Irama
kehampaan mulai merasuk perlahan, pelan, dan menyakitkan. Aku memeluk dinginnya
malam ibu kota, malamnya kota Malang yang membuat empat telapak menggigil, dan
membuat mulut selalu meniupkan uap sembari menggosokan kedua telapak tangan. Aku
menangis bersama gegap gempita suara malam.
Kepada siang aku mengadu, kepada senja aku
berbisik, dan kepada malam aku bersenandung. Pelan dan pelan sekali. Kaki-ku
sedang tak mampu berdiri kokoh, mata-ku sedikit lebih sayu, dan raga-ku mulai
melemah, mungkin kurang beristirahat.
Di
sudut kanan lelaki tua sedang mengisap sebatang asap beracun, di sudut kiri
pemuda yang berharap mendapatkan banyak waktu, di depan-ku ada sekumpulan wanita mapan yang sedang tertawa tergelak-gelak, mungkin mereka sedang mengenang masa lalu, lalu di sebelah kanan ada dua pasangan
yang saling merayu.
Aku
duduk berdua dengan sebuah sahabat. Sahabat yang tak berbicara namun,
beraksara. Ia yang mampu menemani kesendirian-ku, mungkin hampir setiap malam menemani
hingga mata dan logika menembus dimensi imaji.
Aku
ingin bercerita tentang kasih sayang, tentang cinta, tentang hubungan, tentang
jarak, tentang jauh, tentang kesendirian, tentang keiklasan. Lagi-lagi cinta. Merenggut
perlahan logika-ku, merusak sel-sel peredaran darah, sekarang memasuki saraf otak. Mengendalikan sistem pergerakan, merusak
pola pikir, dan membuat derita.
Jauh-ku
kembali setelah mengasingkan diri, mencari ketanangan, dan memahami kesalahan. Hanya
untuk bertemu perempuan berkabut. Berharap benang yang terurai kusut bisa
kembali teratur. Sayang, hanya angan-angan yang-ku temui. Aku membawakannya
setangkai mawar yang harum nan kokoh dan sebuah kue kesukaannya. Namun, kita
tak bertemu lagi. Tak mampu membuat cerita lagi. Entah, mungkin ia membutuhkan
kesendirian atau sudah bertemu sang kuda.
Hemm,
aku hanya tak bisa bertahan pada kesendirian, pada kenyataan yang
membingungkan, dan pada derita yang berkelit dalam hati. Sedih, namun hanya
bisa mengadu kepada tuhan dan sajak-sajak ini.
Perempuan
berkabut. Ya-ku berikan nama itu, karena kabut terbentuk dari uap air yang
berasal dari tanah yang lembap, tumbuhan, dan danau, kemudian melayang-layang
di udara. Setelah itu meneteskan butiran-butiran air yang disertai dingin yang
membekukan. Dan pergi begitu saja tanpa kata. Seperti masa lalu yang selalu
manusia mudah ucapkan, “pergi sudah bersama masa lalu”. Tetapi, bagi-ku butuh
proses yang lama untuk keluar dalam zona itu.
0 komentar:
Posting Komentar