Hidup
untuk hari ini, kemudian melakukan hal yang bermanfaat. Ketika aku terus
bergerak dan bergerak. Mengulas, mencari, dan menikmati detik kehidupan. Selalu
aku menemukan hal yang baru. Terkadang membekas dalam nurani dan ada juga yang ku
benci. Manusia dan makhluk lainnya. Mereka hidup bersama, sejajar, dan tidak
dibeda-bedakan, prespektif ku. Malam itu aku mencoba untuk menikmati keadaan yang
berbeda. Memilih suatu tempat untuk menganalisis keadaan manusia di bumi. Aku
cukup lama berada di tempat itu. Tempat dimana cerita ini dimulai. Kehidupan ku
lebih banyak tercipta di malam hari. Entah, aku menyukai suasasan seperti itu.
Ketika temaram menyelimuti ibu kota, sungguh aku menyukai malam. Banyak cahaya
jingga di malam, aku suka keadaan itu.
Aku menyukai kesendirian, karena aku
dapat memahami diriku sendiri, dan memahami sekelilingku. Bukan karena aku
sedang bersedih, tetapi karena aku ingin bertemu manusia baru. Malam itu aku
berada di dekat sebuah bangunan yang berbentuk seperti cawang dan terdapat pancasuara disana. Aku menikmati hidup dengan
caraku. Mencari dan menemukan perbincangan dengan manusia yang baru.
Lamunan
itu tersadar seketika. Ketika tiga manusia berdiri di depanku. Membawa dua
bongkah kayu yang tersusun rapih yang dihiasi benang nilon dan ritem. Mereka
mengajak ku untuk bersenandung bersama, sembari menghirup biji-biji kopi yang sudah
masak. Salah satu dari mereka mengulurkan tangan, mungkin berjabat tangan
menciptakan rasa kidmat di antara kita. Aku lupa mengingat namanya. Ia
mengatakan
“bang
kenape di tempat ini ?, emangnye sering dimari ?”. Ujar lelaki bersapatu boots
itu, sedangkan kedua temannya tetap mencoba memberikan irama dalam percakapan
kita berdua.
“oh
ini dimari, Cuma nikmatin malam aje”. Jawabku sambil terkekeh
“sering
kesini bang ?”
“biasa
aje si. ga rutin, mungkin pas lagi suntuk aja bang”. Dengan Senyum yang ranum
mewarnai perbincangan kala itu.
Bumi terus berotasi. Percakapan kita
semakin menjadi liar. Aku memang tak membatasi harus ada fokus pembicaraan,
mungkin hal itu yang membuat kita semakin dekat. aku memperhatikannya cara
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar. Ia dan kelompoknya seperti kaum
intelektual. Ya, berenergi, menggebuh-gebuh, dan aku suka cara mereka
berdialektika. Aku rasa mereka bukan manusia yang sembarang. Hanya saja, sedang
berpura-pura.
Seketika terdengar alunan nada yang
tersusun rapih, mungkin country. Begitu
asiknya jemari itu menari-nari, liar. Aku cukup mengenal lagu itu, ya Country Road. Lagu yang diciptakan oleh
John Denver. Aku mencoba memainkan nada-nada itu lewat rongga-rongga mulut
kecil ini, sangat aku nikmati dengan mata yang terpecam, tangan kanan ku
bersetubuh dengan mulut untuk mencium badan sang racun. Aku cukup menyukai musik
lawas. Membuat keadaan menjadi tentram, aku dapat bergerak memainkan badan ku,
dan sesekali menggelengkan kepala ku.
Pagi telah datangan mencoba memeluk ibu
kota. Tak terasa percakapan itu begitu menyenangkan bersama mereka sang seniman
jalanan. Kini malam sudah dilucuti oleh petang. Aku harus pulang, karena malam
sudah membahagiakanku, untuk bertemu kembali dengan sang petang nanti.
0 komentar:
Posting Komentar