Arah jam satu, ada sekumpulan manusia yang sedang asik bergurau. Entah,
mungkin sudah lama mereka tak bersua, lalu arah jam dua, sekumpulan wanita
ranum yang sedang berdiskusi tentang bagaimana cara mempercantik diri atau mungkin rutinitas
harian yang selalu monoton. Arah jam tujuh, ada dua manusia berlawan jenis
menatap secara linier, mungkin sang pejantan mencoba meyakinkan kepada sang
betina yang selalu meminta kejelasan tentang ketidakpastian suatu hubungan.
Aku hanya mencoba menikmati malam
dengan cara yang berbeda, dengan sedikit sentuhan dan suasana yang baru. Sudah
lama aku menyendiri menikmati kekosongan-ku, bermain dengan sel-sel otak,
kemudian berkontraksi, berharap ada reaksi untuk mencapai ruang imaji. Aku
hanya mencoba menemukan kembali kata teman, kata yang membuat manusia dapat
menjalanin kehidupan dengan nyaman, dan berjiwa. Sahabat atau teman menurutku
sama, hanya saja kata sahabat merupakan kata khusus yang diberikan untuk
mengindahkan seseorang atau mungkin mereka mempunyai hubungan khusus yang lebih
mendalam.
Malam itu, aku mencoba mendatangi
suatu tempat, hanya untuk sekedar meminum kopi bersama. Tempat yang bernuansa outdoor
natural, ya baru saja berdiri, lantaran baru dua bulan merintis. Aku cukup
menyukai tempat itu, karena tidak begitu dipadati gegap gempita manusia, hanya
saja suara riuh yang ditimbulkan dari kendaraan bermotor, karena letaknya yang
berada tidak jauh dari permukaan jalan.
Teman-ku kali ini cukup
ekspresif, inovatif, dan komunikatif. Ia seorang betina. Ia berperawakan postur
badannya tidak terlalu tinggi, namun cukup ideal untuk batas seorang wanita,
kulitnya putih, cara berbicaranya yang begitu cekatan, dan sesekali memainkan
mimik mukanya seolah sedang menjadi seorang aktris di suatu pentas teater. Aku
baru tau dia seorang designer, aku
pun sedikit terkejut.
Mata-ku memandangnya, sedangkan
tangan kanan-ku mengangkat secangkir kopi beraroma tiramisu, kemudian
mempersuakannya dengan bibir.
“sekarang kerja ?, udah berapa
lama disana?.” ucap-ku kepada perempuan itu.
“baru, iya baru sampe malang ini.”
“oh gitu, keren ya.” mata-ku
mendelik kearah kiri disertai gelengan kepala.
Mulutnya yang sedang terisi
makanan perlahan-lahan menggumam dan tangan kirinya mengangkat secangkir kopi,
kemudian meminumnya secara bersamaan dengan makanan yang masih berada di
mulutnya.
“iya jadi ini hampir sama kaya
toko denim gitu, nah sekarang bagian
atasnya lagi di renovasi, kaya mau dibuat private
room gitu, jadi misalnya lu kenal
sama gua, terus lu bisa pake ruangan itu buat meeting gitu.”
“oh, free?, atau bayar?.”.
“setau gua itu gak bayar, soalnya
temen gua Dana kemarin sempet pake tempat itu, tapi gak bayar gitu si, cuma
tempatnya belum selesai di renovasi”. Bahunya mengangkat, matanya mengarah
kearah bawah, seolah memperkuat ketidaktahuannya.
Aku hanya ingin mengisi
kekosongan waktu, agar lebih produktif. Aku mencoba menyusun benang percakapan
yang tak beraturan, mencoba untuk menjadikannya seutas temali yang saling
berkaitan. Kita saling bertukar cerita, tentang kalimat cinta, tentang
keluarga, dan tentang cita-cita.
Perempuan itu bercita-cita
mempunyai sebuah rumah di kota malang yang letaknya di permukiman elit. Dan,
kemudian ia berharap, ketika titik akhir dari makna kata sarjana itu sudah
tiba. Ia berharap sang ibunda tengah hadir berdiri, merangkul, menyambut, dan
berbagi kebahagaian itu bersama dengan suka cita, yang-ku tau ia sangat
menyayanginya, dan rumah imipiannya itu untuk sang ibu menikmatinya hari-hari
tuanya kelak.
“gua pengen deh punya rumah di
jalan Ijen, terus pas gua wisuda nanti, ada nyokap gua di rumah itu, ah pokonya
gua senang banget kalo ada nyokap gua disana”, wajahnya bergitu semeringah,
matanya bergitu berkilau, ketika berbicara tentang masa depan.
“aminn, ya Allah, amin”, aku mengangkat kedua tangan-ku, kemudian
mengusapnya kearah wajah perlahan-lahan, dan mengatakan kata harapan itu
berulang kali.
Kita begitu asik bertukar cerita,
walaupun bising suara tetap mnyelimuti masuk perlahan-lahan, saling menghujat
satu sama lain, terkadang kita memainkan mimik wajah, ditambah gerakan badan,
dan cara berbicara yang aneh agar
terlihat lebih ekspresif. Tetapi, itulah yang membuat suasana kala itu
bersahabat.
Seketika hening menyergap, mulutnya
perlahan bergumam sepatah kata dan kemudian bertalu-talu. bercerita tentang
perasaan yang membuat sikapnya menjadi tak menentu, bingung, kalut, atau
mungkin terjerembak dalam ketakutan. Ia tak mampu berlari dalam kesendirian,
takut akan kehilangan, takut ketika rasa kasih sayang menolak dirinya. Aku
memberika nama sang penjantan itu adalah Tanah, seorang yang teguh untuk selalu
memulai cerita cintanya kembali, meyakinkan perempuan itu terus-menerus,
meskipun pada akhirnya ia menyadari titik akhir itu. Tetapi, Ia tetap berjuang
meyakinkan si penakut yang selalu takut untuk menerima kehidupannya, bila sudah
jauh ia beranjak dari ibu kota. “apakah memang jarak dan waktu adalah
permasalahannya?,” aku hanya menerka.
Perempuan itu tau benar akan
kehidupan sang pejantan, karena cerita cinta itu sudah dimulai enam tahun yang
lalu. Entah, apa yang ada dalam logika sang perempuan itu. Ia cukup takut
ketika untuk memulai hubungan itu kembali.
Tangan-ku menahan dagu, sedangkan
mata-ku terus melihat kearahnya. “apa si rasa yang sangat yang sangat ditakutin?,”.
Ucap-ku.
“hemm, ya gua takut dia selalu
seperti itu, dia itu ga mau berubah masih sama kaya dulu, ya walaupun ada-lah
perubahan itu, Cuma hemm. Gua takut aja,” ucap perempuan itu, tatapannya begitu
membingungkan.
“kenapa lu gak mau mencoba untuk
memulai cerita itu lagi,”
wajahnya berubah menjadi geram,
terbesit ada kebingungan. “aduhh, malang itu udah kaya kota gua banget, gua bisa
bergerak kemana pun gua mau. Gua mau sendiri dulu, tanpa ada status apa-apa,”
tegasnya dengan sedikit nada meninggi.
Di tempat itu bising telah
menjadi teman setia, serak lantunan lagu yang perlahan menepi adalah kepekaan
jiwa, lalu-lalang manusia adalah penampakan kehidupan, dan ketakutan adalah
kekosongan. Aku termenung hanya mendengar dan meresapi, seorang wanita yang
takut akan sendiri, tak mampu beranjak untuk berjalan sendiri. Kenapa manusia
takut untuk sendiri?, kenapa manusia takut untuk memulai, kenapa manusia takut
tersudut menanti?, kenapa manusia mudah melupakan dan dilupakan?. Dan, semua
itu adalah rasa takut. Perasaan yang enggan menerima ruang yang kosong atau
ruang yang lapang. Tetapi, ketika kosong kau takut akan hampa, ketika itu kau berpikir
hanya kepada benda. Kelapangan adalah konseptual untuk menuju kehidupan yang
lebih sempurna.
Ketika ia bercerita tentang
cinta.Perempuan itu terlihat bergitu takut. Tatapannya berlikat ketika ditanya,
“kau takut?, ketika ia
meninggalkan-mu pergi jauh”. Tegas-ku kepada perempuan itu.
“apakah kau sedih ?, ketika ia
tak datang kembali?,”.
Ia bergeming. Tetapi, untuk
beberapa menit berlalu ia berucap. Palanya hanya tertunduk, matanya hanya
menatap sesaat tak mampu menatap lebih lama, ucapannya sedikit tersendat.
“apakah gua terlihat takut,?,”
nadanya begitu pelan.
Aku hanya termenung. Terkadang kita hidup
untuk menghidupkan diri sendiri, agar tetap bisa menjalankan kehidupan yang
panjang. Tetapi, disudut pandang lain kita juga membutuhkan hidup antar sesama
manusia, menjalankan suatu hubungan cinta untuk menciptakan kehidupan
selanjutnya. Tetapi, ketika kita menolak dan bergeming dalam lamunan yang
panjang, hanya untuk mengubah karakter manusia, ketika itu kita tak akan bisa
menerima perasan itu secara abadi. Manusia memang mempunyai subjektifitas
sendiri akan makna cinta, tetapi cinta itu hidup dan tumbuh dalam keadaan yang tak
bisa kita ubah.
Malam begitu saja berlarut dan
semoga awan di hari itu tidak menjadi kelabu juga. Aku memutuskan untuk pulang.
Tetapi, perempuan itu sedang begitu serius melihat telegramnya, mungkin sedang
membaca suatu blog atau sedang membaca suatu informasi terkini. Aku memutuskan
untuk membayarnya. ketika rampung membayar, aku kembali mengampirinya, dan
kemudian mengajaknya untuk pulang.
“ayok udeh pulang, kan bisa
bacanye nanti-nanti lagi, lagian juga udah malem,”
“hemm, sebentar-sebentar tapi gua
belum bayar,” ucapnya, sambil mata dan tangannya mencari dompet yang terselip
di dalam tas.
“tenang udeh gua bayar kok.”
Sahut-ku.
“ohh yaudah tunggu dulu gua bayar
ke lu aja ya, tunggu-tunggu.” Tangannya dan matanya kembali mencari dompet yang
berada di dalam tas.
“gak usah udeh, lu udeh bayar kok
pake cerita lu itu,”. Jawab-ku, sambil
terkekeh.
Ia tertawa ketika mendengar
gurauan yang-ku lontarkan. Wajahnya terkejut dan memerah, seperti sedang
disanjung oleh para prajuritnya, ketika keluar dari singgasana. Aku hanya
berhiperbolis belaka. Dan, angin, dingin malam, cahaya bintang, pergerakan
awan, dan tanah, serta para makhluk hidup lainnya. Mereka menjadi saksi atas
cerita kehidupan setiap manusia.
Waktu adalah Penjaga
Waktu adalah sang penjaga sejati
Kita hanya diberikan dua pilihan
Tenggelam dalam waktu
Atau mengikuti arus waktu
Dan, ketika tersesat dalam hempasan sayap
yang tergores luka
Disaat itu tenggelam dalam melodi lirih yang
hampa
Dan, dilema adalah sesajen untuk memanggil
rasa takut
Muantep deh
BalasHapus