Puncak Sejati
Rappelling Menuju Puncak Sejati
|
Aku menunggu semua kawan untuk berkumpul, sebab untuk mencapai puncak sejati kita harus melakukan rappelling terjun menggunakan tali ke arah bebatuan yang berada dipermukaan dengan ketinggian kurang lebih lima belas meter. Aku mencoba merapihkan tali karmantel yang kusut, lalu salah seorang kawan melemparkan tali ke arah bawah. Satu persatu mulai menuruni tebing dengan perlahan-lahan, carrabinner mulai tersangkut dengan karmantel memberikan sugesti percaya diri yang lebih kuat.
Salah seorang kawan mengajakku berbincang, tentang keyakinan meneruskan perjalanan
“kamu yakin can mau lanjut?, kita gak ada yang bawa senter loh, dan hanya beberapa yang mengunakan jaket, kalo kita terus disini kita bisa kejebak malam nanti”, ujar Panji dengan mimik yang ragu.
Tangan kananku mengangkat sejajar dengan dada, mata melihat ke arah jam tangan waktu menunjukan pukul 17:15. Aku terdiam sejenak memutar otak sambil menarik napas panjang agar pikiran tetap tenang, karena memang kesalahan yang kita lakukan begitu fatal. Aku berkata kepada panji
“mau kita turun sekarang kita juga bakal ketemu malam, kita hajar puncak sejati, istirahat disana beberapa menit, terus kita turun. Jadi main cepat aja ji,” ujarku dengan nada yang bersemangat, seraya tangan kananku merangkul bahunya dan terkekeh ke arahnya.
“kita pasti bisa sampai kesana tanggung udah sampe disini”, ujarku kepadanya.
Setelah menuruni tebing, aku harus berhadapan kembali dengan jurang, dan mendaki bebatuan tak hanya kaki yang bergerak, tangan pun menjadi kunci keamanan terutama, sedikit lengah kita bisa binasa dimakan oleh jurang yang terlihat begitu lapar.
“Ketika kita sudah merasa kalah, ketika itu juga perjalan terhenti. Terkadang memang idealis diperlukan, dalam keadaan yang mampu menumbuhkan semangat juang, ketika rasa itu mulai bangkit , dan ketika itu kita telah berhasil menaklukan diri kita sendiri”.
Setelah 100 meter berjalan dengan kaki yang bergemetar, napas yang tersendat-sendat, jantung yang berdetak menjadi alunan nada yang setia, mata yang memerah akibat debu yang menerpa bertalu-talu, tangan yang gemetar akibat luka yang diderita, mental yang mulai mengempis menjadi lunak, fisik yang mulai enggan bergerak lebih cepat.
Seketika hancur semua derita itu, kaki yang bergemetar tak mampu berkuasa menahan tubuh yang gagah, lutut menghantam ke arah pasir-pasir dan kerikil, kepala tersungkur ke arah bawah, tubuh bergemetar, tangan merauk pasir dan menggenggamnya sekencang-kencangnya, napas bergemetar, di depan ku terlihat awan yang membentang luas bergerak secara bersama bak ombak laut yang menderu-deru. Terlihat papan bertuliskan dengan nama Puncak Sejati 3344 MDPL. Tak percaya penantian akan titik akhir telah tiba, titik yang memberikan sejuta kerinduhan dan rasa hormat kapada, Zat Maha kuasa, tenaga, dan keindahan alam Indonesia.
Panji (pojok kiri), Ari (menangis haru)
|
Ferdi
|
Suasana pecah menjadi haru, tangis mulai merambah satu-persatu manusia yang datang. Di belakangku ada yang tersujut medecak kagum akan kebanggan dirinya, akan semua penantian panjang yang rampung sudah, di depanku Ari menangis dengan sesak di dada, sebuah tangisan kebanggan akan pemberian alam yang telah dijaga oleh para leluhur, di sebelah kiriku seorang kawan berteriak lantang agar alam mendengar tentang dilema perjalanan yang panjang, di sebelah kananku seorang laki-laki tengah menulis sebuah nama untuk seorang betina yang dirindunya, dan itu semua kita abadikan di dalam bingkai jelajah kehidupan dalam sebuah seni yang digoreskan dengan tinta cahaya.
Puncak Sejati dari sana aku merekam saksi hidupku , untuk cerita dimasa depan kekita kaki mulai tak sanggup menopang raga dan jiwa, ketika napas mulai sesak terasa di dada, ketika memori mulai terlupakan perlahan, ketika cucu dan anak-anakku berkumpul dalam sebuah kesatuan keluarga. Dan, aku duduk di atas sebuah kursi goyang yang menceritakan rekaman perjalan hidupku, kemudian mati dalam bagian sejarah yang dirindukan.
Sunset Puncak Sejati
|
Waktu menunjukan sekitar pukul 17:16, matahari mulai terbenam, aku menyaksian sunset yang berona-rona beraneka warna. Dari puncak aku memandangi hilangnya matahari. Suatu keindahan yang tak terbayangkan, jarang manusia mendapatkan fenomena seperti ini ketika berada di Gunung Raung, aku mengucapkan syukur kepada Zat Maha Guna, memberikan keindahan yang terus-menerus untuk disimpan dalam kenangan.
Malam mulai merambah aku dan kawan-kawan membuat perjalanan menjadi lebih cepat, karena kita sama sekali tidak membawa alat penerangan, suatu keadaan yang membodohkan berakibat fatal. Menuruni puncak sejati, lalu puncak tusuk gigi dengan kecepatan ekstra. Namun, aku tak bisa menahan malam, menghindari apalagi meminta pagi untuk cepat datang.
Malam membuat perjalanan menjadi lebih pelan, lantaran hanya sinar bulan dan berteman belantik yang terang. Aku bersyukur dengan bantuan cahaya bulan sehingga kita tetap dapat meneruskan perjalanan yang tak berujung itu. Aku tiba di puncak tujuh belas sekitar 20:00 malam. Angin menerjang tak henti dengan suara yang berbunyi membuat malam menjadi semakin mencekam, kiri dan kanan jurang yang menambah efek kehancuran, pasir alus dan mebantuan yang rapuh menjadi pelengkap sebagai tempat terdekat untuk kematian.
Terdengar suara gemetar, tubuh yang menggigil, kaki mulai ditekukan mendekati dada, bibir pucat, dan mata yang membelalak. Terdengar dua suara kawan memanggil-manggil berharap dapat terciptanya kehangatan lewat teman-teman yang berkumpul melingkar. Mereka menggil kedinginan, hidungnya mulai mengeluarkan air yang terus menerus mengucrur, bbicaranya mulai melantur, mereka hanya ingin tertidur. Aku tak tega kepadanya rasa iba ini tumbuh seketika. Aku membirkan jaket yangku kenakan saat itu kepada Ferdi. Ia terlihat begitu menggigil, tak kuat untuk berjalan lagi, hanya rasa takut dan bayang-bayang kematian yang terus-menerus merasuk dalam benaknya.
“aku kedinginan, aku gak kuat buat jalan lagi”, ucap Ferdi dengan nada yang gemetar, sambil kepala yang ditundukan ke arah tangan yang melingkar.
“bisa kita bisa jalan, jangan tidur pokonya, kita harus terus gerak, kita harus sama-sama semua sampe kebawah, ini pake jaketku”, ujarku dengan nada yang sedikit menekan.
Aku mebuka jaket yangku kenakan perlahan-lahan, kemudian memberikan ke atas tubuhnya yang terbukuk di bawah bebatuan tebing.
“aku salah gak bawa jaket cuma celana pendek juga ini, salah banget aku, hu,huh,huh,huh..”, ujar Ari yang mengalami hal yang serupa.
Mereka mengalami gejala hipotermia. Aku menjadi leader perjalanan membawa mereka perlahan-lahan menelusuri perjalanan untuk kembali menuju camp. Puncak Tujuh Belas ada dua pilihan, aku berkata kapada salah seorang teman,
mending kita melipir jurang, ketimbang harus rappeliing, kasian cleanernya nanti gak bisa turun, kita gak ada cahaya”, ujarku dengan nada yang bergemetar.
“udah turun dulu aja can, masalah siapa yang cleaning nanti gampang, mending kamu buka jalan dulu buat anak-anak”, tegas Ajun lelaki yang berasal dari Surabaya.
Aku langsung mengaikatkan carrabiner ke arah karmantel, mempercepat tempo turun menuju ke bawah. Tidak tolong Tuhan jangan kali ini. Tali mengusut aku mengambang di atas jurang dengan hanya satu tumpuan yangku buat untuk dua kaki. Seorang Belay merapihkan tali yang kusut, sekitar lima belas menit aku mengambang-ngambang di atas. Belay berteriak.
“can sabar tali kusut, sebentar tunggu-tunggu!, sabar..”, ujar Panji dengan teriak kea rah bawah.
Aku hanya terddiam dan menunggu, angin menghantam terus menerus, aku berpegangan pada tali, terombang-ambing kekiri dan kekanan. Di bawa sudah ada jurang dan bebatuan yang mamapu menusuk punggungku, memeberikan rasa sakit yang hilang dengan cepat. Serat tali mulai melonggar, sedikit goresan akan binasa sudah diri ini.
Kini tali sudah tersusun dengan baik. Aku mencoba untuk turun dengan menendang tebing sebagai tumpuan untuk mengayun, terkadang aku berteriak agar tali ditahan, karena mencari jalan, dan bebatuan yang rapuh cukup sulit, ditambah dengan penerangan yang minim. Jantung terus menerus berdetak cepat, adrenalin dipaksa untuk dipacu dengan cepat, selang beberapa jarak aku memutuskan untuk melompat, lantaran tali sudah tersangkut dengan bebatuan, kemudian aku turun dan berteriak “of belay”, memerintahkan bahwa aku sudah selesai dan tidak memerlukan pengaman lagi. Tali yang terbentang lurus langsung ditarik ke atas untuk segera bergantian dengan yang lainnya. Aku meberikan instruksi dari bawah, sampai akhirnya lima orang berkumpul.
Aku mencari tempat untuk duduk, di bawah batu besar yang menganga. Sisa dua orang di atas, perlahan Ajun mulai turun kemudian disusul dengan Ferdi yang sebagai seorang cleaner.
Di bawah batu kita berlima berkumpul, malam semakin membuat hitam, pandangan mulai kabur, fobia ketinggian mulai menjadi permasalahan, lutut mulai enggan berdiri tegak, dingin membuat semua sel-sel menjadi beku, kita berjalan merayap perlahan-lahan, angin begitu kencang, takut akan hantaman yang datang tiba-tiba. Satu sama lain saling berdekatan. Terdengar isak tangis seorang kawan. Ia takut mati ditempat ini, begitu dingin tubuhnya, air terus-menerus menetes dari hidungnya, tubuh mulai menjadi kaku, hanya tangisan dalam suara yang kasat aku mendengar. Aku memukulnya dan membisikannya kata-kata yang mampu memberikan semangat untuk melawan mental yang mulai rapuh.
“woi ri, sadar, sebentar lagi kita sampe, jangan kalah sama mental ayok bangun, jangan nangis”, Tegasku dengan nada yang berteriak.
Disusul dengan suara yang memeberikan semangat dari mulut kawan-kawan. Aku mencoba mendekatkan jarak ke arahnya, mengusapkan leher Ari dengan minyak hangat, memberikan terus-menerus semangat untuk bertahan hidup, kita semua saling menjaga. Salah seorang kawan merapihkan tali karmantel yang berserakan, aku memutuskan untuk tetap memberikan ruang hangat kepada kawanku itu.
“Ahh, sial tali menyangkut di sebuah batu”, teriak seorang kawan yang hendak turun dari atas. Allhuakbar, lengkap sudah penderitan kita malam ini. Ferdi yang melayang di atas sana tak sanggup menyusun tali yang tersangkut di bebatuan. Ia sudah menggil kedinginan. Pasrah begitu ekspresi yang diberikan dari atas sana. Ari mulai merasa kaku, palanya mulai terasa pusing, ia hanya bisa menangis terus-menerus. Bayang-bayang kematian begitu dekat, “mati kita mati”, seorang teman berkata seperti itu. Aku belum ingin mati, aku masih ingin terus hidup, aku tak ingin tersugesti yang dapat menghancurkan konsentrasi.
Semua mulai merasakan dinginnya angin yang bertiup dari lembah, dingin yang mangoyak-ngoyak tubuh, tangan terus digesekan dan meniup kearah rongga-rongga, tubuh semakin merasa sesak, oksigen terasa begitu tipis, hidung terus basah akibat air yang keluar terus-menerus. Kita semua sama, sama merasakan hal yang serupa, sama memikirkan jarak kematian yang begitu dekat. Aku memutuskan untuk saling memeluk, satu sama lain memeluk kawan sampingnya agar hangat dapat tercipta, walapu tak mampu meberikan hangat sesungguhnya, namu sekecil cara itu meberikan rasa nyaman. Ferdi sudah tak bersuara lagi di atas sana. Aku terdiam, semoga pagi membangunkan kita dalam keadaan sama, tak ada yang hilang atau meninggalkan yang lainnya.
Terdengar gumaman dalam setiap mulut kawan-kawan yang tak kenal lelah untuk terus-menerus berdoa, ada juga yang berikrar kepada Sang Maha Kuasa untuk memperbaiki perilaku hidupnya, ada juga yang diam menangis menahan dingin yang tak kuasa, ada yang melopat-lompat untuk mendapatkan rasa hangat. Aku memejamkan mata dan mulai berdoa, karena malam semakin pekat, tak mau mengambil resiko besar, biar kita merasakan hal yang serupa bersama, menggigil dan kalau seandainya hari itu tiba, aku lebih memilih kita bersama menghilang.
Dari kejauhan tiga pasang lampu menyoroti kearah kami, begitu kecil namun perlahan bergerak mendekat. Mereka memberikan sinyal penyelamatan menggunakan pluit sebanyak tiga kali yang dibunyikan, “prittt,prit.prittt….”, begitu bunyinya. Aku bergegas mengambil kamera, menanggapi sinyal penyelamatan itu dengan menggunakan flash dari sebuah kamera, lalu aku nyalakan sebanyak tiga hingga empat kali. Begitu cepat pergerakan lampu itu hanya beberapa menit sudah tiba di depanku. Aku tak mengharapkan seorang regu penyelamat atau tim SAR yang datang, begitu bodoh aku terlihat nanti, begitu hancurnya kita di mata mereka.
Akan tetapi, aku bersyukur ternyata bukanlah tim SAR atau regu penolong yang membentak-bentak, atau berteriak bodoh ke arah kami, melaikan seorang lelaki berkulit hitam yang berteriak dari arah sepuluh meter,
“hallo broh.. aduh, kali kenapa disini”, ucapnya.
Aku merasa mengenal suara tersebut, perawakannya aku merasa begitu akrab, seperti kawan yang pernah bertemu. Oh tidak, lelaki itu adalah Arif, aku sangat berterimakasih kepadanya, ia segera melipir melewati jurang dan memutuskan tali yang tersangkut di batu, lalu turun dan memberikan pengawalan menuju bawah. Begitu baiknya pemuda itu, walau baru bertemu hari itu, ia seperti seorang kawan lama yang mempunyai selera humanis tingkat tinggi. Ia tertawa melihat kita yang menggigil kedinginan. Aku mengucapkan sangat terimakasih kepadanya.
“sumpah aku udah banya berutang budi sama kamu rif, aku pasti balas budimu lain waktu ya, pastiku balas”, ujarku.
“sudah gak usah begitu, aku memang khawatir sama kalian, aku kasih waktu sampe jam sepuluh buat kalian turun, biar kalian keren, ternyata gak turun-turun juga, jadi ya aku samperin kalian ke atas”, katanya seraya terkekeh.
“wahduh, terimakasih banyak rip”, ucapku sambil menjabat tangannya.
Kedua temanku yang sudah terlunglai kemudian di buffer, dengan cara mengkaitkan tali webbing, lalu dikaitakan dengan carrabiner, lalu dituntun hingga menuju camp Sembilan. Selang berjalan sekitar 45 menit, akhirnya tiba di camp Sembilan, tempat dimana Arif mendirikan tenda.
Ari yang baru saja tiba langsung dimasukan ke dalam tenda, lalu di tumpukan sleeping bag untuk memberikan kehangatan di atasnya. Arif mengambil kayu kering yang kemudian dibakar untuk menciptakan api unggun. Kita semua berputar dan mengeliling. Salah seorang pendaki memberikan minuman hangat untuk diminum secara bersama, lalu beberapa makanan ringan untuk menghangatkan perut yang kosong.
Selepas beristirahat sejenak dan jantung yang berdekat mulai setabil kembali, aku memutuskan untuk segera turun menuju camp delapan, lantaran tidak ada sumber penerangan aku meminjam satu headleamp untuk penerangan jalan, aku mengajak tiga orang teman yang mau ikut turun ke bawah. Menjadi leader perjalan, kemudian memeberikan penerangan terus-menerus secara bergantian, aku terlebih dahulu menelusuri jalan kemudian membalikan badan memberikan penerangan kearah belakang, begitu terus-menerus aku lakukan hingga tiba di camp delapan.
Sekitar setengah jam berjalan, aku tiba di camp delapan mendirikan satu tenda bersama Panji. Setelah semua selesai aku merebahkan badan dan membungkusnya dengan sleeping bag, sepertinya tubuhku begitu lelah tak mampu berlama-lama berdiri, kini aku memutuskan untuk mempercepat tidurku, karena dingin begitu mengilukan tubuh.
Pagi kala surya terang menyapa, suara satwa yang menggetarkan telinga, Arif yang mengucapkan salam perpisahan untuk turun, membuatku terbangun. Syukur aku masih bisa melihat pepohonan yang hijau, masih mecium bau hutan dan pohon pinus yang setia, mencium bau tanah yang berada di kaki gunung, merasakan segarnya air sisa embun yang menempel di ruas-ruang rerumputan, sangat senang masih bisa melihat awan yang senantiasa terus bergerak begitu pelan, memandangi dedauan yang gugur tertiup angin, sebuah pengalaman yang tak terlupakan.
Membuka mata melihat para kawan-kawan yang masih bisa tertawa, tersenyum sambil menatap yang lainnya, bercanda satu sama lainya. Seolah emori kejadian malam itu hilan dan enyah begitu saja. Aku tersenyum kepada pagi, dengan kepala yang memandang tegak ke atas langit, dan berkata terimakasih sang Penjaga Waktu.
Kita hidup dalam kematian
Ketika hidup terasa membingungkan , maka
Jangan sampai mati membusuk kaku
Ketika busuk mulai meracun dalam benak
Berjalan-lah terus sampai bertemu titik
Ketika tubuh mulai terlunglai, dan rapuh begitu dekat
Lawan!, menolak jiwa yang rapuh
Ketika mulut dibungkam oleh realita
Berjalan-lah dengan imaji-mu
Selalu ada cara menembus dimensi, dimensi yang berada di atas normal manusia
Dengan kehendak sang Maha kuasa
Ketika kau ingin mati
Jangan pernah mati dalam tanah
Dan, ketika kau ingin mati
Mati-lah dengan sejarah beserta pusaka-nya
Jadilah manusia untuk manusia yang mencintai para makhluknya






0 komentar:
Posting Komentar