Terminal Arjosari
Malang begitu bising
suaranya sedikit seirama. Tampak bersaut-sautan dari lorong ke lorong.
Waktu menunjukan pukul 17:30 WIB. Saat itu saya berada di terminal
Arjosari menunggu keberangkatan menuju ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat
(NTB), Mataram. Tangan saya terus melihat ke arah jam tangan yang saya kenakan
saat itu. 18:00 WIB, “Ayo..ayo waktu! lebih lambatlah kau berputar”. Begitu
saya terus menyuarakan isi hati. “Rell dimana si lu? ini si kelewatan ngaret
sampe pukul 18:00 WIB.” Saya begitu kesal dengan Parell, karena bis mulai
berangkat pada pukul 18:00 WIB. Baik kalau gitu saya akan menunggu. Mata saya
terus tertuju pada jam tangan . Waktu dan menit terus berganti serasa begitu
cepat.
Kejengkelan saya
menunggu sedikit terurai, karena saya tidak sendiri kawan-kawan di kota Malang
rela menemani hingga menuju keberangkatan. 18:15 WIB, saya mencoba untuk
menghampiri kondektur bis berharap dapat waktu tambahan.
“Bang boleh tunggu 15
menit lagi ga bang? soalnya temen saya masih di jalan,” pinta saya kepada kondektur.
“Coba ditanya dulu temen
kamu udah dimana? kalau masih di Pujon ya ga bisa 15 menit dong” canda sang
kondektur sambil terkekeh.
“Wah iye si bang kalau
itu mah ditinggal aja bang, hahaha..”
“Oke kalau gitu saya tunggu
sampe 18:45!” jawabnya. Sang kondektur memberikan kelonggaran waktu kepada saya.
“Waduh bang sumpah lu
baik banget, gua sayang sama lu bang,” ucap saya dengan tawa yang disertai
rangkulan tangan kearah bahunya.
Karena percakapan itu
begitu seru di antara kita. Saya sampai lupa berkenalan dengan kondektur
tersebut, beliau berperawakan badan tinggi besar dan rambut gondrong yang
diikat dengan karet. Dio, aryo, dan Fidya kawan saya yang setia menemani
hingga menjelang keberangkatan menuju Mataram. Sosok kawan yang begitu
interaktif, seru, dan bersahabat. Kami bercanda dan tertawa bersama sampai-sampai
orang disekeliling terminal melihat kearah kita.
“Eh Chan, lu yakin
sendiri nih? kalo Parell kagak dateng tetep berangkat lu?” tanya Dio heran.
“Berangkatlah! yakali ga
berangkat. Gua udah beli tiket bis yakali kaga jadi” jawab saya dengan yakin.
“Yaudah yuk-yuk semua
kita baca doa ya, baca dari Al-fatihah, ayok nape angkat tangannya sekarang aje
kita doain, jadi sampe sini kan enak tinggal kita tahlilan aja. Hahahaha…..” celoteh
Dio yang disertai tawa dengan suaranya yang cempreng.
Waktu menujukan pukul
19:00 WIB, hemm lagi-lagi Parell belum juga datang. Kursi-kursi yang tadinya kosong kini mulai ditempati oleh sang pemiliknya.
“Udeh can tinggal aje
sih! Parell udah gede doi juga cowo yaudah ditinggal aje,” sahut aryo dengan
wajah lawas dan muka datarnya. Aryo mempunyai muka yang sulit dijelaskan,
karena memang kontur mukanya sedikit teracak-acak. Dalam hati, saya masih menunggu kedatangannya. Mungkin disisa waktu injure
time seperti ini dia datang, bak seperti film dengan action
slow motion yang sedang berlari-lari mengejar bis dan kemudia saya mencoba
untuk berteriak histeris di dalam bis, “Ayok rell ini pegang tangan gua”.
Hahaha.., itu hanya sekilas cerita bodoh menurut saya. Melihat dari kejauhan
ada seorang Bapak berambut putih dengan rambut yang sudah tak begitu teratur,
tidak terlalu tinggi atau pendek badannya. Bapak itu begitu sibuk dengan
telponnya. Saya mencoba untuk menghampirinya.
“Pak, lagi kenapa pak?"
“Ini loh de, anak saya
perempuan dua orang masih di jalan padahal saya sudah wanti-wanti supaya tidak terlambat”
ucap sang bapak dengan wajah yang gelisah.
“Waduh pak ini pak sama
temen saya juga belom dateng-dateng pak,” jawab saya mengisahkan hal yang sama
terjadi.
“Iya-iya de, kalo anak
bapak cowo sudah saya tinggal de. Biar dia naik bis sendiri” ucap si bapak. Mungkin
sedikit menyindir dan berkat sang bapak itu tekat saya menjadi bulat untuk
meninggal Parell.
“Iya pak saya mah gak
apa-apa pak ditinggal aja, orang temen saya juga ga niat pak,” terang saya.
Kejadian itu
membuat ketiga teman saya, menjadikan bahan untuk bertaruh. Ide ini dicetuskan
oleh Fidya.
“Oke aku taruhan, duluan
mana yang dateng, parell apa anaknya si bapak?” Fidya mencoba mengajak bertaruh.
“Wehhh boleh-boleh
iseng-iseng nunggu dapet rejeki, hahaha.” ucap Dio si kepala botak.
“Gua percaya si, anak
bapaknya yang dateng duluan, lu siape io?” sahut Aryo dengan wajah mengarah ke
Dio.
“Gua juga si yo anak
bapaknya, hahaha...” Dio bercenayang.
“Yaudah goceng aja ya ga
si?" ucap aryo dengan wajah datarnya.
“Yaudah iya
goceng-goceng aja,” jawab Fidya menyepakati taruhan tersebut.
Tiba-tiba dari kejauhan
dua orang anak adam berlari-lari dengan koper yang begitu berat tampaknya.
Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya anak sang bapaklah yang terlebih
dahulu datang. Hampir mirip konsep perfilman, namun mereka tidak sedang
mengejar-ngejar mobil yang sedang berjalan. Sang sopir dan kondektur bertanya kepada
saya “Bagaimana temanmu?” ucap abang berambut gondrong. “Yaudah pak ditinggal
aja ga papa pak” kata saya.
Perjalanan menuju
Mataram
Saya berpamitan dengan
kawan-kawan, kemudian memasuki bis. Setelah kondektur bis mencoba untuk
mengecek kembali, bis pun segera berangkat. Tidak terlalu banyak hal yang saya
lakukan di dalam bis, karena hari sudah semakin larut. Bis berangkat mulai
pukul 19:15 WIB dari kota Malang, kemudian sampai di pelabuhan Ketapang pada
pukul 03:25 WIB pagi hari. Penyebrangan kapal dari ketapang menuju gilimanuk
sekitar satu sampai dua jam. Saya sampai di Pelabuhan Gilimanuk sekitar pukul
05:45 WIB. Bis kemudian berangkat kembali menuju Pelabuhan Padangbai. Saya
sampai di Pelabuhan Padangbai pada pukul 11:25 WIB siang hari, kemudian
menyeberang kembali menuju "Pelabuhan Lembar" waktu tempuh
sekitar empat sampai lima jam lamnya itu juga tergantung iklim. Sampai di
Pelabuhan Lembar sekitar pukul 16:20 WITA sore harinya.
Pelabuhan Lembar keras, bung!
Sesampainya di Pelabuhan Lembar. Berhubung
ada teman sewaktu SMA yang bertempat tinggal di Mataram. Sore itu saya turun
dari kapal, tanpa menunggu terlalu lama kumpulan calo-calo memutari diri
saya.
“De mau kemana de? de mau kemana
de?” tanya sang calo dengan kalimat yang sama berulang-ulang membuat pengang telinga.
“Saya nunggu teman pak.”
“Yaudah naik dulu, naik dulu de”.
Begitu suara dari kumpulan yang memadati.
“Naik kemana si pak, orang saya nunggu teman
saya juga,” jawab saya disertai dorongan dari para calo yang terus memaksa
dan sedikit terjadi benturan fisik. Ini membuat kesal! sontak membuat saya
lebih menekankan nada yang sedikit meninggi.
“Lagi naik kemane si pak, orang
saya nunggu teman saya. Teman saya yang sedang dalam perjalanan jemput saya
pak,” saya menegaskan.
Saya memutuskan untuk memilih
warung kopi sambil menunggu teman saya yang sedang dalam perjalan. Berhasil
keluar dari kerumunan para calo tiket, tetapi ada beberapa calo yang setia
menunggu saya sampai kopi yang saya pesan terhabiskan dengan tuntas.
Kira-kira dua jam lamanya para calo itu berdiri sampai saya dijemput oleh
teman saya. Saya memutuskan untuk segera pergi dari pelabuhan agar tehindar
dari para calo tiket itu, sebelum pergi saya berkata kepada para calo.
“Gua bilang ape, gua nunggu temen
gua dateng lu pada kaga pada percaya si”. ucap saya dengan suara kecil
sedikit jengkel dan berlalu meninggalkan Pelabuhan Lembar.
|
Lombok memang kota yang
sangat bebas menurut saya. Jarang sekali saya melihat polisi di sepanjang
jalan, pertigaan lampu merah, dan tempat-tempat yang menurut rawan. Masyarakat
setempat juga sedikit ugal-ugalan kaya anak punk gitu, yang gokilnya lagi orang
Lombok kayanya ga demen pake helm gitu.
Sesampainya di Mataram
saya memutuskan untuk mampir ke Mapala Fakultas Ekonomi Universitas mataram,
karena saya buta akan arah dan peta pegunungan Rinjani.Oh ya, perjalanan saya
sebenarnya bertujuan untuk bercumbu dengan Gunung Rinjani. Ya gunung tercantik
di Indonesia. Konon merupakan tempat bersemayamnya Dewi Anjani. Dewi yang
sangat ayu dan cantik. Sesampainya di MAPALA FE UNRAM saya langsung
dipersilahkan untuk duduk, lalu sekedar berbincang-bincang dan mencicipi
makanan ringan yang disediakan. Obrolan itu begitu panjang sampai saya terbawa
di dalam pelukan sang gelap.
Gunung Rinjani
Sebelum
berangkat menuju Gunung Rinjani, tentunya saya harus mempersipkan hal-hal yang
sekiranya menjadi kebutuhan untuk pendakian, seperti keperluan logistik untuk
bahan makanan yang saya butuhkan selama empat hari. Belanja keperluan logistik merupakan
hal yang saya suka, karena saya bisa bercengkerama dengan para penduduk
lokal sekaligus mempraktekan prinsip ekonomi. Ya, melakukan nego dengan para
pedagang merupakan hal yang seru buat saya.
Setelah
berbelanja kurang lebih satu jam lamanya, kini selanjutnya melakukan packing.
Dimulai dari tenda, frame, sleeping bag, dan bahan-bahan logistik. Kebetulan
ada timbangan badan yang tergeletak. Saya mencoba untuk menimbang berat carriel
yang akan saya bawa. Waw ini gila, beratnya mencapai 25kg. Hahaha. Jelas berat,
karena barang bawaan ini saya siapkan untuk keperluan dua orang. Pendakian kali
ini saya tidak sendiri. Saya ditemani salah seorang kawan yang berasal dari Mataram dan pendakian ini
merupakan pertama kali untuknya. Oleh sebab itu, saya lebih mengerti kapasitas
dan muatan yang lebih cocok dibawa oleh ia.
Fadli,
sosok kawan pendaki yang bersahabat dan periang, hampir banyak percakapan yang
kami lakukan sepanjang jalan. Mulai dari kenangan semasa kami duduk di bangku
SMA sampai hal-hal yang memalukan untuk dilakukan. Itu semua kami sudah
lakukan. Oh ya, Fadli merupakan adik kelas saya ketika menempuh Sekolah
Menengah Atas di Jakarta kala itu. Perjalanan selanjutnya dimulai pada hari
kedua yaitu tanggal 20 juni 2013. Kami harus menuju Terminal Bertais
menggunakan ojek dengan biaya sepuluh ribu per motor, lalu dilanjutkan dengan
menaiki Engkel dengan biaya sekitar Rp.15.000 untuk tujuan Aikmel. Berikut
perinciaannya:
Mataram-Terminal Bertais: 10.000 rb
Terminal Bertais- Aikmel : 15.000 rb
Aikmel-L300: 20.000 rb
Setelah
kami turun di Aikmel pada sore hari, kami sedikit kesulitan untuk mencari
kendaraan L300 dengan tujuan Desa Sembalun. Beruntung kami bertemu dengan
seorang nenek yang mempunyai tujuan serupa, akhirnya sang nenek memberhentikan
mobil L300 dan mengajak saya untuk menaikinya bersama-sama. Sepanjang jalan
kami berbincang seputar Gunung Rinjani yang begitu memikat hati para pendaki.
Saya begitu percaya diri sebelum menapakan kaki di Pulau Lombok. Saya pun juga
yakin bahwa perjalanan ini akan sangat menyenangkan untuk saya. Maka dari itu
ketakukan, kegelisahan, dan konsekuensi sudah saya perhitungkan dengan matang.
Entah
kenapa hati ini menjadi berdebar dan sedikit gelisah. Di balik keelokan dan
eksotis Gunung Rinjani menyimpan sejuta mistis dan keunikan di dalamnya.
Nenek itu semakin asik bercerita tentang kematian para pendaki dengan warna
mistis yang tetap ada. Ibu itu sedikit membuat mental saya turun,tak lama
percakapan itu. Akhirnya ibu itu turun di pertigaan jalan. Beliau mengatakan
bahwa rumahnya tidak begitu jauh dari pertigaan itu.
| Kakak Pak Darsono, Fadli dan Pak Darsono |
Percakapan
baru pun dimulai dengan sang supir yang bernama pak Darsono. Beliau berkata
“saya sudah tujuh kali menaiki gunung Rinjani dan ternyata memang begitu indah”
ucapnya. “waw tujuh kali pak?. Saya aja baru pertama kalinya ini pak, hahaha”.
Ucap saya dengan tertawa ke arahnya. Pak Darsono sosok yang begitu pemalu.
Bicaranya jarang menatap mata lawannya, mungkin memang sosoknya seperti itu
untuk orang yang baru dikenalnya. Kami bertukar nomer telfon. Beliau secara
sukarela untuk menawarkan kami bermalam, karena gelap memang sudah mendominasi
hari itu. Tawaran itu saya tolak dengan alasan saya tidak mempunyai waktu
terlalu lenggang. Akhirnya beliau memberikan tawaran kembali.
“Gimana
kalau setelah side turun dari gunung, nanti mampir kerumah. Saya bawa ke kebun
Strawberry dan kita bisa memetiknya di sana?” tawar beliau melempar senyum.
“Wah
itu si cakep banget pak, hahaha.., oke nanti saya kabarin ya pak setelah saya
turun,” jawab saya dengan antusias dan rasa senang.
| Saya bersama Pak Darsono dan kakaknya |
Malam
itu begitu dingin rasanya menusuk tulang-belulang yang tidak terbiasa dengan
iklim sebelumnya. Napas saya mengeluarkan uap. Mencoba mengangkat kedua tangan
sambil mencoba untuk meniupnya ke dalam rongga tangan dan menggosoknya
perlahan-lahan. Begitu seterusnya. Pemberhentian itu mengantarkan saya ketempat
pos pendaftaran Taman Nasionak Gunung Rinjani (TNGR). Sang penjaga sedang
tertidur dan terbangun dengan suara saya yang begitu nyaring yang disertai
ayunan tangan terus-menerus mengetuk jendela yang berembun malam itu. Ebi
sang penjaga Pos TNGR namnya. Saya melakukan registrasi, karena
sebagai pendakai saya taat akan peraturan yang berlaku, tidak mau mengambil
resiko dengan cara tidak melakukan pendaftaran. Biaya pendaftaran menurut saya
murang, saya hanya merogoh kocek 2.500 rupiah untuk satu orang pendaki.
Setelah
melakukan pendaftaran saya membuka sleeping bag dan mencoba memejamkan mata.
Berharap sang surya lebih cepat mendominasi sang gelap. Pagi itu pukul 05:00
WITA. Saya memutuskan untuk mengambil sebongkah roti yang sudah mengeras dan
membuat teh manis hangat, fadli saya bangunkan dari tidurnya yang lelap. Pagi
itu itu saya ditemanin oleh bang Ebi, kami banyak berbincang seputar medan yang
ditempun dan mencari tau titik dimana mata air berada disetiap pos
pemberhentian. Lagi-lagi sosok yang begitu murah hati yang saya temui. Saya
diantarkan secara gratis menunu jaluar Bonau. Bukan jalur resmi pendakian,
namun cukup hemat satu jam untuk mencapai pos satu. Perjalanan itu menggunakan motor
dengan kenalpot racing yang berbunyi mengebuh-gebuh,seperti hati saya yang tak
sabar untuk mencium aroma hutan dan wanginya alam liar.
| Jalur Bonau |
Perjalan
itu saya mulai pada pukul 07:30 WITA dan berhenti pada pos satu sekitar lima
belas menit. Kemudian kembali berjalan menuju pos dua, behernti sekitar dua
puluh menit untuk mengambil air. Mata airnya tidak mengalir hanya belupa
tampungan kolam akibat hujan. Perjalan kembali dilanjutkan saya tidak melakukan
pemberhentian di pos tiga, karena memang mengincar waktu untuk mencapai
Palawangan. Melakukan istirahat kembali pada pos empat sekitar lima belas menit
dan kembali berjalan.
7 bukit Penyesalan
Setelah melawati Pos
empat, saya harus bertemu dengan tanjakan yang dinamakan Penyesalan. Sedikit
heran dengan namanya, saya mencoba bertanya dengan penduduk sekitar. Penduduk
yang saya temui ketika pendakian bersama. Mereka merupakan penduduk asli Lombok
Timur yang berada di kecamatan Peringgesela, yaitu Sapri, Jek, Becek, dan Acu.
Sosok yang begitu bersahabat mereka mengaku terbiasa menaiki Gunung Rinjani.
Terlihat dari cara penampilannya mereka hanya menggunakan sandal jepit dan kaos
kaki. Serta Sapri yang menggunakan tas kecil dengan di dalamnya yang berisi
alat pancing, perlatan masak sederhana, dan minyak tanah yang disimpan dalam
botol plastik minum.
Tidak ada kejelasan yang
bisa saya simpulkan tentang filosopi dari “Tanjakan Penyesalan” yang saya tahu
hanya melewati tujuh bukit untuk mencapai Palawangan. Ketika saya bertanya
dengan kawan-kawan Lombok Timur. Mereka hanya berkata bahwa naik menyesal dan
bila ingin kembali turun juga menyesal. Hanya seperti itu yang mereka
katakan untuk para pendaki yang sedang beristirahat di pinggir jalur utama pendakian. Fadli
merasa sudah tidak kuat untuk membawa tasnya. Saya maklumi, karena pendakian
ini pertama kali baginya dengan medan yang begitu menguras tenaga saya mengakui
itu. Sapri mencoba untuk bertukar tas dengan Fadli, karena memang aku juga
tidak bisa membawa tasnya. Pertukaran itu dilakukan dengan alasan tolong-menolong.
Ia ikhlas untuk melakukannya. Saya tau Fadli memang sudah tidak kuat, tetapi
tetap ada perasaan tidak enak kepadanya.
Orang yang baru saya kenal di gunung.
Mereka sangat baik kepada saya. Rela untuk menunnggu saya ketika nafas sudah
tersendat-sendat dan selalu memberikan semangat ketika keringat sudah berkucur
begitu deras. Berulang Sapri menawarkan untuk menukar tas yang saya gunakan,
namun saya menonaknya.
"Saya yakin dan mampu untuk membawa barang bawaan
saya sampai ke titik tertinggi, titik yang menjadikan tempat pencapaian akhir,
dan titik yang mampu membuat saya tersenyum ketika melihat sang surya mencoba
memberikan titik terang di dunia."
Palawangan berarti
pintu gerbang, pintu yang mengahantarkan menuju titik tertinggi Segara Muncar.
Tanjakan penyesalan pun sudah terlewatkan, saya sampai di Palawangan pada pukul
17:30 WITA. Kabut membaluti Palwangan sesekali membawa air asam dan menciptakan
butiran air yang mirip dengan tetasan air hujan. Tanpa banyak cakap saya
mengeluarkan seluruh isi carriel dan segera mendirikan tenda dekat dengan
Cemoro Tunggal, yaitu pohon cemara yang menjadi tempat pemakaman pendaki yang
telah mati. Tenda yang saya dirikan berdekatan dengan kawan-kawan dari Lombok
Timur. Kami melakukan banyak perbincangan pada malam itu sambil menunggu
masakan yang segera matang. Kebaikan kawan-kawan Lombok Timur membuat saya
menjadi lebih dekat dengan segala kesederhanaan yang mereka punya. Bahan-bahan
makanan mentah dan siap saji, saya berikan kepadanya untuk kita nikmati
bersama-sama. Malam itu begitu dingin, namun hangatnya api yang menyala dari
tumpukan kayu kering yang dibuat secara beraturan. Membuat kita terlena akan
syahdunya kebersamaan itu.
Summit Attack Segara
Muncar
![]() |
| Summit Attack |
Pagi itu pukul 02:00
WITA dinginnya Palawanngan membuat segala sendi bergemetar. Sapri membangunkan
saya dari lelapnya tidur dan cita-cita mimpi yang indah. Saya mencoba
membangunkan Fadli. Ia merasa tidak kuat. Kepalanya terasa sangat pusing dan
menggigil kedinginan. Saya ambil kain lebih tebal lagi. Melepaskan sleeping bag
yang saya gunakan. Saya lilitkan agar ia tetap terjaga dalam kehangatan.
Biarkan dia tertidur dan beristirahat lebih lama. Kami mencoba untuk memasak
meskipun dingin membaluti tubuh. Kami berdoa dalam gelapnya malam dan alam yang
begitu lirih. Perjalanan saat itu cukup mengoyak badan, karena angin begitu
kencang menghajar dari segala penjuru. Sesekali mencari nafas dan mengaturnya
kembali. Batas vegetasi kami lewati. Dingin dan bisingnya suara angin menjadi
teman setia menuju titik tertinggi.
Pukul 04:30 WITA. Saya
berhasil menapakan kaki di puncak tertinggi. Ya, Gunung tertinggi ketiga di
Indonesia dengan ketinggian 3726mdpl. Saya berlutut di atas pasir kasar yang
dingin dan tak lupa mengucapkan syukur kepada sang penguasa tata surya zat yang
begitu hebat mengkonstruksikan bumi ini. Begitu indah Gunung Rinjani. Gunung
yang dinobatkan sebagai surganya para pendaki. Sunrise, saya dapat
melihatnya lebih dekat dan lebih jelas.
![]() |
| Sunrise of Rinjani Mountain |
Lelah mengalahkan
segalanya
Hanya satu yang saya
dapatkan
Yaitu
Mengalahkan diri sendiri
Surya begitu jelas di
mata
Pijarannya mencoba untuk
menerobos dinding gelap
Tidak
Tidak ada kata menyerah
Aku senang dengan mereka
Sederhana dan tau akan
arti hidup
Aku merangkulnya
Lebih dekat
Lebih dekat lagi
Satu…
Dua…
Tiga..
Aku abadikan momen itu
Karena aku merasa nyaman
berada disekeliling mu kawan
Kita tertawa
Dan mencoba untuk
menikmati secangkir kopi bersama
Bergiliran mengisap asap
beracun yang hanya tersisa dua batang
Kita lebih tau makna
dari kata memiliki
-21 juni 2013-
![]() |
| Berada di titik 3726mdpl Puncak Gunung Rinjani |
Danau Segara Anak
Pukul 08:30 WITA saya kembali
ke Palawangan. Senang melihat Fadli sudah berdiri di pinggiran tenda. Tampaknya
ia sudah sehat. Saya menceritakan kepadanya sambil memperlihatkan foto yang
sudah saya abadikan dalam kamera. Kami melakukan packing kembali,
karena tujuan selanjutnya yaitu Danau Segara Anak. Mencoba untuk membuat
masakan sederhana dengan hidangan sayur dan buah-buahan. Perjalanan cukup
panjang. Kami sempat terpisah dan saya memimpin perjalanan itu. Saya memilih
jalur kanan karena bertemu dengan pertigaan, jalannya terus menuju lebih dalam.
Namun seperti jalan yang pernah dilewati manusia. Sapri memanggil saya.
“Chan, kita kayanya naik
kembali keatas deh ini bukan jalannya dah. Soalnya jalannya ga turun terus. Ini
kayanya mau kejurang dah,” ucap Sapri.
“Masa sih oke kita
kembali kepertigaan.” ucap saya. Sesekali saya membuka peta. Ternyata memang
jalan yang sebenarnya harus saya ambil adalah jalur kiri. Kami menunggu regu
yang terpisah, memilih jalur kiri untuk kembali memulai perjalanan.
![]() |
| Memancing di Segara Anak |
Sekitar pukul 12:00 WITA
siang hari. Saya sudah sampai di Danau Segara Anak. Sayang terlalu banyak
sampah yang dibuang sembarangan. Banyak yang tidak menjaga ekosistem alam .
Mereka acuh dan masa bodo dengan keadaan alam yang semakin ironis. Di tengah
luasnya permukaan danau, terdapat Gunung yang tengah berdiri kokoh. Gunung itu
dinamakan Anak Dara. Hingga saat ini kondisi gunung terbilang aktif dan suatu
saat masih bisa mengguncang Provensi Nusa Tenggara Barat.
Danau Segara Anak
mempunyai banyak keindahan seperti melimpahnya populasi ikan air tawar. Saya
memang suka memancing, namun karena tidak membawa pancing saya lebih memilih
untuk menemani Bapak Irawan yang tengah asiknya berdiri di atas pecahan-pecahan
batu karang. Hal hasil tidak percuma saya menemaninya, saya di berikan ikan
hasil tangkapannya dengan cara sukarela. Beliau lebih suka menikmati sensasi
memancing ketimbang untuk mengkonsumsinya.
“Saya lebih suka
menikmati sensasi mancing de, daripada saya harus memakannya,” ujar pak
Irawan.
Ikan yang sudah
diberikan ke saya, segara saya bersihkan dan mengoleskannya garam untuk
memasuki tahap pembakaran.
Sore itu begitu tenang
sesekali suara angin menggoyangkan ranting-ranting pohon yang sedang melamun.
Makan sore saya begitu nikmat dengan hidangan ikan bakar dan sambar kecap.
Senja mulai kelabu berganti dengan malam. Saya segera mencari kayu bakar dan
menikmati bulan purnama dengan secangkir kopi hitam khas Lombok. Malam semakin
larut membawa lamunan saya kepada cita-cita esok hari. Mata mulai terpejam yang
ada hanya alunan desir ular dan suara jangkrik yang begitu setia.
Darah?
air panas, ikat segera dengan kain!
Pandangan saya menjadi
kabur, hing… suara itu membuat pengang kuping. Darah mengucur dari kepala. Saya
diam dan mencoba untuk tenang. Agar denyut jantung tetap stabil. Pagi itu saya
memutuskan untuk menelusuri Goa yang terkenal di Gunung Rinjani, yaitu Goa
Putri dan Goa Susu. Perjalanan saya sedikit mengalami kehilangan arah, tadinya
saya mempunyai planning untuk berjalan menuju Goa Susu. Sekitar
pukul 11:00 WITA saya mengalami kehilangan arah yang ada hanya pemandangan
kain-kain putih yang tengah digantung di atas permukaan mulut-mulut goa. Saya
merasa sudah sampai di Goa Susu. Kebetulan penduduk desa setempat sedang
melakukan acara adat sebelum datangnya bulan Ramadhan.
“Pak boleh Tanya pak,
ini goa apa ya pak?” tanya saya kepada bapak kepada adat.
“Ini de namanya Goa
Putri atau balik ke rahim ibu.”
“Oh, kenapa gitu ya pak,
kalo saya boleh tau pak?” tanya saya dengan penasaran.
“Karena goa ini mirip
seperti rahim ibu dan kita di dalam sana mandi. Sebab di dalam sana ada mata
air. Sekalian juga kita membersihkan diri.” tutur sang kepala adat dengan nada
yang begitu lemah lembut.
“Ohh gitu ya pak,
makasih banyak pak.”
“Iya de sama-sama. Kalo
side mau masuk bisa, tapi berempat-empat ya,” ajak beliau, dengan tangan yang
mengarah ke dalam goa.
“Waduh pak. Wes saya di
sini aja pak. Saya takut ga berani masuk pak,” jawab saya disertai senyuman
lebar.
“Yaudah kalo gitu. Bapak
mandi dulu ya di dalam.” ucap sang kepala adat.
“Sok atuh pak.
Silahkan mandi dulu pak.”
Saya lebih memilih
berada di luar goa bersama Fadli, karena kita berdua tidak ingin mencoba.
“Lau kaga masuk bray ke
dalem?” tanya saya ke pada Fadli.
“Nahan dah gua!” tegas
fadli dengan logat betawinya.
“Lau dah yang palain,
ane yang buntutin dah,” tawar saya ke Fadli dengan terus mendoktrinnya.
“Etdah, lagi etan banget.
Gua ngeri sama beginian Chan.” ucap fadli dengan mimik yang penuh penekanan
menonak.
“Waahahaha. Lau cems
kaga berani.”
“Bodo Chan, mau di kata
cems juga kaga ngapa gua, orang lu liat aje di dalem tuh lobangnya kecil,”
terang Fadli.
“Namanye juga balik ke
perut ibu, kalo gede lobangnya bukan rahim bray.”
“Terus ape?“ tanya fadli
sepertinya mengajak untuk berlawak.
“Au ah lobang ape kek,” jawab
saya dengan tak acuh disertai tawa yang keras.
| Membungkuk ketika memasuki pintu lubang Goa Putri |
| Acu dan Sapri |
Sekitar dua jam sudah
saya memperhatikan kontur goa yang dinamakan Goa Putri itu. Kini perjalanan
saya kembali mendaki ke atas untuk menuju Goa Susu. Konon Goa tersebut
mempunyai stalakmit dan stalaktit yang berbentuk seperti payudara. Maka dari
itu dinamakan Goa Susu.
| Fadli di depan Goa Susu |
Pendakian menguras waktu sekitar tiga puluh menit
lamanya, karena saya harus mendaki untuk ke atas lagi. Goa Susu tidak mempunyai
lorong yang dapat ditelusuri ke dalam berbeda dengani Goa Putri. Namun, Goa
Susu hanya berbentuk seperti rongga-rongga mulut. Untuk Goa Susu saya berani
memasukinya, karena ada air panas yang menunggu di dalam sana. Saya memutuskan
untuk berendam di dalam air panas sambil melakukan rileksasi di dalam goa.
Sekitar satu jam lamanya saya berada di dalam mulut goa. Permukaannya curam dan
berlumut. Saya harus melewati batu yang berwarna kuning karena hanya batu itu
yang tidak licin. Sisanya sudah ditutupi oleh lumut, kini saya harus turun dari
mulut goa dengan perlahan-lahan dan cermat untuk memilih batu mana yang baik di
pijak.Tetap perlahan, tenang dalam memilih pijakan, pelan, dan fokus.
Seketika pandangan saya
menjadi kabur. Tiba-tiba jantung memompa lebih cepat, gelisah, dan panik. Ohh
darah mengucur lebih cepat. Tanganku berusaha menahan pengeluarannya yang
begitu deras. Mencoba mengatur nafas dan berusaha menciptakan ketenangan agar
denyut jantung kembali normal dan darah tidak begitu cepat keluar. Dari
kejauhan saya melihat ada seseorang yang berlari mencoba untuk membantu saya.
Beliau menahan luka saya dengan tangannya lalu menyuruh salah seorang kawannya
untuk mengambil air panas dan mengguyur ke arah titik luka.
“Ambil segera kamu air
panas itu, ayo cepat! Kemudian ambil kain dan ikan kepalanya dengan kain itu,”
pintanya.
Saya hanya duduk
termenung dan berdiam diri. Setelah kain terikat di atas kepala. Saya disuruh
untuk beristirahat sejenak di dekat tempat perkemahan lelaki itu. Lelaki
tersebut berbadan lebar, badannya kotak-kotak tampak begitu gagah, seperti foto
Ade Rai yang berada di gerobak-gerobak jamu pinggir jalan. Saya merasa seperti
berada di dalam lakon perfilman dengan latar tempat hutan yang bertajuk
peperangan, Seperti terkana tembak. Lelaki itu berlari dengan editing slow
motion dan sambil berteriak-teriak panik.
Sekitar tiga puluh menit
saya beristirahat. Saya mencoba untuk kembali menuju Danau Segara Anak, karena
semua peralatan berada di sana. Sekitar pukul 04:30 WITA saya bertemu dengan
seorang lelaki yang saya prediksi berumur 45 tahun. Ternyata beliau seorang koordinator
wilayah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPTB) Lombok Timur. Saya lupa
mengingat nama sang bapak tersebut. Beliau begitu baik. Kebetulan rokok sudah
habis sontak timbullah insting berburu dengan target orang sekeliling. Ini yang
dinamakan berkah Ramadhan, hahaha. Loh? Rokok yang saya butuhkan diberikan satu
bungkus dengan cuma-cuma beserta makan bersama dengan sang bapak sambil
berbincang-bincang tentang cara hidup di alam liar.
Bapak
itu memang orang sakti, kawan!
| Bapak BNPB dan Sapri |
Sedang asik berbincang
tentang cara bertahan hidup di alam liar, bapak itu bertanya tentang kain yang
melilit kencang di atas kepala saya.
“De, itu kenapa kepalamu
diikat dengan kain?” tanya sang bapak sambil merentangkan jari telunjuknya.
“Oalah, ini pak kepala
saya tadi jatoh pak di goa Susu.”
“Loh kok bisa? gimana
ceritanya?”
“Ya bisa pak namanya
juga musibah. Jadi saya salah memilih pijakan pas mau turun dari mulut goa pak,”
jelas saya sedikit terkekeh.
“Ayok de ikut bapak,
kebetulan ada pak Haji Lukman. Beliau orang pintar yang berada di kecamatan Pringgesela,”
serunya.
“Wah gimana bisa hebat
tuh pak?” tanya saya seolah serasa mendapat titik terang.
“Iya gini loh, kemaren
itu ada awan gelap pas kami hendak mendaki gunung ini dan pak haji itu bawa
tongkatnya yang ini. Pas saat itu juga awan itu di pindahkan sama beliau
ketempat lain. Ini tongkat sakti bukan sembarang tongkat, ada isiannya de,” ucap
bapak tersebut dengan wajah yang serius dan tangan yang menunjuk kearah tongkat
yang sedang bertempelan dengan pohon.
“Waduh pak, masa si
pak?”
Saya terlarut dalam
percakapan itu, karena memang untuk hal seperti itu apalagi berbau dengan
mistis saya lebih selektif dalam berpikir.
“Nah pak haji juga membawa
minyaknya, insyaaallah besok bisa sembuh,” ucapnya sambil mengunyah makanannya.
“Yuk kita pergi menuju
air terjun tempat pemandian air panas, beliau ada disana. Kebetulan juga warga
sini lagi nisfu sya'ban, sekalian mau tahlilan juga. Insyaallah sekalian
diobatin di sana nanti,” terang beliau.
Saya yang merasa
penasaran mencoba untuk percaya dan menuruti ajakannya. Kami segera
melakukan packing ulang dan turun menuju air terjun.
Meski kepala sesekali terasa nyut-nyut, tetapi saya tetap memaksakannya. Sebab
luka tidak boleh dimanja. Setelah lima belas menit berjalan, ketua BNPB
tersebut menceritakan kejadian jatuhnya saya kepada pak Haji Lukman. Saya
dipersilahkan untuk memasuki tendannya.
“Sini-sini de, buka
ikatan kepalanya,” pinta pak Haji Lukman.
“Oh iya pak” ucap saya
dengan perlahan-lahan sambil membuka ikatan kepala.”
Seketika pak Haji Lukman
mengeluarkan sebotol minyak yang ditaruh dalam botol kecil, dioleskanlah di
atas luka dengan membacakan ayat-ayat suci yang keluar dari
mulutnya. Kemudian saya dipersilahkan untuk memejamkan mata dan diminta untuk
mengikuti instruksi yang diberikannya.
“Baca istigfar terus
jangan berhenti, abis itu shalawat.”
Saya menuruti suruhannya
tersebut. Setelah itu beliau menanyakan nama saya. Pada saat itu posisi mata
saya sedang tertutup rapat. Beliau memerintahkan saya untuk membacakan
Al-Fatihah untuk kedua orang tua saya dan untuk para Aulia penjaga Gunung
Rinjani. Saya mengikutinya dengan arahan yang beliau berikan. Sesekali
memberikan pertanyaan-pertanyaan kecil.
“Apakah kamu sudah izin
dengan orang tua sebelum berangkat ke sini?” tanya pak Haji Lukman.
.“Sudah pak, saya sudah
izin dan ibu bilang hati-hati,” jawab
saya dengan mata terpejam.
“Iya benar hati-hati, kamunya
yang tidak hati-hati,” jawab pak Haji Lukman menasihati.
Saya tidak ingin melanjutkan
percakapan itu. Lebih baik memilih untuk berdiam diri, tetapi dalam hati
berkomentar “namanya juga musibah pak, siapa yang tahu”. Hati itu berbisik.
Kemudian saya diperbolehkan membuka mata. Setelah mata saya terbuka
perlahan-lahan, beliau berkata
“Insyaallah besok luka
sudah bisa rapat.”
“Amin.. pak insyaallah,”
ucap saya dengan perasaan sungkan dan terimakasih, karena beliau sudah menolong
saya.
“Ayok waktu sudah
memasuki Magrib, sekarang kita shalat dulu. Kemudian kita lanjut untuk makan
malam,” seru pak Haji.
“Baik pak kalau begitu
pak.”
Saya mencoba untuk
keluar dari tenda, lalu melakukan tayamum untuk syarat melakukan shalat.
Setelah shalat Magrib . Kami lanjutkan dengan makan malam bersama, hidangannya
ikan dan aneka lawuk pawuk khas Lombok. Sekitar pukul 19:30 WITA saya izin
pamit untuk kembali ke atas Danau Segara Anak, karena teman saya berada disana.
Saya memutuskan untuk berhangat terlebih dahulu di dekat api unggun yang dibuat
teman-teman. Malam semakin larut saya memutuskan untuk masuk ke dalam tenda dan
beristirahat. Kebetulan tenda saya berdekatan dengan kawan-kawan Lombok Timur
tidak begitu jauh letaknya. Sapri mimilih untuk tidur di dalam tenda saya,
karena tenda Sapri sudah tidak muat lagi. Kami melakukan percakapan dengan tema
yang mengalir begitu saja. Saya yang tengah memejamkan mata, tiba-tiba
bersemangat untuk lebih lama berbincang dengan sapri, perbincangan itu dimulai
ketika sapri bertanya pada saya.
“Chan!”
“Kenapa bang?”
“Apa alasan kamu naik
gunung? apa yang kamu cari? naik gunung itu melelahkan?”tanyanya.
“Saya suka gunung,
ketika dulu ayah mengajak saya untuk melihat matahari terbit di puncak Gunung
Bromo, kita begitu dekat. Itulah perjalanan terjauh sekaligus terakhir kali
bersamanya. Waktu itu saya berada di kelas dua Sekolah Dasar,” tutur saya
sambil mengingat masa lalu yang begitu lirih.
“Apa yang kamu dapat?”
Sapri kembali bertanya.
“Saya tahu karakteristik
semua manusia yang saya jumpai, saya tau apa arti memiliki, saya senang dengan
kesederhanaan ini dan saya senang ketika bertemu dengan manusia yang baru saya
kenal. Pikiran saya lebih jernih di sini, saya bisa memutar ulang momen indah
yang terlewatkan,” jawab saya sambil membayangkan.
“Oh gitu, ada sebuah
kesaman, saya menaiki gunung ketika saya membaca buku Soe Hoek Gie. Sepanjang
pendakian yang saya lakukan, saya semakin senang dengan hal baru yang saya
temui. Saya juga tau siapa diri saya,” ucapnya sedikit tersendat-sendat.
Kami melanjutkan
percakapan itu dan membiarkannya berjalan lebih jauh. Sampai dimana itu
berakhir saya tidak mengerti, karena pagilah yang membangunkan disertai desir
angin begitu memilukan tulang. Hanya dua malam saya habiskan di Danau Segara
Anak. Tempat yang memberikan kesan sekaligus kenangan yang terekam dalam luka.
Kami mempersiapkan diri untuk kembali turun. Awal tujuan untuk turun adalah
Desa Senaru, namun mendapat kabar ada longsor. Mungkin terjadi ketika
terjadinya gempa saat itu. Saya memutuskan untuk turun dengan titik
pemberhentian Desa Sembalun. Pertanyaan malam itu membuat sebuah titik baru di
dalam otak , terekam, dan terpikir sepanjang perjalanku menuju Jakarta.
| Bersama kawan-kawan Lombok Timur |
Menjadi
Manusia
Manusia terlahir dalam
dilema
Yang kedua meninggal
dalam tekateki
Yang ketiga hidup dalam
keinginan
Bepikir dalam rasionalisasi
Menciptakan keadaanya
dan, tersesat dalam
angka nol
bila dibagi angka itu
menjadi tetap
bila dikali akan menjadi
tetap juga
tetapi, bila di tambah
angka itu akan berubah
sama seperti hidup
bila kita ingin menjadi
satu, dua, atau tiga
maka kita membutuhkan
yang lainnya





Kawan cerita ini membuat aku teringat akan pendakian dan cerita perjalanan masa lalu penuh kesederhanaan dan tertawa tanpa ada rasa canggung dalam kebersamaan aku baru kamu baru tapi dengan kesamaan itu tak ada sekat buntu yang memisahkan hanya ada satu kata dalam perjalanan yaitu berbagi...jika kau ada sempat kawan marilah bersua dalam cerita yang penuh bangga..082261445543 itulah nomor silaturahmi dengan kawan kau yang hilang...
BalasHapus