkan, suci atau dihinakan. Tetapi, janganlah begitu sempit ketika berartikulasi, dengan mudah membuat antitesis yang suram, semakin mejadi linglung. Mungkin ketika realita berjalan dengan pasif, ingatlah kata Jean Piaget (1896-1980), bahwa anak-anak kecil itu adalah seorang ilmuan kecil. Nikmatilah cara mereka menjadi manusia yang bebas, maka rasa senang itu ada disekelilingmu.
Hanya suara untuk pemuda yang bimbang, sampaikan pesan untuk tanah yang sudah tertidur lama, kepada tulang yang tercecer, dan kepada dunia yang tak terbatas, kepada batu yang terukir dengan kata, dan sekali lagi untuk kosmos, alam tidak pernah murka.
bagus can :)
BalasHapus"Tetapi, janganlah begitu sempit ketika berartikulasi, dengan mudah membuat antitesis yang suram, semakin mejadi linglung." Ini oke banget deh
BalasHapus