Senin, 21 Oktober 2013



Sudah lama kita tak bersua dalam hiruk pikuk terminal kota Malang, bak kawan sejawat yang mengidamkan perjalanan nun jauh disana. Sore kala fajar terik di atas kepala, keringat mulai berkucuran perlahan menetes di lengan, menahan dahaga yang kering, menunggu keberangkatan menuju Kalibaru, Bayuwangi.                

Perjalananku kali ini bercumbu dengan hidup dan mati, Gunung terekstrem di Indonesia menurutku. Jurang, fobia ketakutan akan kematian, mulut yang tak kenal lelah bersenandung doa, kaki yang bergematar melewati jalan yang setapak, kabut yang tebal, dan mata air yang tak pernah mempersuakan kita sepajang perjalanan.

Aku dan kawanku beranjak meninggalkan kota Malang pada Jumat minggu lalu, lalu bertemu dengan para pendaki lainnya yang berjumlah tujuh orang. Kita tergabung dalam kesempatan yang sama, kesempatan  yang abu-abu menerka perjalanan yang berbalut kesedihan, tawa, dan bayang-bayang kematian.

Berbeda kota bukan berarti berbeda juga sudut pandang menilai sesuatu, kita semua meninggalkan egoisme dan idealisme yang ada di dalam diri. Tetapi, kita hidup bersama dalam kehidupan demokrasi yang sekuler, maka dari itu aku mencari kebebasanku, mungkin begitu juga dengan mereka.

Perjalanan menuju Kalibaru, Banyuwangi aku tempuh dengan menggunakan bis kelas ekonomi. Sekitar pukul 13:30 WIB, bis mulai melaju menuju kota Jember, lalu dilanjutkan menuju Kalibaru, harga menuju Kalibaru relatif terjangkau hanya merogoh kocek 30.000 rupiah. Bis tiba di kalibaru sekitar pukul 23:00 malam harinya.

Sedikit dendam menyeliputi nurani, lantaran waktu yang ditempuh tak sedemikian jauhnya, ini akibat operan bis yang tidak jelas, dan ulah sang supir bis yang selalu berhenti tak kenal tempat, memburu para penumpang yang tak jelas rupanya.

Kalibaru

Sesampainya di kalibaru aku dan kawanku memutuskan untuk mencari seonggok nasi yang dapat memberikan udara segar di perut yang tandus. Lantaran, memang dari awal keberangkatan perut belum terisi makan. Terlihat cahaya remang di sebrang jalan, Seorang ibu yang berperawakan kurus dan sedikit kerutan di pipinya. Ibu itu tengah menghelakan napas yang panjang, sambil duduk di sebuah kursi kayu yang menyelonjorkan kakinya kearahku. Aku melihat seperti tempat makan, namun sedikit sepi. Tempat itu beratap terpal biru, dengan alas tikar di atasnya ada beberapa meja dan sebuah ceret yang berisi air. Aku mencoba menghampiri warung itu, mungkin masih ada makanan yang tersisa.

“Ibu permisi, makanannya masih ada?”, ucapku seraya meringkukan kepala.

“oalah le, udah tinggal nasi ambe tempe dan telur”, ujarnya.

“yawes bu ora opo-opo bu, yang penting iso mangan bu”, ucapku sambil terkekeh.

Aku menunggu untuk beberapa menit yang panjang, biasanya mereka yang menunggu mencari kesibukan lainnya, agar tak terpaku pada kekosongan yang ada. Aku mecoba mencari logistik tambahan di warung seberang jalan, seperti tisu basah, air mineral, dan makanan ringan untuk keperluan pendakian. Setelah menunggu beberapa menit makanan sudah siap tersaji. Aku dan kawanku melahap makanan yang sudah terhidang itu dengan hanya hitungan beberapa menit saja.

Setelah makan, aku dan kawanku melanjutkan perjalanan ke tempat peristirahatan awal dengan menggunakan ojek menuju kediaman Bapak Soeto di dusun Wonerejo. Kurang lebih lima belas menit untuk tiba disana, dengan merogoh kocek 25.000 rupiah.

Bapak Soeto

Pak Soeto begitu sebutan lelaki paru baya itu. Ia berperawakan gempal, tidak terlalu tinggi, rambutnya yang dulu berwarna hitam pekat kini sudah beruban, cara tuturnya sedikit tersendat, wajahnya sudah berkeriput. Ia tinggal bersama sang istri yang kini masih setia menemani hari-harinya, tidak hanya sang istri yang mampu memberikan bibit cinta dalam hastrat dan nuraninya. Cucu, menantu dan para saudara acap kali bersinggah untuk sekedar berbincang atau menikmati teh hangat dan beberapa cemilan kecil ketika senja.

Rumah pak Soeto beralaskan semen, berdinding bata, dan beratap genteng. Pak soeto sudah lama mendiami rumah tersebut. Hampir setiap pendaki yang kerap kali ingin menapakan kaki di Gunung Raung, tidak luput untuk bersua, walau hanya sekedar beristirahat dan menikmati makanan rumahan yang dihidangkan oleh sang istri.

Pak Soeto adalah seorang mantan angkatan Negara, begitu jelas terlihat ketika ia begitu bersemangat menceritakan tentang masa keemasanya. Tangannya kerap kali mempraktikan bagaimana sebuah bedil digenggam untuk menembak para pemberontak, foto beliau juga terpampang besar yang berada diruang tamu dengan menggunakan pakaian angkatan bersama sang istri.

Aku tak begitu mendengar ceritanya cukup jelas, karena ia bercerita hal tersebut bukan kepadaku, melainkan kepada para pendaki lainnya.

Aku cukup mendengar dialog itu, namun sedikit sayu. Ia mengatakan

“jadi pistol aku arahkan ke arah kepala, kemudian aku tarik pelatuknya dan menembak para pemberontak saat itu”, ujarnya dengan terkekeh seraya mengeluarkan asap rokok dari hidungnya.

Hanya itu yang aku ingat dalam rekam jejak seorang mantan Angkatan Negara.

Malam semakin menyerut tulang, angin yang berdesir tak kunjung henti. Aku tiba dirumah Pak Soeto sekitar pukul 23:00 WIB malam harinya. Bertemu kawan baru merupakan hal yang menyenangkan bagiku, dimana aku bisa lebih memahami watak setiap manusia yang tinggal ditempat yang berbeda, memperpanjang tangan saudara ditempat entah beranta, bercerita tentang kampung halaman yang berbeda, memahami budaya yang berbeda, dan menikmati keindahan dari sudut pandang yang berbeda. Pendakianku kali ini berjumlah tujuh orang, tiga orang berasal dari Surabaya, dua orang berasal dari Jakarta, dan aku bersama kawanku berasal dari Malang. Kita saling berjabat tangan menceritakan perjalanan yang panjang menuju Kalibaru, dan ulah sang supir yang membuat dendam dalam benak. Sedikit hidangan kopi dan beberapa makanan ringan membuat kita menjadi akrab malam itu.

Malam mulai beringsut, dingin mulai berjalan menuju ujung kaki. Aku memutuskan untuk beristirahat karena esok hari begitu berat. Pagi mulai menyapa, fajar mulai merangsang masuk dari bilik jendela kayu. Salah seorang kawan membangunkanku dari perjalanan dunia fantasi, menyuruhku untuk bersiap-siap. Aku membangunkan badan yang masih telentang tadinya, kaki aku selonjorkan sejauh mungkin, tanganku mengucak mata perlahan-lahan, mulut masih menguap menderu-deru, ramput yang teracak-acak tak beraturan, badan begitu bau keringat, lantas aku segera bergegeas menuju kamar mandi untuk menikmati kesegaran air yang mengalir kesekujur badan dari suatu  air terjun yang berada di kaki Gunung Raung.

Menuju Camp satu, dua, tiga, dan empat.

Burung kenari mulai berkicau, kambing mengembik dari arah barat, suara angin mengoyak dedaunan nan rindang, matahari mulai menusuk rongga mata, panas membakar kulit perlahan, keringat mengucur di dahi menetes hingga membasahi sekujur tubuh. Pagi itu aku mulai meninggalkan rumah Pak Soeto, tempat dimana cerita ini dimulai bersama ketujuh kawanku.

Pos satu
Gunung Raung begitu sebutannya, Gunung yang terkenal dengan suara angin yang mengaung-ngaung. Gunung itu terbagi dalam empat pos dengan sembilan tempat selter. Aku bersama ketujuh kawanku memulai pendakian dengan manaiki ojek secara bergantian menuju pos satu dengan merogoh kocek sekitar 25.000 ribu rupiah, sedikit menghemat tenaga untuk tiba di pos satu memangkas waktu sekitar dua jam perjalanan, dengan ketinggian 980 MDPL.

Perjalanan selanjutnya menuju camp dua dengan medan yang belum begitu ekstrem dan terjal, di sebelah kiri dan kanannya tumbuh pepohonan coklat, ada juga yang menanam biji kopi, dan ada juga pohon alpukat. Warga dusun Wonorejo memang begitu suka dengan bercocok tanam, terlebih untuk menyambung kehidupan dan sebagai salah satu faktor penunjang ekonomi keluarga.

Pos satu menuju camp dua lebih banyak kita berjumpa dengan jalan landai yang dominan, pohon-pohon nan rindang yang menyejukan, alunan nada yang tersusun berirama dari mulut para kenari yang melopat-lompat dari peohonan, celoteh jangkrik yang bertalu-talu, suara elang yang sekawan berjalan di atas kepala, riak air yang terciprat dari sepatu, suara ranting yang terinjak, semut-semut yang berjalan di atas pohon yang tumbang, menjadi teman setia dalam perjalanan yang buta.
Camp 2

Waktu tempuh menuju camp dua dibutuhkan sekitar tiga sampai empat jam perjalanan. Memang sedikit lama, karena perjalanan yang dijumpai lebih banyak bertemu dengan medan yang landai. Hal hasil lebih banyak memutar, salah satunya ditambah bobot beban yang terlalu berat, hampir logistik yang kita butuhkan adalah air mineral. Gunung yang menyimpan sejuta pesona drama kehidupan setiap manusia ini, tidak menyediakann] mata air dalam setiap perjalanan menuju puncak. Kitalah yang membawanya dari awal pendakian hingga ke titik akhir pendakian. Seusaha mungkin perindividu membawa lima sampai enam liter air 
mineral.

Sekitar pukul 12:17 siang aku tiba di camp dua. Perut yang tandus, kerongkongan yang begitu serat, air yang menetes perlahan jatuh ke tanah, mulut dan bibir yang mengering, baju yang basah tertimpa keringat, panas yang terik, matahari berada di atas kepala. Semua tak menjadi permasalahan yang berarti, karena kita tertawa bersama. Bukankah itu menjadikan kita semua sama?, sama mengalami penderitan yang sama, dan bersama untuk saling menjaga.

Sekitar pukul 13:12 perjalanan dilanjutkan menuju camp tiga, medan perjalan sedikit menanjak, namun belum begitu curam. Sekitar pukul 15:45 aku sudah tiba di camp tiga, hanya sebentar tak begitu lama berada disana, karena kabut mulai turun dan dingin mulai merangkul tubuh. Aku hanya memejamkan mata sejenak mendegarkan dentum napas yang bertalu-talu, merasakan air yang mengalir mengucur deras dari kening, lalu metes perlahan ke dahi.

Kabut tebal mulai mempersua, matahari mulai berpindah porosnya, dingin mulai merasuk sukma, bergerak lebih cepet agar malam tak berkawan. Sekitar pukul 17:54 aku tiba di camp empat. Pergerakan aku buat lebih cepat mendirikan tenda dan menyiapkan keperluan untuk malam hari.

Malam mulai berkawan, kabut mulai merabah masuk, ujung-ujung kaki mulai terasa linu, kedua tanganku bersua dan saling bergesekaan, sesekali meniup kearah rongga. Kami tidak begitu banyak berbincang, mungkin kawan-kawanku sudah merasa lelah, hanya beberapa makanan ringan saja yang terisi di perut.

Bau yang menyengat dan asap yang mengepul dari kejauhan

Aku memilih untuk menikmati malam, meski dingin dan angin yang menderu-deru. Malam itu begitu indah bulan purnama begitu terang, belantik yang terang menambah keindahan malam. Aku berteman dengan sang asap, asap yang memberikan ketengan bersama sang hitam hangat yang memeberikan perpaduan malam.

Lamunanku yang panjang bermain dengan kilas balik kehidupan, perasaan yang membeku kini menjadi cairan yang menenangkan. Aku lebih banyak bisa berpikir mencari jalan atas permasalahan yang menumpuk dalam hidupku, aku mencari kebebasanku, aku mencari rasa sepi dalam hidup yang terasing. Aku duduk menekukan kedua kakiku menyanggahnya dengan kedua tanganku, memejamkan mata, menarik napas sepanjang-panjangnya. Aku merasakan kenikmatan yang sudah lama takku dapatkan. Di depanku sudah siap jurang yang manganga lebar, siap untuk melahapku bulat-bulat.

Kawanku sudah tertidur pulas, ada yang berpelukan, ada yang bebagi kehangatan selimut, ada yang menggigil kedinginan, dan ada yang meracau ketika tertidur pulas.

Kebakaran Hutan

Aku mencium bau asap, asap yang begitu akrab wanginya. Aku mencoba mencari sepatu menelusuri mencari induk dari bau yang menyengat . Malam dan hitam yang pekat, penglihatanku terhalang, aku hanya mengandalkan lampu yang tersanggah di atas kepala, yang bisa kapan saja hilang tak berpijar lagi. Dari sudut jurang bawah terlihat asap yang mengepul, cahaya yang membakar pepohonan, percikan api yang berkobar-kobar menyala dengan kokoh. Ah tidak kali ini, kawanku tengah tertidur aku enggan mambangunkannya, namun satu sini aku ingin turun memadamkan. Terdengar suara kaki yang menyapu alas dedaunan yang gugur, semoga bukan hewan buas yang berada di belakangku. Aku bersiap dengan posisi dan kuda-kuda yang kuat, ketika ia menerkamku aku bisa melakukan perlawanan balik. Oh sial, ternyata salah seorang kawanku yang ingin membuang air kecil, aku menghampirinya Ferdi namanya, seorang kawan perjalanku berasal dari Surabaya. Ia berperawakan kurus, cukup tinggi, dan mengerti tentang tali temali pemanjatan tebing.

“Fer, kemari cepet sini ada api, ada kebakar hutan fer”, ujarku mengarapkan pergerakan yang cepat, dengan nada yang menggebuh-gebuh.

“dimana can ?, mana ?”, ucapnya dengan mimik yang penasaran.

“itu di bawah ada api, kalo sekarang kita gak pademin itu api bisa ngabakar hutan”,

Tanpa banyak cakap ferdi berlari mengabil tali webbing dari dalam tendanya, ia membawa delapan tali, dan mengikatnya satu persatu.

“Fer panggil anak-anak kita pademin bareng-bareng,”

“tapi pake apa?”, ucapnya dengan bergemetar

“ambil pasir terus kita injek-injek aja, jangan pake air bisa-bisa mati kehausan nanti kita”, ujarku.

Gestur dan cara berbicara yang keras mengundang perhatian dari penadaki lainnya yang tengah tertidur, seketika seorang lelaki berlari menghampir

“ada apa?”, ucapnya.

“kebakaran itu di bawah”, ujar Ferdi.

Tak banyak basa-basi lelaki tersebut turun dan mencoba mendekati api. Ia hanya beralaskan sandal jepit, mencoba mendekat dan mematikan api dengan mengeruk pasir, serta memukul batang pohon yang terbakar dengan sebuah kayu, sesekali menendangnya. Ia bernama Arif, seseorang yang selalu merendah diri, berperawakan sedikit kekar, kaki dan betis yang berotot, dada yang membusung tegak, kulit yang terbakar matahari menciptakan warna hitam, cara berbicaranya yang selalu memandang orang lain lebih tinggi, tutur bahasanya yang sopan dan manusia yang senang sekali berbagi dengan manusia lainnya.

Aku merasa terpancing ingin bercumbu dengan adrenalin. Ferdi menyiapkan tali kemudian melemparnya ke arah api yang berkobar. Aku membawa kamera untuk mengabadikan momen indah saat itu. Sekitar pukul 21:35 api mulai mengecil, hanya tersisa asap yang masih panas, aku menyuruh kawan-kawan untuk naik, karena malam sudah semakin panjang, dan esok merupakan hari yang berat.

Api redah, tanah panas dan asap yang tersisa. Aku tertidur dalam keheningan dan kicau merdu suara jangkrik, suara kodok yang selalu mendengkur, gonggongan anjing hutan yang memberikan efek dramatis malam. Khidmat ku ucapkan pada malam yang panjang.

Pagi terlalu cepat kau datang. Aku terbangun dalam dinginnya hutan, angin yang masuk melewati pintu tenda, bertiup menuju kelopak mata yang terpejam, membangunkan semua kawan yang sedang beristirahat  panjang. Kala itu pergerakan lebih cepat dimulai. Sekitar pukul 08:00 sudah meninggalkan tempat camp, setelah beberapa makan, aku memutuskan untuk bergerak. Aku membuat konsep pendakian setelah melakukan maping bersama kawan-kawan yang lainnya.

Aku membuat opsi dengan dua tenda yang ditempatkan dalam satu tas, lalu satu orang memangkas waktu untuk mendirikan tenda terlebih dahulu. Hal hasil, aku memilih menjadi sprinter dengan membawa dua tenda, dan botol kecil air minum. Aku begegas menuju camp 8 untuk mendirikan tenda, lantaran kita berebut tempat dengan pendaki lainnya. Setelah berdoa bersama, aku berjalan sendiri memahami medan. Camp lima sudahku lewati, tak begitu banyak aku beristirahat hanya meneguk beberapa air saja, lalu aku lanjutkan menuju camp enam. Sekitar satu jam aku berjalan dan berhenti sejenak untuk menghelakan napas panjang, air yang mulai tersisa sedikit, tubuh yang mulai terlunglai, dan kaki yang mulai bergemetar. Sekitar sepuluh menit aku beristirahat, kemudian aku lanjutkan menuju camp tujuh, air yangku bawa sudah tak tersisa, hanya mengandalkan dari air liur yang semakin lama semakin mengering. Aku merasakan pandanganku mulai kabur tidak berfokus, kaki mulai terpingkal-pingkal menelusuri jalan yang panjang, panas membuat kepala merasa begitu berat, mata sukar untuk membuka lebar hanya sejengkal, keringat berkucuran secapat mungkin. Aku memutuskan untuk merebahkan badan sejenak, berharap mendapatkan energi tambahan dalam keheningan yang hanya sekejap, memejamkan mata sebentar, melentangkan badan di bawah pohon tua nan rimbun. Aku menyungkurkan kepalaku kemudian melenggakanya ke arah atas. Aku segera membangunkan tubuhku yang tertidur, bergegas lebih cepat menuju camp tujuh. Aku merasa lebih kuat walaupun mulut begitu kering dan meski berjalan dengan terpingkal-pingkal.

Sekitar satu jam lebih aku berjalan, akhirnya aku tiba di camp tujuh berharap ada seorang pendaki yang hendak turun atau naik, aku ingin minum walau hanya secerca air yang ada. Tubuhku sudah begitu lemas dan kaki sudah terlunglai. Setengah jam sudah aku menunggu duduk di bawah ranting-ranting pohon yang teduh nan megah, aku mendengar samar suara manusia yang perlahan-lahan mendekat. Mata yang tadinya terpejam dan tubuh yang sudah terlunglai seolah kembali menjadi kuat. Aku berharap kawanku datang dan memberikan setangkup air, namun itu hanya harapan yang semu. Akan tetapi, orang lainlah yang datang dan mendekat memberikan air ke arahku. Ohh, tidak ternyata bukan salah seorang kawanku, melainkan Arif bersama para temannya.

“mulut mu itu kering sekali, wajah mu pucat, ini minum air” ujarnya.

Aku menggapainya perlahan dengan kedua tangan dan meminumnya. Begitu terasa sekali ketika air mengalir melewati tenggorokan yang kian kering dan membasahi bibir yang pecah-pecah, menelannya sedikit demi sedikit, seuatu kenikmatan.

“waduh rif makasih banyak loh. Aku bawa air cuma abis, soalnya aku cuma bawa air berukuran kecil, sekali lagi makasih banyak loh rip”, ucapku dengan rasa tidak enak hati.

“wahduh podo-podo can, kita sama-sama ngebantu aja”, ucapnya sambil terkekeh dengan napas yang masih tersungkur.

Tidak hanya air, melainkan mereka mengajakku untuk makan bersamanya. Oh.. tidak, begitu baiknya mereka kepadaku, aku jadi tidak enak hati, aku merasa merepotkannya. Tetapi, ketika aku menolak mereka sangat marah, mungkin aku akan membalas bantuan mereka lain waktu, ditempat yang berbeda, dan dengan caraku yang berbeda semoga hal itu terjadi.

Aku tiba di camp tujuh sekitar pukul 12:00, kemudian melanjutkan pendakian sekitar pukul 12:30. Sebelumnya aku memutuskan untuk mendirikan tenda di camp tujuh, namun melihat batas waktu yang tersisa aku memilih mendirikan tenda di camp delapan, lantaran waktu yang masih siang, aku memilih untuk terus begerak. Aku memberikan pesan singkat yangku tulis di atas kertas, lalu aku selipkan di sela-sela pepohonan. Sekitar 15:12 aku tiba di camp delapan, karena tempat yang terbatas aku segera mendirikan kedua tenda tersebut.

Matahari mulai pergi, sunset memberikan keindahan tersendiri.

Sunset Camp 8
Senja kala awan berubah tak lagi membiru, menikmati dan mengabadikan dalam bingkai foto. Suasana matahari terbenam memang sangat indah, aku suka melihatnya menaiki dahan-dahan pohon tua yang berdiri tegar nan koko, menikmati pergerekatan matahari yang perlahan menghilang, kicau suara burung, suara jangkrik yang mulai terdengar, desir angin yang mengempaskan wajah bertalu-talu. Raharja diriku, pikiranku menjadi begitu terbuka dan tenang. Hanya saja aku sendiri tak banyak cerita yang dapatku bagi.

Malam mulai masuk menggantikan senja yang indah, awan mulai berubah pekat, kawanku belum juga datang. Terdengar suara samar, suatu teriakan memanggil namaku, aku memebalas teriakan tersebut dengan sekeras-kerasnya. Satu persatu kawanku mulai berdatangan, terlihat wajah yang begitu letih dan menggigil kedinginan, napas yang mulai tersendat menjadikan pemandangan yang sama. Aku mempersilahkan mereka untuk segera masuk, segera mengganti pakaiannya yang basah akibat keringat yang berkucuran, aku menyiapkan alat-alat masak dan menunggu kedua kawanku yang belum kunjung tiba. Aku melihat ke arah jam tangan yang aku kenakan dan berkata

“seandainya jam tujuh mereka belum datang, aku susul kebawah”, ujarku.

Bersama Senja dan pohon tua
Seketika terdengar suara ranting yang terpatah-patah, bunyi daun yang terseret, suara itu kian mendekat, semakin dekat, tak terlihat apa pun dari hutan yang gelap. Perlahan tapakan kaki mulai mendekat napas yang terengah-engah. Syukur mereka datang juga. Kita bergegas untuk makan dengan lawuk pawuk yang beraneka macam, semua saling berputar agar makanan dapat diterima secara merata. Setelah menikmati jamuan, salah seorang kawan mangajak bermain kartu bersama, dengan hukuman bagi yang kalah membuka pakainya satu-persatu, lantaran malam itu begitu dingin sekali, serta angin yang terus bergerak menggoyangkan tenda-tenda.

Kita tertawa terpingkal-pingkal, melihat kekalahan salah seorang kawan yang tak mengenakan baju, mengigil dan mulutnya bergemetar. Hanya dengan cahaya yang minim dengan lampu dari sebuah senter yang menggantung di atas tenda kita bermain hingga melewati malam yang panjang perlahan. Duduk melingkar saling berdekatan, dan tertawa bersama, membuat suasa malam yang dingin di atas ketinggian 3023 mdpl menjadi begitu hangat, kita baru saja saling mengenal tetapi kita begitu terasa dekat.
Dan, semua tertidur bersamaan dalam malam yang membungkus dingin, serta tawa yang memberikan senyuman mengantarkan menuju dimensi fantasi.

Tubuh Kaku dan Mulut Membiru, Aku Tak Mau Mati !

Empat Titik Puncak

Raung mempunyai empat titik puncak, puncak pertama bernama puncak Kalibaru, kedua puncak tujuh belas, yang ketiga puncak Tusuk Gigi dan yang terakhir puncak Sejati. Setelah makan pagi dengan beberapa roti dan susu, Aku memulai pendakian kembali sekitar pukul 10:00 pagi. Aku meinggalkan semua barang bawaan di dalam tenda, yangku bawa hanya alat-alat penting kebutuhan pendakian, seperti tali karmantel 50m, carrabiner, webbing, harnezt, ascender, dan tali prusik. Semua harus dalam keadaan baik sebaik-baiknya seperti ketika nabi bersabda.

Sebelum melewati empat puncak ekstrem kita harus melewati camp Sembilan, waktu tempuh sekitar satu jam, lalu dilanjutkan menuju puncak Kalibaru, bersiap untuk membuat harnezt yang dibuat menggunakan Webbing. Setelah siap kita semua berdoa secara bersamaan. Kehusyukan menciptakan nuasa tegang, mulut yang bergumam melantunkan doa-doa, tangan yang mangangkat sejajar dengan bahu, mata yang terpenjam, angin yang mengelilingi secara terus-menerus, kiri dan kanan telah ada jurang. Di atas puncak Kalibaru kita berdoa, memberikan rasa khidmat kita kepada Zat yang Maha guna.

Puncak Kalibaru

Melewati puncak Kalibaru hanya beberapa menit saja. Kita tertahan oleh garis batas, waktu yang yang mebayangi terus-menerus. Menelusuri tebing bebatuan dengan perlahan-lahan, kiri dan kanan jurang yang menganga siap melahap manusia yang tiada artinya, batu-batu yang rapuh menjadikan perjalanan lebih menakutkan. Kita tidak pernah tau kapan kematian itu datang, kapan pijakan menjadi tumpuan berubah menjadi tanah yang longsor, dan menggulingkan manusia yang berada di bawah atau di atasnya.
Perjalan menemui titik ekstrem pertama, kita harus merayap melakukan climbing untuk melipir ke arah atas pegunungan dengan memasang webbing yang digantungkan carrabiner snap untuk pengaman, lalu di bawah sana ada seorang belay yang siap melakukan full and slack ketika mendengar instruksi.


Ari (yang menggunakan tali Webbing) dan Ajun yang berada di Bawahnya
Matahari semakin terik bediri di atas kepala, air untuk minum harus digunakan seminim mungkin, lantaran air jumlahnya yang terbatas. Berjalan menapakan kaki dengan fokus merupakan kunci utama keselamatan, mulut yang terus bergumam melantunkan doa-doa agar senantia selamat. Aku merasa begitu kecil manusia di mata alam, kapan saja kita bisa tergulung angin, lalu terkapar tak bernyawa. Ari begitu sebutan untuk pemuda yang mempunyai masalah ketinggian ini, jalannya tertatih-tatih, terlihat espreksi wajah yang memucat, keringat dingin yang mengucur, kaki yang bergemetar, dan ketakutan yang manghantui terus-menerus. Ari berperawakan kurus kering dan tidak terlalu tinggi. Aku selalu memberikan motivasi berjuang kepadanya, lantaran ia pesimis dengan kemampuannya sendiri, acap kali melakukan rock calimbing, ia begitu takut dan bergemetar karena ia mempunya kenangan buruk akan ketinggian.

Puncak 17

 Climbing Puncak 17
Setelah melewati titik ekstrem pertama, kita melanjutkan perjalanan menuju titik ekstrem kedua, yakin puncak tujuh belas, dimana kita diberikan dua pilihan yang pertama, melipir melewati jurang dengan teknik moving togerher menggunakan tali karmantel yang dibentangkan, lalu dikaitkan dengan carrabiner, setelah itu berjalan secara bersamaan. Disini kita membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi salah sedikit dapat membahayakan nyawa, di depan sudah siap meyapa jurang setinggi 50 meter. Atau mengunakan opsi kedua dengan menggunakan tekni calimbing, dimana seorang leader menggunakan teknik Artificial Climbing, dengan memanfatkan celah-celah bebatuan sebagai alat pengamanan, kemudian leader yang sudah tiba di atas membuat robe fix dengan cara mengkaitkan webbing kepada hanger buantan yang sudah tertancap. Disini membutuhkan fokus dan pemilihan batu yang selektif, banyak batu yang sifatnya rapuh.


Climbing Puncak 17
Kita memilih untuk menggunakan tekni yang kedua dengan alasan meminimalisir resiko yang ada. Perlahan aku menelusuri tebing yang tingginya sekitar sepuluh hingga lima belas meter tersebut, mencari batu untuk pijakan, mencari celah untuk tangan menumpu, mata fokus mencari bebatuan yang kuat, sesekali memukul batuan melakukan uji kekuatan kepada batu. Banyak batu yangku jatuhkan kearah bawah, karena membahayakan. Aku berteriak ke bagain bawah awas “rock!, minggir-minggir”, lalu menarik napas yang panjang, mencari jalan perlahan hingga mencapai Top. Setelah semua sampai berada di atas puncak Tujuh Belas, kita berjalan melewati jalur sirotolmustakim. Jelas sekali nama yang diberikan tergambarkan dengan sempurna, jalan yang setapak, pasir yang licin, sebelah kiri jurang yang tertutup kabut, aku tak mengerti bagaimana bila manusia terhempas ke dalam sana, lalu di sebelah kanan ada jurang yang setinggi 50 meter siap melahap membawa manusia yang terjatuh ke arah lembah yang bebatuan, dan di atasnya ada bebatuan yang tersusun yang aku tak pernah tahu kapan longsor datang dan mengkubur kita secara rata tak tersisa.





Puncak Tusuk Gigi


Puncak Tusuk Gigi

Menuju Puncak Tusuk Gigi



Nama Tusuk Gigi diberikan lantaran puncak bebatuannya yang melancip-lancip, dengan titik ruang yang sangat kecil berjalan menelusir permukaannya. Sehabis melewati jalan setapak yang dapat mengilukan semua sendi-sendi tulang, kita dihadapkan dengan puncak tusuk gigi dengan kemiringan yang hampir tegak.

Pemandangan yang dihamparkan berupa tumpukan bebatuan yang besar, dan sedikit pasir kasar di bagian permukaan. Dijalan ini, imaji mulai berkontraksi ketakutan akan bahaya longsor membuat benak terekam tak pernah mati. Bahaya akan bebatuan besar yang menjulang tinggi menggelinding dapat mematikan pendaki dibawahnya, lalu terseret menghantam lembah yang tak berujung. Aku membuka jalan terlebih dulu, yang lainya mengikuti dari belakang. Sampai pada akhirnya tiba di puncak tusuk gigi pada pukul 15:25








Categories:

0 komentar:

Posting Komentar