Rabu, 10 Juli 2013

Terminal Arjosari

Malang begitu bising suaranya sedikit seirama. Tampak bersaut-sautan dari lorong ke lorong. Waktu menunjukan pukul 17:30 WIB. Saat itu saya berada di terminal Arjosari menunggu keberangkatan menuju ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Mataram. Tangan saya terus melihat ke arah jam tangan yang saya kenakan saat itu. 18:00 WIB, “Ayo..ayo waktu! lebih lambatlah kau berputar”. Begitu saya terus menyuarakan isi hati. “Rell dimana si lu? ini si kelewatan ngaret sampe pukul 18:00 WIB.” Saya begitu kesal dengan Parell, karena bis mulai berangkat pada pukul 18:00 WIB. Baik kalau gitu saya akan menunggu. Mata saya terus tertuju pada jam tangan . Waktu dan menit terus berganti serasa begitu cepat.
             
Kejengkelan saya menunggu sedikit terurai, karena saya tidak sendiri kawan-kawan di kota Malang rela menemani hingga menuju keberangkatan. 18:15 WIB, saya mencoba untuk menghampiri kondektur bis berharap dapat waktu tambahan.

“Bang boleh tunggu 15 menit lagi ga bang? soalnya temen saya masih di jalan,” pinta saya kepada kondektur.
“Coba ditanya dulu temen kamu udah dimana? kalau masih di Pujon ya ga bisa 15 menit dong” canda sang kondektur sambil terkekeh. 
“Wah iye si bang kalau itu mah ditinggal aja bang, hahaha..”
“Oke kalau gitu saya tunggu sampe 18:45!” jawabnya. Sang kondektur memberikan kelonggaran waktu kepada saya. 
“Waduh bang sumpah lu baik banget, gua sayang sama lu bang,” ucap saya dengan tawa yang disertai rangkulan tangan kearah bahunya.

Karena percakapan itu begitu seru di antara kita. Saya sampai lupa berkenalan dengan kondektur tersebut, beliau berperawakan badan tinggi besar dan rambut gondrong yang diikat dengan karet. Dio, aryo, dan Fidya kawan saya yang setia menemani hingga menjelang keberangkatan menuju Mataram. Sosok kawan yang begitu interaktif, seru, dan bersahabat. Kami bercanda dan tertawa bersama sampai-sampai orang disekeliling terminal melihat kearah kita.
“Eh Chan, lu yakin sendiri nih? kalo Parell kagak dateng tetep berangkat lu?” tanya Dio heran. 
“Berangkatlah! yakali ga berangkat. Gua udah beli tiket bis yakali kaga jadi” jawab saya dengan yakin. 
“Yaudah yuk-yuk semua kita baca doa ya, baca dari Al-fatihah, ayok nape angkat tangannya sekarang aje kita doain, jadi sampe sini kan enak tinggal kita tahlilan aja. Hahahaha…..” celoteh Dio yang disertai tawa dengan suaranya yang cempreng.
Waktu menujukan pukul 19:00 WIB, hemm lagi-lagi Parell belum juga datang. Kursi-kursi yang tadinya kosong kini mulai ditempati oleh sang pemiliknya. 
“Udeh can tinggal aje sih! Parell udah gede doi juga cowo yaudah ditinggal aje,” sahut aryo dengan wajah lawas dan muka datarnya. Aryo mempunyai muka yang sulit dijelaskan, karena memang kontur mukanya sedikit teracak-acak. Dalam hati, saya masih menunggu kedatangannya. Mungkin disisa waktu injure time seperti ini dia datang, bak seperti film dengan action slow motion yang sedang berlari-lari mengejar bis dan kemudia saya mencoba untuk berteriak histeris di dalam bis, “Ayok rell ini pegang tangan gua”. Hahaha.., itu hanya sekilas cerita bodoh menurut saya. Melihat dari kejauhan ada seorang Bapak berambut putih dengan rambut yang sudah tak begitu teratur, tidak terlalu tinggi atau pendek badannya. Bapak itu begitu sibuk dengan telponnya. Saya mencoba untuk menghampirinya.
“Pak, lagi kenapa pak?"
“Ini loh de, anak saya perempuan dua orang masih di jalan padahal saya sudah wanti-wanti supaya tidak terlambat” ucap sang bapak dengan wajah yang gelisah.
“Waduh pak ini pak sama temen saya juga belom dateng-dateng pak,” jawab saya mengisahkan hal yang sama terjadi.
“Iya-iya de, kalo anak bapak cowo sudah saya tinggal de. Biar dia naik bis sendiri” ucap si bapak. Mungkin sedikit menyindir dan berkat sang bapak itu tekat saya menjadi bulat untuk meninggal Parell.
“Iya pak saya mah gak apa-apa pak ditinggal aja, orang temen saya juga ga niat pak,” terang saya.

 Kejadian itu membuat ketiga teman saya, menjadikan bahan untuk bertaruh. Ide ini dicetuskan oleh Fidya.

“Oke aku taruhan, duluan mana yang dateng, parell apa anaknya si bapak?” Fidya mencoba mengajak bertaruh.
“Wehhh boleh-boleh iseng-iseng nunggu dapet rejeki, hahaha.” ucap Dio si kepala botak.
“Gua percaya si, anak bapaknya yang dateng duluan, lu siape io?” sahut Aryo dengan wajah mengarah ke Dio.
“Gua juga si yo anak bapaknya, hahaha...” Dio bercenayang.
“Yaudah goceng aja ya ga si?" ucap aryo dengan wajah datarnya.
“Yaudah iya goceng-goceng aja,” jawab Fidya menyepakati taruhan tersebut.
Tiba-tiba dari kejauhan dua orang anak adam berlari-lari dengan koper yang begitu berat tampaknya. Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya anak sang bapaklah yang terlebih dahulu datang. Hampir mirip konsep perfilman, namun mereka tidak sedang mengejar-ngejar mobil yang sedang berjalan. Sang sopir dan kondektur bertanya kepada saya “Bagaimana temanmu?” ucap abang berambut gondrong. “Yaudah pak ditinggal aja ga papa pak” kata saya. 

Perjalanan menuju Mataram

Saya berpamitan dengan kawan-kawan, kemudian memasuki bis. Setelah kondektur bis mencoba untuk mengecek kembali, bis pun segera berangkat. Tidak terlalu banyak hal yang saya lakukan di dalam bis, karena hari sudah semakin larut. Bis berangkat mulai pukul 19:15 WIB dari kota Malang, kemudian sampai di pelabuhan Ketapang pada pukul 03:25 WIB pagi hari. Penyebrangan kapal dari ketapang menuju gilimanuk sekitar satu sampai dua jam. Saya sampai di Pelabuhan Gilimanuk sekitar pukul 05:45 WIB. Bis kemudian berangkat kembali menuju Pelabuhan Padangbai. Saya sampai di Pelabuhan Padangbai pada pukul 11:25 WIB siang hari, kemudian menyeberang  kembali menuju "Pelabuhan Lembar" waktu tempuh sekitar empat sampai lima jam lamnya itu juga tergantung iklim. Sampai di Pelabuhan Lembar sekitar pukul 16:20 WITA sore harinya.

Pelabuhan Lembar keras, bung!



Sesampainya di Pelabuhan Lembar. Berhubung ada teman sewaktu SMA yang bertempat tinggal di Mataram. Sore itu saya turun dari kapal, tanpa menunggu terlalu lama kumpulan calo-calo memutari diri saya.

“De mau kemana de? de mau kemana de?” tanya sang calo dengan kalimat yang sama berulang-ulang membuat pengang telinga.

“Saya nunggu teman pak.”

“Yaudah naik dulu, naik dulu de”. Begitu suara dari kumpulan yang memadati.

 “Naik kemana si pak, orang saya nunggu teman saya juga,” jawab saya disertai dorongan dari para calo yang terus memaksa dan sedikit terjadi benturan fisik. Ini membuat kesal! sontak membuat saya lebih menekankan nada yang sedikit meninggi.

“Lagi naik kemane si pak, orang saya nunggu teman saya. Teman saya yang sedang dalam perjalanan jemput saya pak,” saya menegaskan.

Saya memutuskan untuk memilih warung kopi sambil menunggu teman saya yang sedang dalam perjalan. Berhasil keluar dari kerumunan para calo tiket, tetapi ada beberapa calo yang setia menunggu saya sampai kopi yang saya pesan terhabiskan dengan tuntas. Kira-kira dua jam lamanya para calo itu berdiri sampai saya dijemput oleh teman saya. Saya memutuskan untuk segera pergi dari pelabuhan agar tehindar dari para calo tiket itu, sebelum pergi saya berkata kepada para calo.

“Gua bilang ape, gua nunggu temen gua dateng lu pada kaga pada percaya si”. ucap saya dengan suara kecil sedikit jengkel dan berlalu meninggalkan Pelabuhan Lembar.

Lombok memang kota yang sangat bebas menurut saya. Jarang sekali saya melihat polisi di sepanjang jalan, pertigaan lampu merah, dan tempat-tempat yang menurut rawan. Masyarakat setempat juga sedikit ugal-ugalan kaya anak punk gitu, yang gokilnya lagi orang Lombok kayanya ga demen pake helm gitu.

Sesampainya di Mataram saya memutuskan untuk mampir ke Mapala Fakultas Ekonomi Universitas mataram, karena saya buta akan arah dan peta pegunungan Rinjani.Oh ya, perjalanan saya sebenarnya bertujuan untuk bercumbu dengan Gunung Rinjani. Ya gunung tercantik di Indonesia. Konon merupakan tempat bersemayamnya Dewi Anjani. Dewi yang sangat ayu dan cantik. Sesampainya di MAPALA FE UNRAM saya langsung dipersilahkan untuk duduk, lalu sekedar berbincang-bincang dan mencicipi makanan ringan yang disediakan. Obrolan itu begitu panjang sampai saya terbawa di dalam pelukan sang gelap.

Gunung Rinjani

Sebelum berangkat menuju Gunung Rinjani, tentunya saya harus mempersipkan hal-hal yang sekiranya menjadi kebutuhan untuk pendakian, seperti keperluan logistik untuk bahan makanan yang saya butuhkan selama empat hari. Belanja keperluan logistik merupakan hal yang saya suka, karena  saya bisa bercengkerama dengan para penduduk lokal sekaligus mempraktekan prinsip ekonomi. Ya, melakukan nego dengan para pedagang merupakan hal yang seru buat saya.

Setelah berbelanja kurang lebih satu jam lamanya, kini selanjutnya melakukan packing. Dimulai dari tenda, frame, sleeping bag, dan bahan-bahan logistik. Kebetulan ada timbangan badan yang tergeletak. Saya mencoba untuk menimbang berat carriel yang akan saya bawa. Waw ini gila, beratnya mencapai 25kg. Hahaha. Jelas berat, karena barang bawaan ini saya siapkan untuk keperluan dua orang. Pendakian kali ini saya tidak sendiri. Saya ditemani salah seorang kawan yang berasal dari Mataram dan pendakian ini merupakan pertama kali untuknya. Oleh sebab itu, saya lebih mengerti kapasitas dan muatan yang lebih cocok dibawa oleh ia.

Fadli, sosok kawan pendaki yang bersahabat dan periang, hampir banyak percakapan yang kami lakukan sepanjang jalan. Mulai dari kenangan semasa kami duduk di bangku SMA sampai hal-hal yang memalukan untuk dilakukan. Itu semua kami sudah lakukan. Oh ya, Fadli merupakan adik kelas saya ketika menempuh Sekolah Menengah Atas di Jakarta kala itu. Perjalanan selanjutnya dimulai pada hari kedua yaitu tanggal 20 juni 2013. Kami harus menuju Terminal Bertais menggunakan ojek dengan biaya sepuluh ribu per motor, lalu dilanjutkan dengan menaiki Engkel dengan biaya sekitar Rp.15.000 untuk tujuan Aikmel. Berikut perinciaannya:

Mataram-Terminal Bertais:     10.000 rb
Terminal Bertais- Aikmel :     15.000 rb
Aikmel-L300:                       20.000 rb
        
Setelah kami turun di Aikmel pada sore hari, kami sedikit kesulitan untuk mencari kendaraan L300  dengan tujuan Desa Sembalun. Beruntung kami bertemu dengan seorang nenek yang mempunyai tujuan serupa, akhirnya sang nenek memberhentikan mobil L300 dan mengajak saya untuk menaikinya bersama-sama. Sepanjang jalan kami berbincang seputar Gunung Rinjani yang begitu memikat hati para pendaki. Saya begitu percaya diri sebelum menapakan kaki di Pulau Lombok. Saya pun juga yakin bahwa perjalanan ini akan sangat menyenangkan untuk saya. Maka dari itu ketakukan, kegelisahan, dan konsekuensi sudah saya perhitungkan dengan matang.

Entah kenapa hati ini menjadi berdebar dan sedikit gelisah. Di balik keelokan dan eksotis Gunung Rinjani menyimpan sejuta mistis dan keunikan di dalamnya.  Nenek itu semakin asik bercerita tentang kematian para pendaki dengan warna mistis yang tetap ada. Ibu itu sedikit membuat mental saya turun,tak lama percakapan itu. Akhirnya ibu itu turun di pertigaan jalan. Beliau mengatakan bahwa rumahnya tidak begitu jauh dari pertigaan itu.

Kakak Pak Darsono, Fadli dan Pak Darsono 

Percakapan baru pun dimulai dengan sang supir yang bernama pak Darsono. Beliau berkata “saya sudah tujuh kali menaiki gunung Rinjani dan ternyata memang begitu indah” ucapnya. “waw tujuh kali pak?. Saya aja baru pertama kalinya ini pak, hahaha”. Ucap saya dengan tertawa ke arahnya. Pak Darsono sosok yang begitu pemalu. Bicaranya jarang menatap mata lawannya, mungkin memang sosoknya seperti itu untuk orang yang baru dikenalnya. Kami bertukar nomer telfon. Beliau secara sukarela untuk menawarkan kami bermalam, karena gelap memang sudah mendominasi hari itu. Tawaran itu saya tolak dengan alasan  saya tidak mempunyai waktu terlalu lenggang. Akhirnya beliau memberikan tawaran kembali.

“Gimana kalau setelah side turun dari gunung, nanti mampir kerumah. Saya bawa ke kebun Strawberry dan kita bisa memetiknya di sana?” tawar beliau melempar senyum.

“Wah itu si cakep banget pak, hahaha.., oke nanti saya kabarin ya pak setelah saya turun,” jawab saya dengan antusias dan rasa senang.

Saya bersama Pak Darsono dan kakaknya

Malam itu begitu dingin rasanya menusuk tulang-belulang yang tidak terbiasa dengan iklim sebelumnya. Napas saya mengeluarkan uap. Mencoba mengangkat kedua tangan sambil mencoba untuk meniupnya ke dalam rongga tangan dan menggosoknya perlahan-lahan. Begitu seterusnya. Pemberhentian itu mengantarkan saya ketempat pos pendaftaran Taman Nasionak Gunung Rinjani (TNGR). Sang penjaga sedang tertidur dan terbangun dengan suara saya yang begitu nyaring yang disertai ayunan tangan  terus-menerus mengetuk jendela yang berembun malam itu. Ebi sang penjaga Pos TNGR namnya. Saya melakukan registrasi, karena sebagai pendakai saya taat akan peraturan yang berlaku, tidak mau mengambil resiko dengan cara tidak melakukan pendaftaran. Biaya pendaftaran menurut saya murang, saya hanya merogoh kocek 2.500 rupiah untuk satu orang pendaki.

Setelah melakukan pendaftaran saya membuka sleeping bag dan mencoba memejamkan mata. Berharap sang surya lebih cepat mendominasi sang gelap. Pagi itu pukul 05:00 WITA. Saya memutuskan untuk mengambil sebongkah roti yang sudah mengeras dan membuat teh manis hangat, fadli saya bangunkan dari tidurnya yang lelap. Pagi itu itu saya ditemanin oleh bang Ebi, kami banyak berbincang seputar medan yang ditempun dan mencari tau titik dimana mata air berada disetiap pos pemberhentian. Lagi-lagi sosok yang begitu murah hati yang saya temui. Saya diantarkan secara gratis menunu jaluar Bonau. Bukan jalur resmi pendakian, namun cukup hemat satu jam untuk mencapai pos satu. Perjalanan itu menggunakan motor dengan kenalpot racing yang berbunyi mengebuh-gebuh,seperti hati saya yang tak sabar untuk mencium aroma hutan dan wanginya alam liar.

Jalur Bonau


Perjalan itu saya mulai pada pukul 07:30 WITA dan berhenti pada pos satu sekitar lima belas menit. Kemudian kembali berjalan menuju pos dua, behernti sekitar dua puluh menit untuk mengambil air. Mata airnya tidak mengalir hanya belupa tampungan kolam akibat hujan. Perjalan kembali dilanjutkan saya tidak melakukan pemberhentian di pos tiga, karena memang mengincar waktu untuk mencapai Palawangan. Melakukan istirahat kembali pada pos empat sekitar lima belas menit dan kembali berjalan.

7 bukit Penyesalan

Setelah melawati Pos empat, saya harus bertemu dengan tanjakan yang dinamakan Penyesalan. Sedikit heran dengan namanya, saya mencoba bertanya dengan penduduk sekitar. Penduduk yang saya temui ketika pendakian bersama. Mereka merupakan penduduk asli Lombok Timur yang berada di kecamatan Peringgesela, yaitu Sapri, Jek, Becek, dan Acu. Sosok yang begitu bersahabat mereka mengaku terbiasa menaiki Gunung Rinjani. Terlihat dari cara penampilannya mereka hanya menggunakan sandal jepit dan kaos kaki. Serta Sapri yang menggunakan tas kecil dengan di dalamnya yang berisi alat pancing, perlatan masak sederhana, dan minyak tanah yang disimpan dalam botol plastik minum.

Tidak ada kejelasan yang bisa saya simpulkan tentang filosopi dari “Tanjakan Penyesalan” yang saya tahu hanya melewati tujuh bukit untuk mencapai Palawangan. Ketika saya bertanya dengan kawan-kawan Lombok Timur. Mereka hanya berkata bahwa naik menyesal dan bila ingin kembali turun juga menyesal. Hanya seperti itu yang mereka katakan untuk para pendaki yang sedang beristirahat di pinggir jalur utama pendakian. Fadli merasa sudah tidak kuat untuk membawa tasnya. Saya maklumi, karena pendakian ini pertama kali baginya dengan medan yang begitu menguras tenaga saya mengakui itu. Sapri mencoba untuk bertukar tas dengan Fadli, karena memang aku juga tidak bisa membawa tasnya. Pertukaran itu dilakukan dengan alasan tolong-menolong. Ia ikhlas untuk melakukannya. Saya tau Fadli memang sudah tidak kuat, tetapi tetap ada perasaan tidak enak kepadanya. 

Orang yang baru saya kenal di gunung. Mereka sangat baik kepada saya. Rela untuk menunnggu saya ketika nafas sudah tersendat-sendat dan selalu memberikan semangat ketika keringat sudah berkucur begitu deras. Berulang Sapri menawarkan untuk menukar tas yang saya gunakan, namun saya menonaknya. 

"Saya yakin dan mampu untuk membawa barang bawaan saya sampai ke titik tertinggi, titik yang menjadikan tempat pencapaian akhir, dan titik yang mampu membuat saya tersenyum ketika melihat sang surya mencoba memberikan titik terang di dunia."

Palawangan berarti pintu gerbang, pintu yang mengahantarkan menuju titik tertinggi Segara Muncar. Tanjakan penyesalan pun sudah terlewatkan, saya sampai di Palawangan pada pukul 17:30 WITA. Kabut membaluti Palwangan sesekali membawa air asam dan menciptakan butiran air yang mirip dengan tetasan air hujan. Tanpa banyak cakap saya mengeluarkan seluruh isi carriel dan segera mendirikan tenda dekat dengan Cemoro Tunggal, yaitu pohon cemara yang menjadi tempat pemakaman pendaki yang telah mati. Tenda yang saya dirikan berdekatan dengan kawan-kawan dari Lombok Timur. Kami melakukan banyak perbincangan pada malam itu sambil menunggu masakan yang segera matang. Kebaikan kawan-kawan Lombok Timur membuat saya menjadi lebih dekat dengan segala kesederhanaan yang mereka punya. Bahan-bahan makanan mentah dan siap saji, saya berikan kepadanya untuk kita nikmati bersama-sama. Malam itu begitu dingin, namun hangatnya api yang menyala dari tumpukan kayu kering yang dibuat secara beraturan. Membuat kita terlena akan syahdunya kebersamaan itu.

Summit Attack Segara Muncar

Summit Attack

Pagi itu pukul 02:00 WITA dinginnya Palawanngan membuat segala sendi bergemetar. Sapri membangunkan saya dari lelapnya tidur dan cita-cita mimpi yang indah. Saya mencoba membangunkan Fadli. Ia merasa tidak kuat. Kepalanya terasa sangat pusing dan menggigil kedinginan. Saya ambil kain lebih tebal lagi. Melepaskan sleeping bag yang saya gunakan. Saya lilitkan agar ia tetap terjaga dalam kehangatan. Biarkan dia tertidur dan beristirahat lebih lama. Kami mencoba untuk memasak meskipun dingin membaluti tubuh. Kami berdoa dalam gelapnya malam dan alam yang begitu lirih. Perjalanan saat itu cukup mengoyak badan, karena angin begitu kencang menghajar dari segala penjuru. Sesekali mencari nafas dan mengaturnya kembali. Batas vegetasi kami lewati. Dingin dan bisingnya suara angin menjadi teman setia menuju titik tertinggi.

Pukul 04:30 WITA. Saya berhasil menapakan kaki di puncak tertinggi. Ya, Gunung tertinggi ketiga di Indonesia dengan ketinggian 3726mdpl. Saya berlutut di atas pasir kasar yang dingin dan tak lupa mengucapkan syukur kepada sang penguasa tata surya zat yang begitu hebat mengkonstruksikan bumi ini. Begitu indah Gunung Rinjani. Gunung yang dinobatkan sebagai surganya para pendaki. Sunrise, saya dapat melihatnya lebih dekat dan lebih jelas.

Sunrise of Rinjani Mountain

Lelah mengalahkan segalanya
Hanya satu yang saya dapatkan
Yaitu
Mengalahkan diri sendiri

Surya begitu jelas di mata
Pijarannya mencoba untuk menerobos dinding gelap
Tidak
Tidak ada kata menyerah

Aku senang dengan mereka
Sederhana dan tau akan arti hidup
Aku merangkulnya
Lebih dekat
Lebih dekat lagi
Satu…
Dua…
Tiga..
Aku abadikan momen itu
Karena aku merasa nyaman berada disekeliling mu kawan

Kita tertawa
Dan mencoba untuk menikmati secangkir kopi bersama
Bergiliran mengisap asap beracun yang hanya tersisa dua batang
Kita lebih tau makna dari kata memiliki

-21 juni 2013-


Berada di titik 3726mdpl Puncak Gunung Rinjani

Danau Segara Anak

Pukul 08:30 WITA saya kembali ke Palawangan. Senang melihat Fadli sudah berdiri di pinggiran tenda. Tampaknya ia sudah sehat. Saya menceritakan kepadanya sambil memperlihatkan foto yang sudah saya abadikan dalam kamera. Kami melakukan packing kembali, karena tujuan selanjutnya yaitu Danau Segara Anak. Mencoba untuk membuat masakan sederhana dengan hidangan sayur dan buah-buahan. Perjalanan cukup panjang. Kami sempat terpisah dan saya memimpin perjalanan itu. Saya memilih jalur kanan karena bertemu dengan pertigaan, jalannya terus menuju lebih dalam. Namun seperti jalan yang pernah dilewati manusia. Sapri memanggil saya.

“Chan, kita kayanya naik kembali keatas deh ini bukan jalannya dah. Soalnya jalannya ga turun terus. Ini kayanya mau kejurang dah,” ucap Sapri.

“Masa sih oke kita kembali kepertigaan.” ucap saya. Sesekali saya membuka peta. Ternyata memang jalan yang sebenarnya harus saya ambil adalah jalur kiri. Kami menunggu regu yang terpisah, memilih jalur kiri untuk kembali memulai perjalanan.

Memancing di Segara Anak
Sekitar pukul 12:00 WITA siang hari. Saya sudah sampai di Danau Segara Anak. Sayang terlalu banyak sampah yang dibuang sembarangan. Banyak yang tidak menjaga ekosistem alam . Mereka acuh dan masa bodo dengan keadaan alam yang semakin ironis. Di tengah luasnya permukaan danau, terdapat Gunung yang tengah berdiri kokoh. Gunung itu dinamakan Anak Dara. Hingga saat ini kondisi gunung terbilang aktif dan suatu saat masih bisa mengguncang Provensi Nusa Tenggara Barat.

Danau Segara Anak mempunyai banyak keindahan seperti melimpahnya populasi ikan air tawar. Saya memang suka memancing, namun karena tidak membawa pancing saya lebih memilih untuk menemani Bapak Irawan yang tengah asiknya berdiri di atas pecahan-pecahan batu karang. Hal hasil tidak percuma saya menemaninya, saya di berikan ikan hasil tangkapannya dengan cara sukarela. Beliau lebih suka menikmati sensasi memancing ketimbang untuk mengkonsumsinya.

“Saya lebih suka menikmati sensasi mancing de, daripada saya harus memakannya,” ujar pak Irawan. 

Ikan yang sudah diberikan ke saya, segara saya bersihkan dan mengoleskannya garam untuk memasuki tahap pembakaran.

Sore itu begitu tenang sesekali suara angin menggoyangkan ranting-ranting pohon yang sedang melamun. Makan sore saya begitu nikmat dengan hidangan ikan bakar dan sambar kecap. Senja mulai kelabu berganti dengan malam. Saya segera mencari kayu bakar dan menikmati bulan purnama dengan secangkir kopi hitam khas Lombok. Malam semakin larut membawa lamunan saya kepada cita-cita esok hari. Mata mulai terpejam yang ada hanya alunan desir ular dan suara jangkrik yang begitu setia.

Darah? air panas, ikat segera dengan kain!

Pandangan saya menjadi kabur, hing… suara itu membuat pengang kuping. Darah mengucur dari kepala. Saya diam dan mencoba untuk tenang. Agar denyut jantung tetap stabil. Pagi itu saya memutuskan untuk menelusuri Goa yang terkenal di Gunung Rinjani, yaitu Goa Putri dan Goa Susu. Perjalanan saya sedikit mengalami kehilangan arah, tadinya saya mempunyai planning untuk berjalan menuju Goa Susu. Sekitar pukul 11:00 WITA saya mengalami kehilangan arah yang ada hanya pemandangan kain-kain putih yang tengah digantung di atas permukaan mulut-mulut goa. Saya merasa  sudah sampai di Goa Susu. Kebetulan penduduk desa setempat sedang melakukan acara adat sebelum datangnya bulan Ramadhan. 

“Pak boleh Tanya pak, ini goa apa ya pak?” tanya saya kepada bapak kepada adat.

“Ini de namanya Goa Putri atau balik ke rahim ibu.”

“Oh, kenapa gitu ya pak, kalo saya boleh tau pak?” tanya saya dengan penasaran.

“Karena goa ini mirip seperti rahim ibu dan kita di dalam sana mandi. Sebab di dalam sana ada mata air. Sekalian juga kita membersihkan diri.” tutur sang kepala adat dengan nada yang begitu lemah lembut.

“Ohh gitu ya pak, makasih banyak pak.”

“Iya de sama-sama. Kalo side mau masuk bisa, tapi berempat-empat ya,” ajak beliau, dengan tangan yang mengarah ke dalam goa.

“Waduh pak. Wes saya di sini aja pak. Saya takut ga berani masuk pak,” jawab saya disertai senyuman lebar.

“Yaudah kalo gitu. Bapak mandi dulu ya di dalam.” ucap sang kepala adat.

“Sok atuh pak. Silahkan mandi dulu pak.”

Saya lebih memilih berada di luar goa bersama Fadli, karena kita berdua tidak ingin mencoba.

“Lau kaga masuk bray ke dalem?” tanya saya ke pada Fadli.

“Nahan dah gua!” tegas fadli dengan logat betawinya.

“Lau dah yang palain, ane yang buntutin dah,” tawar saya ke Fadli dengan terus mendoktrinnya.

“Etdah, lagi etan banget. Gua ngeri sama beginian Chan.” ucap fadli dengan mimik yang penuh penekanan menonak.

“Waahahaha. Lau cems kaga berani.”

“Bodo Chan, mau di kata cems juga kaga ngapa gua, orang lu liat aje di dalem tuh lobangnya kecil,” terang Fadli.

“Namanye juga balik ke perut ibu, kalo gede lobangnya bukan rahim bray.”

“Terus ape?“ tanya fadli sepertinya mengajak untuk berlawak.

“Au ah lobang ape kek,” jawab saya dengan tak acuh disertai tawa yang keras. 

Membungkuk ketika memasuki pintu lubang Goa Putri

Acu dan Sapri

Sekitar dua jam sudah saya memperhatikan kontur goa yang dinamakan Goa Putri itu. Kini perjalanan saya kembali mendaki ke atas untuk menuju Goa Susu. Konon Goa tersebut mempunyai stalakmit dan stalaktit yang berbentuk seperti payudara. Maka dari itu dinamakan Goa Susu. 

Fadli di depan Goa Susu

Pendakian menguras waktu sekitar tiga puluh menit lamanya, karena saya harus mendaki untuk ke atas lagi. Goa Susu tidak mempunyai lorong yang dapat ditelusuri ke dalam berbeda dengani Goa Putri. Namun, Goa Susu hanya berbentuk seperti rongga-rongga mulut. Untuk Goa Susu saya berani memasukinya, karena ada air panas yang menunggu di dalam sana. Saya memutuskan untuk berendam di dalam air panas sambil melakukan rileksasi di dalam goa. Sekitar satu jam lamanya saya berada di dalam mulut goa. Permukaannya curam dan berlumut. Saya harus melewati batu yang berwarna kuning karena hanya batu itu yang tidak licin. Sisanya sudah ditutupi oleh lumut, kini saya harus turun dari mulut goa dengan perlahan-lahan dan cermat untuk memilih batu mana yang baik di pijak.Tetap perlahan, tenang dalam memilih pijakan, pelan, dan fokus.

Seketika pandangan saya menjadi kabur. Tiba-tiba jantung memompa lebih cepat, gelisah, dan panik. Ohh darah mengucur lebih cepat. Tanganku berusaha menahan pengeluarannya yang begitu deras. Mencoba mengatur nafas dan berusaha menciptakan ketenangan agar denyut jantung kembali normal dan darah tidak begitu cepat keluar. Dari kejauhan saya melihat ada seseorang yang berlari mencoba untuk membantu saya. Beliau menahan luka saya dengan tangannya lalu menyuruh salah seorang kawannya untuk mengambil air panas dan mengguyur ke arah titik luka.

“Ambil segera kamu air panas itu, ayo cepat! Kemudian ambil kain dan ikan kepalanya dengan kain itu,” pintanya.

Saya hanya duduk termenung dan berdiam diri. Setelah kain terikat di atas kepala. Saya disuruh untuk beristirahat sejenak di dekat tempat perkemahan lelaki itu. Lelaki tersebut berbadan lebar, badannya kotak-kotak tampak begitu gagah, seperti foto Ade Rai yang berada di gerobak-gerobak jamu pinggir jalan. Saya merasa seperti berada di dalam lakon perfilman dengan latar tempat hutan yang bertajuk peperangan, Seperti terkana tembak. Lelaki itu berlari dengan editing slow motion dan sambil berteriak-teriak panik.

Sekitar tiga puluh menit saya beristirahat. Saya mencoba untuk kembali menuju Danau Segara Anak, karena semua peralatan berada di sana. Sekitar pukul 04:30 WITA saya bertemu dengan seorang lelaki yang saya prediksi berumur 45 tahun. Ternyata beliau seorang koordinator wilayah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPTB) Lombok Timur. Saya lupa mengingat nama sang bapak tersebut. Beliau begitu baik. Kebetulan rokok sudah habis sontak timbullah insting berburu dengan target orang sekeliling. Ini yang dinamakan berkah Ramadhan, hahaha. Loh? Rokok yang saya butuhkan diberikan satu bungkus dengan cuma-cuma beserta makan bersama dengan sang bapak sambil berbincang-bincang tentang cara hidup di alam liar.

Bapak itu memang orang sakti, kawan!

Bapak BNPB dan Sapri
Sedang asik berbincang tentang cara bertahan hidup di alam liar, bapak itu bertanya tentang kain yang melilit kencang di atas kepala saya.
“De, itu kenapa kepalamu diikat dengan kain?” tanya sang bapak sambil merentangkan jari telunjuknya.

“Oalah, ini pak kepala saya tadi jatoh pak di goa Susu.”

“Loh kok bisa? gimana ceritanya?”

“Ya bisa pak namanya juga musibah. Jadi saya salah memilih pijakan pas mau turun dari mulut goa pak,” jelas saya sedikit terkekeh.

“Ayok de ikut bapak, kebetulan ada pak Haji Lukman. Beliau orang pintar yang berada di kecamatan Pringgesela,” serunya.

“Wah gimana bisa hebat tuh pak?” tanya saya seolah serasa mendapat titik terang.

“Iya gini loh, kemaren itu ada awan gelap pas kami hendak mendaki gunung ini dan pak haji itu bawa tongkatnya yang ini. Pas saat itu juga awan itu di pindahkan sama beliau ketempat lain. Ini tongkat sakti bukan sembarang tongkat, ada isiannya de,” ucap bapak tersebut dengan wajah yang serius dan tangan yang menunjuk kearah tongkat yang sedang bertempelan dengan pohon.

“Waduh pak, masa si pak?”

Saya terlarut dalam percakapan itu, karena memang untuk hal seperti itu apalagi berbau dengan mistis saya lebih selektif dalam berpikir.

“Nah pak haji juga membawa minyaknya, insyaaallah besok bisa sembuh,” ucapnya sambil mengunyah makanannya.

“Yuk kita pergi menuju air terjun tempat pemandian air panas, beliau ada disana. Kebetulan juga warga sini lagi nisfu sya'ban, sekalian mau tahlilan juga. Insyaallah sekalian diobatin di sana nanti,” terang beliau.

Saya yang merasa penasaran mencoba untuk percaya dan menuruti ajakannya. Kami segera melakukan  packing ulang dan turun menuju air terjun. Meski kepala sesekali terasa nyut-nyut, tetapi saya tetap memaksakannya. Sebab luka tidak boleh dimanja. Setelah lima belas menit berjalan, ketua BNPB tersebut menceritakan kejadian jatuhnya saya kepada pak Haji Lukman. Saya dipersilahkan untuk memasuki tendannya.

“Sini-sini de, buka ikatan kepalanya,” pinta pak Haji Lukman.

“Oh iya pak” ucap saya dengan perlahan-lahan sambil membuka ikatan kepala.”

Seketika pak Haji Lukman mengeluarkan sebotol minyak yang ditaruh dalam botol kecil, dioleskanlah di atas luka dengan membacakan ayat-ayat suci yang keluar dari mulutnya. Kemudian saya dipersilahkan untuk memejamkan mata dan diminta untuk mengikuti instruksi yang diberikannya.
“Baca istigfar terus jangan berhenti, abis itu shalawat.”

Saya menuruti suruhannya tersebut. Setelah itu beliau menanyakan nama saya. Pada saat itu posisi mata saya sedang tertutup rapat. Beliau memerintahkan saya untuk membacakan Al-Fatihah untuk kedua orang tua saya dan untuk para Aulia penjaga Gunung Rinjani. Saya mengikutinya dengan arahan yang beliau berikan. Sesekali memberikan pertanyaan-pertanyaan kecil.

“Apakah kamu sudah izin dengan orang tua sebelum berangkat ke sini?” tanya pak Haji Lukman.

.“Sudah pak, saya sudah izin dan ibu bilang hati-hati,”  jawab saya dengan mata terpejam.

“Iya benar hati-hati, kamunya yang tidak hati-hati,” jawab pak Haji Lukman menasihati.

Saya tidak ingin melanjutkan percakapan itu. Lebih baik memilih untuk berdiam diri, tetapi dalam hati berkomentar “namanya juga musibah pak, siapa yang tahu”. Hati itu berbisik. Kemudian saya diperbolehkan membuka mata. Setelah mata saya terbuka perlahan-lahan, beliau berkata

“Insyaallah besok luka sudah bisa rapat.”

“Amin.. pak insyaallah,” ucap saya dengan perasaan sungkan dan terimakasih, karena beliau sudah menolong saya.

“Ayok waktu sudah memasuki Magrib, sekarang kita shalat dulu. Kemudian kita lanjut untuk makan malam,”  seru pak Haji.

“Baik pak kalau begitu pak.”

Saya mencoba untuk keluar dari tenda, lalu melakukan tayamum untuk syarat melakukan shalat. Setelah shalat Magrib . Kami lanjutkan dengan makan malam bersama, hidangannya ikan dan aneka lawuk pawuk khas Lombok. Sekitar pukul 19:30 WITA saya izin pamit untuk kembali ke atas Danau Segara Anak, karena teman saya berada disana. Saya memutuskan untuk berhangat terlebih dahulu di dekat api unggun yang dibuat teman-teman. Malam semakin larut saya memutuskan untuk masuk ke dalam tenda dan beristirahat. Kebetulan tenda saya berdekatan dengan kawan-kawan Lombok Timur tidak begitu jauh letaknya. Sapri mimilih untuk tidur di dalam tenda saya, karena tenda Sapri sudah tidak muat lagi. Kami melakukan percakapan dengan tema yang mengalir begitu saja. Saya yang tengah memejamkan mata, tiba-tiba bersemangat untuk lebih lama berbincang dengan sapri, perbincangan itu dimulai ketika sapri bertanya pada saya.

“Chan!”

“Kenapa bang?”

“Apa alasan kamu naik gunung? apa yang kamu cari? naik gunung itu melelahkan?”tanyanya.

“Saya suka gunung, ketika dulu ayah mengajak saya untuk melihat matahari terbit di puncak Gunung Bromo, kita begitu dekat. Itulah perjalanan terjauh sekaligus terakhir kali bersamanya. Waktu itu saya berada di kelas dua Sekolah Dasar,” tutur saya sambil mengingat masa lalu yang begitu lirih.

“Apa yang kamu dapat?” Sapri kembali bertanya.

“Saya tahu karakteristik semua manusia yang saya jumpai, saya tau apa arti memiliki, saya senang dengan kesederhanaan ini dan saya senang ketika bertemu dengan manusia yang baru saya kenal. Pikiran saya lebih jernih di sini, saya bisa memutar ulang momen indah yang terlewatkan,” jawab saya sambil membayangkan.

“Oh gitu, ada sebuah kesaman, saya menaiki gunung ketika saya membaca buku Soe Hoek Gie. Sepanjang pendakian yang saya lakukan, saya semakin senang dengan hal baru yang saya temui. Saya juga tau siapa diri saya,”  ucapnya sedikit tersendat-sendat.

Kami melanjutkan percakapan itu dan membiarkannya berjalan lebih jauh. Sampai dimana itu berakhir saya tidak mengerti, karena pagilah yang membangunkan disertai desir angin begitu memilukan tulang. Hanya dua malam saya habiskan di Danau Segara Anak. Tempat yang memberikan kesan sekaligus kenangan yang terekam dalam luka. Kami mempersiapkan diri untuk kembali turun. Awal tujuan untuk turun adalah Desa Senaru, namun mendapat kabar ada longsor. Mungkin terjadi ketika terjadinya gempa saat itu. Saya memutuskan untuk turun dengan titik pemberhentian Desa Sembalun. Pertanyaan malam itu membuat sebuah titik baru di dalam otak , terekam, dan terpikir sepanjang perjalanku menuju Jakarta.

Bersama kawan-kawan Lombok Timur

Menjadi Manusia

Manusia terlahir dalam dilema
Yang kedua meninggal dalam tekateki
Yang ketiga hidup dalam keinginan
Bepikir dalam rasionalisasi
Menciptakan keadaanya
dan, tersesat dalam angka nol
bila dibagi angka itu menjadi tetap
bila dikali akan menjadi tetap juga
tetapi, bila di tambah angka itu akan berubah
sama seperti hidup
bila kita ingin menjadi satu, dua, atau tiga
maka kita membutuhkan yang lainnya
Categories:

1 komentar:

  1. Kawan cerita ini membuat aku teringat akan pendakian dan cerita perjalanan masa lalu penuh kesederhanaan dan tertawa tanpa ada rasa canggung dalam kebersamaan aku baru kamu baru tapi dengan kesamaan itu tak ada sekat buntu yang memisahkan hanya ada satu kata dalam perjalanan yaitu berbagi...jika kau ada sempat kawan marilah bersua dalam cerita yang penuh bangga..082261445543 itulah nomor silaturahmi dengan kawan kau yang hilang...

    BalasHapus