Kamis, 18 Juli 2013


Perempuan Berkabut

Hari ini tampaknya begitu kelabu. Entah mengapa begitu sesak. Merasa ada yang kurang, tetapi sukar untuk diutarakan. Aku melihat hidupku semakin lesuh, mungkin hanya sesaat. Hidup aku gambarkan seperti garis, ada yang bercabang, mungkin lurus, atau berkelit-kelit dan cinta aku analogikan seperti abu rokok. Aku mencoba untuk menghisap sebatang rokok, agar aku bisa melihat abu yang berdiri kokoh. Hemm, sayang angin tak mengijinkannya. Aku mencoba kembali menghisapnya dan mencoba untuk mendirikan abu itu. Hemm, lagi-lagi angin terlalu kencang. Aku teringat ketika dulu ibu berbicara kepadaku.

“Nak, kamu nanti jangan berpacaran dulu ya?”. Tiba-tiba ibu berkata seperti itu. Aku seperti kehilangan akal dan tak bergeming.

“Kenapa begitu bu?”.

“Terkadang memang cinta itu indah, tetapi sukar untuk dimengerti”. Tegas ibu dengan senyuman yang tersimpul rapih.

Ketika itu aku berusia sebelas tahun. Ibu seringkali menekankan agar aku tidak mencintai lawan jenis terlebih dahulu. Entah, mungkin ia mempunyai pola pikir yang dapat aku mengerti pada saat itu. Begitu dan seterusnya. Sama seperti ayah yang kerapkali berkata hal yang serupa.

Hidupku terus berkembang dan tumbuh. Kata-kata ibu dan ayah seakan tidak aku hiraukan begitu saja. Mencicipi harumnya cinta aku pernah dan merasakan paitnya bunga kamboja aku juga pernah. Aku memang tak punya cara khusus untuk mencintai lawan jenisku. Aku selalu menunjukkan seutuhnya yang ada di dalam diriku, mungkin hanya itu yang aku punya untuk membuatnya tetap mengindahkan diriku.

Aku pernah berbicara tentang kehidupan dengan ayah, ketika usiaku belia. Ayah selalu menekankan agar aku menjadi sosok pria yang dewasa, sabar dan teguh berprinsip, begitu pula dengan ibu. Ia tak pernah ragu untuk menaruh mimpinya kepada anaknya untuk menjadi seorang penguasa kelak. Tetapi, segelintir masukan yang sama seperti dulu tetap mewarnai perbincangan kita. Ya cinta dan menahan untuk aku mencintai seseorang.

Kini aku sudah dewasa, aku tau mana yang baik dan buruknya yang harus aku lakukan. Aku mengenalnya cukup lama sekitar satu setengah tahun silam. Berusaha menarik hatinya dan memperlihatkan aku apa adanya. Perempuan itu begitu manis, putih, dan bersahaja. Tidak terlalu mengikuti arus globalisasi atau kehidupan yang hedonis. Perempuan itu aku sebut dia kabut. Putih, sejuk, dan menusuk kenyamanan. Hari itu terus terjadi. Suatu perbincangan yang dari hari ke hari begitu intensif, mungkin hanya larut malam yang memberikan titik dari perbincangan kita. Aku telah merasa nyaman denganya dan kini aku bersama cinta. Butuh waktu yang lama memikat hatinya, mungkin sekitar tujuh bulan lebih untuk mengetahui kebiasaannya  dan latar belakang perempuan itu.

Aku suka pada perempuan itu. Ia begitu indah. Matanya sedikit sayu, kelopaknya agak tertidur, dan cara berbicaranya tidak membosankan, serta kemandiriannya begitu konsisten. Aku menjalani kebersamaan dengannya melewati hari ke hari. Satu tahun lebih aku bersamanya di ibu kota ini. Aku sudah begitu dekat dengan keluarga, nenek, adik, dan ibunya. Aku merasa diberikan suatu tempat yang berbeda di kehidupan mereka. Sulit untuk mendeskripsinya hal-hal yang kita lakukan selama satu tahun silam, karena waktu begitu cepat dan kita melakukan hal yang begitu menyenangkan.

Keluar Kota

Pilihanku untuk kuliah di luar kota merupakan hal yang sudah tersistematis dari Tuhan. Pilihan itu membuatku menganalisis kembali risiko yang akan datang. Sebelumnya, ibu juga menahanku agar tidak pergi ke luar kota, karena alasan yang menurutku rasional. Ya, jelas anak ibu hanya aku yang baru pertama kali meninggalkan rumah untuk berkuliah di luar kota. Kedua kaka-ku keduanya berkuliah di ibu kota. Setelah melakukan proses dialektika yang begitu kelit, akhirnya ibu mengerti alasanku untuk meninggalkan rumah. Hal ini aku juga sampaikan kepada perempuan berkabut itu, mungkin kata “iya” yang terlontar dari mulutnya sedikit berat. Cuma aku meyakinkannya, ketika kita bertemu kelak. Kita berada dengan kehidupan yang lebih baik.

Aku meninggalkan ibu kota yang tanahnya sudahku nikmati beserta airnya. Mencari kehidupan dengan lingkungan yang lebih berpotensi. Pertemuan akhirku dengan perempuan itu, kita akhiri dengan perjanjian yang berisi beberapa kesepakatan. Kami tetap melanjutkan hubungan dengan jarak jauh dan aku memberikannya dua buah boneka panda untuknya agar dapat menemaninya ketika malam membungkus kehidupannya menjadi sepi. Sebuah konsekuensi yang sudah kita pahami bersama untuk hubungan jarak jauh.

Enam bulan sudah aku lewati di kota orang. Aku kembali ke ibu kota setelah libur semester pertama. Aku merasa tidak ada yang berubah pada perempuan itu, ia tetap ayu seperti putri malu. Kami tetap interaktif seperti dulu. Hanya tiga minggu aku di ibu kota, ia juga sedang bekerja agar tidak terlalu merepotkan orang tuanya. Perjuangannya untuk mengubah kondisi keluarga sangat aku dukung penuh. Dengan adanya hal itu, tidak ada waktu banyak aku dengannya. Tetapi, aku selalu mencoba untuk menciptakan kebersamaan yang menyenangkan dengan alas kesederhanaan yang aku punya.
  
Pertemuanku dengan perempuan itu hanya berlangsung sebentar saja, karena aku harus kembali menempuh pendidikan sarjanah. Entah mungkin aku salah begitu sibuk di organisasi, sampai sedikit waktu yang aku punya untuk berkomunikasi dengan dia. Tak seperti dulu lagi. Hubungan itu begitu datar seperti monitor detak jantung yang hanya lurus saja grafiknya. Aku mencoba mencari permasalahan yang ada, memantaunya lewat sosial media. Dia mengatakan “hambar”, hanya itu yang keluar. Aku mencoba memperbaiki komunikasiku agar menjadi lebih baik. Aku lebih banyak menelponnya, lebih cepat membalas isi pesan ketika suara panggilan dari telpon genggam berdering, dan lebih banyak aku bawa ia ke duniaku. Sayang begitu sulit untuk menciptakan suasana yang seperti dulu. Ia tak semanis dulu, sedikit acuh, dan hanya kata-kata itu yang selalu terucap ketika aku sedang bercerita tentang kejadian yang aku alami. Ya “ohh gitu”. Begitu datar tanggapannya kepadaku.



Rumahku tenyata Indah

Setelah aku selalu bergerak dari hari ke hari dan mencari keindahan negaraku, sekitar lima belas hari aku berada di Lombok. Aku memutuskan untuk pulang kerumah, karena ibu rupanya begitu ingin bercerita dan memelukku katanya. Aku tetap berhubungan dengan ibu meski jarak jauh. Sesekali sebelum mata terbujur kaku untuk menembus dimensi imaji. Aku menyempatkan diri untuk menelpon ibu. Begitu pula dengan cinta. Sudah lama aku tak bertemu dengannya sekitar enam bulan lebih, mungkin banyak cerita yang bergulir nantinya.

Ibu kota, ternyata kau tak berubah tetap dengan pemandangannya yang sama. Dengan besi-besi yang tersusun mewah memadati lorong jalan. Semraut, menyesakan, dan mungkin kata itu yang tepat. Aku memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu selama dua hari, sambil berbincang dengan ibu yang begitu menanti pertemuanku kala itu. Aku mencoba untuk mengajak perempuan itu menghirup aroma sejuk dan mencari suasana baru, karena begitu lama kami tak bertemu.
Aku merasa suasana yang dulu tercipta kembali. Suasana yang begitu interaktif. Kami tertawa bersama, sesekali mengkritik cara berpakaian seseorang yang kurang enak dipandang dan kami terkekeh bersama. Aku rindu dengan masa seperti itu. Sekitar pukul 21:00 WIB aku mengantarkan ia menuju rumah. Tak banyak perbincangan yang kami lakukan, entah mungkin ia begitu lelah atau ada sedikit hal yang sukar untuk diucapkannya kepadaku, yang aku ketauhi ia hanya merasa pegal sepanjang perjalanan.

“ta, kenapa diem aja?”

“aku pegel, nih ah ga tau kenapa”, tegasnya dengan suara yang sedikit bernada naik.

“ohh gitu, yaudeh kita beli mobil aja besok”, hahahaha. Ucapku kepadanya sedikit memutar kepalaku untuk menghadapnya sambil tertawa.

Maksudku hanya ingin mengajaknya bercanda untuk sekedar tertawa dengan celotehan yang ringan. Hemm, hal hasil ia tak terbawa dalam larutnya candaku.

Aku telah mengantarkan perempuan itu sampai di depan rumahnya. Ia menawarkan untuk beristirahat sejenak. Aku bertemu dengan nenek dan adiknya. Aku mencium tangan nenek. Banyak obrolan yang aku lakukan dengan sang nenek. Sesekali adiknya meminta untuk diajarkan bermain gitar, namun malam sudah semakin larut. Aku memberikan tawaran kepadanya untuk keesokan harinya.

“oke besok aja ya ki, aku pasti ajarin kamu”. Dengan tangan yang mengelus-elus kepalanya. Memastikan agar ia mau menerima tawaran itu. Tiba-tiba perempuan itu menyahut seruanku.

“engga, nanti aja kesininya kalo aku udah selesai uas aja”. Tegasnya dengan tatapan yang menunduk seolah sedang begitu serius membaca sebuah majalan fashion. Aku mencoba untuk mengajaknya berdialog sekedar berbincang-bincang sebelum aku berpamitan pulang.

“ta, ayok ngobrol dong. Cerita apa aja selama enam bulan ini”. Kataku mencoba untuk merangkulnya ke dalam perbincangan.

“nggak ah, aku ngantuk. Lagi juga ga ada cerita apa-apa”. Tegasnya, dengan mata yang merujuk kembali ke majalah yang sedang ia pegang.

“ohh gitu ya”

Tak banyak yang bisa aku katakan lagi, mungkin perempuan itu sedang datang bulan tampak begitu buas atau sedang lelah. Aku mencoba mengerti keadaan itu. Aku memutuskan untuk ke kamar mandi sekitar lima menit. Ketika aku kembali perempuan itu sedang tepejam matanya di atas kursi. Ada neneknya dan adiknya disana. Aku diajak untuk berbincang kembali oleh sang nenek. Aku mencoba untuk membangunkan perempuan itu. Perempuan itu berkata
“apa si, aku ngantuk nih. Kalo mau pulang-pulang aja”, tegasnya dengan nada sedikit tidak mengenakan, sedangkan tangannya mencoba mengucek mata yang begitu merah.
“ohh yaudah aku pamit pulang, nek aku pulang ya. soalnya juga udah malam. Biar dia juga tidur, mungkin ia sedang lelah”. Aku mencoba berpamitan dengan neneknya dan bersalaman.

Aku membuka pintu rumah yang teralisnya begitu panjang, mencoba menarikanya. dan menutupnya kembali. Aku hanya mendengar kata “hati-hati ya di jalan”. Begitu suaranya sedikit sayu. Hubunganku dengan perempuan itu sudah berlangsung dua tahun lebih, tetapi hari itu tampaknya mencapai klimaks.

Siang itu ia ingin pergi ke kampus untuk belajar bersama dengan teman-temannya. Ia sempat menghubunginku dan aku memberinya waktu agar ia bisa belajar lebih tenang. Entah, tak ada kabar lagi hingga kesokan harinya. Aku mencoba memantau sosial media. Hemm, ternyata dia berada di suatu tempat dan tak memberikan kabar kepadaku. Aku tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena aku pernah melakukannya. Aku mencoba untuk memahami. Tetapi, hingga tiga hari tak ada kabar darinya. Aku mencoba untuk memulai percakapan itu dan menanyakan apa yang sedang terjadi padanya, serta mencoba menyelipkan kata tentang hubungan itu yang begitu datar.

“hai, apa kabar?, kenapa jadi kaya gini ya?”. Coba dicertain dong aku mau tau?”, mengirimkan kata itu melewati pesan selulerku.

“sebenernya ada yang mau aku omongin, Cuma aku tahan-tahan”. Telpon genggamku berkontraksi dan mendapat balasan dari perempuan itu.

Tak banyak aku berpikir, aku langsung menelponnya. Aku begitu penasaran dengan keadaan yang terjadi. Aku merasa begitu baik-baik saja tak terjadi sebuah masalah yang besar.

“ya hallo assalamualikum”

“waaikumsalam”

“jadi bagaimana ini, mungkin kamu bisa certain”, ucapku dengan menghelakan napas.

“ya aku merasa hubungan ini sudah semakin hambar, aku jenuh seperti ini. Aku ga bisa buat berhubungan jauh”. Jawabnya dengan suara yang begitu lembut.

Seketika aku terdiam dan tercengang. Kata-kata itu seakan terus bersuara, kembali berputar, dan semakin cepat. Aku mencoba untuk berdiam selama beberapa detik. Sedikit sesak. Aku mencoba mengambil segelas air putih untuk menenangkan.

“kok bisa ya?,”. tegasku dengan nada tidak membentak. Aku mencoba membalasnya dengan lembut juga.

“iya perasaan ini aku rasain udah dari bulan-bulan lalu”.

Aku terdiam kembali semakin sulit berpikir. Entah, mungkin begitu kelit suasana hati dan otak. Aku mencoba untuk mengingatnya kembali. Dulu ia bukan perempuan yang begitu lugas mengatakan kata-kata sakral ini, begitu pula dengan aku seusaha mungkin kami menjauhkan kata-kata itu. Aku mencoba menerka apa yang membuatnya begitu yakin dengan keputusan itu, seperti ada manusia yang mendoktrin dengan paham ortodoksnya yang secara konstan merasuk perlahan-lahan. Memengaruhi sel otaknya dan bekerja memasuki hati perempuan itu. Mungkin ia sudah menemukan sebuah titik nyaman yang mampu memberikannya ketenangan baru, kesepahaman, dan orang itu mungkin tau apa yang dibutuhkan perempuan itu. Hemm ini hanya utopisku yang mencoba mengayuh lebih jauh dari batas normal manusia berprasangka.

“kamunya bagaimana ?”, perempuan itu memberikan pertanyaan.
Aku tidak bisa mengambil sebuah kesimpulan yang bukan kemauanku, aku memilih untuk melontarkan pertanyaan itu kembali.

“kamunya ya bagimana?”

Hemm, dan kami terdiam. Sedikit aku berubah menjadi melankolis. Aku berpikir hanya dengan lewat telpon. Sebuah perjalanan di akhiri dengan sederhana. Ia tak ada usaha untuk bertemu denganku ketika berbicara hal penting seperti itu. Aku mencoba berpikir kembali dan berkaca dalam bingkai kenyataan, karena hidup berhubungan dengan konsep realitas, ya kenyataan. Aku bukan hidup dalam ruang imaji, ruang angan-angan yang berpikir dengan perasaan. Aku mencoba meraba dan memasuki dimensi otak, mengulas kembali pilihan yang membuat berat geraham mulut ketika mengucap.

“kalo kamu maunya kaya gitu, yaudah mau gimana lagi?”. Mulutku seketika mengucap begitu teratur, sedangkan perasaan bertahan di suatu titik kehampaan.

Aku mencoba mengakhiri dialog itu, mengakhirinya mungkin lebih baik. Setelah itu kita hanya menjadi sebongkah manusia yang hanya cukup mengenal dan mengetahui. Aku melihat perempuan itu berbeda, tak seperti perempuan pada umumnya yang ketika mengambil suatu keputusan yang begitu berkelit mereka dilema, kemudian berkicau dalam sosial media berharap mendapatkan empati atau sekedar simpati dari manusia lainnya. Tetapi, perempuan ini berbeda begitu kuat dan seakan ia sudah mencapai kedewasaan yang matang.

Aku teringat ucapan ibu dan ayah beberapa tahun silam. Ketika beliau melarangku untuk memahami cinta, mungkin hal seperti ini yang ingin ia sampaikan, dan aku memilih untuk mendapatkan cerita itu sendiri. Aku menarik benang merah, mungkin cinta tercipta untuk mereka yang bruntung. “beruntung?”, ya beruntung karena cinta memilih orang yang tepat untuk menjalani ketulusan dan memahami apa itu arti sebuah cerita yang berubah menjadi kalimat cinta.


Kaset Kusam



Sedikit membuat memar dalam nurani

Ketika mekar, bunganya tak mewangi lagi

Lupa ketika rembulan mengintimi belantik

Ketika hujan mencumbui ladang padi



Hanya dengan keresahan

Berhenti dalam sebuah lamunan panjang

Lupa ketika banyu mengalir di padang tandus

Lupa ketika ego dibungkam rapat oleh hati



Aku bergeming sejenak

Ketika temaram ibu kota begitu gemerlap

Mengendus kembali, sesekali menghelakan napas

Sebuah frekuensi yang sudah tersusun masak Kala itu

Luluh







Categories:

0 komentar:

Posting Komentar