Kamis, 22 Agustus 2013




Irama kehampaan mulai merasuk perlahan, pelan, dan menyakitkan. Aku memeluk dinginnya malam ibu kota, malamnya kota Malang yang membuat empat telapak menggigil, dan membuat mulut selalu meniupkan uap sembari menggosokan kedua telapak tangan. Aku menangis bersama gegap gempita suara malam.

 Kepada siang aku mengadu, kepada senja aku berbisik, dan kepada malam aku bersenandung. Pelan dan pelan sekali. Kaki-ku sedang tak mampu berdiri kokoh, mata-ku sedikit lebih sayu, dan raga-ku mulai melemah, mungkin kurang beristirahat. 

Di sudut kanan lelaki tua sedang mengisap sebatang asap beracun, di sudut kiri pemuda yang berharap mendapatkan banyak waktu, di depan-ku ada sekumpulan wanita mapan yang sedang tertawa tergelak-gelak, mungkin mereka sedang mengenang masa lalu, lalu di sebelah kanan ada dua pasangan yang saling merayu. 

Aku duduk berdua dengan sebuah sahabat. Sahabat yang tak berbicara namun, beraksara. Ia yang mampu menemani kesendirian-ku, mungkin hampir setiap malam menemani hingga mata dan logika menembus dimensi imaji. 

Aku ingin bercerita tentang kasih sayang, tentang cinta, tentang hubungan, tentang jarak, tentang jauh, tentang kesendirian, tentang keiklasan. Lagi-lagi cinta. Merenggut perlahan logika-ku, merusak sel-sel peredaran darah, sekarang memasuki saraf  otak. Mengendalikan sistem pergerakan, merusak pola pikir, dan membuat derita. 

Jauh-ku kembali setelah mengasingkan diri, mencari ketanangan, dan memahami kesalahan. Hanya untuk bertemu perempuan berkabut. Berharap benang yang terurai kusut bisa kembali teratur. Sayang, hanya angan-angan yang-ku temui. Aku membawakannya setangkai mawar yang harum nan kokoh dan sebuah kue kesukaannya. Namun, kita tak bertemu lagi. Tak mampu membuat cerita lagi. Entah, mungkin ia membutuhkan kesendirian atau sudah bertemu sang kuda. 

Hemm, aku hanya tak bisa bertahan pada kesendirian, pada kenyataan yang membingungkan, dan pada derita yang berkelit dalam hati. Sedih, namun hanya bisa mengadu kepada tuhan dan sajak-sajak ini. 

Perempuan berkabut. Ya-ku berikan nama itu, karena kabut terbentuk dari uap air yang berasal dari tanah yang lembap, tumbuhan, dan danau, kemudian melayang-layang di udara. Setelah itu meneteskan butiran-butiran air yang disertai dingin yang membekukan. Dan pergi begitu saja tanpa kata. Seperti masa lalu yang selalu manusia mudah ucapkan, “pergi sudah bersama masa lalu”. Tetapi, bagi-ku butuh proses yang lama untuk keluar dalam zona itu.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar