Perempuan
Berkabut
Hari
ini tampaknya begitu kelabu. Entah mengapa begitu sesak. Merasa ada yang kurang,
tetapi sukar untuk diutarakan. Aku melihat hidupku semakin lesuh, mungkin hanya
sesaat. Hidup aku gambarkan
seperti garis, ada yang bercabang, mungkin lurus, atau berkelit-kelit dan cinta
aku analogikan seperti abu rokok. Aku mencoba untuk menghisap sebatang rokok, agar
aku bisa melihat abu yang berdiri kokoh. Hemm, sayang angin tak mengijinkannya.
Aku mencoba kembali menghisapnya dan mencoba untuk mendirikan abu itu. Hemm,
lagi-lagi angin terlalu kencang. Aku teringat ketika dulu ibu berbicara
kepadaku.
“Nak,
kamu nanti jangan berpacaran dulu ya?”. Tiba-tiba ibu berkata seperti itu. Aku
seperti kehilangan akal dan tak bergeming.
“Kenapa
begitu bu?”.
“Terkadang
memang cinta itu indah, tetapi sukar untuk dimengerti”. Tegas ibu dengan
senyuman yang tersimpul rapih.
Ketika
itu aku berusia sebelas tahun. Ibu seringkali menekankan agar aku tidak
mencintai lawan jenis terlebih dahulu. Entah, mungkin ia mempunyai pola pikir
yang dapat aku mengerti pada saat itu. Begitu dan seterusnya. Sama seperti ayah
yang kerapkali berkata hal yang serupa.
Hidupku
terus berkembang dan tumbuh. Kata-kata ibu dan ayah seakan tidak aku hiraukan begitu
saja. Mencicipi harumnya cinta aku pernah dan merasakan paitnya bunga kamboja
aku juga pernah. Aku memang tak punya cara khusus untuk mencintai lawan
jenisku. Aku selalu menunjukkan seutuhnya yang ada di dalam diriku, mungkin
hanya itu yang aku punya untuk membuatnya tetap mengindahkan diriku.
Aku
pernah berbicara tentang kehidupan dengan ayah, ketika usiaku belia. Ayah
selalu menekankan agar aku menjadi sosok pria yang dewasa, sabar dan teguh
berprinsip, begitu pula dengan ibu. Ia tak pernah ragu untuk menaruh mimpinya
kepada anaknya untuk menjadi seorang penguasa kelak. Tetapi, segelintir
masukan yang sama seperti dulu tetap mewarnai perbincangan kita. Ya cinta dan
menahan untuk aku mencintai seseorang.
Kini
aku sudah dewasa, aku tau mana yang baik dan buruknya yang harus aku lakukan.
Aku mengenalnya cukup lama sekitar satu setengah tahun silam. Berusaha menarik
hatinya dan memperlihatkan aku apa adanya. Perempuan itu begitu manis, putih,
dan bersahaja. Tidak terlalu mengikuti arus globalisasi atau kehidupan yang
hedonis. Perempuan itu aku sebut dia kabut. Putih, sejuk, dan menusuk kenyamanan.
Hari itu terus terjadi. Suatu perbincangan yang dari hari ke hari begitu
intensif, mungkin hanya larut malam yang memberikan titik dari perbincangan
kita. Aku telah merasa nyaman denganya dan kini aku bersama cinta. Butuh waktu
yang lama memikat hatinya, mungkin sekitar tujuh bulan lebih untuk mengetahui kebiasaannya dan latar belakang perempuan itu.
Aku suka pada perempuan itu. Ia begitu indah. Matanya sedikit sayu, kelopaknya agak tertidur, dan cara berbicaranya tidak membosankan, serta kemandiriannya begitu konsisten. Aku menjalani kebersamaan dengannya melewati hari ke hari. Satu tahun lebih aku bersamanya di ibu kota ini. Aku sudah begitu dekat dengan keluarga, nenek, adik, dan ibunya. Aku merasa diberikan suatu tempat yang berbeda di kehidupan mereka. Sulit untuk mendeskripsinya hal-hal yang kita lakukan selama satu tahun silam, karena waktu begitu cepat dan kita melakukan hal yang begitu menyenangkan.
Keluar
Kota
Pilihanku
untuk kuliah di luar kota merupakan hal yang sudah tersistematis dari Tuhan.
Pilihan itu membuatku menganalisis kembali risiko yang
akan datang. Sebelumnya, ibu juga menahanku agar tidak pergi ke luar kota,
karena alasan yang menurutku rasional. Ya, jelas anak ibu hanya aku yang baru
pertama kali meninggalkan rumah untuk berkuliah di luar kota. Kedua kaka-ku
keduanya berkuliah di ibu kota. Setelah melakukan proses dialektika yang begitu
kelit, akhirnya ibu mengerti alasanku untuk meninggalkan rumah. Hal ini aku
juga sampaikan kepada perempuan berkabut itu, mungkin kata “iya” yang
terlontar dari mulutnya sedikit berat. Cuma aku meyakinkannya, ketika kita
bertemu kelak. Kita berada dengan kehidupan yang lebih baik.
Aku
meninggalkan ibu kota yang tanahnya sudahku nikmati beserta airnya. Mencari
kehidupan dengan lingkungan yang lebih berpotensi. Pertemuan akhirku dengan
perempuan itu, kita akhiri dengan perjanjian yang berisi beberapa kesepakatan.
Kami tetap melanjutkan hubungan dengan jarak jauh dan aku memberikannya dua
buah boneka panda untuknya agar dapat menemaninya ketika malam membungkus
kehidupannya menjadi sepi. Sebuah konsekuensi yang sudah kita pahami bersama
untuk hubungan jarak jauh.
Enam
bulan sudah aku lewati di kota orang. Aku kembali ke ibu kota setelah libur
semester pertama. Aku merasa tidak ada yang berubah pada perempuan itu, ia tetap ayu
seperti putri malu. Kami tetap interaktif seperti dulu. Hanya tiga minggu aku
di ibu kota, ia juga sedang bekerja agar tidak terlalu merepotkan orang tuanya.
Perjuangannya untuk mengubah kondisi keluarga sangat aku dukung penuh. Dengan
adanya hal itu, tidak ada waktu banyak aku dengannya. Tetapi, aku selalu
mencoba untuk menciptakan kebersamaan yang menyenangkan dengan alas
kesederhanaan yang aku punya.
Pertemuanku
dengan perempuan itu hanya berlangsung sebentar saja, karena aku harus kembali menempuh
pendidikan sarjanah. Entah mungkin aku salah begitu sibuk di organisasi,
sampai sedikit waktu yang aku punya untuk berkomunikasi dengan dia. Tak seperti
dulu lagi. Hubungan itu begitu datar seperti monitor detak jantung yang hanya lurus
saja grafiknya. Aku mencoba mencari permasalahan yang ada, memantaunya lewat
sosial media. Dia mengatakan “hambar”, hanya itu yang keluar. Aku mencoba
memperbaiki komunikasiku agar menjadi lebih baik. Aku lebih banyak menelponnya,
lebih cepat membalas isi pesan ketika suara panggilan dari telpon genggam
berdering, dan lebih banyak aku bawa ia ke duniaku. Sayang begitu sulit untuk
menciptakan suasana yang seperti dulu. Ia tak semanis dulu, sedikit acuh, dan
hanya kata-kata itu yang selalu terucap ketika aku sedang bercerita tentang
kejadian yang aku alami. Ya “ohh gitu”. Begitu datar tanggapannya kepadaku.
Rumahku
tenyata Indah
Setelah
aku selalu bergerak dari hari ke hari dan mencari keindahan negaraku, sekitar
lima belas hari aku berada di Lombok. Aku memutuskan untuk pulang kerumah,
karena ibu rupanya begitu ingin bercerita dan memelukku katanya. Aku tetap
berhubungan dengan ibu meski jarak jauh. Sesekali sebelum mata terbujur kaku
untuk menembus dimensi imaji. Aku menyempatkan diri untuk menelpon ibu. Begitu
pula dengan cinta. Sudah lama aku tak bertemu dengannya sekitar enam bulan
lebih, mungkin banyak cerita yang bergulir nantinya.
Ibu
kota, ternyata kau tak berubah tetap dengan pemandangannya yang sama. Dengan
besi-besi yang tersusun mewah memadati lorong jalan. Semraut, menyesakan, dan
mungkin kata itu yang tepat. Aku memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu
selama dua hari, sambil berbincang dengan ibu yang begitu menanti pertemuanku
kala itu. Aku mencoba untuk mengajak perempuan itu menghirup aroma sejuk dan mencari
suasana baru, karena begitu lama kami tak bertemu.
Aku
merasa suasana yang dulu tercipta kembali. Suasana yang begitu interaktif. Kami
tertawa bersama, sesekali mengkritik cara berpakaian seseorang yang kurang enak
dipandang dan kami terkekeh bersama. Aku rindu dengan masa seperti itu. Sekitar
pukul 21:00 WIB aku mengantarkan ia menuju rumah. Tak banyak perbincangan yang
kami lakukan, entah mungkin ia begitu lelah atau ada sedikit hal yang sukar
untuk diucapkannya kepadaku, yang aku ketauhi ia hanya merasa pegal sepanjang
perjalanan.
“ta,
kenapa diem aja?”
“aku
pegel, nih ah ga tau kenapa”, tegasnya dengan suara yang sedikit bernada naik.
“ohh
gitu, yaudeh kita beli mobil aja besok”, hahahaha. Ucapku kepadanya sedikit
memutar kepalaku untuk menghadapnya sambil tertawa.
Maksudku
hanya ingin mengajaknya bercanda untuk sekedar tertawa dengan celotehan yang
ringan. Hemm, hal hasil ia tak terbawa dalam larutnya candaku.
Aku
telah mengantarkan perempuan itu sampai di depan rumahnya. Ia menawarkan untuk
beristirahat sejenak. Aku bertemu dengan nenek dan adiknya. Aku mencium tangan
nenek. Banyak obrolan yang aku lakukan dengan sang nenek. Sesekali adiknya
meminta untuk diajarkan bermain gitar, namun malam sudah semakin larut. Aku
memberikan tawaran kepadanya untuk keesokan harinya.
“oke
besok aja ya ki, aku pasti ajarin kamu”. Dengan tangan yang mengelus-elus
kepalanya. Memastikan agar ia mau menerima tawaran itu. Tiba-tiba perempuan itu
menyahut seruanku.
“engga,
nanti aja kesininya kalo aku udah selesai uas aja”. Tegasnya dengan tatapan
yang menunduk seolah sedang begitu serius membaca sebuah majalan fashion. Aku mencoba untuk mengajaknya
berdialog sekedar berbincang-bincang sebelum aku berpamitan pulang.
“ta,
ayok ngobrol dong. Cerita apa aja selama enam bulan ini”. Kataku mencoba untuk
merangkulnya ke dalam perbincangan.
“nggak
ah, aku ngantuk. Lagi juga ga ada cerita apa-apa”. Tegasnya, dengan mata yang
merujuk kembali ke majalah yang sedang ia pegang.
“ohh
gitu ya”
Tak
banyak yang bisa aku katakan lagi, mungkin perempuan itu sedang datang bulan
tampak begitu buas atau sedang lelah. Aku mencoba mengerti keadaan itu. Aku
memutuskan untuk ke kamar mandi sekitar lima menit. Ketika aku kembali
perempuan itu sedang tepejam matanya di atas kursi. Ada neneknya dan adiknya
disana. Aku diajak untuk berbincang kembali oleh sang nenek. Aku mencoba untuk
membangunkan perempuan itu. Perempuan itu berkata
“apa
si, aku ngantuk nih. Kalo mau pulang-pulang aja”, tegasnya dengan nada sedikit
tidak mengenakan, sedangkan tangannya mencoba mengucek mata yang begitu merah.
“ohh
yaudah aku pamit pulang, nek aku pulang ya. soalnya juga udah malam. Biar dia
juga tidur, mungkin ia sedang lelah”. Aku mencoba berpamitan dengan neneknya
dan bersalaman.
Aku membuka
pintu rumah yang teralisnya begitu panjang, mencoba menarikanya. dan menutupnya
kembali. Aku hanya mendengar kata “hati-hati ya di jalan”. Begitu suaranya
sedikit sayu. Hubunganku dengan perempuan itu sudah berlangsung dua tahun
lebih, tetapi hari itu tampaknya mencapai klimaks.
Siang
itu ia ingin pergi ke kampus untuk belajar bersama dengan teman-temannya. Ia
sempat menghubunginku dan aku memberinya waktu agar ia bisa belajar lebih
tenang. Entah, tak ada kabar lagi hingga kesokan harinya. Aku mencoba memantau
sosial media. Hemm, ternyata dia berada di suatu tempat dan tak memberikan
kabar kepadaku. Aku tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena aku pernah
melakukannya. Aku mencoba untuk memahami. Tetapi, hingga tiga hari tak ada
kabar darinya. Aku mencoba untuk memulai percakapan itu dan menanyakan apa yang
sedang terjadi padanya, serta mencoba menyelipkan kata tentang hubungan itu
yang begitu datar.
“hai,
apa kabar?, kenapa jadi kaya gini ya?”. Coba dicertain dong aku mau tau?”,
mengirimkan kata itu melewati pesan selulerku.
“sebenernya
ada yang mau aku omongin, Cuma aku tahan-tahan”. Telpon genggamku berkontraksi
dan mendapat balasan dari perempuan itu.
Tak
banyak aku berpikir, aku langsung menelponnya. Aku begitu penasaran dengan
keadaan yang terjadi. Aku merasa begitu baik-baik saja tak terjadi sebuah
masalah yang besar.
“ya
hallo assalamualikum”
“waaikumsalam”
“jadi
bagaimana ini, mungkin kamu bisa certain”, ucapku dengan menghelakan napas.
“ya aku
merasa hubungan ini sudah semakin hambar, aku jenuh seperti ini. Aku ga bisa
buat berhubungan jauh”. Jawabnya dengan suara yang begitu lembut.
Seketika
aku terdiam dan tercengang. Kata-kata itu seakan terus bersuara, kembali
berputar, dan semakin cepat. Aku mencoba untuk berdiam selama beberapa detik. Sedikit
sesak. Aku mencoba mengambil segelas air putih untuk menenangkan.
“kok
bisa ya?,”. tegasku dengan nada tidak membentak. Aku mencoba membalasnya dengan
lembut juga.
“iya
perasaan ini aku rasain udah dari bulan-bulan lalu”.
Aku
terdiam kembali semakin sulit berpikir. Entah, mungkin begitu kelit suasana
hati dan otak. Aku mencoba untuk mengingatnya kembali. Dulu ia bukan perempuan
yang begitu lugas mengatakan kata-kata sakral ini, begitu pula dengan aku
seusaha mungkin kami menjauhkan kata-kata itu. Aku mencoba menerka apa yang
membuatnya begitu yakin dengan keputusan itu, seperti ada manusia yang
mendoktrin dengan paham ortodoksnya yang secara konstan merasuk perlahan-lahan.
Memengaruhi sel otaknya dan bekerja memasuki hati perempuan itu. Mungkin ia
sudah menemukan sebuah titik nyaman yang mampu memberikannya ketenangan baru,
kesepahaman, dan orang itu mungkin tau apa yang dibutuhkan perempuan itu. Hemm
ini hanya utopisku yang mencoba mengayuh lebih jauh dari batas normal manusia
berprasangka.
“kamunya
bagaimana ?”, perempuan itu memberikan pertanyaan.
Aku
tidak bisa mengambil sebuah kesimpulan yang bukan kemauanku, aku memilih untuk
melontarkan pertanyaan itu kembali.
“kamunya
ya bagimana?”
Hemm,
dan kami terdiam. Sedikit aku berubah menjadi melankolis. Aku berpikir hanya
dengan lewat telpon. Sebuah perjalanan di akhiri dengan sederhana. Ia tak ada
usaha untuk bertemu denganku ketika berbicara hal penting seperti itu. Aku
mencoba berpikir kembali dan berkaca dalam bingkai kenyataan, karena hidup
berhubungan dengan konsep realitas, ya kenyataan. Aku bukan hidup dalam ruang
imaji, ruang angan-angan yang berpikir dengan perasaan. Aku mencoba meraba dan
memasuki dimensi otak, mengulas kembali pilihan yang membuat berat geraham
mulut ketika mengucap.
“kalo
kamu maunya kaya gitu, yaudah mau gimana lagi?”. Mulutku seketika mengucap
begitu teratur, sedangkan perasaan bertahan di suatu titik kehampaan.
Aku
mencoba mengakhiri dialog itu, mengakhirinya mungkin lebih baik. Setelah itu
kita hanya menjadi sebongkah manusia yang hanya cukup mengenal dan mengetahui.
Aku melihat perempuan itu berbeda, tak seperti perempuan pada umumnya yang
ketika mengambil suatu keputusan yang begitu berkelit mereka dilema, kemudian
berkicau dalam sosial media berharap mendapatkan empati atau sekedar simpati
dari manusia lainnya. Tetapi, perempuan ini berbeda begitu kuat dan seakan ia
sudah mencapai kedewasaan yang matang.
Aku
teringat ucapan ibu dan ayah beberapa tahun silam. Ketika beliau melarangku
untuk memahami cinta, mungkin hal seperti ini yang ingin ia sampaikan, dan aku
memilih untuk mendapatkan cerita itu sendiri. Aku menarik benang merah, mungkin
cinta tercipta untuk mereka yang bruntung. “beruntung?”, ya beruntung karena
cinta memilih orang yang tepat untuk menjalani ketulusan dan memahami apa itu
arti sebuah cerita yang berubah menjadi kalimat cinta.
Kaset
Kusam
Sedikit membuat memar dalam nurani
Ketika mekar, bunganya tak mewangi lagi
Lupa ketika rembulan mengintimi belantik
Ketika hujan mencumbui ladang padi
Hanya dengan keresahan
Berhenti dalam sebuah lamunan panjang
Lupa ketika banyu mengalir di padang tandus
Lupa ketika ego dibungkam rapat oleh hati
Aku bergeming sejenak
Ketika temaram ibu kota begitu gemerlap
Mengendus kembali, sesekali menghelakan
napas
Sebuah frekuensi yang sudah tersusun masak Kala
itu
Luluh
0 komentar:
Posting Komentar