Selasa, 30 Juli 2013


Hidup untuk hari ini, kemudian melakukan hal yang bermanfaat. Ketika aku terus bergerak dan bergerak. Mengulas, mencari, dan menikmati detik kehidupan. Selalu aku menemukan hal yang baru. Terkadang membekas dalam nurani dan ada juga yang ku benci. Manusia dan makhluk lainnya. Mereka hidup bersama, sejajar, dan tidak dibeda-bedakan, prespektif ku. Malam itu aku mencoba untuk menikmati keadaan yang berbeda. Memilih suatu tempat untuk menganalisis keadaan manusia di bumi. Aku cukup lama berada di tempat itu. Tempat dimana cerita ini dimulai. Kehidupan ku lebih banyak tercipta di malam hari. Entah, aku menyukai suasasan seperti itu. Ketika temaram menyelimuti ibu kota, sungguh aku menyukai malam. Banyak cahaya jingga di malam, aku suka keadaan itu. 

          Aku menyukai kesendirian, karena aku dapat memahami diriku sendiri, dan memahami sekelilingku. Bukan karena aku sedang bersedih, tetapi karena aku ingin bertemu manusia baru. Malam itu aku berada di dekat sebuah bangunan yang berbentuk seperti cawang dan terdapat pancasuara disana. Aku menikmati hidup dengan caraku. Mencari dan menemukan perbincangan dengan manusia yang baru. 

Lamunan itu tersadar seketika. Ketika tiga manusia berdiri di depanku. Membawa dua bongkah kayu yang tersusun rapih yang dihiasi benang nilon dan ritem. Mereka mengajak ku untuk bersenandung bersama, sembari menghirup biji-biji kopi yang sudah masak. Salah satu dari mereka mengulurkan tangan, mungkin berjabat tangan menciptakan rasa kidmat di antara kita. Aku lupa mengingat namanya. Ia mengatakan

“bang kenape di tempat ini ?, emangnye sering dimari ?”. Ujar lelaki bersapatu boots itu, sedangkan kedua temannya tetap mencoba memberikan irama dalam percakapan kita berdua.

“oh ini dimari, Cuma nikmatin malam aje”. Jawabku sambil terkekeh

“sering kesini bang ?”

“biasa aje si. ga rutin, mungkin pas lagi suntuk aja bang”. Dengan Senyum yang ranum mewarnai perbincangan kala itu.

          Bumi terus berotasi. Percakapan kita semakin menjadi liar. Aku memang tak membatasi harus ada fokus pembicaraan, mungkin hal itu yang membuat kita semakin dekat. aku memperhatikannya cara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar. Ia dan kelompoknya seperti kaum intelektual. Ya, berenergi, menggebuh-gebuh, dan aku suka cara mereka berdialektika. Aku rasa mereka bukan manusia yang sembarang. Hanya saja, sedang berpura-pura. 

          Seketika terdengar alunan nada yang tersusun rapih, mungkin country. Begitu asiknya jemari itu menari-nari, liar. Aku cukup mengenal lagu itu, ya Country Road. Lagu yang diciptakan oleh John Denver. Aku mencoba memainkan nada-nada itu lewat rongga-rongga mulut kecil ini, sangat aku nikmati dengan mata yang terpecam, tangan kanan ku bersetubuh dengan mulut untuk mencium badan sang racun. Aku cukup menyukai musik lawas. Membuat keadaan menjadi tentram, aku dapat bergerak memainkan badan ku, dan sesekali menggelengkan kepala ku. 

          Pagi telah datangan mencoba memeluk ibu kota. Tak terasa percakapan itu begitu menyenangkan bersama mereka sang seniman jalanan. Kini malam sudah dilucuti oleh petang. Aku harus pulang, karena malam sudah membahagiakanku, untuk bertemu kembali dengan sang petang nanti.
         


Categories:

0 komentar:

Posting Komentar