Jumat, 13 September 2013


Arah jam satu, ada sekumpulan  manusia yang sedang asik bergurau. Entah, mungkin sudah lama mereka tak bersua, lalu arah jam dua, sekumpulan wanita ranum yang sedang berdiskusi tentang bagaimana cara  mempercantik diri atau mungkin rutinitas harian yang selalu monoton. Arah jam tujuh, ada dua manusia berlawan jenis menatap secara linier, mungkin sang pejantan mencoba meyakinkan kepada sang betina yang selalu meminta kejelasan tentang ketidakpastian suatu hubungan.

Aku hanya mencoba menikmati malam dengan cara yang berbeda, dengan sedikit sentuhan dan suasana yang baru. Sudah lama aku menyendiri menikmati kekosongan-ku, bermain dengan sel-sel otak, kemudian berkontraksi, berharap ada reaksi untuk mencapai ruang imaji. Aku hanya mencoba menemukan kembali kata teman, kata yang membuat manusia dapat menjalanin kehidupan dengan nyaman, dan berjiwa. Sahabat atau teman menurutku sama, hanya saja kata sahabat merupakan kata khusus yang diberikan untuk mengindahkan seseorang atau mungkin mereka mempunyai hubungan khusus yang lebih mendalam.

Malam itu, aku mencoba mendatangi suatu tempat, hanya untuk sekedar meminum kopi bersama. Tempat yang bernuansa outdoor natural, ya baru saja berdiri, lantaran baru dua bulan merintis. Aku cukup menyukai tempat itu, karena tidak begitu dipadati gegap gempita manusia, hanya saja suara riuh yang ditimbulkan dari kendaraan bermotor, karena letaknya yang berada tidak jauh dari permukaan jalan.

Teman-ku kali ini cukup ekspresif, inovatif, dan komunikatif. Ia seorang betina. Ia berperawakan postur badannya tidak terlalu tinggi, namun cukup ideal untuk batas seorang wanita, kulitnya putih, cara berbicaranya yang begitu cekatan, dan sesekali memainkan mimik mukanya seolah sedang menjadi seorang aktris di suatu pentas teater. Aku baru tau dia seorang designer, aku pun sedikit terkejut.

Mata-ku memandangnya, sedangkan tangan kanan-ku mengangkat secangkir kopi beraroma tiramisu, kemudian mempersuakannya dengan bibir.
“sekarang kerja ?, udah berapa lama disana?.” ucap-ku kepada perempuan itu.

“baru, iya baru sampe malang ini.”

“oh gitu, keren ya.” mata-ku mendelik kearah kiri disertai gelengan kepala.

Mulutnya yang sedang terisi makanan perlahan-lahan menggumam dan tangan kirinya mengangkat secangkir kopi, kemudian meminumnya secara bersamaan dengan makanan yang masih berada di mulutnya.

“iya jadi ini hampir sama kaya toko denim gitu, nah sekarang bagian atasnya lagi di renovasi, kaya mau dibuat private room gitu, jadi misalnya  lu kenal sama gua, terus lu bisa pake ruangan itu buat meeting gitu.”
“oh, free?, atau bayar?.”.

“setau gua itu gak bayar, soalnya temen gua Dana kemarin sempet pake tempat itu, tapi gak bayar gitu si, cuma tempatnya belum selesai di renovasi”. Bahunya mengangkat, matanya mengarah kearah bawah, seolah memperkuat  ketidaktahuannya.

Aku hanya ingin mengisi kekosongan waktu, agar lebih produktif. Aku mencoba menyusun benang percakapan yang tak beraturan, mencoba untuk menjadikannya seutas temali yang saling berkaitan. Kita saling bertukar cerita, tentang kalimat cinta, tentang keluarga, dan tentang cita-cita.

Perempuan itu bercita-cita mempunyai sebuah rumah di kota malang yang letaknya di permukiman elit. Dan, kemudian ia berharap, ketika titik akhir dari makna kata sarjana itu sudah tiba. Ia berharap sang ibunda tengah hadir berdiri, merangkul, menyambut, dan berbagi kebahagaian itu bersama dengan suka cita, yang-ku tau ia sangat menyayanginya, dan rumah imipiannya itu untuk sang ibu menikmatinya hari-hari tuanya kelak.
“gua pengen deh punya rumah di jalan Ijen, terus pas gua wisuda nanti, ada nyokap gua di rumah itu, ah pokonya gua senang banget kalo ada nyokap gua disana”, wajahnya bergitu semeringah, matanya bergitu berkilau, ketika berbicara tentang masa depan.

“aminn, ya Allah, amin”,  aku mengangkat kedua tangan-ku, kemudian mengusapnya kearah wajah perlahan-lahan, dan mengatakan kata harapan itu berulang kali.

Kita begitu asik bertukar cerita, walaupun bising suara tetap mnyelimuti masuk perlahan-lahan, saling menghujat satu sama lain, terkadang kita memainkan mimik wajah, ditambah gerakan badan, dan cara berbicara yang  aneh agar terlihat lebih ekspresif. Tetapi, itulah yang membuat suasana kala itu bersahabat.

Seketika hening menyergap, mulutnya perlahan bergumam sepatah kata dan kemudian bertalu-talu. bercerita tentang perasaan yang membuat sikapnya menjadi tak menentu, bingung, kalut, atau mungkin terjerembak dalam ketakutan. Ia tak mampu berlari dalam kesendirian, takut akan kehilangan, takut ketika rasa kasih sayang menolak dirinya. Aku memberika nama sang penjantan itu adalah Tanah, seorang yang teguh untuk selalu memulai cerita cintanya kembali, meyakinkan perempuan itu terus-menerus, meskipun pada akhirnya ia menyadari titik akhir itu. Tetapi, Ia tetap berjuang meyakinkan si penakut yang selalu takut untuk menerima kehidupannya, bila sudah jauh ia beranjak dari ibu kota. “apakah memang jarak dan waktu adalah permasalahannya?,” aku hanya menerka.

Perempuan itu tau benar akan kehidupan sang pejantan, karena cerita cinta itu sudah dimulai enam tahun yang lalu. Entah, apa yang ada dalam logika sang perempuan itu. Ia cukup takut ketika untuk memulai hubungan itu kembali.

Tangan-ku menahan dagu, sedangkan mata-ku terus melihat kearahnya. “apa si rasa yang sangat yang sangat ditakutin?,”. Ucap-ku.

“hemm, ya gua takut dia selalu seperti itu, dia itu ga mau berubah masih sama kaya dulu, ya walaupun ada-lah perubahan itu, Cuma hemm. Gua takut aja,” ucap perempuan itu, tatapannya begitu membingungkan.

“kenapa lu gak mau mencoba untuk memulai cerita itu lagi,”
wajahnya berubah menjadi geram, terbesit ada kebingungan. “aduhh, malang itu udah kaya kota gua banget, gua bisa bergerak kemana pun gua mau. Gua mau sendiri dulu, tanpa ada status apa-apa,” tegasnya dengan sedikit nada meninggi.

Di tempat itu bising telah menjadi teman setia, serak lantunan lagu yang perlahan menepi adalah kepekaan jiwa, lalu-lalang manusia adalah penampakan kehidupan, dan ketakutan adalah kekosongan. Aku termenung hanya mendengar dan meresapi, seorang wanita yang takut akan sendiri, tak mampu beranjak untuk berjalan sendiri. Kenapa manusia takut untuk sendiri?, kenapa manusia takut untuk memulai, kenapa manusia takut tersudut menanti?, kenapa manusia mudah melupakan dan dilupakan?. Dan, semua itu adalah rasa takut. Perasaan yang enggan menerima ruang yang kosong atau ruang yang lapang. Tetapi, ketika kosong kau takut akan hampa, ketika itu kau berpikir hanya kepada benda. Kelapangan adalah konseptual untuk menuju kehidupan yang lebih sempurna.

Ketika ia bercerita tentang cinta.Perempuan itu terlihat bergitu takut. Tatapannya berlikat ketika ditanya,
“kau takut?, ketika ia meninggalkan-mu pergi jauh”. Tegas-ku kepada perempuan itu.

“apakah kau sedih ?, ketika ia tak datang kembali?,”.

Ia bergeming. Tetapi, untuk beberapa menit berlalu ia berucap. Palanya hanya tertunduk, matanya hanya menatap sesaat tak mampu menatap lebih lama, ucapannya sedikit tersendat.

“apakah gua terlihat takut,?,” nadanya begitu pelan.

 Aku hanya termenung. Terkadang kita hidup untuk menghidupkan diri sendiri, agar tetap bisa menjalankan kehidupan yang panjang. Tetapi, disudut pandang lain kita juga membutuhkan hidup antar sesama manusia, menjalankan suatu hubungan cinta untuk menciptakan kehidupan selanjutnya. Tetapi, ketika kita menolak dan bergeming dalam lamunan yang panjang, hanya untuk mengubah karakter manusia, ketika itu kita tak akan bisa menerima perasan itu secara abadi. Manusia memang mempunyai subjektifitas sendiri akan makna cinta, tetapi cinta itu hidup dan tumbuh dalam keadaan yang tak bisa kita ubah.

Malam begitu saja berlarut dan semoga awan di hari itu tidak menjadi kelabu juga. Aku memutuskan untuk pulang. Tetapi, perempuan itu sedang begitu serius melihat telegramnya, mungkin sedang membaca suatu blog atau sedang membaca suatu informasi terkini. Aku memutuskan untuk membayarnya. ketika rampung membayar, aku kembali mengampirinya, dan kemudian mengajaknya untuk pulang.

“ayok udeh pulang, kan bisa bacanye nanti-nanti lagi, lagian juga udah malem,”

“hemm, sebentar-sebentar tapi gua belum bayar,” ucapnya, sambil mata dan tangannya mencari dompet yang terselip di dalam tas.

“tenang udeh gua bayar kok.” Sahut-ku.

“ohh yaudah tunggu dulu gua bayar ke lu aja ya, tunggu-tunggu.” Tangannya dan matanya kembali mencari dompet yang berada di dalam tas.

“gak usah udeh, lu udeh bayar kok pake cerita lu itu,”.  Jawab-ku, sambil terkekeh.

Ia tertawa ketika mendengar gurauan yang-ku lontarkan. Wajahnya terkejut dan memerah, seperti sedang disanjung oleh para prajuritnya, ketika keluar dari singgasana. Aku hanya berhiperbolis belaka. Dan, angin, dingin malam, cahaya bintang, pergerakan awan, dan tanah, serta para makhluk hidup lainnya. Mereka menjadi saksi atas cerita kehidupan setiap manusia.


Waktu adalah Penjaga

Waktu adalah sang penjaga sejati
Kita hanya diberikan dua pilihan
Tenggelam dalam waktu
Atau mengikuti arus waktu
Dan, ketika tersesat dalam hempasan sayap yang tergores luka
Disaat itu tenggelam dalam melodi lirih yang hampa
Dan, dilema adalah sesajen untuk memanggil rasa takut



Categories:

1 komentar: