Sabtu, 25 September 2021

Korban berjuang sendiri. Sejak awal ia menuntut keadilan untuk pelaku pelecehan seksual agar diberikan sanksi yang setimpal. Kasus pelecehan terjadi pada tahun 2016 dan 2017. Korban memendam rasa takut seorang diri, karena pun bercerita kepada orang lain di sekitarnya tidak menghasilkan titik terang. Justru sebaliknya, korban diminta untuk mentoleransikan semua rasa sakit yang ia alami.

Pelaku adalah teman dekat saya, sejak tahun 2017 sampai 2020 kami bersama-sama membangun koperasi. Selama itu kami berteman, tidur bersama, makan bersama, belajar bersama, seperti perkawanan pada umumnya

Korban yang dikemudian hari menjadi orang terdekat bagi saya. Salah satu alasan saya mau belajar kembali untuk melanjutkan studi dan tetap mau melakukan hal-hal baik selama ini.

Lingkaran pertemanan pelaku adalah lingkaran pertemanan saya. Orang-orang yang pernah saya anggap sebagai kawan “terbaik” dalam memprotes ketidakadilan. Justru saya mengalami pengusiran, dianggap sebagai kasus masalah sekedarnya, dalam bahasa mereka “kasus pertemanan belaka”. Ditambah kawan saya juga mengatakan tidak mengenal korban, sehingga tidak mau hadir di dalam sidang kolektif. Padahal, semua kemungkinan untuk berkomunikasi dengan korban dapat dibuka, jika kawan-kawan saya berkehendak untuk menyikapi kasus pelecehan dan kekerasan seksual untuk memperbaiki kolektif. Tapi memang kasus ini dianggap tidak penting oleh mereka, mungkin juga dengan kolektifnya, mungkin juga saya dianggap tidak berguna. Padahal, selama saya mengurus kasus ini, saya juga memiliki bias pertemanan, bias terhadap jenis kelamin sosial saya sebagai laki-laki, hal ini yang saya sampaikan kepada korban, dan saya meminta maaf karena tidak bisa memberikan rasa adil yang sepenuhnya.

Saya menyadari korban tidak hanya sekali mengalami kasus kekerasan dan pelecehan seksual selama ia hidup oleh karena itu trauma yang ia rasakan berlapis-lapis. Kondisi korban dengan traumanya sudah saya jelaskan kepada teman-teman saya, kepada pelaku (sewaktu kami masih berteman), dan saya rasa semua orang paham soal ini. Tapi, kenapa seperti mereka anggap hal-hal yang telah sampaikan tidak berguna?

Tapi kenapa mereka mengusir saya dari kolektif? Kenapa mereka tidak menunjukkan keberpihakannya pada kasus ini? Kenapa mereka bisa bersolidaritas pada kasus-kasus perampasan tanah? Penggusuran? Pelanggaran hak-hak buruh? Kenapa? Kenapa? Mereka semua bisa? Apa karena kasus ini sepele? Apa karena ini adalah kasus yang tidak ada nilai? Apa karena mereka tidak percaya bahwa pelaku yang notabenenya adalah kawan mereka telah melakukan kejahatan seperti itu di masa lalu? Apa karena saya atau korban banyak meminta?

Dengan saya memberitahu kepada lingkaran pertemanan saya, saya berharap semua orang bisa membantu saya dalam memutus bias pertemanan saya dan bias jenis kelamin sosial saya. Tapi kenapa tidak ada orang? Kenapa tidak ada yang membantu saya? Saya muak dengan aktivisme sosial! Semua hanyalah bualan omong kosong heroisme! Sementara pada ruang lain, korban menjadi korban berkali-kali lipat. Menjadi merasa bersalah karena dianggap merusak pertemanan. Merasa banyak menuntut. Merasa tidak memiliki teman atau orang yang dapat dipercaya. Dan perasaan bersalah terus-menerus.

Sementara kalian sekarang berharap saya biasa saja? Berteman dengan baik dengan kalian? Saya tidak bisa. Saya kecewa sebesar-besarnya. Dan rasa kecewa ini terus saya rasakan sepanjang saya hidup sebagai manusia. Dan sikap teman-teman saya menambah daftar kekelaman di dalam hidup saya. Dan maaf kepada korban, saya belum bisa menjadi orang terbaik dalam memberikan rasa adil dan memulihkan trauma pasca kejadian. Saya pun juga merasa bersalah karena menunda-nunda untuk mengambil keputusan. Seandainya bisa kembali pada masa lalu.

0 komentar:

Posting Komentar